Oleh: Anjar Nugroho SB | Oktober 25, 2012

Teks Khutbah Idul Adha 1433 H.

MENELADANI IBRAHIM AS. UNTUK MEMBANGUN MASYARAKAT YANG BERTAUHID DAN SEJAHTERA

Oleh: Anjar Nugroho

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ


Allahu Akbar, Allahu Akbar …

Kumandang takbir kembali membahana di seluruh pelosok dunia, menyambut hari akbar bagi ummat Islam, sebuah hari yang sarat dengan makna dan nilai. Inilah hari raya kurban atau Idul Adha yang pada tahun ini jatuh pada hari jum’at yang juga merupakan hari paling mulia (sayyidul ayyam) bagi ummat Islam. Untuk semua kenikmatan ini, sangat wajar jika kita mengucapkan syukur sambil memuji Allah SWT, Sang Khaliq Penguasa Alam Semesta, Yang Maha Kuasa dan Perkasa.

Tidak lupa pula, shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada panutan abadi, Muhammad Rasulullah SAW, yang gigih dalam memperjuangkan agama Tauhid, sebuah agama yang diwarisinya dari Bapak Tauhid, Nabi Allah Ibrahim AS.

Jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Di tengah-tengah kekhusyu’an kita menyambut Hari Akbar ini, fenomena di sekitar perlu kita renungkan dalam-dalam. Bangsa kita yang sudah lebih dari 67tahun merdeka, masih menyisakan masalah yang harus kita selesaikan bersama-sama. Kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia yang menjadi cita-cita kemerdekaan, masih jauh dari harapan. Jumlah orang miskin dan pengangguran yang kian membengkak adalah gambaran statistik bahwa sebagian besar rakyat kita masih belum merdeka dari belenggu kesengsaraan.

Di tengah-tengah kondisi rakyat yang sengsara, dipertontonkan perilaku korupsi yang marak dilakukan dan tanpa basa-basi lagi. Triyunan rupiah raib di telan mulut-mulut serakah. Kejadian tawuran seolah menjadi budaya dalam masyarakat, yang terkadang dengan alasan pemicu yang amat sangat sepele. Budaya selingkuh juga kian menjadi trend, angka pengguguran kandungan di luar menikah sangat mencengangkan, pengguna narkoba tidak pandang bulu lagi, anak-anak tingkat sekolah dasar sudah banyak yang terjerumus. Angka kriminalitas juga mengalami peningkatan. Berita pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, kerusuhan dapat kita saksikan setiap hari.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….

Masyarakat kita memang sedang sakit, dan perlu mendapat perawatan intensif dalam ruang gawat darurat. Kita harus terpanggil untuk menjadi dokter dan perawat dalam ruang itu. Kita tidak boleh berdiam diri menyaksikan sakit bangsa dan masyarakat kita semakin parah. Untuk itu pada kesempatan Idul Adha kali ini, kita jadikan sebagai ajang muhasabah dan menyusun kekuatan secara jama’i dalam menghadapi tantangan umat di masa sekarang dan masa mendatang.

Idul Adha sarat dengan makna dan nilai yang perlu digali dan diaktualisasikan kembali. Idul Adha identik dengan kisah Nabi Ibrahim AS dan keluarganya yang sangat relevan untuk diteladani. Ibrahim, sang bapak tauhid adalah Nabi ulul ‘azmi, nabi pilihan dan juga bapak dari para nabi-nabi setelahnya, termasuk nabi kita Muhammad SAW. Meneladani Ibrahim adalah seruan al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. an-Nahl: 120

 ”Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)”

Uswah yang terdapat dalam pribadi Ibrahim juga difirmankan Allah dalam Q.S. al-Mumtahanan: 6

 “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji.”

Keteladanan apa yang kita peroleh dari Nabi Ibrahim? Ada banyak keteladanan Ibrahim yang terekam dalam al-Qur’an al-Karim. Ibrahim sendiri disebut dalam al-Qur’an sebanyak 121 ayat. Dari informasi 121 ayat itu, paling tidak ada empat sifat keteladanan dalam diri Nabi Ibrahim AS.

 

Jama’ah Ied yahdikumullah….

Keteladanan pertama yang bisa kita peroleh dari Ibrahim adalah keteguhan beliau dalam memegang prinsip, khususnya prinsip tauhid. Dalam menghadapi tantangan seberat apapun, termasuk saat dia berhadapan dengan bapaknya sendiri yang syirik, beliau sangat teguh. Kita perhatikan firman Allah dalam Q.S. at-Taubah: 114 berikut:

“Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.”

Dari ayat itu pula kita dapat informasi bahwa Ibrahim juga seorang yang lembut dan penyantun. Sikap keras dalam memegang prinsip tauhid, tidak lantas membuat sikap terhadap sesama manusia menjadi sedemian keras dan kaku. Hubungan baik dengan sesama manusia tetap dijaga, karena pada hakekatnya seorang nabi, dan mungkin juga seorang ustadz atau pemimpin ummat saat ini adalah pelayan masyarakat yang harus punya sikap lemah lembut.

Jama’ah shalat ied yang berbahagia….

Ibrahim adalah pejuang sejati yang tidak mempunyai rasa putus asa jika menghadapi tantangan yang berat. Kegigihan dalam perjuangan ini perlu ditiru mengingat tantangan dakwah Islam akhir-akhir ini juga menghadapi tantangan jaman yang kian berat. Firman Allah dalam Q.S. al-Anbiya: 51-66 menyuguhkan kisah keteguhan Ibrahim bahkan saat berhadapan dengan kekuasaan sekalipun. Ibrahim berprinsip, bahwa kebenaran adalah kebenaran yang tidak bisa ditawar-tawar. Hal ini tentu berbeda dengan kebanyakan para pemimpin ummat kita sekarang yang mudah menjual kebenaran untuk ditukar dengan kekuasaan dan uang. Karena keteguhan Ibrahim ini, kemudian Allah menyelamatkan Ibrahim dari hukuman api yang membakar, seperti tergambar dalam Q.S. al-Anbiyah: 69

“Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”

Puncak keteladanan Ibrahim adalah kerelaan beliau mengorbankan apa saja untuk Allah SWT. Termasuk harus mengorbankan sang putra tercinta Ismail AS. Allah menggambarkan pengorbanan Ibrahim itu dalam sebuah dialog antara Ibrahim dengan Ismail yang terekam dalam Q.S. Q.S. ash-Shaffat: 102:

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Walaupun kemudian di saat Ibrahim sudah bersiap hendak menyembelih Ismail, Allah menggantinya dengan seokor hewan sembelihan, seperti diinformasikan dalam Q.S. ash-Shaffat: 107:

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”

Pengorbanan sebenarnya adalah inti sebuah keberagamaan. Mustahil bisa beragama dengan baik, tanpa adanya pengorbanan. Walaupun secara tegas Allah menyatakan bahwa pengorbanan seorang hamba manfaatnya akan kembali kepada hamba itu sendiri dan kemashlahatan ummat manusia. Allah Maha Kaya dari seluruh alam semesta.

Jama’ah shalat Ied rahimakumullah….

Sungguh sulit kita temukan di tengah-tengah kita, muslim yang bisa mengorbankan apa saja demi untuk perjuangan Islam. Bahkan yang banyak adalah mereka berjuangan untuk kemakmuran dan kemuliaan diri mereka sendiri. Masih teringat di benak kita, betapa para politisi sebelum bertarung di pemilu mengobral janji setinggi langit, akan tetapi bisa kita saksikan sekarang, apa yang mereka perjuangkan untuk rakyat?

Semangat pengorbanan Ibrahim perlu kita kobarkan kembali. Sebuah semangat mengorbankan ego untuk mengedepankan loyalitas keummatan. Kita gambarkan semangat pengorbanan itu dengan menyembelih hewan kurban pada hari Idul Adha ini, sebagai simbol kecintaan kita kepada millah Ibrahim yang hanif. Hanya saja yang perlu kita ingat, bahwa menyembelih hewan kurban bukanlah pengorbanan yang sesungguhnya yang dikehendaki Allah. Ini tercermin dalam firman-Nya Q.S al-Hajj: 37

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Hanya ketaqwaan yang akan sampai kepada Allah. Taqwa merupakan puncak pengorbanan seorang hamba kepada Sang Khaliq, karena taqwa mengehendaki kepasrahan total (islam) dan amal nyata yang kongkret (total actions) dalam realitas sehari-hari. Firman Allah yang panjang dalam Q.S. al-Baqarah: 177 mengambarkan sikap taqwa seorang hamba.

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

Demikian khutbah Idul Adha dalam kesempatan ini, mudah-mudahan kita mendapat kekuatan untuk bisa meneladani sikap dan sifat Nabi Allah Ibrahim AS, dalam rangka membentuk karakter ummat Islam untuk menghadapi berbagai masalah dan cobaan yang mendera masyarakat dan bangsa kita tercinta ini. Yang terakhir, mari kita berdo’a ke hadirat Allah SWT dengan hati yang khusyu’ dan penuh harap.

Oleh: Anjar Nugroho SB | Desember 2, 2009

Tajdid Pemikiran Islam

TAJDID PEMIKIRAN ISLAM ERA KLASIK SAMPAI MODERN

Oleh: Anjar Nugroho

Tajdid (pembaharuan) sering digunakan dalam konteks gerakan Islam modern, tetapi istilah ini juga memiliki akar pra-modern yang penting, bahkan bisa menelasar jauh pada masa awal sejarah Islam. Tajdid pemikiran Islam pra-modern biasanya berkaitan dengan tokoh pemurnian (reformator puritanikal) yang dipilih secara khusus untuk memperbaharui cita rasa iman dan model peribadatan kaum muslim. Abu Hamid al-Ghazali adalah contoh mujaddid pra Islam yang gigih melakukan kritik atas pembelokan dan sinkretisasi (percampurbauran) ajaran Islam oleh para filosof. Setelah itu kemudian muncul nama Ibn Taimiyah yang menolak setiap penggunaan logika dalam khasanah ilmu-ilmu keislaman dan sekaligus menolak prantek-praktek ibadah yang tidak ada dasarnya dalam teks al-Qur’an dan hadist. Paham Ibn Taimiyah ini dihidupkan kembali oleh Muhammad Ibn Abdul Wahhab lima abad kemudian. Seperti Ibn Taimiyah, ia mengkritik keras dan cenderung mencela kaum mutakallimun, filosof dan sufi.

Mereka disebut sebagai mujaddid klasik karena langkah-langkahnya yang ingin memperbaharui ajaran Islam dari daki-daki sinkretisme, baik oleh paham rasionalisme khas para filosof yang cenderung hellenistik, maupun oleh paham tradisionalisme yang dianggap terlalu adaptatif terhadap tradisi dan budaya lokal.

Akan tetapi, tajdid yang telah mereka lakukan menimbulkan implikasi ketertutupan pintu ijtihad yang bagi sejarah Islam berarti pula era stagnasi (kemandegan) dan kejumudan. Untuk situasi ini, kemudian muncul tajdid era modern yang lebih bercita rasa reformasi yang dikawal diantaranya oleh Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani, Khairuddin al-Tunisi, Abdurrahman al-Kawakibi dan banyak lainnya. Dorongan gerakan ini berpusat pada disadarinya bahwa masyarakat Muslim gagal mengikuti perkembangan dan kemajuan dalam semua aspek kehidupan. Dan kegagalan ini salah satu sebabnya adalah karena pintu ijtihad telah tertutup rapat-rapat.

Lepas dari model tajdid pemikiran Islam yang dikotomis antara mujaddid pramodern dengan mujaddid modern, secara garis besar sebenarnya terdapat dua aliran pembaharuan pemikiran Islam dalam sejarah Islam, yakni pembaharuan yang beraliran skripturalisme (ahlu al-hadits) dan yang beraliran liberalisme (ahlu ar-ra’yi). Dua aliran ini ketika dilacak akar geneologisnye ternyata sudah muncul pada masa shahabat dan mengemuka pula pada masa sekarang.

Jejak Tajdid Pemikiran Islam Era Klasik

Jejak tajdid pemikiran Islam klasik dapat dilacak dari warisan khasanah kelilmuan klasik (turats) yang kaya dengan varian dan bidang kajian. Turats itu dapat ditemukan dengan mudah di perpustakaan-perpustakaan Islam dan selalu dikaji (marja’) dalam tradisi intelektualisme Islam modern sekarang ini. Tetapi sebenarnya jejak tajdid itu dapat ditelusuri sejak awal Islam, walaupun tentu sulit untuk ditemukan warisan khasanah keilmuannya.

Pada era Sahabat, bisa diambil contoh tajdid pemikiran Islam yang dimotori Umar ibn Khattab saat ia dihadapkan pada kenentuan normatif nash dengan tuntutan realitas. Contoh pemikiran inovatif Umar kala itu adalah saat ia menjabat Khalifah kedua yang mengambil kebijakan untuk tidak membagikan tanah pertanian di Syiria dan Irak yang baru dibebaskan kepada tentara Muslim yang turut berperang, tetapi justru kepada petani kecil setempat, sekalipun mereka ini belum menjadi Muslim. Pemikiran Umar yang menjadi kebijakan Khalifah ini menimbulkan protes keras dari kalangan Sahabat yang lain. Dipelopori Bilal, sang Muadzin Nabi, banyak Sahabat menuduh Umar telah menyimpang dari al-Qur’an, yang menurut mereka, telah jelas menyatakan ke mana saja harta rampasan perang didistribusikan (Q.S. al-Anfal). Lagi pula Nabi sendiri telah pernah membagi-bagi tanah pertanian rampasan serupa itu kepada tentara, yakni tanah-tanah pertanian Khaibar setelah dibebaskan dari kekuasaan Yahudi yang memusuhi Nabi.

Contoh klasik lain yang dapat dikemukakan di sini adalah tindakan Umar yang melarang tokoh Sahabat Nabi menikah dengan perempuan Ahl- al-Kitab (Yahudi dan Nasrani), padahal al-Qur’an jelas membolehkan (Q.S. al-Maidah: 5). Umar tidak berpegang pada makna lahiriyah teks al-Qur’an itu, akan tetapi ia melihat dari perspektif sosio-politik umat Islam yang menurutnya jika perkawinan antar agama diijinkan, maka akan terjadi kasus-kasus penelantaran kaum Muslimah.

 Melihat contoh ini, sebagian ulama memandang bahwa apa yang dilakukan Umar adalah sejenis ijtihad politik (tasharruf siyasi), yang timbul karena pertimbangan kemanfaatan (expediency) menurut tuntutan zaman dan tempat.. Ijtihad Umar, betapapun menimbulkan kontroversi dikalangan Sahabat dan penilaian negatif pada era berikutnya, adalah langkah tajdid pada awal Islam sebagai upaya Umar melakukan kontekstualisasi ajaran Islam dalam sejarah. Umar tidak meninggalkan nash al-Qur’an maupun Sunnah, tetapi ia menggali semangat yang ada pada nash itu untuk diaktualisasikan kembali dalam konteks problem kekinian yang dihadapi umat Islam pada masa Umar. Dapat dikatakan Umar adalah mujaddid pemikiran Islam pertama dalam sejarah Islam.

Jangka waktu sekitar seratus lima puluh tahun sejak Umar melakukan tajdid al-afkar al-Islami, adalah masa banyak sekali diletakkan dasar-dasar perumusan baku ajaran Islam seperti yang dikenal sekarang. Selain munculnya ilmu kalam oleh kaum Mu’tazilah serta falsafah oleh adanya gelombang masuk Hellenisme, pada masa itu terjadi konsolidasi teologi mayoritas umat, yaitu ahlu as-sunnah wa al-jama’ah (aswaja). Epistemologi hukum Islam (fiqh) juga menemukan kerangka bakunya, berkat aktivitas intelektual para ulama besar fiqh, khususnya para Imam Madzab (Abu Hanifah, Anas ibn Malik, Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i dan Ahmad ibn Hanbal).

Banyak yang menyebut, Abu Hanifah adalah pewaris tradisi rasionalisme Umar ibn Khattab. Ia memang sangat sedikit meriwayatkan hadis, karena Abu Hanifah sangat memperketat syarat-syarat penerima hadis. Kurangnya hadis pada masa Abu Hanifah karena ia tidak merasa puas dengan menyampaikan hadis saja, ia menguji hadis dengan pertimbangan psikologis dan konteks sosial. Madzab Hanafi adalah madzab yang frekwensi penggunaan akalnya lebih banyak. Akal lebih dipentingkan dalam proses pengambilan hukum daripada hadis. Contoh kasus dalam hal ini adalah pemikiran Abu Hanifah tentang kedudukan wali dalam perkawinan. Menurut hadis, perkawinan tidak sah kecuali dengan melibatkan wali dan dua orang saksi. Tetapi Abu Hanifah mensyahkan perkawinan tanpa wali dengan pertimbangan bahwa Muslimah saat itu adalah perempuan-perempuan cerdas dan mandiri yang bisa mengurus dan menentukan nasibnya sendiri, termasuk kemandirian dalam memutuskan dengan siapa ia menikah.

Pada era klasik, pemikir teologi terkemuka yang sukses menempatkan ilmu kalam dalam bangunan intelektual Islam adalah Abu al-Hasan al-Asy’ari. Ia berhasil mengkonvergensi antara paham Jabariyyah dan Qadariyyah, antara dogmatisme kaum Sunni konservatif dengan rasionalisme sistem teologi kaum Mu’tazilah. Asy’arisme, seperti halnya ilmu Kalam pada umumnya, adalah produk intelektual orang Islam dalam upaya mereka memahami agama secara lebih sistematis, dalam bentuk “suatu faham teologis yang di bangun di atas metodologi skolastik dan Aristotelian”. Justru karena hakekatnya yang moderat, merupakan jalan tengah antara dogmatisme dan liberalisme, maka ilmu Kalam al-Asy’ari cepat menjadi sangat populer di kalangan umat Islam.

Tetapi, aktifitas intelektualisme dunia pemikiran Islam klasik, khususnya falsafah, sama sekali tidak berhenti dan tuntas dengan tampilnya moderatisme pemikiran teologi Asy’ariyah. Berbeda dengan ilmu Kalam yang merupakan intelektualisme memasyarakat (popular intelectualism), falsafah masih tetap merupakan aktifitas intelektual pribadi dalam suatu gaya yang elitis. Para filosof selalu memandang dirinya sebagai al-Khawwash (orang-orang khusus/spesial) yang berbeda dari kelompok al-Awwam (kaum kebanyakan). Dan justru saat al-Asy’ari sibuk mengkonsolidasi metodologi Kalamnya, falsafah memperoleh momentumnya yang baru dengan tampilnya Muhammad Abu Nashr al-Farabi.

Sebagai seorang filosof, al-Farabi adalah penerus tradisi intelektual al-Kindi, tetapi dengan kompetensi, kreatifitas, kebebasan berfikir (liberalisasi) dan tingkat kecanggihan (sofistikasi) yang lebih tinggi. Jika al-Kindi dipandang sebagai filosof Muslim pertama dalam arti yang sebenarnya, al-Farabi disepakati sebagai peletak sesungguhnya dasar epistemologi filsafat Islam. Maka setelah Aristoteles sang “guru pertama” (al-mu’allim al-awwal), al-Farabi dalam dunia intelektual Islam diposisikan sebagai “guru kedua” (al-mu’allim al-tsani).

 Setelah dunia falsafah mencapai puncak kejayaan pada masa al-Farabi dan Ibn Sina, tampil al-Ghazali (Abu Hamid ibn Muhammad al-Ghazali), seorang pemikir yang dengan dahsyat mengkritik filsafat, khususnya Neoplatonisme al-Farabi dan Ibn Sina. Ia menulis karya polemisnya yang sangat besar dan abadi, Tahafut al-Falasifah (Kekacauan Para Filosof) adalah, menurut ia sendiri, karena terdorong oleh gejala berkecamuknya pikiran bebas waktu itu yang banyak membuat orang Islam meninggalkan ibadah. Pada akhirnya, al-Ghazali berhasil memberi tempat yang mapan kepada esoterisme Islam dalam keseluruhan paham keagamaan yang dianggap sah dan ortodoks. Implikasinya, pasca Ghazali, umat Islam terkungkung dalam kamar sel nyaman Ghazalisme. Walaupun nyaman, tetapi kemudian mempunyai efek pemenjaraan kreatifitas intelektual Islam, yang konon sampai sekarang.

Tajdid Pemikiran Islam Era Modern

Gema tertupnya pintu ijtihad tidak menghalangi gelombang kesadaran umat untuk mendobrak pintu itu dan memunculkan pemikiran-pemikiran alternatif berikutnya. Masih sejalur dengan tradisi pemikiran di era klasik, perkembangan pemikiran secara dikotomis menempati aras ahlu al-hadis dan ahlu ar-ra’yi, walau dalam konteks kekinian dua poros pemikiran itu telah menurunkan beraneka macam varian baru. Pada dasarnya mereka ingin tampil sebagai gerakan pemikiran alternatif dalam menghadapi perkembangan dunia yang kian modern.

Issa J. Boullata (2001) membagi pemikiran Islam modern menjadi dua kecenderungan, yaitu konservatif-tradisionalis dan progresif-modernis. Menurutnya, kelompok konservatif-tradisional adalah gerakan pemikiran yang memiliki pola pikir dengan frame klasik (salaf). Mereka sangat membanggakan kemajuan dan kejayaan Islam masa lampau, dan untuk membangun kamajuan dan kejayaan peradaban Islam masa mendatang, pemikiran Islam harus berbasis metodologi pemikiran Islam klasik (past oriented). Adapun kelompok progresif-modernis adalah gerakan pemikiran yang mengidealkan tatanan masyarakat Islam yang modern, dengan kata lain, gerakan pemikiran yang berorientasi ke masa depan (future oriented). Pola berfikir mereka tidak keluar dari frame metodologi Barat yang mereka klaim sebagai satu-satunya alternatif untuk membangun peradaban Islam modern. Gerakan pemikiran ini secara mayoritas diwakili oleh kalangan yang pernah belajar dan berinteraksi dengan pemikiran Barat.

Pemikiran Islam tradisional-konservatif lebih dikenal – dalam istilah Arab – sebagai kelompok ‘salafiyah’. Menurut ‘Abd al-Mun’im al-Hifni (1993), bahwa golongan salafiyah adalah mereka yang mengajak kembali kepada perilaku para ulama salaf (al-salaf al-shalihin), yaitu mereka yang hidup dalam tiga generasi pertama, yakni Sahabat Nabi SAW., Tabi’in dan Atba’ Thabi’in.

 Karakteristik pokok kelompok ini antara lain; pertama, argumennya harus jelas diambil dari al-Qur’an dan al-Hadis. Kedua, penggunaan rasio harus sesuai dengan nash-nash yang shahih. Ketiga, sebagaimana dikatakan oleh Ibn Taimiyah, bahwa dalam konteks aqidah harus bersandar kepada nash-nash saja. Mereka mempercayai dan hanya menerima nash per se, karena itu yang bersumber dari Allah. Adapun rasio hanya berfungsi sebagai pembenar (tashdiq) dan saksi (syahid), bukan sebagai penentu (hakimi).

Tipologi kelompok ini diwakili oleh mayoritas pemikir keagamaan yang sangat committed kepada Islam sebagai doktrin seluruh aspek kehidupan. Kelompok ini percaya sepenuhnya kepada doktrin Islam sebagai satu-satunya alternatif untuk kebangkitan kembali sejarah kegemilangan kaum Muslim. Menurut kelompok ini, umat Islam harus kembali kepada ajaran asli Islam, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Usaha penyucian Islam dari ajaran-ajaran asing baik yang berasal dari dalam (bid’ah kaum Muslim) maupun dari luar (Barat dan modernitas) menjadi agenda utama untuk mencapai keaslian ajaran Islam (Ashlah al-Islamiyah). Kemunduran yang dialami kaum Muslim sekarang ini disebabkan jauhnya mereka dari ajaran Islam. Usaha Islamisasi untuk segala aspek kehidupan Muslim menjadi agenda utama. Dari masalah etika, tingkah laku secara individu maupun sosial, hingga ilmu dan landasan epistemologi yang akan diserap oleh mereka, harus diislamkan, agar seluruh gerak dan tindakan yang hendak dilakukan oleh kaum Muslim adalah Islamis. Sejarah Islam yang panjang terlalu suram untuk dijadikan model emulasi. Pemimpin dan khalifah pada zaman yang disebut era kegemilangan Islam tidak lebih dari kaum hedonistik yang identik dengan wanita, minuman keras dan cerita 1001 malam. Kalaupun ada jasa mereka, tidak lebih dari memasukkan unsur kebid’ahan Yunani lewat apa yang dinamakan falsafah. Dan kaum Muslim semakin menjauh saja dari ajaran asli Islam.

Secara umum, tipologi reformistik adalah kecenderungan yang meyakini bahwa antara turats dan modernitas kedua-duanya adalah baik. Masalahnya, bagaimana menyikapi keduanya dengan adil dan bijak. Adalah salah memprioritaskan satu hal dan merendahkan yang lain, karena, kalau mau jujur, kedua-duanya bukan milik umat Islam sekarang; turats milik orang lampau dan modernitas milik Barat. Mengambil satu dan membuang yang lain adalah gegabah, dan membuang kedua-duanya adalah konyol. Yang adil dan bijak adalah bagaimana mengharmonisasikan keduanya dengan tidak menyalahi akal sehat dan standar rasional, inilah inti dari reformasi itu.

Gerakan reformistik dalam dunia Isam modern telah dimulai dan disemai oleh para pemikir-pemikir Muslim rasionalis semenjak Rifa’at Tahtawi dan al-Tunisi. Puncaknya dalam diri Muhammad ‘Abduh. `Abduh adalah cikal-bakal gerakan reformis yang ada sekarang ini. Hanya, kecenderungan dikotomis untuk menjadi “kiri” atau “kanan” dalam madzhab ‘Abduh semakin intens dan kelihatan. Kelompok kiri penerus ‘Abduh semakin lama semakin kiri dan kelompok kanan juga terus semakin kanan, atau memutuskan diri sama sekali dari kerangka ajaran sang imam, alias menjadi fundamentalis.

Gerakan reformistik adalah proses evolusi madrasah ‘Abduh yang beraliran kiri; pada mulanya adalah ‘Abduh, kemudian Qasim Amin, kemudian ‘Ali ‘Abd al-Raziq, kemudian Imarah dan terakhir Hassan Hanafi. Semakin kemari semakin kiri, dan semakin jauh dari kerangka berpikir sang Imam. Kasusnya sama dengan kelompok kanan, semakin kemari semakin menjadi radikal (perhatikan mata-rantainya: dari ‘Abduh, kemudian Rasyid Ridla, kemudian Hassan al-Banna, dan terakhir Sayyid Quthb).

Kiri Islam lahir dari kesadaran penuh atas posisi tertindas umat Islam, untuk kemudian melakukan rekonstruksi terhadap seluruh bangunan pemikiran Islam tradisional agar dapat berfungsi sebagai kekuatan pembebasan. Upaya rekonstruksi ini adalah suatu keniscayaan karena bangunan pemikiran Islam tradisional yang sesungguhnya satu bentuk tafsir justru menjadi pembenaran atas kekuasaan yang menindas. Upaya rekonstruksi ini diawali dengan menjaga jarak terhadap Asy’arisme, pemikiran keagamaan resmi yang telah bercampur dengan tasawuf dan menjadi ideologi kekuasaan, serta mempengaruhi perilaku negatif rakyat untuk hanya menunggu perintah dan ilham dari langit. Hassan Hanafi lebih welcome dengan Mu’tazilah versi Muhammad Abduh yang memproklamirkan kemampuan akal untuk mencapai pengetahuan dan kebebasan berinisiatif dalam perilaku. Juga melanjutkan apa yang dirintis oleh Al-Kawakibi dalam menganalisis faktor-faktor sosial politik untuk membebaskan dan memperkuat kaum muslimin. Dan Kiri Islam juga mewarisi kapabilitas Muhammad Iqbal dan upaya-upayanya dalam “Pembaharuan Pemikiran Keagamaan dalam Islam” (Reconstruction of Islamic Thoughts).

Oleh: Anjar Nugroho SB | November 11, 2009

Jihad dan Terorisme

ANTARA JIHAD DAN TERORISME

 

Oleh: Anjar Nugroho

 

A.     Pendahuluan

Jihad menempati posisi yang cukup penting dalam agama Islam. Jihad juga menjadi kata kunci dalam menegakkan dan menjunjung tinggi ajaran Islam, dari awal penyebarannya pada masa Rasulullah sampai saat ini. Karena urgensinya itulah, maka sekelompok umat Islam bahkan menempatkan jihad sebagai rukun Islam yang keenam setelah syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji.

 

Ayat-ayat jihad pun bertebaran dalam al-Qur’an al-Karim dengan beragam kata turunannya. Dari yang bermakna sekuat-kuatnya (jahd), kesungguhan (juhd), atau perjuangan (jihad) (Rahardjo: 516-7). Kata jihad dalam beberapa kesempatan dalam al-Qur’an senafas dengan qital (perang). Pada aspek inilah, jihad yang pada akhirnya banyak disalah pahami sebagian orientalis sebagai sesuatu yang selalu strike againt (menyerang melawan).

 

Karena beberapa peristiwa yang membawa-bawa jihad sebagai alasan dalam melakukan tindak kekerasan, seperti pada era tahun 1970-an di Indonesia muncul kerusuhan sosial yang dipicu oleh gerakan “Komando Jihad”, peristiwa Bom Bali yang setelah pelakunya ditangkap mengaku melakukan itu dalam rangka jihad fi sabilillah dan berbagai tindak kekerasan baik di Indonesia maupun di wilayah lain yang dimotori oleh gerakan Islam radikal, sehingga istilah jihad hampir-hampir telah menimbulkan persepsi yang mengandung unsur pejoratif.

 

Pada akhirnya jihad oleh banyak kalangan non-Muslim dipahami setali tiga uang dengan terorisme. Jika mendengar kata jihad yang terbayang adalah perang, kerusuhan atau bom bunuh diri. Pada titik inilah, makna ajaran suci jihad telah tereduksi sedemian rupa menjadi stigma (noda hitam) dalam sejarah umat. Jihad yang disebut-sebut sebagai sumber kekuatan (doktrin) perjuangan membela agama dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, seperti kemerdekaan, keadilan dan perdamaian, telah menjadi sumber fitnah bagi umat Islam.

 

Untuk itulah, tema jihad perlu diangkat dalam makalah ini untuk mendudukkan kembali secara benar jihad dalam struktur ajaran Islam dan memilah secara cerdas antara jihad dan berbagai macam tindak kekerasan yang dapat dikategorikan sebagai perilaku terorisme.

 

B.     Pengertian Jihad

Jihad dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar dari kata jaahada, jihaadan, wa mujaahadatan. Abu al-Hasan al-Malikiy, dalam buku Kifaayat al-Thaalib, mengatakan, bahwa dalam pengertian bahasa, jihaad diambil dari kata al-jahd yang bermakna al-ta’ab wa al-masyaqqah (kesukaran dan kesulitan). (al-Malikiy, t.t.:3-4)

 

Para ulama berbeda dalam memberi definisi tentang jihad. Secara umum, ulama Salaf mengartikan bahwa jihad adalah suatu usaha optimal untuk memerangi orang-orang kafir pada satu sisi, dan sisi lainnya adalah usaha optimal untuk mengendalikan hawa nafsu dalam rangka mentaati Allah atau lebih dikenal dengan (mujahadatun nafsi), seperti makna kata jihad dalam sabda Rasulullah

المجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله

“Seorang mujahid adalah orang yang mengendalikan hawa nafsunya untuk mentaati Allah”

 

Hasan al-Banna (1965: 87), pemimpin terkemuka Ikhwan al-Muslimin, dalam bukunya, Risalah Jihad, juga cenderung mengartikan  jihad sebagai perjuangan bersenjata dan kata jihad memang dipakai untuk membangkitkan semangat dan motivasi untuk berjuang dengan mempertaruhkan nyawa.

 

Para ulama-ulama fiqih, seperti Ibn Rusyd dalam Bidayah al-Mujtahid memberi nama bab kitab jihad ketika menulis tentang perang dan damai. Hal ini memberi kesan bahwa jihad identik dengan peperangan antara pihak islam vis-à-vis musuh Islam. Tetapi seperti dikatakan oleh Muhammad Ali, memberi judul jihad dalam pembahasan mengenai hukum perang (qital) dalam kitab-kitab fikih klasik adalah karena para ahli fiqih itu, sebagai yuris, ingin menelaah kedudukan hukum dari perang. Dengan meletakkan hukum tentang perang dalam konteks ajaran jihad, maka para ulama sebenarnya telah mengendalikan dan meluruskan persepsi masyarakat tentang perang (Rahardjo: 514)

.

Pengertian yang lebih luas tentang jihad diberikan oleh seorang mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Abuya A.R. Sutan Mansur. Menurut dia, jihad adalah “bekerja sepenuh hati”. Diakuinya, bahwa jihad bisa berbentuk perang, tapi baginya “perintah perang adalah terbatas”. Ia berpendapat bahwa jihad di waktu damai itu adalah berat karena jihad dimaknai sebagai membangun, menegakkan, dan menyusun (Basyir, 1980: 54).

Sejalan dengan pengertian jihad yang diberikan oleh Abuya A.R. Sutan Mansur, dalam Ensiklopedi Dunia Islam Modern, jihad mempunyai makna dasar berikhtiar keras untuk mencapai tujuan yang terpuji. Kata ini bisa berarti perjuangan melawan kecenderungan jahat atau pengerahan daya untuk atau demi Islam dan ummah (Esposito, 2001: 63). Pengertian ini diperkuat oleh pengertian jihad yang telah dirumuskan oleh madzab Hanafi sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab Bada’i’ as-Shana’i’, “Secara literal, jihad adalah ungkapan tentang pengerahan seluruh kemampuan… sedangkan menurut pengertian syariat, jihad bermakna pengerahan seluruh kemampuan dan tenaga dalam berjuang di jalan Allah, baik dengan jiwa, harta, lisan ataupun yang lain. (Kasani, t.t.: 97)

Dua pengertian jihad terdahulu (oleh Sutan Mansur dan dalam Ensiklopedi Dunia Islam Modern), diperkuat oleh Ziauddin Sardar (1979: 45)  yang mengatakan bahwa jihad adalah upaya yang terarah dan menerus untuk menciptakan perkembangan (development) Islam. Itulah, menurut Sardar, yang disebut jihad fi sabilillah atau berjuang di jalan Allah.

 

Dalam konteks kehidupan sekarang ini, muncul predikat-predikat baru di belakang kata jihad, seperti jihad al-da’wah atau jihad al-tarbiyah, yang mengatakan semangat jihad dapat diwujudkan dalam bentuk dakwah dan pendidikan. Ada pula jihad bi al-lisan dan jihad bi al-qalam (jihad dengan perantara lisan dan pena), serta jihad bi al-mal (jihad dengan harta benda). Keseluruhan itu termasuk dalam jihad fi sabilillah atau perjuangan di jalan Allah, yaitu jalan kebenaran (shirat al-mustaqim).

 

C.     Jihad dalam al-Qur’an

Di dalam Al-Qur’an kata jihad dalam berbagai kata bentukannya disebutkan sebanyak 41 kali. Tetapi kata jihad itu sendiri hanya disebut 4 kali. Dari beberapa ayat tersebut, jihad dapat berarti perjuangan yang berat, mengerahkan segenap kemampuan untuk meraih suatu tujuan dan berperang. Jihad yang berarti berperang lebih banyak disebutkan dengan kata “qital”, hanya sebagian kecil yang disebutkan dengan kata “jihad”. Jihad dalam pengertian pertama –bekerja keras dengan seluruh kemampuan- antara lain disebutkan dalam Qs. Luqman/31 : 15:

 

bÎ)ur š‚#y‰yg»y_ #’n?tã br& š‚͍ô±è@ ’Î1 $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ Ÿxsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$|¹ur ’Îû $u‹÷R‘‰9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur Ÿ@‹Î6y™ ô`tB z>$tRr& ¥’n<Î) 4 ¢OèO ¥’n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé’sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ

 

“Apabila keduanya (ibu bapak) berjihad (bersungguh-sungguh hingga letih me-maksamu) untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada bagimu pengetahuan tentang itu (apalagi jika kamu telah mengetahui bahwa Allah tidak boleh dipersekutukan dengan sesuatu apapun), jangan taati mereka, namun pergauli keduanya di dunia dengan baik.”

 

 

Ayat pertama yang menggunakan kata jihad adalah yang termaktub dalam Qs. Al-Furqan/25: 52:

Ÿxsù ÆìÏÜè? šúï͍Ïÿ»x6ø9$# Nèdô‰Îg»y_ur ¾ÏmÎ/ #YŠ$ygÅ_ #ZŽÎ7Ÿ2 ÇÎËÈ

“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar”.

 

 

Ayat yang turun di Makkah ini berbicara mengenai fungsi al-Qur’an, yaitu sebagai alat ukur untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil. Dalam ayat ini, al-Qur’an adalah “senjata perjuangan”. Ia dibuka dengan kata-kata (Qs. Al-Furqan/25: 1:

x8u‘$t6s? “Ï%©!$# tA¨“tR tb$s%öàÿø9$# 4’n?tã ¾Ínωö6tã tbqä3u‹Ï9 šúüÏJn=»yèù=Ï9 #·ƒÉ‹tR ÇÊÈ

“Maha Suci Allah yang Telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”.

 

Selanjutnya, ayat-ayat dalam surat ini berbicara mengenai keesaan Allah dan menolak tuduhan orang-orang kafir dan musyrik yang menganggap al-Qur’an sebagai “dongeng orang-orang terdahulu” (asathiru al-awwalin), yang dibacakan pada pagi dan petang. Tentang tuduhan itu, surat ini menjawab (Qs. Al-Furqan/25: 6):

ö@è% ã&s!t“Rr& “Ï%©!$# ãNn=÷ètƒ §ŽÅc£9$# ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur 4 ¼çm¯RÎ) tb%Ÿ2 #Y‘qàÿxî $\KŠÏm§‘ ÇÏÈ

Katakanlah: “Al Quran itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 

Penduduk di Makkah waktu itu juga menggugat peran Nabi dan mempertanyakan (Qs. Al-Furqan/25: 7):

(#qä9$s%ur ÉA$tB #x‹»yd ÉAqߙ§9$# ã@à2ù’tƒ uQ$yè©Ü9$# ÓÅ´ôJtƒur †Îû É-#uqó™F{$#   Iwöqs9 tA̓Ré& Ïmø‹s9Î) ҁn=tB šcqä3uŠsù ¼çmyètB #·ƒÉ‹tR ÇÐÈ

“Dan mereka berkata: “Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama- sama dengan dia”

 

Orang-orang Makkah tidak bisa mengerti mengapa seorang manusia biasa yang berjual beli di pasar seperti yang dilakukan oleh Rasulullah, karena pekerjaan beliau sebagai pedagang, bisa dipilih sebagai Rasul. Maka kemudian ayat-ayat al-Qur’an turun tentang kejadian langit dan bumi dan tanda-tanda kekuasaan Allah dalam berbagai peristiwa alam. Dengan keterangan-keterangan seperti itulah Rasulullah harus berjuang terhadap orang-orang yang menolak (kafir). Dalam situasi seperti ini, Rasulullah berjuang sekuat tenaga untuk bisa menginsafkan masyarakat. Dan senjata yang dipakai adalah al-Qur’an (Qs. Al-Furqan/25: 51-52):

öqs9ur $oYø¤Ï© $oY÷Wyèt7s9 ’Îû Èe@à2 7ptƒös% #\ƒÉ‹¯R ÇÎÊÈ Ÿxsù ÆìÏÜè? šúï͍Ïÿ»x6ø9$# Nèdô‰Îg»y_ur ¾ÏmÎ/ #YŠ$ygÅ_ #ZŽÎ7Ÿ2 ÇÎËÈ

“Dan Andaikata kami menghendaki benar-benarlah kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar”.

 

Dari ayat ini dapat disimpulkan mengenai makna jihad, yaitu suatu perjuangan berat yang harus dilaksanakan Rasulullah untuk memberi penjelasan mengenai keesaan Allah kepada masyarakat yang masih cenderung politeis (menyembah banyak Tuhan) dengan bahan-bahan bacaan dalam al-Qur’an.

 

Kata-kata jihad disebut dua kali dalam satu ayat (jahada dan yujahidu) yang mengandung arti berjuang. Hal itu disebut Allah dalam Qs. Al-‘Ankabut/29:6:

`tBur y‰yg»y_ $yJ¯RÎ*sù ߉Îg»pgä† ÿ¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9 4 ¨bÎ) ©!$# ;ÓÍ_tós9 Ç`tã tûüÏJn=»yèø9$# ÇÏÈ

“Dan barangsiapa yang berjihad, Maka Sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.

 

Dalam ayat tersebut, jihad dimaknai sebagai perjuangan di jalan Allah dalam arti yang seluas-luasnya. Dan jika dihubungkan (munasabatu al-ayat) dengan ayat berikutnya, maka yang menjadi inti dari pesan Allah tentang jihad ini adalah iman dan amal shalih. Perhatikan ayat Qs. Al-‘Ankabut/29:7 berikut:

 

tûïÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä (#qè=ÏHxåur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# ¨btÏeÿs3ãZs9 óOßg÷Ytã ôMÎgÏ?$t«Íh‹y™ ôMßg¨YtƒÌ“ôfuZs9ur z`|¡ômr& “Ï%©!$# (#qçR%x. tbqè=yJ÷ètƒ ÇÐÈ

Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”.

 

Beriman membutuhkan kesungguhan (jihad), begitu pula beramal shalih. Iman seseorang akan mendapat ujian dari Allah untuk mengukur kedalaman dan kesungguhan iman. Dan seseoang yang lolos dari ujian itu – yang bisa berupa musibah, celaan dari orang lain, dan sebagainya – maka keimanannya mengalami kenaikan (eskalatif). Hal ini disampaikan Allah dalam  Qs. Al-‘Ankabut/29:2:

|=Å¡ymr& â¨$¨Z9$# br& (#þqä.uŽøIムbr& (#þqä9qà)tƒ $¨YtB#uä öNèdur Ÿw tbqãZtFøÿムÇËÈ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”

 

Begitu pula amal shalih, dalam aplikasinya pada realitas sehari-hari membutuhkan jihad (kesungguhan). Amal shalih adalah jihad untuk mengorbankan harta yang disukai kepada orang lain yang membutuhkan, diantaranya fakir-miskin, anak yatim, kerabat atau ibn sabil (Q.s. al-Baqarah/2: 177). Amal shalih juga berarti jihad untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar (Qs. Ali Imran/3: 104, 110). Atau amal shalih juga bisa dimaknai sebagai jihad untuk menuntut ilmu demi kemajuan dan kemashlahatan umat (Qs. Al-Kahfi/16: 64-70).

 

Dari beberapa paparan ayat-ayat jihad di atas, dapat disimpulkan sementara bahwa jihad adalah kesungguhan untuk berjuang di jalan Allah dengan melakukan penyadaran terhadap suatu kaum yang masih berbalut dengan kemusyrikan. Jihad juga adalah kesungguhan untuk mempertahankan dan meningkatkan kadar keimanan setelah melalui berbagai cobaaan. Dan jihad juga merupakan perjuangan yang sungguh-sungguh merealisasikan amal shalih dalam arti seluas-luasnya dalam ranah kehidupan nyata.

 

Dan bagaimana tentang ayat-ayat jihad yang terkait dengan perang (qital)? Untuk masalah ini, perlu dicermati sekali lagi ayat-ayat tentang qital, seperti dalam Qs. Al-Anfal/8: 39:

öNèdqè=ÏG»s%ur 4Ó®Lym Ÿw šcqä3s? ×puZ÷GÏù tbqà6tƒur ß`ƒÏe$!$# ¼ã&—#à2 ¬! 4 ÂcÎ*sù (#öqygtGR$#  cÎ*sù ©!$# $yJÎ/ šcqè=yJ÷ètƒ ׎ÅÁt/ ÇÌÒÈ  

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan”.

 

Senafas dengan ayat di atas, adalah ayat-ayat yang terdapat dalam Qs. Al-Baqarah/2: 190-193:

(#qè=ÏG»s%ur ’Îû È@‹Î6y™ «!$# tûïÏ%©!$# óOä3tRqè=ÏG»s)ムŸwur (#ÿr߉tG÷ès? 4 žcÎ) ©!$# Ÿw =ÅsムšúïωtG÷èßJø9$# ÇÊÒÉÈ öNèdqè=çFø%$#ur ß]ø‹ym öNèdqßJçGøÿÉ)rO Nèdqã_̍÷zr&ur ô`ÏiB ß]ø‹ym öNä.qã_t÷zr& 4 èpuZ÷FÏÿø9$#ur ‘‰x©r& z`ÏB È@÷Gs)ø9$# 4 Ÿwur öNèdqè=ÏG»s)è? y‰ZÏã ωÉfó¡pRùQ$# ÏQ#tptø:$# 4Ó®Lym öNä.qè=ÏF»s)ムÏmŠÏù ( bÎ*sù öNä.qè=tG»s% öNèdqè=çFø%$$sù 3 y7Ï9ºx‹x. âä!#t“y_ tûï͍Ïÿ»s3ø9$# ÇÊÒÊÈ ÈbÎ*sù (#öqpktJR$# ¨bÎ*sù ©!$# ֑qàÿxî ×LìÏm§‘ ÇÊÒËÈ öNèdqè=ÏG»s%ur 4Ó®Lym Ÿw tbqä3s? ×poY÷FÏù tbqä3tƒur ßûïÏe$!$# ¬! ( ÈbÎ*sù (#öqpktJR$# Ÿxsù tbºurô‰ã㠞wÎ) ’n?tã tûüÏHÍ>»©à9$# ÇÊÒÌÈ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan Bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka Telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), Maka Bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu Hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.”

 

 

Pertama-tama yang harus dipahami ketika membaca ayat-ayat itu adalah konteks mikro dan makro yang menyertai turunnya ayat. Telah diketahui secara jamak bahwa hampir setengah dari sejarah Islam pada masa Rasulullah (saat turun ayat-ayat al-Qur’an) adalah situasi konfliktual antara kaum Muslimin dan kaum kafir Quraisy. Pada beberapa kasus, situasi konfliktual itu berujung pada peperangan fisik yang melibatkan kekuatan penuh antara kedua belah pihak. Secara historis konflik itu berakhir saat peristiwa yang kemudian diabadikan dengan nama fathu al-Makkah.

 

Suasana perang kala itu harus disertakan secara linier pada ayat-ayat yang terkait dengan jihad dalam pengertian perang (qital). Pada ayat Q.s. al-Baqarah/2:190 berbicara tentang kapan peperangan dimulai, yaitu disaat kaum kafir Quraisy menyerang umat Islam. Posisi umat Islam saat itu sebagai pihak yang bertahan (didhalimi) atas serangan pihak lain yang ingin mengusasi dan tentunya menghalagi umat Islam dalam melakukan ajaran-ajarannya. Teori perang manapun dan kapanpun tentu memaklumi situasi seperti ini yang tergambar dalam Q.s. al-Baqarah/2:191-192.

 

Perang itu sendiri harus diakhiri di saat ancaman fitnah oleh kaum kafir Quraisy dapat dipadamkan oleh kekuatan Islam seperti disampaikan dalam Q.s. al-Baqarah/2:193, karena tujuan peperangan dalam Islam adalah menghentikan kedhaliman dan penganiayaan, bukan ingin menguasai dan memaksa kaum atau pihak lain menerima ajaran Islam. Penguasaan dan pemaksaan agama Islam kepada pihak lain tentunya bertentangan dengan Qs. Al-Baqarah/2: 256:

Iw on#tø.Î) ’Îû ÈûïÏe$!$# ( ‰s% tû¨üt6¨? ߉ô©”9$# z`ÏB ÄcÓxöø9$# 4 `yJsù öàÿõ3tƒ ÏNqäó»©Ü9$$Î/ -ÆÏB÷sãƒur «!$$Î/ ωs)sù y7|¡ôJtGó™$# Íouróãèø9$$Î/ 4’s+øOâqø9$# Ÿw tP$|ÁÏÿR$# $olm; 3 ª!$#ur ìì‹Ïÿxœ îLìÎ=tæ ÇËÎÏÈ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.

 

Memberi kebebasan atau keleluasaan kepada orang lain untuk menyakini dan mengamalkan ajaran agamanya adalah menjadi prinsip dalam ajaran Islam. Dalam hal ini menjadi semata-mata urusan Allah untuk menilai dan meminta pertanggungjawaban kepada masing-masing penganut keyakinan itu, seperti yang tergambar dalam Qs. Al-Kafirun/109: 1-6:

ö@è% $pkš‰r’¯»tƒ šcrãÏÿ»x6ø9$# ÇÊÈ Iw ߉ç6ôãr& $tB tbr߉ç7÷ès? ÇËÈ Iwur óOçFRr& tbr߉Î7»tã !$tB ߉ç7ôãr& ÇÌÈ Iwur O$tRr& ӉÎ/%tæ $¨B ÷L–n‰t6tã ÇÍÈ Iwur óOçFRr& tbr߉Î7»tã !$tB ߉ç6ôãr& ÇÎÈ ö/ä3s9 ö/ä3ãYƒÏŠ u’Í<ur Èûïϊ ÇÏÈ

“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.  Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

 

Kalau diperhatikan sekali lagi penggalan terakhir Qs. Al-Baqarah/2: 193:

ÈbÎ*sù (#öqpktJR$# Ÿxsù tbºurô‰ã㠞wÎ) ’n?tã tûüÏHÍ>»©à9$# ÇÊÒÌÈ

“…jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.”

 

Cuplikan ayat ini menggambarkan betapa sesungguhnya stressing (penekanan) ajaran Islam, bahkan pada ayat qital sekalipun, adalah perdamaian. Perang menjadi jalan terakhir ketika umat Islam pada posisi didhalimi dan diserang. Sedemikan penting penghentian perang dan keinginan kuat al-Qur’an untuk menciptakan perdamaian, sehingga Allah mengingatkan dalam Qs. Al-Anfal/8: 61:

* bÎ)ur (#qßsuZy_ ÄNù=¡¡=Ï9 ôxuZô_$$sù $olm; ö@©.uqs?ur ’n?tã «!$# 4 ¼çm¯RÎ) uqèd ßìŠÏJ¡¡9$# ãLìÎ=yèø9$# ÇÏÊÈ

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, Maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”

 

D.    Jihad dan Terorisme

TerorIsme sebagaimana definidsi dalam e-dictionary Wikipedia, adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil.

 

Masih menurut Wikipedia, banyak pendapat yang mencoba mendefinisikan terorisme, satu diantaranya adalah pengertian yang tercantum dalam pasal 14 ayat 1 The Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) act, 1984, sebagai berikut: “Terrorism means the use of violence for political ends and includes any use of violence for the purpose putting the public or any section of the public in fear.”

Kegiatan Terorisme mempunyai tujuan untuk membuat orang lain merasa ketakutan sehingga dengan demikian dapat menarik perhatian orang, kelompok atau suatu bangsa. Biasanya perbuatan teror digunakan apabila tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk melaksanakan kehendaknya. Terorisme digunakan sebagai senjata psikologis untuk menciptakan suasana panik, tidak menentu serta menciptakan ketidak percayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dan memaksa masyarakat atau kelompok tertentu untuk mentaati kehendak pelaku teror. Terorisme tidak ditujukan langsung kepada lawan, akan tetapi perbuatan teror justru dilakukan dimana saja dan terhadap siapa saja. Dan yang lebih utama, maksud yang ingin disampaikan oleh pelaku teror adalah agar perbuatan teror tersebut mendapat perhatian yang khusus atau dapat dikatakan lebih sebagai psy-war.

Dengan pengertian yang demikian itu, maka secara sepintas dapat disimpulkan bahwa antara terorisme dan jihad adalah jauh panggang dari api, baik dari segi tujuan, motif maupun modus. Tujuan jihad adalah kemaslahatan dan hilangnya kedhaliman serta dengan motif untuk menegakkan nilai-nilai luhur agama dan modus yang tidak boleh melanggar hak orang lain, sedangkan terorisme mempunyai tujuan memperjuangangkan kepentingan sempit pribadi maupun kelompok, dan motif ingin membuat sensasi (menarik perhatian publik dengan aksinya) serta modusnya dengan berbuat kerusakan yang melanggar hak-hak orang lain, termasuk hak hidup.

 

Senada dengan itu, dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 3 Tahun 2004 tentang terorisme dijelaskan secara mendasar karakteristik yang membedakan antara jihad dan terorisme yaitu; Pertama, jihad sifatnya melakukan perbaikan (ishlah) sekalipun dengan cara peperangan, sedangkan terorisme bersifat merusak (ifsad) dan anarkhis/chaos (faudha). Kedua, jihad bertujuan untuk menegakkan agama Allah dan/atau membela hak-hak pihak yang terzholimi, sementara terorisme bertujuan untuk menciptakan rasa takut dan/atau menghancurkan pihak lain.

 

Ketiga, jihad dilakukan dengan mengikuti aturan yang ditentukan oleh syariat dengan sasaran musuh yang sudah jelas, sedangkan terorisme dilakukan tanpa aturan dan sasaran tanpa batas (indiskriminatif) (Sunu, 2009). Di samping itu Allah SWT melarang keras tindakan terorisme ini yang tercermin dalam firman-Nya antara lain, (Qs. Al-Maidah/5: 33):

$yJ¯RÎ) (#ätÂt“y_ tûïÏ%©!$# tbqç/͑$ptä† ©!$# ¼ã&s!qߙu‘ur tböqyèó¡tƒur ’Îû ÇÚö‘F{$# #·Š$|¡sù br& (#þqè=­Gs)ム÷rr& (#þqç6¯=|Áム÷rr& yì©Üs)è? óOÎgƒÏ‰÷ƒr& Nßgè=ã_ö‘r&ur ô`ÏiB A#»n=Åz ÷rr& (#öqxÿYムšÆÏB ÇÚö‘F{$# 4 šÏ9ºsŒ óOßgs9 ӓ÷“Åz ’Îû $u‹÷R‘‰9$# ( óOßgs9ur ’Îû ÍotÅzFy$# ë>#x‹tã íOŠÏàtã ÇÌÌÈ

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar”

 

Disebut pula dalam Q.s al-Maidah/5: 32:

ô`ÏB È@ô_r& y7Ï9ºsŒ $oYö;tFŸ2 4’n?tã ûÓÍ_t/ Ÿ@ƒÏäÂuŽó Î) ¼çm¯Rr& `tB Ÿ@tFs% $G¡øÿtR ΎötóÎ/ C§øÿtR ÷rr& 7Š$|¡sù ’Îû ÇÚö‘F{$# $yJ¯Rrx6sù Ÿ@tFs% }¨$¨Z9$# $Yè‹ÏJy_ ô`tBur $yd$uŠômr& !$uK¯Rr’x6sù $uŠômr& }¨$¨Y9$# $Yè‹ÏJy_ 4 ô‰s)s9ur óOßgø?uä!$y_ $uZè=ߙ①ÏM»uZÉit7ø9$$Î/ ¢OèO ¨bÎ) #ZŽÏWx. Oßg÷YÏiB y‰÷èt/ šÏ9ºsŒ ’Îû ÇÚö‘F{$# šcqèùΎô£ßJs9 ÇÌËÈ

“Oleh Karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain], atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah dia Telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya Telah datang kepada mereka rasul-rasul kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, Kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi”.

 

Dengan demikian, maka tidak ada dalil dan alasan yang kuat bagi mereka yang mengatakan bahwa terorisme adalah jihad, dan begitu pula bagi mereka yang melakukan tindakan terorisme atas nama jihad. Oleh sebab itu terorisme sama sekali tidak dapat dibenarkan.

 

E.     Bom Bunuh Diri: Jihad atau Teror?

Para aktor bom Bali dikala belum dikesekusi mati, diantaranya Imam Samudra,  Jangankan menyesali perbuatannya, malah menganggap aksinya sebagai jihad fi sabilillah dan mengajak umat Islam untuk mengikuti. Pengakuan tersebut tertuang dalam bukunya, “Aku Melawan Teroris!” terbitan Jazera, Solo, 2004 (Romli, 2005). Jika itu jihad, dalam keyakinan mereka, mati adalah pintu gerbang menuju jalan tol yang menghantarkan mereka menuju surga.

 

Apa yang diyakini Imam Samudra cs., diyakini pula oleh para pelaku bom bunuh diri baik yang di Bali  sampai di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton yang terletak di kawasan Mega Kuningan Jakarta. Seakan mereka tidak peduli dengan banyaknya korban dari warga biasa yang tentunya tidak ada sangkut-pautnya sama sekali dengan “musuh yang harus diserang” dalam bayangan para pelaku bom itu.

 

Apakah yang mereka lakukan itu bisa dikatakan jihad, yang bernilai tinggi dihadapan Allah atau bagian dari kegiatan terorisme yang melanggar secara berat hak manusia? Pertanyaan ini tentu sederhana saja untuk dijawab, karena jika menilik ajaran Islam, maka bisa dipastikan bahwa ajaran suci ini tidak akan pernah merestui motif apapun bom bunuh diri.

 

Pada zaman Nabi, dalam situasi perang sekalipun, jatuhnya korban sebisa mungkin bisa diminimalisir, dan jangan sampai orang-orang yang tidak berdosa (dalam konteks ini anak-anak dan perempuan) jatuh menjadi korban. Bandingkan dengan perilaku teror bom bunuh diri yang korbannya tidak pandang bulu. Pesan Allah dalam Qs. Al-Mumtahanan/60: 8, bisa menjadi renungan:

žw â/ä38yg÷Ytƒ ª!$# Ç`tã tûïÏ%©!$# öNs9 öNä.qè=ÏG»s)ム’Îû ÈûïÏd‰9$# óOs9ur /ä.qã_̍øƒä† `ÏiB öNä.̍»tƒÏŠ br& óOèdr•Žy9s? (#þqäÜÅ¡ø)è?ur öNÍköŽs9Î) 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä† tûüÏÜÅ¡ø)ßJø9$# ÇÑÈ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.

 

Kata dhamir hum pada ayat itu merujuk kepada orang kafir yang hidup damai berdampingan dengan umat Islam. Bahkan kalau diperhatikan pada ayat sebelumnya (Qs. Al-Mumtahanan/60: 7), justru Allah menganjurkan untuk mencurahkan kasih sayang kepada mereka.

* Ó|¤tã ª!$# br& Ÿ@yèøgs† ö/ä3oY÷t/ tû÷üt/ur tûïÏ%©!$# NçF÷ƒyŠ$tã Nåk÷]ÏiB Zo¨Šuq¨B 4 ª!$#ur ֍ƒÏ‰s% 4 ª!$#ur ֑qàÿxî ×LìÏm§‘ ÇÐÈ

“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. dan Allah adalah Maha Kuasa. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

 

Lebih dari itu, Islam juga menetapkan aturan main untuk berjihad dalam arti perang berupa batasan untuk tidak memerangi anak-anak, wanita, dan orang jompo, sebab mereka adalah kaum lemah yang tidak pantas untuk menjadi korban, sehingga mereka harus dilindungi. Aturan yang sungguh mulia ini Allah tetapkan dalam (QS. Al-Baqarah/2: 190):

(#qè=ÏG»s%ur ’Îû È@‹Î6y™ «!$# tûïÏ%©!$# óOä3tRqè=ÏG»s)ムŸwur (#ÿr߉tG÷ès? 4 žcÎ) ©!$# Ÿw =ÅsムšúïωtG÷èßJø9$# ÇÊÒÉÈ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

 

 

Bom bunuh diri, disamping menganiaya bahkan menghilangkan nyawa orang lain yang semetinya dijaga, juga menganiaya dan menghilangkan nyawa diri para pelaku bom bunuh diri itu. Tentang hal ini Rasulullah secara tegas menyatakan pelakunya (orang yang bunuh diri) berdosa besar dan akan menerima akibat buruk di akherat kelak. Sebagaimana hadis riwayat Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah ra:

 من قتل نفسه بحديدة فحديدته في يده يتوجأ بها في بطنه في نار جهنم خالدا مخلدا فيها أبدا ومن شرب سما فقتل تفسه فهو يتحساه في نار جهنم خالدا مخلدا فيها أبدا ومن تردى من جبل فقتل نفسه فهو يتردى في نار جهنم خالدا مخلدا فيها أبدا

 

“Barangsiapa yang bunuh diri dengan besi di tangannya, dia (akan) menikam perutnya di dalam neraka jahannam yang kekal (nantinya), (dan) dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa yang meminum racun lalu bunuh diri dengannya, maka dia (akan) meminumnya perlahan-lahan di dalam neraka jahannam yang kekal, (dan) dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya dari atas gunung, dia akan jatuh ke dalam neraka jahannam yang kekal (dan) dikekalkan di dalamnya selama-lamanya.”

 

Senada dengan hadis itu, sabda Rasulullah yang lain diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Tsabit bin Dhahhak ra:

ومن قتل نفسه بشيئ في الدنيا عذب به يوم القيامة

“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia, maka dia disiksa dengan (alat tersebut) pada hari kiamat.”

 

Memperhatikan keterangan ayat al-Qur’an dan hadis di atas, dapat didimpulkan bahwa bom bunuh diri adalah dilarang dalam agama Islam karena akibat dari perbuatan itu merusak diri sendiri maupun orang lain. Sehingga bom bunuh diri bisa dikategorikan sebagai bagian dari terorisme dari pada jihad fi sabilillah.

 

F.      Penutup

Dari uraian di atas, secara umum dapat disimpulkan bahwa terorisme bukan menjadi bagian dari jihad. Masing mempunyai karakteristik yang berbeda, walaupun kebanyakan orang masih menyalahpahami dengan menyamakan antara keduanya. Lewat penelusuran ayat-ayat al-Qur’an dapat diketahui bahwa tindakan terorisme melanggar ketentuan syari’at Islam. Dan jika merujuk kepada fatwa yang dikeluarkan oleh MUI bahwa jihad hukumnya wajib, sementara terorisme hukumnya adalah haram, baik dilakukan oleh perorangan, kelompok, maupun negara. Serta yang terakhir, bahwa bom bunuh diri secara nyata adalah bagian dari tindakan teror dan tidak bisa dibenarkan dengan motif apapun termasuk jihad fi sabilillah. Jihad mempunyai tujuan mulia dan harus dikerjakan dengan cara-cara mulia dan beradab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Banna, Hassan, “Risalah al-Jihad”, dalam Majmu’ah Rasail al-Imam asy-Syahid Hasan al-Banna, Beirut: Dar al-Andalus, 1965.

 

Al-Kaasaaniy, ‘Ilaa’ al-Diin, Badaai’ al-Shanaai’, juz VII, Beirut: Dar al-Fikr, t.t.

 

Al-Malikiy,  Abu al-Hasan, Kifaayat al-Thaalib, juz 2/3-4, Beirut: Dar al-Fikr, t.t.

 

Basyir, Akhmad Azhar, Falsafah Ibadah dalam Islam, Yogyakarta: Perpustakaan Pusat UII, 1980.

 

Esposito,  John L. (ed), Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern, Bandung: Penerbit Mizan, 2001

 

Romli, M. Guntur, “Jihad Melawan Terorisme”, dalam http://islamlib.com/id/artikel/jihad-melawan-terorisme/, diakses tanggal 2 November  2009

 

Sardar, Ziauddin, Rekayasa Masa Depan Umat Islam, Bandung: Mizan, 1979

 

Sunu, Handika Fuji,Antara Jihad dan Terorisme” dalam http://www.analisadaily.com/index.php?option=com, diakses tanggal 2 November  2009

 

http://id.wikipedia.org/wiki/Terorisme

 

 

 

 

Oleh: Anjar Nugroho SB | Oktober 29, 2009

Muhammadiyah dan Gerakan Islam Lain

PERSINGGUNGAN MUHAMMADIYAH DENGAN GERAKAN ISLAM LAIN

DI INDONESIA

 

Oleh: Anjar Nugroho

 

Pendahuluan

            Sebagai organisasi massa, Muhammadiyah telah membuka diri dalam pergaulan antar gerakan secara luas di Indonesia. Persinggungangan Muhammadiyah dengan gerakan Islam lain tidak bisa dihindarkan. KH. Ahmad Dahlan sendiri adalah sosok yang multikultural dengan relasi yang beragam dari kalangan tokoh-tokoh pergerakan lainnya di tanah air saat itu, seperti Budi Utomo maupun Syarekat Islam.

            Inklusivisme gerakan Muhammadiyah berkembang sampai hari ini. Anggota Muhamadiyah mempunyai beragam latar belakang kultur, pendidikan dan ideologi (dan kepentingan) politik. Keberbedaan itu tidak membuat Muhammadiyah kesulitan dalam mengkonsolidasi dan memobilisasi gerakannya, justru hal itu telah memperkaya khasanah baik pada tingkat diskursus maupun praksis gerakan. Abdul Munir Mulkhan mengklaisfikasi anggota Muhammadiyah dalam kategori MUMU (Muhammadiyah Murni) MUMA (Muhammadiyah Marhaen). MUNU (Muhammadiyah NU), Sebelum era reformasi, ada sebutan Muhammadiyah kuning (orang Muhammadiyah di Golkar), Muhammadiyah hijau (orang Muhammadiyah di PPP),  dan Muhammadiyah merah (orang Muhammadiyah di PDI).

            Persoalan baru muncul setelah era reformasi yang melahirkan berbagai macam gerakan Islam dan partai-partai politik “Islam” baru. Gerakan Islam baru yang muncul setelah reformasi seperti Majelis Mujahidin Indonesia, Lasykar Jihad (yang kemudian membubarkan diri), Front Pembela Islam dan lain-lainya. Ada pula yang eksistensinya mencuat di permukaan setelah reformasi yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Partai “Islam” baru banyak ragamnya, seperti Partai Keadilan (yang kemudian menjadi PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Bulan Bintang (PBB) dan sebagainya. Persoalan itu ada pada ranah politik saat terjadi perebutan massa sekaligus asset (fasilitas) milik Muhammadiyah. Merasa bahwa Muhammadiyah telah mempunyai PAN, maka aktifitas partai politik lain (khususnya PKS) yang memperebutkan massa warga Muhammdiyah menjadi biang persoalan akhir-akhir ini.

            Bagaimana sebetulnya peta gerakan Islam di dunia ini dan di mana posisi Muhammadiyah, di bawah ini terdapat uraian tentang itu.         

 

Munculnya Islamisme

Asal mula pemikiran dan gerakan Islamis dewasa ini bisa ditelusuri sampai ke gerakan Ikhwan al-Muslimin yang didirikan oleh Hasan al-Banna di Mesir tahun 1928 dan jamaat-I Islami yang didirikan Abu al-A’la al-Maududi pada tahun 1941 di Pakistan.. Kaum Islamis umumnya menganut teologi Salafi. Mereka menganjurkan gerakan kembali ke al-Qur’an, Sunah, dan hukum syari’at serta menolak khasanah tradisi (khususnya filsafat).

Kaum Islamis berpendapat bahwa masyarakat hanya bisa diislamkan melalui aktivitas sosial dan politik : perlu keluar dari masjid. Gerakan Islamis lebih memilih terlibat langsung dalam kehidupan politik. Sejak tahun 1960-an beberapa kali mereka mencoba meraih kekuasaan. Gerakan Islamis memiliki argumen politik yang berpijak pada asas bahwa Islam adalah sistem pemikiran global dan menyeluruh (a global and synthesizing system of thought). Menurut mereka, masyarakat yang terdiri dari orang-orang Islam saja tidak cukup, tetapi juga harus islami dalam landasan maupun strukturnya. Kelompok Islamis tidak dipimpin oleh ulama (kecuali di Iran), melainkan oleh para intelektual muda sekuler – yang secara terbuka mengklaim diri mereka sebagai “para pemikir keagamaan (religious thinkers)”- yang merupakan pesaing sekaligus penerus kelas ulama yang telah berkompromi dengan penguasa.kaum Islamis mencela para ulama karena dua hal : pertama, penghambaan mereka pada kekuasaan yang membuat mereka menerima pemerintahan dan hukum sekuler yang tidak sesuai dengan syari’at. Kedua, sikap kompromistis mereka dengan modernitas Barat.

            Kelompok Islamis tidak mau mengambil sikap devensif, berdamai, maupun apologetik seperti banyak kalangan “modernis” Muslim yang mau menunjukkan kemoderenan Islam dengan menggunakan ukuran nilai dan konsep-konsep Barat. Bagi kaum Islamis, persoalannya bukanlah untuk menunjukkan bahwa Islam mewujudkan nilai universal secara sempurna, melainkan sebaliknya, Islam-lah nilai universal itu dan tidak perlu diperbandingkan dengan agama atau sistem politik yang lain.

            Bagaimana cara mewujudkan masyarakat yang Islami? Kaum Islamis moderat dan radikal berbeda pendapat tentang topik ini sepanjang sejaran Islamisme. Kaum moderat mendukung proses Islamisasi dari bawah ke atas (bottom up), melalui media khutbah dan gerakan sosiokultural sembari mendesak para pemimpin (khususnya melalui aliansi politik) agar menggalakkan Islamisasi dari atas (memasukan syari’at Islam dalam perundang-undangan). Mereka menerima opsi revolusi hanya bila negara jelas-jelas bersikap anti Islam dan bila semua cara protes damai telah mengalami jalan buntu. Sementara kalangan radikal berpandangan bahwa tidak boleh ada kompromi dengan masyarakat Muslim yang sekarang (dhalim dan korup). Mereka menganjurkan perpecahan politik serta memperkenalkan konsep revolusi yang dipinjam dari ideologi-ideologi progressif abad ini. Walau ada perbedaan dalam penekanan gerakan antara kaum moderat dan radikal, gerakan-gerakan Islamis menawarkan doktrin yang jelas dan saling terjalin, selain juga moder organisasinya yang baru. Mereka telah mengakar di wilayah-wilayah yang secara sosiologis modern, dengan memutus secara tuntas lingkungan intelektual dan sosial para ulama tradisional.

 

Evolusi dari Islamisme ke neo-fundamentalisme

Selama tahun 1980-an terlihat ada pergeseran Islamisme politik ke neo-fundamentalisme. Kaum militan yang sebelumnya berjuang untuk revolusi kini terlibat dalam proses reislamisasi dari bawah. Evolusi ini ditentukan oleh beberapa faktor : pertama, tunduknya, dalam Islamisme itu sendiri, tindakan yang bersifat murni politik pada reformasi moralitas; kedua, hilangnya model Iran; ketiga, ketidakberhasilan upaya-upaya teroris atau revolusioner; ketiga, dipakainya simbol-simbol Islam oleh negara, sementara negara konservatif seperti Arab Saudi mulai membiayai dan dengan demikian menguasasi jaringan Islamisme lantas berupaya mempengaruhi kegiatan dan ideologi mereka ke arah neo-fundamentalisme yang lebih konservatif.

Orientasi gerakan neo-fundamentalisme antara lain mengganti proyek ideologi revolusioner dalam mengubah masyarakat digantikan dengan rencana pemberlakuan syariat dan pembersihan moral, sementara bidang politik, ekonomi dan sosial hanya dihadapi dengan retorika. Perempuan tidak boleh ikut serta dalam politik. Hak ijtihad individu dilepas. Menghilangkan ruang bagi refleksi politik dan elitisme asketis, sehingga gerakannya terpusat pada tindakan untuk mengisi kehidupan sehari-hari dengan moralitas dan menegakkan syari’at.

Transformasi gerakan Islamis menjadi neo-fundamentalis bukan saja mengurangi orisinalitas mereka sendiri, tetapi juga model ketaqwaan yang mereka tawarkan itu lebih mengedepankan formalisme dan penampilan. Untuk tidak mengatakan kemunafikan (hypocrisy). Neofundamentalisme yang ada hanyalah Islamisme pinggiran/gembel (lumpen islamism)

            Evolusi gerakan Islamis itu melahirkan tiga strategi baru yang menjadi model gerakan Islamis kontemporer. Pertama, keikutsertaannya dalam kehidupan politik resmi; kedua, keterlibatan baru di lingkup sosial, baik di tataran moral, adat-istiadat mapun perekonomian; ketiga, pembentukan kelompok-kelompok kecil, baik gerakan keagamaan yang ultrakolot (ultra orthodox religious movements) dan kelompok teroris.

            Gerakan Islamis berkembang selama lebih dari setengah abad, dan dimulai sekitar tahun 1940. Bila dilihat dari perspektif sosiologis, kaum Islamis adalah kelompok yang modern secara sosiologis dan berasal dari sektor-sektor masyarakat modernis. Islamisme bukanlah reaksi terhadap modernisasi masyarakat muslim, melainkan justru produk dari modernitas. Para aktivisnya jarang sekali dari golongan mullah (ulama konservatif). Mereka produk-produk muda dari sistem pendidikan modern. Kaum muda ini berasal dari keluarga-keluarga urban baru atau kelas menengah yang jatuh miskin. Mereka tidak memperoleh pendidikan-pendidikan politik di sekolah-sekolah agama, melainkan di kampus-kampus umum. Di sana mereka bersentuhan dengan kaum Marxis militan, yang konsep-konsepnya sering mereka pinjam (khususnya gagasan revolusinya) untuk dimasuki istilah-istilah Qur’ani (seperti : dakwah dan khatbah/propaganda).

Salah satu alasan gerakan Islamis ini adalah semakin hilangnya momentum ideologi maupun kelompok sekuler (nasinalis maupun marxis) adalah memenuhi harapan untuk protes. Kemajuan gerakan Islamis di lingkungan intelektual bisa juga dijelaskan oleh adanya krisis ideologi. Hilangnya gengsi ideologi progressif secara umum dan ketidakberhasilan model “sosialis Arab” telah menyisakan ruang bagi munculnya ideologi-deologi protes baru dalam masyarakat yang sudah terdestrukturisasi.

Satu lagi alasan adalah faktor modernisasi yang menimbulkan budaya konsumerisme dan hedonisme di tengah-tengah kondisi sosial-ekonomi yang disparitatif. Fenomena ini menimbulkan kecemburuan di kalangan miskin kota, sehingga timbul protes dan kerusuhan. Dan di sinilah momentum kelompok Islamis untuk memposisikan diri sebagai gerakan yang mewadahi kekecewaan kaum muda atas imbas modernitas. Lalu kaum Islamis mencoba melakukan “resosialisasi” atas struktur sosial yang demikian itu dan semuanya dilakukan dengan semangat puritan. Sehingga munculah model busana dan tampilan muslim (jubah dan jenggot) sebagai bentuk “perlawanan” terhadap degradasi nilai yang begitu cepat dan nyata di kota-kota. Dan sini bisa dilihat bahwa kaum Islamis adalah produk dan aktor urban modern dipandang dari sosiologi asal mula mereka dan upaya mereka membangun ruang urban baru.

 

Gerakan Islamisme di Indonesia

                Reformasi politik tahun 1998 bentul-betul memberi ruang terbuka dan kebebasan bagi semua elemen bangsa untuk menyuarakan kepentingan masing-masing. Momen ini digunakan oleh gerakan Islam (Islamis), termasuk yang radikal, untuk memunculkan diri. Gerakan semacam ini melihat bahwa dalam kehidupan nyata di masyarakat Islam Indonesia telah terjadi jurang yang begitu lebar antara harapan seperti yang dikonsepkan oleh Islam dengan kenyataan yang ada di hadapan mereka.

            Aneka gerakan Islamisme muncul bak jamur di musim hujan. Akan tetapi gerakan-gerakan itu tidak mempunyai pola yang seragam dan cenderung mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Ada yang sekedar memperjuangkan implementasi syari’at Islam tanpa keharusan mendirikan negara Islam di Indonesia, di samping ada yang memperjuangkan berdirinaya Khilafah Islamiyyah. Pola organisasinya juga beragam, mulai dari gerakan moral ideologis seperti Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan Hizbut Tahrir Indnesia (HTI) sampai yang bergaya militer seperti Lasykar Jihad, Front Pembela Islam (FPI) dan Front Pemuda Islam Surakarta (FPIS).

            MMI adalah satu gerakan Islam yang bias dikategorikan Islamis radikal. Kehadiran MMI sangat penting (kontributif) dalam memperkuat fundametalisme dan radikalisme Islam di Indonesia. MMI dideklarasikan pada bulan Agustus 2000 di Yogyakarta. MMI mempunyai agenda utama yaitu penegakkan syari’at Islam. Agenda ini erat kaitannya dengan adalan kontinum (kelanjutan) dari cita-cita DI/TII yang beberapa dekade lalu ingin mendirikan negara Islam.

            Dalam perjuangannya, MMI lebih memilih jalan politis ketimbang dengan cara-cara kekerasan. Anggora MMI lebih memilih untuk emlakukan advokasi penerapan syari’at Islam di Indonesia dengan membangun wacana publik lewat tulisan-tulisan, baik media massa maupun internet ataupun penerbitan buku. Mereka juga aktif melakukan lobi-lobi politik kepada partai-partai Islam untuk memperjuangkan Piagam Jakarta lewat sidang-sidang resmi parlemen.

            Lasykar Jihad menjadi pusat perhatian kira-kira pada awal tahun 2000 ketika menyuarakan jihad ke Ambon. Mereka berdalih bahwa jihad perlu dilakukan karena kelompok RMS ada di belakang konflik keagamaan di Maluku. Menurut Lasykar Jihad ketika itu, kedatangan mereka adalah untuk mempertahankan NKRI. Namun demikian, kedatangan Lasykar Jihad justru mempertegas konflik agama di sana. Dengan kedatangan Lasykar Jihad yang terang-terangan membawa bendera Islam, maka muncullah kelompok serupa dari kelompok Kristen dan Katholik seprti Lasykar Kristus.

            Selain MMI dan Lasykar Jihad, ada gerakan Islam (Islamisme) di Indonesia yang diperankan oleh Jizbut Tahrir Indonesia (HTI). HTI adalah organisasi yang bersifat internasional. Hizbut Tahrir yang secara etimologi berarti Partai Pembebasan (Liberal Party) didirikan oleh Taqiyyudin al-Nabhani (1909-1979) pada tahun 1953 di al-Quds, Palestina. Dalam beberapa dasawarsa terakhir HT mengalami perkembangan sangat pesat. Menurut catatan, HT berkembang di lebih dari 40 negara termasuk Inggris, Jerman, AS dan negara-negara bekas Uni Soviet.

            HTI sangat menekankan pentingnya peran negara (daulah) atau kekhalifahan sebagai sarana penerapan syari’at Islam. Syari’at dalam pandangan mereka harus ditopang oleh kekuatan negara. Oleh karena itu, organisasi ini mengusung pula ide mendirikan kembali khilafah Islamiyyah.

 

Posisi dan Respon Muhammadiyah

            Muhammadiyah sendiri adalah konvergensi antara fundamentalis-konservatifnya Muhammad bin Abdul Wahhab dengan rasionalis-modernisnya Muhammad Abduh. Dalam bidang aqidah dan ibadah boleh dikatakan Muhammadiyah adalah salafi, tetapi dalam bidang muamalah Muhammadiyah cenderung modernis. Terminologi  yang pas untuk menggambarkan gerakan Muhammadiyah ini adalah purifikasi dan dinamisasi.

            Karena watak dinamismenya itu, Muhammadiyah berkembang sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di dunia. Tetapi, konsekwensi sebagai organisasi besar, Muhammadiyah dihadapkan pada kenyataan keragaman anggota-anggotanya. Secara umum anggota Muhammadiyah telah menyesuaikan diri dengan watak purifikasi pada wilayah aqidah dan ibadah, tetapi tidak demikian dalam pilihan politik, misalnya.

            Dengan karakter demikian itu, Muhammadiyah tidak mempunyai masalah dalam konstelasi gerakan Islam lain di Indonesia, perkecualian dengan NU yang ada “konflik” dalam aspek ibadah karena watak purifikasinya Muhammadiyah. Dengan MMI, HTI bahkan FPI ataupun FPIS, Muhammadiyah nyaris tanpa persinggungan yang membawa konflik. Hal ini dapat dipahami karena bisa jadi masing-masing anggota MMI, HTI maupun FPI dan FPIS mempunyai basis purifikasi yang sama dengan Muhammadiyah dan secara politik tidak ada kepentingan masing-masing yang terganggu.

            Kenyataan ini berbeda saat Muhammadiyah dihadapkan pada PKS. Mengapa ada gesekan? Jawaban sederhanaya adalah karena ada persinggungan dalam kepentingan politik antara keduanya. PKS adalah gerakan politik yang sekaligus gerakan sosial (dakwah) dan Muhammadiyah adalah gerakan dakwah yang mempunyai sayap politik (walau bersifat kultural) bernama PAN.

            Watak sebuah gerakan politik yang penuh taktik (politicking) dan tentunya politis (bersifat kalkulatif) berpotensi menimbulkan konflik antar gerakan politik, apalagi yang mempunyai basis massa yang nyaris sama. Persinggungan cukup keras Muhammadiyah-PKS dengan keluarnya SK PP Muhammadiyah No. 149, yang tidak berlaku untuk Muhammadiyah dengan parpol lain, bisa dipahami dari situ.

 

 

Oleh: Anjar Nugroho SB | September 14, 2009

Khutbah Idul Fitri 1430 H

MENEGAKKAN JIHAD DENGAN MEMBERANTAS KEMISKINAN

Disusun Oleh:

Anjar Nugroho

إِنَّ اْلحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شرَيِْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ )يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ(

Puji syukur sangat layak disanjungkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan nikmat, karunia dan hidayah-Nya kepada kita. Nikmat yang tiada batas, karunia yang berlimpah ruah, dan hidayat yang mengalir deras mencurah dalam kehidupan kita yang selalu rindu untuk dekat dengan  Sang Kekasih Sejati, Allah SWT. Kita bersyukur pula, bahwa pada hari ini ada kesempatan yang telah diberikan kepada kita, untuk dapat menikmati indahnya ber-Idul Fitri dalam kebersamaan sanak saudara, kerabat dan sahabat serta seluruh kaum muslimin yang bertebaran di penjuru dunia.

Salawat dan salam semoga tetap tercurah kepada sosok pemimpin umat sepanjang masa, yang perilaku dan sifat-sifatnya sungguh sangat layak untuk menjadi teladan, dialah Rasul pilihan dan Nabi terpercaya, Muhammadd SAW. Kiprah beliau yang telah membebaskan ummat dari belenggu jahiliyyah, menghantarkan Islam sebagai agama pada kemuliaan di dunia, kita hargai setinggi-tingginya dengan senantiasa bershalawat sebagaimana Allah dan para Malaikat pun bershalawat kepada beliau.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sidang jama’ah Shalat Id rahimakumullah….

Hari raya Idul Fitri selalu kita sambut dengan penuh suka cita, karena inilah saatnya kita menemukan kembali diri kita yang  fitri atau suci, setelah satu bulan penuh kita curahkan diri kita dalam ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Manusia fitri adalah manusia yang kembali pada posisi di mana hati selalu tertambat kepada Allah karena teringat dengan perjanjian agung dengan Sang Khaliq, sebagaiman terekam dalam Q.S.  al-A’raf: 177:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”

Ayat tersebut memberi gambaran bahwa manusia ketika masih di alam ruh telah bersaksi bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb. Inilah perjanjian awal manusia dengan Allah, untuk menegaskan sikap ketauhidan manusia sekaligus untuk menunjukkan karakter asli manusia yang fitri.

Kembali kepada manusia yang fitri, tentu merupakan kebahagiaan bagi kita, dan itu kita rayakan dalam kesempatan Idul Fitri kali ini. Adalah wajar jika merayakan dengan penuh suka cita dan wajah ceria, tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita dapat terus mempertahankan kesucian kita sampai Allah berkehendak memanggil kita, dan kita kembali kepada-Nya dengan kondisi nafsul muthmainnah (jiwa yang damai).

Hadirin yahdikumullah…..

Tanpa bermaksud mengurangi rasa bahagia kita dalam kesempatan ini, perlu kami ingatkan bahwa beberapa waktu yang lalu, ketika masih dalam suasana Ramadhan, kita dikejutkan dengan datangnya musibah gempa bumi yang menimpa saudara-saudara kita di Jawa Barat. Sebagai bagian dari sesama saudara Muslim atau sesama anak bangsa, kita turut bersedih dan berbela sungkawa. Hampir bisa dipastikan mereka yang terkena musibah itu tidak bisa merayakan Idul Fitri dengan suka cita yang penuh, karena baru saja kehilangan orang-orang yang dicintai, rumah sebagai tempat tinggal dan harta benda yang lain. Untuk itu dalam kesempatan ini, kita patut berdoa, mudah-mudahan mereka selalu diberi ketabahan dan kesabaran.

Beberapa waktu sebelum memasuki Ramadhan, kita juga dikejutkan dengan peristiwa pemboman hotel JW Marriot dan Rizt Carton yang menewaskan dan melukai banyak orang. Peristiwa pemboman itu perlu kami singgung di sini, karena banyak pihak lantas mengkait-kaitkan peristiwa itu dengan Islam hanya karena pelakunya adalah orang Islam dan  melakukan itu karena terdorong oleh semangat jihad Islam.

Apakah betul bahwa Islam memang mengajarkan jihad menurut versi para pelaku bom itu? Jihad disebut di dalam al-Qur’an paling tidak sebanyak 80an kali, yang kemudian diartikan sebagai berjuang. Asli kata jihad adalah ja-ha-da (bersunggung-sungguh), sehingga jihad dimaknai sebagai kesungguhan untuk memperjuangkan agama Allah, sebagaimana tercantum dalam Q.S. al-Hujarat: 15

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.”

Atau dalam Q.S. al-Ankabut: 69

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Kalau kita perhatikan dua ayat di atas, dapat kita pahami bahwa jihad itu mempunyai makna sangat penting bagi umat Islam. Kemajuan dan kemunduran Islam sangat dipengaruhi oleh kesungguhan berjihadnya umat Islam atau tidak. Hanya saja yang perlu dipahami di sini bahwa, apakan jihad itu mesti harus dimaknai perang, dalam arti perjuangan fisik melawan pihak lain (musuh Islam)?

Berperang sediri disebut dalam al-Qur’an sebanyak 57 kali. Berperang (qital) adalah bentuk operasional dalam wilayah sempit dari jihad. Jihad pada masa Rasulullah lebih banyak dilakukan melalui jalur peperangan karena secara nyata musuh-musuh Islam juga sedang melawan umat Islam secara fisik (perang), sehingga wajar jika kemudian Rasulullah mengajak kaum Muslimin untuk melawan (jihad, qital) kaum kafir secara fisik pula (berperang).

Sidang jama’ah shalat Ied yang berbahagia….

Umat Islam sekarang, khususnya yang berada di Indonesia, sedang bukan berhadapan dengan musuh Islam yang memegang senjata untuk memusuhi Islam. Sehingga sangat salah besar jika kita pun harus menggunakan cara-cara kekerasan untuk melaksanakan jihad fi sabilillah. Dalam situasi kita sekarang, jihad harus dimaknai secara lebih luas dan menyeluruh. Jihad itu adalah bagaimana dakwah Islam bisa dirasakan sebagai rahmat bagi umat manusia secara keseluruhan. Rasulullah sendiri hakekatnya adalah memperjuangan Islam secagai agama rahmatan lil’alamin, sebagaimana termaktub dalah Q.S. al-Anbiya’: 107

“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Dan mari kita perhatikan ayat berikut (Q.S. an-Nisa': 75)

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri Ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.

Akan lebih pas jika kata-kata ”qathiluna” dalam ayat itu dimaknai menyantuni, dan bukan berperang sebagaimana makna aslinya. Penyantunan terhadap kaum mustadh’afin berupakan bagian penting dari jihad fi sabilillah. Bukankan Allah juga telah berfirman dalam Q.S. al-Ma’un:

|“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

Itulah orang yang menghardik anak yatim,

Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,

(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,

Orang-orang yang berbuat riya,,

Dan enggan (menolong dengan) barang berguna”

Kaum Muslimin Rahimakumullah…

Kemiskinan yang melanda sebagian umat Islam berakibat pada lemahnya kemampuan umat Islam untuk dapat mengenyam pendidikan, sehingga umat menjadi bodoh. Kemiskinan dan kebodohan adalah dua keping mata uang yang saling kait mengait. Karena miskin maka menjadi bodoh, karena bodoh maka menjadi miskin.

Untuk itu, kemiskinan dan kebodohan adalah musuh paling nyata yang harus dihadapi umat Islam sekarang ini. Betapa kemiskinan dan kebodohan telah membuat umat Islam tidak lagi menjadi khairu ummah tetapi justru menjadi umat yang terpinggirkan. Jihad melawan kemiskinan dan kebodohan adalah bagian dari perang suci yang dijamin surga oleh Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. ash-Shaf: 11-12

”  (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.”

Untuk itu, para jama’ah shalat Ied yang berbahagia, pada perayaan lebaran kali ini, marilah kita mengoreksi kesalahan pemahaman sebagian umat Islam, bahwa jihad itu harus dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Justru sangat merugikan umat Islam, khususnya, dan bangsa Indonesia umumnya, jika hal itu yang dilakukan. Pemberantas kemiskinan, menyantuni anak yatim, menolong sesama saudara yang sengsara, memberi beasiswa pendidikan kepada anak keluarga tidak mampu, adalah jihad yang sesungguhnya, dalam kondisi umat Islam saat ini. Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan kepada kita untuk selalu berjihad di jalan-Nya.

Hadirin yang berbahagia…

Ini barangkali renungan kita di sela-sela kita merayakan idul fitri sehingga hari raya kita tetap menjadi lebih bermakna. Maka marilah kita berdo’a kepada Allah SWT, semoga Allah memasukkan kita ke dalam hamba-hambaNya yang pandai bersyukur, mentaati perintahnya dan menjauhkan kita dari adzab dan siksanya yang sangat pedih.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْراَهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَبَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعلَىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْد ٌمَجِيْدٌ وَارْضَ اَللَّهُمَّ عَنِ الصَحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إَلَى يَوْمِ الدِيْنِ

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلِّ الشِرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَك َأَعْدَاءَ الدِيْنِ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ َاْلأَحْيَاءَ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ بِرَحْمِتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ

اَلَّلهُمَّ أَعِنَّا عَلىَ ذِكْرِكَ وَ شُكْرِكَ وَ حُسْنِ عِبَادَتِكَ

اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَ قِيَامَنَا وَ قِرَاءَتَنَا وَ زَكَاتَنَا وَ عِبَادَتَنَا كُلَّهاَ . اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ يَا كَرِيْمُ

وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فيِ الدُنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قَنَا عَذاَبَ النَارِ

رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ .

Oleh: Anjar Nugroho SB | November 28, 2007

Bedah Permikiran Daud Rasyid

“Mendamaikan” Pemikiran Daud Rasyid dan Harun Nasution Tentang Sunnah

Dalam Bedah Buku: “Sunnah di Bawah Ancaman: Dari Snouck Hurgronje Hingga Harun Nasution”

Karya Dr. Daud Rasyid, MA 

Oleh : Anjar Nugroho, S.Ag., M.S.I  

A. Pendahuluan               

Umat Islam telah sepakat bahwa sunnah menduduki tenpat kedua setelah al-Qur’an sebagai sumber ajaran Islam. Adagium “al-ruju’ ila al-Qur’an wa as-Sunnah” begitu populer untuk menunjukkan bahwa al-Qur’an dan as-Sunnah adalah sumber rujukan paling otentik menyangkut pelbagai pandangan, nilai, etika, ajaran, norma dan  aturan-aturan ritual dalam agama Islam. Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah satu kesatuan organik yang tidak bisa dipisahkan dalam kerangka pemahaman utuh tentang Dienulllah atau Dienul Islam.                Al-Qur’an lebih “mudah” digunakan sebagai sumber ajaran ketimbang as-Sunnah ditinjau dari segi otentisitas nash/tekstualnya (qath’i dhalalah). Al-Qur’an mempunyai mushhaf yang otentisitasnya berderajat mutawatir sehingga mutlak dari surat al-Fatihah sampai surat an-Nas adalah wahyu Allah SWT. Berbeda dengan as-Sunnah, yang dalam beberapa hal membutuhkan penelitian/kritik untuk menentukan keotentikannya (keshahihannya). Dalam hal ini terdapat beberapa kriteria dari para ulama Hadis yang menyebabkan mereka berbeda pandangan tentang shahih dan tidaknya sebuah as-Sunnah. Dalam hal ini diantara mereka ada yang tasyaddud (ketat) seperti al-Bukhari, mutawashith (moderat) seperti Imam Ahmad, dan tasahul (longgar) dan tasamuh (toleran) seperti Ibn Khuzaymah atau al-Hakim.                Letak kontroversi sebuah as-Sunnah tidak hanya terletak pada jalur periwayatannya (sanad hadis), tetapi juga terdapat pada substansi/isi (matan). Kontroversi menyangkut substansi atau matan diantaranya disebabkan oleh beragamnya pandangan mengenai posisi Nabi Muhammad sebagai sumber as-Sunnah. Apakah segala hal yang dinisbatkan kepada beliau merupakan manifetasi wahyu sehingga berdimensi syari’ah, ataukan perlu dipetakan kompleksitas kedirian beliau yang diantaranya sebagai Nabi, Rasul, pemimpin umat, suami, bapak atau manusia biasa lainnya.                Harun Nasution sebagai salah satu intelektual Islam terkemuka di Indonesia mempunyai pandangan terhadap as-Sunnah yang bisa dikatakan mewakili kelompok liberal yang cenderung rasionalis (ahl al-ra’yi). Pada kutub yang lain, terdapat Daud Rasyid, yang ahli Hadis itu, yang bisa disebut mewakili kelompok non-liberal (ahl al-hadis). Kedua-duanya Islam “taat”, tetapi mempunyai kerangka berfikir (mode of thought) yang berbeda dalam memahami Islam. Tugas saya sebagai pembedah buku “Sunnah di Bawah Ancaman: Dari Snouck Hurgronje Hingga Harun Nasution” buah karya Dr. Daud Rasyid, MA., adalah pengamat yang mencoba menilai seobyektif mungkin pemikiran-pemikiran Daud Rasyid, sekaligus pemikiran Harusn Nasution yang menjadi obyek penting buku Daud Rasyid tersebut.                Mungkin proyek mendamaikan (mensintesakan) pemikiran keduanya demi sebuah pemahaman baru yang lebih segar atau paling tidak demi “kebersamaan ummat” adalah tujuan dari makalah ini. Tetapi apakah akan berhasil? Paling tidak ini adalah sebuah upaya tulus agar umat tidak dibingungkan dengan aneka tuduhan/cap/klaim dari satu kelompok kepada kelompok lain dengan sebuah term antara lain: “keblinger, nyeleneh, sesat, kafir, murtad” dan sejenisnya. 

Membaca Buku “Secara Cerdas”

                Sebuah buku adalah mewakili dunia pengarang dengan segala kompleksitasnya. Makna sebuah buku akan ditentukan oleh dialog kreatif antara dunia pengarang (author), dunia teks, dan dunia pembaca (reader). Saya sebagai salah satu pembaca mempunyai otoritas untuk memahami “sekemampuan” saya, yang sangat bisa jadi orang lain yang membaca buku yang sama mempunyai pandangan, penilaian, dan komentar yang berbeda.                Sebuah pemikiran yang tertuang dalam tulisan (buku) adalah hasil refleksi/kontemplasi/perenungan, analisis, korespondensi antara pengarang/penulis dengan situasi yang melingkupinya. Dalam sebuah situasi yang berbeda, pengarang/penulis bisa jadi mempunyai pemikiran yang berbeda dalam satu tema yang sama. Pemikiran akan selalu mengalami perkembangan atau gerak dinamis. Ada qaul qadim dan qaul jadid, inilah yang disebut shifting paradigm (taghayyur al-fikr).                Maka, agar dalam pembaca sebuah buku tidak terjebak pada absolutisme pemikiran pengarang sehingga tidak memunculkan pembacaan kreatif (al-qira’ah al-muntijah), dapat diperhatikan hal-hal sebagai berikut:Pertama, buku yang merupakan hasil karya orang, hendaknya ditempatkan pada proporsi yang sebenarnya, yaitu sebagai hasil pemikiran. Saya lebih suka menggunakan istilah “humanisasi pemikiran” untuk menyebut upaya “deabsolutisasi” (untuk tidak mengatakan “desakralisasi”) atas hasil pemikiran sehingga menjadi sesuatu yang dapat tersentuh oleh pemikiran manusia manusia yang lain (living knowledge).                 Kedua, melihat hasil pemikiran  itu secara kontekstual (history of ideas), sehingga menjadi hidup dan mempunyai nilai. Hasil pemikiran jika ditempatkan secara proporsioal – termasuk melihatnya secara kontekstual -, akan mampu memberi inspirasi dari produk pemikir terdahulu yang telah memberi jawaban terhadap permasalahan atau tantangan zaman pada masanya.                Ketiga, setelah kontekstualisasi maka dilakukan reaktualisasi. Untuk memulai proyek reaktualisasi, yang harus menjadi landasannya, menurut saya adalah kemampuan interpretasi terhadap hasil pemikiran dan dilanjutkan dengan reinterpretasi.                 Keempat, perlu pendekatan interdisipliner atau multidisipliner dalam membaca/meneliti pemikiran. Berbagai pendekatan itu bisa meminjam dari ilmu sosial dan humaniora, termasuk –yang paling urgen– adalah pendekatan sejarah (historical approach), lebih khusus lagi sejarah sosial. 

Isi Buku “Sunnah di Bawah Ancaman”

                Tulisan Daud Rasyid dalam buku ini, seperti juga dalam buku-bukunya yang lain, bergaya bahasa lugas dan terus terang. Tidak dijumpai lekuk-lekuk bahasa yang akrobatik yang justru membuat pembaca sulit menangkap isinya. Buku Rasyid secara garis besar terdiri atas empat isu, yaitu: 1) kritik terhadap pandangan orientalis klasik terhadap sunnah; 2) kritik terhadap pandangan Harus Nasution terhadap Sunnah; 3) kritik terhadap pandangan feminis atas beberapa hadis tentang perempuan; 4) mengungkap fenomena inkar as-Sunnah di Indonesia.                Secara umum pemikiran Daud Rasyid kental sekali warna “Timur Tengah”nya yang kaya terhadap pandangan ulama klasik dan miskin analisis kritis khas critical study ala “Barat”. Rasyid  menganggap bahwa pandangan ulama klasik (jauh lebih otentik (dekat dengan kebenaran wahyu) ketimbang harus meminjam aneka metodologi modern yang menurutnya bisa mengarah kepada cara berfikir sesat.                Isu pertama yang diangkat dalam buku ini adalah kritik Daud Rasyid atas pandangan kaum orientalis klasik terhadap Sunnah. Nama orientalis yang dimaksud adalah Snouck Hurgronje yang kemudian disebut-sebut pula muridnya yaitu Karen Steenbrink, yang kebetulan keduanya adalah orang Belanda. Rasyid tidak banyak mengulas pemikiran keduanya, tetapi dari kesimpulan yang bisa ditangkap, Rasyid mengangap apa yang telah dipikirkan dan dilakukan oleh keduanya adalah menghujat dan mendeskriditkan Islam dengan pandangan-pandangannya yang melawan arus pemikiran ulama.                Isu kedua yang diangkat Rasyid adalah – dan ini menjadi inti buku ini – adalah kritik dan bantahan keras Daud Rasyid terhadap pemikiran Harun Nasution tentang Sunnah. Rasyid menganggap Harun adalah kelanjutan (continuum) pemikiran Snouck Hurgronje. Ada beberapa poin pemikiran Harun yang mendapat sorotan Rasyid, diantaranya adalah:

  1. Secara mutlak, Harun mengingkari penulisan dan penghafalan Hadis pada masa Nabi.
  2. Kodifikasi Hadis baru dimulai pada abad kedua Hijriyah, sehingga sebelum periode itu, antara Hadis shahih dan Hadis paslu (maudhu’) tidak dapat dibedakan.
  3. Para sahabat bersikap sangat ketat dalam menerima Hadis. Secara implisit, Harun menganggap bahwa para sahabat meragukan kejujuran para rawi karena banyaknya pemalsuan Hadis.
  4. Pembukuan dalam skala besar dilakukan pada abad ketiga Hijriyah melalui para penulis Kutub al-sittah.
  5. Imam Bukhari menyaring tiga ribu Hadis dari enam ratus ribu hadis yang ia kumpulkan
  6. Tidak aja ijma’ kaum Muslimin  tentang keshahihan hadis-hadis Nabi.
  7. Kedudukan Sunnah sebagai hujjah tidak sama dengan al-Qur’an.
  8. Yang disepakati tentang kehujjahannya hanya hadis mutawatir saja. Adapun hadis masyhur dan ahad, keduanya masih diperselisihkan.
  9. Karena sibuk mencari solusi atas berbagai persoalan yang menimpa umat islam masa itu, para sahabat menerima segala macam hadis, sekalipun maudhu’ (palsu)

 Untuk beberapa poin pemikiran Harun itu, Rasyid menulis bantahan keras. Menurut saya, apa yang menjadi obyek perdebatan antara Harun dan Rasyid di sini adalah sesuatu yang debatable (dapat diperdebatkan kebenarannya) secara historis. Walaupun perlu diakui, apa yang menjadi kecenderungan berfikir Harun tentang Hadis ini, menjadi ciri khas cara berfikir Sarjana Barat (orientalis) tentang Islam. Yang lantas menjadi persoalan adalah, apakah cara pandang para Sarjana Barat itu melulu salah? Apakah musti ada hidden idiology “busuk” yang tersimpan dalam otak para Sarjana Barat itu, sehingga setiap mereka berfikir tentang Islam, wajib kita curigai?                Lantas yang menjadi isu berikutnya yang ditulis Rasyid adalah kritik terhadap pandangan feminis atas beberapa hadis tentang perempuan. Ada dua nama feminis yang menjadi sorotan buku Rasyid, yaitu Riffat Hasan dan Wardah Hafidz. Pemikiran Riffat Hasan yang dibantah Rasyid adalah tentang penciptaan perempuan (Hawa) dari tulang rusuk laki-laki (Adam). Riffat menyatakan bahwa hadis yang mendasari pemikiran itu cacat dari sisi sanad dan matan. Bahkan, Riffat menyatakan bahwa hadis yang dimaksud bertentangan dengan al-Qur’an dan lebih mirip dengan Kitab Kejadian 2/18-33, dan 3/20. Hadis yang dimaksud adalah:

 حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ وَمُوسَى بْنُ حِزَامٍ قَالَا حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ مَيْسَرَةَ الْأَشْجَعِيِّ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهم قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاء

                Hadis ini riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi dan Ibn Majah. Dilihat dari siapa yang meriwayatkan, khususnya dalam hal ini adalah Bukhari dan Muslim, sulit dikatakan bahwa hadis ini adalah lemah (dha’if) sebagaimana pendapat Riffat Hasan. Memang hadis ini disampaikan oleh seorang sahabat yang bernama Abu Hurairah, yang dalam pandangan Riffat “bermasalah”. Tetapi adalah terlalu riskan untuk mengatakan hadis-hadis riwayat Abu Hurairah lemah, karena begitu banyaknya hadis yang diriwayatkan beliau.

Daud Rasyid jelas membantah keras pandangan Riffat Hasan itu. Tetapi yang cukup melegakan adalah, keduanya bersepakat tentang kemuliaan derajat perempuan yang diakui oleh Islam.

                Daud Rasyid juga menyerang pendapat Wardah Hafidz tentang hadis yang berkaitan dengan perempuan sebagai pembatal shalat dan mayoritas penghuni sorga adalah perempuan. Intinya Hafidz menolak hadis-hadis itu karena merendahkan perempuan. Hadis-hadis yang dimaksud Hafidz adalah: و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا الْمَخْزُومِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ وَهُوَ ابْنُ زِيَادٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ الْأَصَمِّ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ الْأَصَمِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْمَرْأَةُ وَالْحِمَارُ وَالْكَلْبُ وَيَقِي ذَلِكَ مِثْلُ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ                Hadis ini menyatakan bahwa perempuan, keledai, dan anjing sebagai pemutus shalat. Dari segi sanad, kualitas hadis tidak perlu diragukan karena diriwayatkan oleh Muslim. Daud Rasyid pun menolak keras kedha’ifan hadis ini. Tetapi yang menarik, Daud menampilkan hadis pembanding yang justru secara implisit mendukung Hafidz untuk menolak hadis di atas. Hadis pembanding itu diriwayatkan secara shahih oleh Bukhari yaitu:حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ عَنِ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ ح قَالَ الْأَعْمَشُ وَحَدَّثَنِي مُسْلِمٌ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ ذُكِرَ عِنْدَهَا مَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْكَلْبُ وَالْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ فَقَالَتْ شَبَّهْتُمُونَا بِالْحُمُرِ وَالْكِلَابِ وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَإِنِّي عَلَى السَّرِيرِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ مُضْطَجِعَةً فَتَبْدُو لِيَ الْحَاجَةُ فَأَكْرَهُ أَنْ أَجْلِسَ فَأُوذِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْسَلُّ مِنْ عِنْدِ رِجْلَيْهِ

                Pada pembahasan terakhir, Daud Rasyid menulis tentang gerakan Inkar as-Sunnah di Indonesia. Mengutip secara penuh pendapat Ahmad Husnan dalam bukunya, Gerakan Inkar Sunah dan Jawabannya. Secara garus besar, Daud menyatakan bahwa gerakan Inkar as-Sunnah di Indonesia mengambil tiga posisi, yaitu: mengingkari sunnah secara mutlak; mengingkari sebagian sunnah; dan mengingkari sunnah yang terputus sanadnya. Dalam membantah pandangan kelompok Inkar as-Sunnah ini, Daud banyak mengutip pendapat dari Ahmad Husnan, sehingga tidak cukup menarik untuk diulas lebih jauh dalam kesempatan ini.

Kritik Terhadap Harun Nasution dan Metodologi Barat

                Banyak kalangan mengakui Harun Nasution adalah tokoh pembaharu Islam di Indonesia yang cukup terkemuka. Pemikiran Harun mempunyai kekhasan tersendiri (sui generis) diantara pemikir lain, yakni terletak pada aras rasionalisme khas muktazilah di era silam. Obsesi Harun diantaranya adalah melakukan rekonstruksi atas teologi muktazilah sebagai antitesis terhadap teologi Islam saat ini yang lebih cenderung fatalistik. Sehingga oleh para “lawan berfikirnya”, dia dijuluki tokoh neo-muktazilah di Indonesia.                Gagasan pembaharuan Harun cukup genuin dan baru, lepas dari berbagai kontroversi dari orang-orang yang tidak sefaham dengan dia. Murid-muridnya banyak tersebar di seluruh Indonesia dan merakalah yang sampai hari ini melanjutkan ide-ide pembaharuan Harun, walaupun dengan materi dan kemasan yang berbeda. Sebagai manusia, pemikiran Harun tentu memberi ruang terbuka untuk terus dikritik dari berbagai kelemahan materi maupun metodologi. Diantara kritik yang perlu disampaikan diantaranya:

  1. Harun begitu membanggakan metodologi Barat yang memang membawa seseorang kepada tipologi berfikir bebas dan mencerahkan. Akan tetapi, metodologi Barat yang basis filosofisnya adalah liberalisme dalam banyak hal tidak cocok untuk alat analisis dalam obyek yang sakral, yaitu ajaran doktrinal Islam, misalnya.
  2. Teologi rasionalisme Muktazilah yang Harun tawarkan adalah produk masa silam peradaban Islam yang dalam banyak hal sudah tidak up to date dengan kebutuhan dan problem masyarakat Muslim saat ini.
  3. Harun sering kurang cermat dalam membaca sejarah yang terkait dengan tranmisi hadis (perjalanan hadis), karena ia lebih menitik beratkan  pada critical history ketimbang informasi otentik sumber-sumber Islam.
  4. Pemikiran rasionalistik Harun Nasution sering tidak pas untuk menganalisis obyek supra-rasional dalam banyak aspek ajaran Islam.

Kritik Terhadap Daud Rasyid

                Tidak adil rasanya, setelah mengkritik Harun Nasution tetapi tanpa mengkritik pula Daud Rasyid. Sebelum kritik saya lancarkan, ijinkan saya pula menyampaikan apresiasi yang cukup tinggi atas karya Daud Rasyid yang dibedah dalam kesempatan ini, juga karya-karya dia sebelumnya. Secara umum, karya Rasyid cukup menggugah ummat Islam untuk berfikir dengan kacamata sendiri, tanpa harus bangga dengan pinjam dari Barat. Dalam pandangan Rasyid, kacamata Islam yang harus digunakan umat Islam dalam memahami agamanya, lebih menjamin otentisitas Islam sebagai agama wahyu. Sebaliknya dengan kacamata Barat, banyak aspek-aspek Islam yang suci, sakral akan terdistorsi dalam ranah historisitas yang relatif.                Tiada gading yang tak retak, disamping apresiasi di atas, perlu untuk disampaikan beberapa kritik terhadap Daud Rasyid sebagai berikut:

  1. Menganggap Timur Tengah segala-galanya sebagai prototype studi Islam (dirasah islamiyah) sama tidak arifnya dengan mengatakan bahwa Barat adalah segala galanya. Pemikiran Daud Rasyid yang begitu “gegap gempita” dengan Timur Tengah era klasik telah membawa kepada stereotipe bahwa di luar Timur Tengah era klasik adalah batil dan sesat. Di sinilah menurut saya ketidak fair-an yang bisa-bisa akan membawa kepada pola berfikir stagnan (jumud).
  2. Daud Rasyid tidak menghargai aneka perbedaan pendapat dalam Islam. Kecurigaan yang bergitu berlebihan terhadap Barat, selalu membawa kesimpulan bahwa setiap pemikiran yang berbeda (dengan dirinya) adalah akibat pengaruh Barat yang sesat dan menyesatkan itu. Dia (mungkin) lupa bahwa Allah telah berfirman dalam Q.S. an-Nahl: 125 :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِين 

  1. Rasyid terlalu simple dalam membuat kalsifikasi. Barat adalah sesat, orientalis berasal dari Barat, sehingga orientalis adalah “brengsek”, adalah bentuk simplifikasi itu. Rasyid seolah menutup mata bahwa tidak semua orientalis dan periode orientalisme senantiasa menyudutkan dan merugikan Islam. Disamping para orientalis “brengsek” itu, yang kebanyakan pada periode orientalisme klasik, ada pula orientalis, khususnya pada periode orientalisme modern yang cukup obyektif dalam kajian-kajiannya tentang Islam.

Kesimpulan dan saran

Dapat saya sampaikan dalam kesempatan ini, kesimpulan dan saran setelah menelaah buku karya Daud Rasyid diantaranya sebagai berikut:

  1. Karya Daud Rasyid ini cukup menggugah kita untuk kembali serius mengkaji ilmu hadis yang selama ini banyak dilupakan umat Islam.
  2. Dengan karya Daud Rasyid ini, umat Islam dapat meningkatkan kewaspadaan terdapat upaya-upaya pendangkalan aqidah tapi tanpa harus kehilangan daya nalar dan kritisismenya.
  3. Umat Islam harus pandai-pandai menghindari sesat-menyesatkan terhadap kelompok-kelompok yang berbeda pandangan dan pemahaman.
  4. Daud Rasyid, Harun Nasution, Riffat Hasan, Wardah Hafidz, Nurcholis Madjid, Hartono Ahmad Jaiz, Abdullah Gymnastiar, Syafi’i Maarif, Fazlur Rahman, Hasan Hanafi, Muhammad Syarur, dan lain-lain adalah nama-nama tokoh Islam di Indonesia maupun di dunia yang dalam nalar oyektif kita, bisa benar dan bisa salah. Kritisisme perlu diberdayakan dalam membaca dan menelaah pemikiran-pemikiran mereka. Yang tidak perlu diberdayakan adalah ungkapan-ungkapan emosional semisal: SESAT, KAFIR, KEBLINGER, NYELENEH, hanya karena kita berbeda pandangan dan pemahaman dengan mereka. Wallahu a’lamu wi as-shawab.

 Griya Tegal Sari Indah, 15 Ramadhan 1428 H   ؛

Oleh: Anjar Nugroho SB | Oktober 5, 2007

Khutbah Idul Fitri 1429 H

KHUTBAH IDUL FITRI 1429 H

“Dari Fitrah Menuju Muslim yang Lurus (Hanif) dan Tercerahkan (Rausanfikr)”

 

إِنَّ اْلحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شرَيِْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ )يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ(

 

Hadirin, sidang Idul Fitri yang dirahmati Allah.

Atas Rahmat Allah yang agung yang telah dilimpahkan kepada kita, pada hari ini, 1 Syawal 1428 H yang bertepatan dengan hari Jum’at tanggal 12 Oktober 2007 M, kami sampai pada puncak dari seluruh rangkaian ibadah Ramadhan 1428 H, yaitu Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya kemenangan Umat Islam di seluruh pelosok dunia. Atas Hidayah Allah yang tercurah deras dalam hati sanubari kita, perayaan Idul Fitri ini dapat kita lakukan dengan khusu’ dan dengan hati yang bertaubat. Dan Atas Karunia Allah yang melimpah ruah, kita bisa menikmati indahnya beridul fitri bersama sanak keluarga, saudara, handau taulan, tetangga, teman dan seluruh kaum muslimin dengan penuh kebersamaan dan suka cita. Untuk itu semua, puja dan puji syukur wajib senantiasa kita haturkan ke hadirat Allah SWT, Rabb sekalian alam.

Idul Fitri artinya hari raya fitrah. Hari raya kesucian manusia. Disebut juga sebagai hari kembalinya kesucian kepada kita. Inilah hari raya yang resmi diajarkan agama kita melalui sunnah Rasulullah SAW, selain Idul Adha. Adapun semua hari raya atau hari besar Islam yang lain, lebih merupakan hasil budaya daripada ajaran agama, seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an, Muharram dan lain-lain. Atas sunnah Rasulullah inilah kita bisa meneladani bagaimana mensyukuri dan memaknai Idul fitri. Untuk itu, salawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi dan Rasul kita Muhammad SAW, keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan seluruh kaum muslimin yang selalu setia dengan sunnah-sunnahnya. Sebagaimana Allah dan Malaikat bershalawat pula kepada Nabi Muhammad, seperti dalam al-Qur’an surat Al ahzab, ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

 

Sidang jama’ah Idul Fitri yang berbahagia

Dalam al-Qur’an, kata fitrah berasal dari kata fathara, yang arti sebenarnya adalah “membuka” dan “membelah”. Kalau dihubungkan dengan puasa Ramadhan yang sebulan penuh lamanya itu, maka kata ini mengandung makna “berbuka puasa”. Fitrah juga mengandung pengertian “yang mula-mula diciptakan Allah”, yang tidak lain adalah “keadaan mula-mula”, “yang asal”, atau “yang asli”. Jika melihat firman Allah dalam surat al-An’am ayat 79, sebuah surat yang sangat dikenal karena sering dilafadzkan dalam pembukaan shalat, sebelum membaca al-Fatihah, yang bunyinya adalah sebagai berikut:


“Sesungguhnya Aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan Aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

Kata fitrah dalam konteks ayat ini (fathara) dikaitkan dengan pengertian hanif, yang jika diterjemahkan secara bebas menjadi “cenderung kepada agama yang benar”. Istilah ini dipakai al-Qur’an untuk melukiskan sikap kepercayaan Nabi Ibrahim a.s. yang menolak menyembah berhala, binatang, bulan ataupun matahari, karena semua itu tidak patut untuk disembah. Yang patut disembah hanyalah Dzat pencipta langit dan bumi.

Dari pengertian tersebut, timbul suatu teori, bahwa agama umat manusia yang paling asli adalah menyembah kepada Allah. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan kaum muslimin, berdasarkan keterangan al-Qur’an, bahwa manusia, segera setelah diciptakan, membuat perjanjian dengan Allah, sebagaimana digambarkan dalam al-Qur’an, surat al-A’raf ayat 172:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”.”

 

 

Tidak selamanya manusia tetap dalam ikatan perjanjian dengan Allah sebagaimana tergambar dalam surat al-A’raf itu. Dalam banyak kasus, manusia merusak perjanjian itu atau bahkan memutuskannya. Kondisi seperti inilah di saat manusia sudah sedemikian jauh dari ajaran-ajaran agama, karena lebih memberati dorongan hawa nafsu dan godaan setan. Manusia lupa akan jati dirinya, lupa dengan fitrahnya. Secara nyata dapat kita lihat tipe manusia seperti ini di segala lini kehidupan. Pemimpin yang sewenang-wenang dan menindas, pejabat yang korup, pengusaha yang serakah, pegawai yang tidak disiplin, pedagang yang curang, tetangga yang selalu menggunjing dan seterusnya, adalah gambaran nyata dalam kehidupan kita, bagaimana manusia lupa dengan fitrahnya. Sudah menjadi sunnatullah, di saat manusia memutus hubungan dengan Allah, maka ia akan pula memutus hubungan dengan sesama manusia dan akan berbuat yang merusak tatanan alam semesta, dan pada akhirnya ia termasuk golongan manusia yang merugi. Seperti tampak dalam firman-Nya surat al-Baqarah ayat 27:

 

“yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. mereka Itulah orang-orang yang rugi.”

 

Ma’asyiral muslimin yahdikumullah

Ibadah Ramadhan yang kita jalankan sebulan penuh, adalah sarana untuk menemukan kembali jalan menuju fitrah. Pada siangnya kita berpuasa, di mana pahalanya tidak tergantung seberapa jauh kita lapar dan dahaga, melainkan tergantung pada apakah kita menjalankan dengan iman dan ihtisab kepada Allah serta penuh intropeksi atau tidak. Pada malamnya kita dirikan shalat malam (shalatullail/tarawih), agar hati kita senantiasa terikat dan tunduk kepada Allah pemilik jiwa raga ini. Hari-hari Ramadhan pula kita ramaikan dengan tadarrus al-Qur’an agar kita bisa mengaca diri, apakah tingkah-laku kita sudah sesuai dengan tuntunan al-Qur’an atau belum. Dan pada akhir Ramadhan, kita tutup dan sempurnakan seluruh rangkaian ibadah Ramadhan dengan zakat fitrah, sebagai ungkapan simbolik kecintaan kita kepada kaum miskin dan papa.

Seperti yang sudah disampaikan di muka, bahwa pengertian fitrah terkait dengan pengertian hanif. Manusia yang sudah kembali menemukan fitrahnya (idul fitri), ia akan terkondisikan untuk menjadi hanif. Kata hanif berasal dari kata kerja hanafa, yahnifu dan masdarnya hanifan, artinya adalah “condong”, atau “cenderung” dan kata bendanya “kecenderungan”. Dalam al-Qur’an, kata hanif yang dimaksud adalah “cenderung kepada yang benar”, seperti dijelaskan oleh mufassir modern, Maulana Muhammad Ali dalam The Holy Qur’an, yang merujuk kepada kamus al-Qur’an al-Mufradat fi al-gharib karya al-Raghib al-Isfahani. Secara lengkap pengertian hanif disampaikan oleh Nashir Ahmad sebagai berikut:

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Orang yang meninggalkan atau menjahui kesalahan dan mengarahkan dirinya kepada petunjuk.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Orang yang secara terus menerus mengikuti kepercayaan yang benar tanpa keinginan untuk berpaling dari padanya

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Orang yang cenderung menata perilakunya secara sempurna menurut Islam dan terus menerus mempertahankannya secara teguh

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Seseorang yang mengikuti agama Ibrahim, dan

<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Yang percaya kepada seluruh nabi-nabi.

 

Baik Muhammad Ali maupun Nashir Ahmad, keterangan tentang hanif tersebut, merujuk kepada al-Qur’an, surat al-Baqarah ayat 135:

Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah : “Tidak, melainkan (Kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”.

Dari ayat itu pula diketahui bahwa lawan dari hanif adalah syirik (politheis), yakni sebuah paham yang mempersekutukan Allah dengan lainnya. Islam tidak mengajarkan politheisme (syirik) tetapi sebaliknya yang ditekankan dalam ajaran Islam adalah monotheisme (tauhid) yaitu menolak segala pengakuan dan keyakinan mausia atas tuhan-tuhan palsu. Jika pada zaman Jâhiliyyah, tuhan-tuhan palsu itu dimanifestasikan dalam wujud berhala-berhala, maka pada zaman modern ini, tuhan-tuhan palsu terwujud dalam banyak aspek dan bidang yang lebih luas dan komplek dari sekadar berhala-berhala sesembahan. Tuhan-tuhan itu lebih berbentuk kedhaliman dan penindasan, atau kesenangan dunia yang ketika meraihnya harus merampas hak-hak orang lain.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Setelah orang selalu tertambat hatinya kepada kebenaran (hanif) dan menolak dengan keras syirik, ia akan meneladani Rasulullah dalam perjuangannya membebaskan umat Islam dari penindasan, kebodohan dan kemiskinan. Pada zamannya, Mekkah adalah suatu kota dagang dengan sedikit pedagang kaya tetapi banyak orang miskin yang penghidupannya tergantung pada orang kaya kota itu. Orang-orang masih bodoh dan bertakhayul, menyembah banyak sekali ilah. Para perempuan ditindas, bahkan mereka dapat dikubur hidup-hidup. Ada banyak budak, para janda dan anak yatim yang diabaikan tanpa ada yang peduli terhadap nasib mereka. Dengan bimbingan Nabi, orang-orang Arab, di samping membebaskan diri mereka sendiri, juga berusaha membebaskan orang-orang dari kerajaan Romawi dan Persia yang menindas.

Rasulullah saw., yang secara harfiyah berarti manusia yang terpuji, adalah nabi terakhir dan merupakan pejuang sejati. Dia membebaskan budak-budak, anak-anak yatim dan perempuan, kaum yang miskin dan lemah. Perkatannya yang mengandung wahyu menjadi ukuran untuk membedakan yang benar dari yang salah, yang sejati dari yang palsu, dan kebaikan dari kejahatan. Misinya sama dengan nabi-nabi terdahulu; menegakkan kebenaran, kesetaraan dan persaudaraan manusia.

Muslim yang peduli dengan nasib kaum miskin, bodoh dan terbelakang dengan menyantuninya sepenuh hati, adalah penjelmaan manusia fitri yang hanif. Merekalah yang disebut rausanfikr, yaitu muslim tercerahkan yang peduli dengan nasib umat. Kepedulian ini menjadi sangat penting, mengingat kondisi masyarakat kita yang masih terdapat jurang pemisah yang cukup lebar antara si kaya dan si miskin. Seperti sindiran Allah dalam al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat 75:

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri Ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.

Rausanfikr (muslim tercerahkan) harus tercipta dalam diri kita masing-masing. Kita tidak boleh masa bodoh atau tidak peduli (cuek) dengan persoalan di sekitar kita. Kepedulian pada persoalan ummat akan mendorong kita menuju sebuah keshalehan sosial yang sangat ditekankan oleh Islam. Islam tidak saja mengajarkan keshalehan individu (taat pada perintah ibadah mahdhah), tetapi juga keshalehan sosial atau bahasa agamanya adalah ihsan (orangnya: muhsin/muhsinun), yaitu kegemaran pada amal shaleh. Allah berfirman dalam surat an-Nisa’ ayat 125:

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.

 

Ada cerita menarik dalam sejarah dakwahnya Kyai Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Waktu itu beliau mengajarkan sebuah surat pendek dalam al-Qur’an yaitu surat al-Ma’un (surat ke-107) kepada murid-muridnya. Para murid sempat protes terhadap cara mengajaran beliau terus mengulang-ulang surat tersebut, walaupun para murid sudah lama menghapal di luar kepala. Sehingga pada suatu saat ada murid yang berani bertanya kepada Kyai Dahlan mengenai hal itu. Lalu, konon, kyai Dahlan balik bertanya, “Apakah engkau sudah mengamalkan surat itu ?”.

Sungguh sebuah model pengajaran Islam yang lebih mengedepankan amaliah shalihah daripada sekadar hafalan. Model hafalan seperti inilah yang banyak terlihat dalam pengajaran-pengajaran Islam dewasa ini, sehingga sulit untuk melahirkan santri atau murid yang tercerahkan dan mempunyai kepedulian (rausanfikr).

Hadirin yang berbahagi…

Ini barangkali renungan kita di sela-sela kita merayakan idul fitri sehingga hari raya kita tetap menjadi lebih bermakna. Maka marilah kita berdo’a kepada Allah SWT, semoga Allah memasukkan kita ke dalam hamba-hambaNya yang pandai bersyukur, mentaati perintahnya dan menjauhkan kita dari adzab dan siksanya yang sangat pedih.

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْراَهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَبَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعلَىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْد ٌمَجِيْدٌ وَارْضَ اَللَّهُمَّ عَنِ الصَحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إَلَى يَوْمِ الدِيْنِ

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلِّ الشِرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَك َأَعْدَاءَ الدِيْنِ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ َاْلأَحْيَاءَ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ بِرَحْمِتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ

اَلَّلهُمَّ أَعِنَّا عَلىَ ذِكْرِكَ وَ شُكْرِكَ وَ حُسْنِ عِبَادَتِكَ

اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَ قِيَامَنَا وَ قِرَاءَتَنَا وَ زَكَاتَنَا وَ عِبَادَتَنَا كُلَّهاَ . اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ يَا كَرِيْمُ

وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فيِ الدُنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قَنَا عَذاَبَ النَارِ

رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ .

 

 

 

 

 

 

 

Oleh: Anjar Nugroho SB | September 5, 2007

Selamat datang Ramadhan

MENJEMPUT CINTA RAMADLAN DENGAN IKHLAS

Alkisah, seorang ‘abid yang saleh dan telah beribadah dalam waktu yang sangat lama didatangi oleh suatu kaum. Salah satu dari mereka berkata kepadanya, ”Hai ‘abid, saya mendengar di daerah ini ada suatu kaum yang ibadahnya menyembah pohon, tidak menyembah Allah.” Mendengar kabar yang diucapkan orang itu, sang ‘abid menjadi marah, lalu pergi dengan membawa sebuah kampak untuk menghancurkan pohon itu.

Seorang iblis yang merubah dirinya menjadi seorang syekh, menyambut kedatangan ‘abid di dekat pohon itu. Iblis bertanya kepadanya, ”Ke manakah Anda hendak pergi wahai saudaraku, mudah-mudahan Allah merahmatimu.” ‘Abid menjawab,” Aku hendak memotong pohon ini.” Iblis itu balik bertanya, ”Apa yang menyebabkan engkau ingin memotong pohon ini, sehingga kamu telah meninggalkan ibadahmu serta menyibukkan kegiatan yang tidak bermanfaat bagimu.” ‘Abid menjawab, ”Sesungguhnya apa yang akan aku lakukan ini adalah sebagian dari ibadahku.” Iblis berkata, ”Aku tidak akan membiarkan kamu untuk memotong pohon ini.” Iblis bergerak dengan garang menyerang sang ‘abid, tetapi tidak berhasil menaklukannya. Bahkan Iblislah yang berhasil dikalahkan oleh ‘abid dan ia berhasil ditawan dalam pengawasan ‘abid. Iblis itu berkata, ”Lepaskan aku, dan aku akan berbicara kepadamu.” Sang ‘abid melepaskannya. Ia berkata, ”Sesungguhnya Allah swt telah menggugurkan perintah untuk memotong pohon ini dan Dia tidak mewajibkannya lagi kepadamu. Allah tidak menyuruh kamu untuk melakukan hal ini. Jika Allah berkehendak, mungkin Allah sudah memerintahkan pekerjaan ini kepada para Nabi-Nya dan mengutusnya untuk menghancurkan pohon ini.” Abid itu menjawab, ”Akulah yang harus memotong pohon ini.”

Sang ‘abid mendekati iblis dan melawannya kembali. Ia berhasil mengalahkan kembali Iblis itu dan segera mengurungnya. Iblis itu berkata kepada sang ‘abid, ”Apakah kamu mempunyai keputusan tentang masalah kita ini agar semuanya menjadi lebih baik dan berguna bagiku dan bagimu?” Abid itu terdiam. Lalu berkata, ”Apakah kau bisa memutuskan dan menyebutkan hal itu?” ”Ya,” Iblis menjawab, “tetapi lepaskan dulu aku dari pengawasanmu.” Setelah dilepaskan iblis itu berkata, ”Wahai ‘abid, kamu adalah orang miskin yang tidak mempunyai apa-apa. Engkau telah menjadi beban bagi orang lain yang menanggungmu. Engkau yang dalam kesendirian terus berusaha ingin menjadi yang terbaik dari tetanggamu, dan kenyang dalam keheninganmu tanpa memerlukan manusia yang lain. Bukankah yang aku katakan ini benar?” Abid terdiam. Ia menjawab pelan, ”Benar.” Iblis balik berkata, ”Urungkanlah niatmu untuk memotong pohon ini dan aku akan berikan kepadamu dua dinar yang akan aku simpan di dekat kepalamu setiap pagi. Dengan uang itu kamu akan membelanjakannya untukmu, keluargamu, dan sisanya untuk sedekahmu kepada saudara-saudaramu. Dan hal ini lebih baik bagimu dan kaum muslim yang lain daripada memotong pohon yang tidak mendatangkan manfaat bagimu dan saudara-saudaramu.”

‘Abid terdiam. Ia mulai berpikir dan merenungkan ucapan iblis itu. Lalu ia berkata, ”Engkau benar, wahai syekh, aku bukan seorang nabi dan mengharuskan aku untuk memotong pohon ini dan Allah tidak menyuruhku untuk memotongnya, serta menetapkan aku sebagai orang yang durhaka karena tidak memotong pohon ini. Apa yang engkau sebutkan ternyata lebih baik dan banyak manfaatnya.” Iblis pun berjanji akan memberikan uang dua dinar setiap hari karena nasihatnya diikuti.

Setelah kejadian itu ‘abid kembali ke tempatnya. Ketika waktu pagi datang, ia menemukan di dekat kepalanya uang senilai dua dinar dan ia menyimpannya untuk dibelanjakan. Kejadian serupa terjadi terus menerus, sampai pada suatu pagi, ia tidak menemukan lagi uang senilai dua dinar itu. Ia marah. Lalu pergi membawa kampak dengan maksud menghancurkan pohon itu kembali.

Iblis yang berwujud syekh menyambut kedatangannya seraya berkata, ”Apa yang hendak kau lakukan dengan pohon ini?” “Aku akan memotongnya.” jawab ‘abid. Iblis berkata, ”Demi Allah, kamu tidak akan mampu memotongnya dan tidak ada jalan bagimu untuk melakukannya.” ‘Abid itu menyerang Iblis dengan gencar, tetapi ia tidak berhasil mengalahkan Iblis itu seperti ketika dulu ia mengalahkannya. Bahkan ia berhasil dikalahkan oleh Iblis. Iblis mengekang sang ‘abid dan mengancam kepadanya dengan tekanan yang keras agar ia tidak melakukan apa yang ia inginkan. ‘Abid berkata kepada Iblis, ”Kabarkan kepadaku apakah yang menyebabkan engkau bisa mengalahkan aku, padahal dahulu aku bisa mengalahkanmu.” Iblis menjawab, ”Sesungguhnya ketika engkau mengalahkan aku, engkau berangkat dari marah karena Allah dan akhiratmu. Kali ini engkau tidak bisa mengalahkan aku, karena marahmu berangkat bukan dari marah karena Allah, tetapi marah karena diri dan duniamu. Allah menundukanku karenanya, dan aku menundukanmu karena rasa ikhlas karena Allah telah hilang darimu.”

Cerita di atas sesuai dengan firman Allah dalam surat Shad ayat 83, Kecuali hamba-hamba-Mu diantara mereka yang ikhlas. Setiap manusia tidak akan terlepas dari belenggu setan, setan akan berusaha menggagalkan segala ibadah kita dengan berbagai cara. Ketika seorang hamba yang berpuasa dengan sungguh-sungguh berusaha meninggalkan perilaku yang dapat mengurangi pahala puasa, ia akan dihadapkan pada suatu masalah yang secara kasat mata tidak tampak dan sangat membahayakan posisi orang yang sedang berpuasa. Masalah itu adalah masalah keikhlasan. Setan dengan berbagai cara akan menghembuskan godaannya dengan meragukan dan menggoncangkan hati lewat jalan ikhlas. Karena jalan inilah yang sangat mudah untuk disentuh dan diperangi. Dan akibatnya fatal bagi orang yang berpuasa, yaitu tidak diterima puasanya tadi. Orang yang berpuasa akan diguncang dan diganggu keikhlasan hatinya oleh setan. Imam Ali berkata, “Allah mewajibkan puasa sebagai ujian terhadap keikhlasan hamba.”(Nahjul Balaghah, hikmah ke-253). Jika orang yang berpuasa menjaga dirinya dengan berusaha meninggalkan sejauh mungkin dari hal yang dapat membatalkan puasa, baik lahir maupun batin, sesungguhnya ia sudah berusaha mengokohkan nilai keikhlasan dalam hatinya. Dengan kata lain, jika dalam ibadah yang lain ia sudah terlatih nilai keikhlasannya (walaupun kecil), agar ibadah yang lain itu menjadi kokoh nilai keikhlasannya, puasalah yang akan melengkapi kekokohannya itu. Dalam hal ini puasa menjadi pelengkap pengokoh keikhlasan ibadah yang lain, Sayyidah Fatimah mengatakan, “Allah mewajibkan puasa untuk mengokohkan keikhlasan.” (Al-Bihar, juz 92, hal. 368).

Orang yang dalam ibadah puasanya tidak berusaha berangkat dari kecintaan kepada Allah (ikhlas), tidak akan pernah bisa mengalahkan iblis. Dan insya Allah iblis akan terus mengganggu puasanya, baik lewat pandangan, pendengaran, ucapan, hati, dan sebagainya. Hal itu berarti kita menambah peluang sendiri untuk mempersilahkan setan untuk menghancurkan ibadah puasa kita. Bukankah ikhlas merupakan syarat ruhani diterimanya sebuah ibadah? Allah berfirman dalam sebuah hadis qudsi, ”Kelak pada hari kiamat akan didatangkan beberapa buku yang telah disegel lalu dihadapkan kepada Allah swt. Pada saat itu Allah berfirman, ’Buanglah catatan ini semuanya.’ Malaikat berkata, ’Demi kekuasaan-Mu, kami tidak melihat amal ini di dalamnya melainkan yang baik-baik saja.’ Selanjutnya Allah berfirman, ’Sesungguhnya amal-amal yang dilakukannya bukan untuk-Ku, dan Aku sesungguhnya tidak akan menerima amal kecuali yang dilaksanakan untuk mencari keridhaan-Ku.” (HR Bazzar dan Thabrani).

Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin-nya menyebutkan perihal makna ikhlas. Rasulullah bersabda, ”Ikhlas adalah bahwa kamu berkata, ’Allah itu Tuhanku.’ Kemudian kamu beristiqamahlah (kepada-Nya) sebagaimana kamu diperintahkan.” Sahl ra berkata, “Ikhlas adalah: Tenang dan gerakan-gerakannya karena Allah swt secara khusus.” Ibrahim bin Adham berkata, ”Ikhlas adalah kebenaran niat beserta Allah swt.” Ruwaim berkata, ”Ikhlas dalam amal adalah bahwa pelakunya tidak menghendaki imbalan atas perbuatan itu pada dua negeri.” Abu Utsman berkata, ”Ikhlas adalah kelupaan melihat makhluk dengan memandang kepada Tuhan Yang Maha Pencipta saja.”

Satu saat Al-Hawariyyun berjumpa dengan Nabi Isa as. Ia bertanya, “Apakah amal yang ikhlas itu?” Nabi Isa menjawab, “Yang beramal kepada Allah swt yang tidak menyukai bahwa seseorang memujinya atas perbuatan tersebut.” Al-Junaid berkata, ”Ikhlas adalah memberihkan amal dari kotoran.” Al-Muhasibi berkata, ”Ikhlas adalah mengeluarkan makhluk daripada hubungan dengan Tuhan.”

Jika kita melihat beberapa pengertian tantang ikhlas tersebut, kita dapat simpulkan ada beberapa syarat ‘sahnya’ ikhlas; pertama, amal yang dikerjakan berangkat dari kecintaan kepada Allah; kedua, terus-menerus (ajek) dalam melaksanakan perintah-Nya; ketiga, beramal bukan didasarkan kepada manusia (mengharapkan pujian); keempat, berusaha membersihkan amal dari kotoran (penyakit hati). Dan bagi orang yang berpuasa, jika ia ingin memperoleh kemenangan dalam melawan setan agar tidak mengoyak puasanya, jalan yang harus ia tempuh adalah berusaha melatih diri untuk berjuang guna mendapatkan predikat termasuk orang yang tersentuh syarat ‘sahnya’ ikhlas.

Berangkat dari kecintaan kepada Allah artinya memahami perwujudan perintah-Nya sebagai bentuk kecintaan dan menjalankan ibadahnya hanya khusus dikhidmatkan kepada Allah semata. Ajek (istiqamah) dalam berpuasa mengandung pengertian hendaknya orang yang berpuasa tetap menjaga dan melaksanakan perintah Allah yang lainnya dan berusaha memposisikan puasanya ke tingkat yang lebih baik. Bagian yang tak kalah pentingnya adalah membebaskan amal kita dari penyakit-penyakit hati (dendam, menggunjing, dusta).

Dengan kata lain, ikhlas dalam berpuasa mengandung arti melaksanakan puasa dengan ketulusan niat yang berangkat dari kecintaan akan melaksanakan perintah-Nya serta membersihkan amal puasa dari segala bentuk kotoran ruhani dengan menyandarkan amal puasa yang hanya dipersembahkan kepada Allah saja.

Hakikat puasa yang benar dan sangat dikehendaki oleh Allah adalah puasa yang dimotivasi oleh maksud mendekatkan diri kepada Allah untuk memperoleh cinta-Nya. Bukan didorong oleh adanya dorongan lain seperti melaksanakan puasa yang didasari ingin memperoleh manfaat berupa kesehatan tubuh dan jiwa, atau menyandarkan puasanya hanya untuk memperoleh hikmah berupa kemuliaan dari puasa. Hal itu semua hanyalah akibat, dan semuanya tidak akan terjadi bila tidak didorong dengan usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh kecintaan.

Meraih keikhlasan bukan merupakan suatu hal yang mudah. Keikhlasan, yang menjadi ukuran diterima tidaknya puasa seseorang, hanya dapat diraih jika bentuk puasa yang kita lakukan dimotivasi semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah guna meraih cinta-Nya. Dan untuk memperoleh cinta Allah, usaha yang harus kita lakukan adalah memperbanyak berbuat baik kepada sesama manusia, khususnya kaum fakir dan miskin. Allah berfirman: Sesungguhnya rahmat (cinta) Allah sangat dekat kepada orang-orang yang melakukan kebaikan. (QS. Al-Araf 56). Dengan seringnya kita berbuat baik kepada sesama manusia, khususnya kaum dhuafa, berarti secara tidak langsung kita membuka dan sekaligus akan memperoleh sebuah rahasia Allah yang disebut ikhlas, Rasul bersabda, ”Allah berfirman: Ikhlas adalah suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Kutitipkan hanya kepada hati yang Aku cintai dari hamba-hamba-Ku.” (HR Abdul Qasim Al-Qusyairi dari Imam Ali bin Abi Thalib).

Bagi orang yang berpuasa, jika ingin puasanya disebut dalam kategori puasa kepunyaan Allah dan mendapat balasan langsung dari Allah seperti yang disebut dalam hadis qudsi, ”Sesungguhnya puasa itu milik-Ku dan Akulah yang akan membalasnya,” ia harus mencoba menjadi hamba yang dicintai oleh Allah. Hamba yang dicintai Allah akan mendapatkan rahasia Allah (ikhlas), dan orang yang ikhlas jelas ia akan mendapat posisi yang mulia di hadapan Allah, ia akan mendapat cinta sejati dari Ramadhan. Orang yang mendapat cinta sejati Ramadhan, ia akan memperoleh keutamaan dari berbagai rahasia Ramadhan seperti memperoleh berkah malam Lailatul Qadar, malam yang tak sembarang orang mendapatkan anugerahnya.

Mari kita jemput cinta Ramadhan dengan menempatkan posisi kita sebagai predikat orang yang termasuk kategori menjalankan ‘sah’ ikhlas dalam berpuasa, dan berusaha mencegah diri dari hal yang membatalkan ‘sahnya’ ikhlas dalam puasa dengan menjadikan diri kita sebagai makhluk yang dintai oleh-Nya. Makhluk yang selalu menebar kebaikan kepada sesama manusia, khususnya kaum mustadhafin, yang menjadi syarat berhaknya seseorang untuk memperoleh cinta sejati Ramadhan.

(Dari Kang Djalal)

 ramadhan-mubarak4.gif

Oleh: Anjar Nugroho SB | September 1, 2007

Nikah Muth’ah dan Nikah Sirri

NIKAH MUTH’AH DAN NIKAH SIRRI:

DALAM TINJAUAN NORMATIF DAN HISTORIS-SOSIOLOGIS

Oleh: Anjar Nugroho

A. Nikah Muth’ah

Nikah Muth’ah menjadi varian dalam pernikahan yang diatur oleh Islam yang diperdebatkan keabsahannya antara kaum Sunni dan Syi’ah. Secara umum (mayoritas mutlak), kaum Sunni menganggap pernikahan muth’ah adalah jenis pernikahan yang tidak sah atau haram berdasarkan keterangan hadis, fatwa Umar ibn Khattab dan Ijma’ ulama Sunni. Sedangkan kaum Syi’ah, khususnya Syi’ah Istna ‘Asy’ariyah (Syi’ah Imam Dua Belas), menganggap pernikahan muth’ah adalah boleh atau halal, walaupun dalam prakteknya mereka berbeda pada beberapa sisi pelaksanaannya.

Di Indonesia, karena mayoritas umat Islam adalah kaum Sunni, maka pandangan terhadap nikah muth’ah sejalan dengan pandangan kaum Sunni secara umum, yaitu pernikahan jenis ini adalah terlarang. Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan KHI (Kompilasi Hukum Islam Indonesia) tidak memberi ruang sedikitpun terhadap praktek nikah muth’ah di Indonesia. Sehingga, dalam masyarakat Muslim Indonesia, sangat jarang dijumpai praktek nikah muth’ah, kecuali hanya sedikit dipraktekkan oleh kalangan Syi’ah Indonesia dan beberapa kelompok kecil lainnya. Beberapa mahasiswa Bandung dan Yogyakarta dilaporkan telah melakukan praktek nikah muth’ah yang setelah diteliti ternyata motifnya adalah faktor ekonomi.

Nikah muth’ah di Indonesia sampai hari ini bukanlah gejala yang mengkhawatirkan yang perlu disikapi secara lebih. Pandangan kaum Sunni yang secara tegas mengharamkan nikah muth’ah, telah menjadi pemahaman mainstream (arus besar) umat Islam di Indonesia. Andaikan kajian tentang nikah muth’ah masih diperlukan, maka ini hanya sebatas kajian komparatif antara pemahaman Sunni dan Syi’ah tentang nikah muth’ah.

A.1. Pengertian Nikah Muth’ah

Nikah Muth’ah adalah sebuah pernikahan yang dinyatakan berjalan selama batas waktu tertentu.[1] Disebut juga pernikahan sementara (al-zawaj al-mu’aqqat)[2]. Menurut Sayyid Sabiq, dinamakan muth’ah karena laki-lakinya bermaksud untuk bersenang-senang sementara waktu saja[3]. Muth’ah merupakan perjanjian pribadi dan verbal antara pria dan wanita yang tidak terikat pernikahan (gadis, janda cerai maupun janda ditinggal mati).

Dalam nikah muth’ah, jangka waktu perjanjian pernikahan (ajal) dan besarnya mahar yang harus diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan yang hendak dinikahi (mahr, ajr), dinyatakan secara spesifik dan eksplisit. Seperti dinyatakan di muka, tujuan nikah muth’ah adalah kenikmatan seksual (istimta’), sehingga berbeda dengan tujuan penikahan permanen, yaitu prokreasi (taulid an-nasl).

Hanya sedikit kewajiban timbal-balik dari pasangan nikah muth’ah ini. Pihak laki-laki tidak berkewajiban menyediakan kebutuhan sehari-hari (nafaqah) untuk istri sementaranya, sebagaimana yang harus ia lakukan dalam pernikahan permanen. Sejalan dengan itu, pihak istri juga mempunyai kewajiban yang sedikit untuk mentaati suami, kecuali dalam urusan seksual[4].

Dalam pernikahan permanen, pihak istri, mau tidak mau, harus menerima laki-laki yang menikah dengannya sebagain kepala rumah tangga. Dalam pernikahan muth’ah, segala sesuatu tergantung kepada ketentuan yang mereka putuskan bersama. Dalam pernikahan permanen, pihak istri atau suami, baik mereka suka atau tidak, akan saling berhak menerima warisan secara timbal balik, tetapi dalam pernikahan muth’ah keadaanya tidak demikian[5].

A.2. Pandangan Kaum Sunni

Seperti telah dinyatakan di muka, pandangan kaum Sunni terhadap nikah muth’ah sangat jelas, yakni haram. Alasan keharamannya adalah karena pernikahan model seperti ini tidak sesuai dengan tujuan pernikahan yang dinyatakan dalam al-Qur’an. Disamping itu, pernikahan muth’ah juga bertentangan dengan ketentuan dalam pernikahan yang telah dinyatakan dalanm al-Qur’an dan al-Hadits, yaitu dalam masalah thalaq, iddah dan warisan.

Diantara ayat-ayat al-Qur’an yang menjadi dasar tujuan pernikahan diantaranya adalah:

Q.S. Adz-Dzariyah: 49

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Q.S. An-Nisa’: 1

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً

Q.S. Ar-Rum: 21

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Hadis-hadis yang diperguakan oleh kaum Sunni untuk mengharamkan nikah muth’ah diantaranya adalah sebagai berikut:

1- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنِي الرَّبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ الْجُهَنِيُّ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الِاسْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهُ وَلَا تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا و حَدَّثَنَاه أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ عُمَرَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمًا بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْبَابِ وَهُوَ يَقُولُ بِمِثْلِ حَدِيثِ ابْنِ نُمَيْرٍ [6]

2- حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ عُمَرَ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْعُزْبَةَ قَدِ اشْتَدَّتْ عَلَيْنَا قَالَ فَاسْتَمْتِعُوا مِنْ هَذِهِ النِّسَاءِ فَأَتَيْنَاهُنَّ فَأَبَيْنَ أَنْ يَنْكِحْنَنَا إِلَّا أَنْ نَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُنَّ أَجَلًا فَذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اجْعَلُوا بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُنَّ أَجَلًا فَخَرَجْتُ أَنَا وَابْنُ عَمٍّ لِي مَعَهُ بُرْدٌ وَمَعِي بُرْدٌ وَبُرْدُهُ أَجْوَدُ مِنْ بُرْدِي وَأَنَا أَشَبُّ مِنْهُ فَأَتَيْنَا عَلَى امْرَأَةٍ فَقَالَتْ بُرْدٌ كَبُرْدٍ فَتَزَوَّجْتُهَا فَمَكَثْتُ عِنْدَهَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ ثُمَّ غَدَوْتُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْبَابِ وَهُوَ يَقُولُ أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الِاسْتِمْتَاعِ أَلَا وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخْلِ سَبِيلَهَا وَلَا تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا[7]

3- حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ قَالَ أَخْبَرَنِي الرَّبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ الْجُهَنِيُّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَضَيْنَا عُمْرَتَنَا قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَمْتِعُوا مِنْ هَذِهِ النِّسَاءِ قَالَ وَالِاسْتِمْتَاعُ عِنْدَنَا يَوْمُ التَّزْوِيجِ قَالَ فَعَرَضْنَا ذَلِكَ عَلَى النِّسَاءِ فَأَبَيْنَ إِلَّا أَنْ يُضْرَبَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُنَّ أَجَلًا قَالَ فَذَكَرْنَا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ افْعَلُوا فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَابْنُ عَمٍّ لِي وَمَعَهُ بُرْدَةٌ وَمَعِي بُرْدَةٌ وَبُرْدَتُهُ أَجْوَدُ مِنْ بُرْدَتِي وَأَنَا أَشَبُّ مِنْهُ فَأَتَيْنَا امْرَأَةً فَعَرَضْنَا ذَلِكَ عَلَيْهَا فَأَعْجَبَهَا شَبَابِي وَأَعْجَبَهَا بُرْدُ ابْنِ عَمِّي فَقَالَتْ بُرْدٌ كَبُرْدٍ قَالَ فَتَزَوَّجْتُهَا فَكَانَ الْأَجَلُ بَيْنِي وَبَيْنَهَا عَشْرًا قَالَ فَبِتُّ عِنْدَهَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ ثُمَّ أَصْبَحْتُ غَادِيًا إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الْبَابِ وَالْحَجَرِ يَخْطُبُ النَّاسَ يَقُولُ أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي الِاسْتِمْتَاعِ مِنْ هَذِهِ النِّسَاءِ أَلَا وَإِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهَا وَلَا تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا[8]*

4- و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ مَعْمَرٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى يَوْمَ الْفَتْحِ عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ [9]*

5- حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ وَالْحَسَنِ ابْنَيْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِمَا عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ و حَدَّثَنَاه عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْمَاءَ الضُّبَعِيُّ حَدَّثَنَا جُوَيْرِيَةُ عَنْ مَالِكٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَقَالَ سَمِعَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ يَقُولُ لِفُلَانٍ إِنَّكَ رَجُلٌ تَائِهٌ نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ يَحْيَى بْنِ يَحْيَى عَنْ مَالِكٍ[10]

Hadis-hadis di atas tidak diragukan lagi nilai keshahihannya. Apalagi yang meriwayatkan diantanya adalah Bukhari dan Muslim. Walaupun sebenarnya tinjauan sanad saja tidak cukup untuk menjadikan hadis bisa dinilai otentik sebagai sumber ajaran Islam. Akan tetapi, dengan dukungan nilai-nilai al-Qur’an tentang pernikahan yang maknanya sesuai dengan semangat larangan nikah muth’ah dalam hadis-hadis tersebut, maka kedudukannya menjadi sangat kokoh dan otentik sebagai sumber ajaran Islam.

Dilihat dari perspektif hadis (sebagaimana yang telah dikemukakan di atas), dapat disimpulkan bahwa nikah muth’ah memang telah diharamkan oleh Rasulullah. Sebab-sebab pengharamannya telah banyak diulas oleh ulama-ulama Sunni, diantaranya adalah karena nikah muth’ah semata-mata sebagai tempat untuk melampiaskan nafsu syahwat, sehingga tidak jauh berbeda dengan zina (komunisme seksual).

Disamping itu, nikah muth’ah menurut kalangan Sunni, telah menempatkan perempuan pada titik bahaya, karena ibarat sebuah benda yang bisa pindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Pernikahan jenis ini juga dinilai merugikan anak-anak, karena mereka tidak mendapatkan kasih sayang sempurna sebuah keluarga dan jaminan kesejahteraan serta pendidikan yang baik.

Pernikahan, seperti yang telah menjadi cita-cita Islam, haruslah bertumpu pada pondasi yang stabil, suatu pasangan, ketika mula-mula dipersatukan oleh sebuah ikatan pernikahan, harus memandang diri meraka terpaut satu sama lain untuk selamanya, dan gagasan perceraian tidak boleh memasuki pikiran mereka. Oleh karena itu, sebagaimana pendapat kalangan Sunni, pernikahan muth’ah tidak dapat menjadi tumpuan kebersamaan hidup suami istri yang damai dan sejahtera.

A.3. Pandangan Kaum Syi’ah (Itsna ‘Asy’ariyah)

Dasar legitimasi kaum Syi’ah terhadap nikah muth’ah adalah al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat 24:

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ كِتَابَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dalam Tarikh al-Fiqh al-Ja’fari dijelaskan, bahwa ketika Abu Nashrah bertanya kepada Ibn Abbas tentang nikah muth’ah, Ibn Abbas menerangkan, nikah itu diperbolehkan dengan bersarkan al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat 24 seperti telah ditulis di atas. Akan tetapi menurut Ibn Abbas, lengkapnya ayat itu adalah (terdapat kalimat tambahan الى اجل مسم ):

فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ (الى اجل مسم) فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً

Sahabat lain yang sependapat dengan Ibn Abbas (termasuk membenarkan bacaan Ibn Abbas terhadap Q.S. an-Nisa’: 24) adalah Ibn Mas’ud, Ubay Ibn Ka’ab, dan Said Ibn Zubair[11].

Kaum Syi’ah berpendirian bahwa praktek nikah muth’ah terdapat pada masa Nabi dan Khalifah Pertama. Baru pada periode Khalifah Kedua, yakni Khalifah Umar Ibn Khattab, nikah muth’ah dilarang. Ucapan Umar saat itu adalah:

“Saya telah melarang dua jenis muth’ah yang ada di masa Nabi dan Abu Bakar, dan saya akan berikan hukuman kepada mereka yang tidak mematuhi perintah-perintah saya. Kedua muth’ah itu adalah muth’ah mengenahi haji dan muth’ah mengenai wanita.”[12]

Kalau melihat ucapan Khalifah umar di atas, maka dapat dipahami bahwa nikah muth’ah dipraktekkan oleh para sahabat pada baik pada masa Nabi maupun Khalifah Abu Bakar. Dalam Sunnah Baihaqy 7: 206, terdapat pula keterangan yang menunjukkan larangan Umar terhadap nikah muth’ah, walaupun banyak para shahabat yang melakukannya di era Nabi dan Khalifah Kedua. Sehingga unggapan yang sering dilontarkan kalangan Syi’ah dalam masalah ini adalah: ”Manakah yang harus kita pegang: taqrir Nabi yang membiarkan shahabatnya melakukan muth’ah atau hadis larangan Umar?”

Kaum Syi’ah yang mengikuti ajaran-ajaran para Imam dari Ahlu al-Bait masih menganggap nikah muth’ah tetap berlaku menurut syari’att sebagaimana halnya masa hidup Nabi itu sendiri. Thabathaba’I dalam masalah ini mengutip beberapa ayat tentang suami-istri:

Q.S. al-Mu’minun: 5-7

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ(5)إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ(6)فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ(7)

Q.S. al-Ma’arij: 29-31

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ(29)إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ(30)فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ(31)

Menurut Thabathaba’i, ayat-ayat ini diturunkan di Mekah, dan semenjak diturunkan hingga hijrah, nikah muth’ah dipraktekkan oleh kaum Muslimin. Apabila nikah muth’ah itu bukan merupakan pernikahan yang sebenarnya (halal/sah), dan para perempuan yang telah menikah berdasarkan itu bukan istri-istri yang sah menurut syari’ah, maka, lanjut Thabathaba’i, ayat-ayat al-Qur’an tersebut tentulah akan menganggap para perempuan itu sebagai pelanggar hukum dan sudah pasti mereka dilarang untuk mempraktekkan muth’ah. Sehingga Thabathaba’i menegaskan kembali bahwa nikah muth’ah merupakan pernikahan yang sah menurut syari’ah dan bukan bentuk perzinahan.[13]

Sampai hari ini, kaum Syi’ah, khususnya di Iran, masih tetap memelihara legitimasi pernikahan muth’ah. Akan tetapi selama rezim Pahlevi (1925-1979), walaupun bukan ilegal, pernikahan muth’ah dipandang secara negatif. Kebanyakan kaum terpelajar Iran dan kelas menengah lainnya menganggap pernikahan seperti ini sebagai bentuk pelecehan terhadap perempuan dan nilai moral universal, sehingga mereka tidak tertarik untuk melakukannya. Sebaliknya, pernikahan muth’ah di Iran banyak dilakukan oleh kaum perkotaan pinggiran, dan populer terutama di sekitar pusat-pusat ziarah.[14]

A.4. Tinjauan Historis-Sosilogis

Sebagaimana terdapat dalam sumber-sumber Syi’ah, nikah muth’ah merupakan suatu fakta sejarah yang tidak dapat dipungkiri, bahwa pernikahan jenis ini dipraktekkan oleh para shahabat sejak era permulaan Islam, yaitu sejak wahyu pertama dan hijrah Nabi ke Madinah. Seperti dalam peristiwa Zubair As-Shahabi yang menikahi Asma’, putri Abu Bakar dalam suatu pernikahan sementara (muth’ah).

Masih menurut sumber Syi’ah, nikah muth’ah juga dipraktekkan semenjak hijrah hingga wafatnya Nabi. Bahkan setelah peristiwa itu, selama pemerintahan Khalifah Pertama dan sebagian dari masa pemerintahan Khalifah Kedua, kaum muslimin meneruskan praktek itu sampai saat dilarang oleh Umar Ibn Khattab sebagai Khalifah Kedua.

Tentu saja historisitas seperti ini ditolak oleh kalangan Sunni yang menganggap Nabi sudah melarang nikah muth’ah sejak Perang Khaibar dan peristiwa Fathul Makkah, seperti tertuang dalam hadis yang telah dikemukakan di muka. Mengapa kaum Syi’ah mengabaikan hadis-hadis seperti ini? Jawabannya adalah, karena kaum Syi’ah mempunyi argumen tersendiri mengenai jalur-jalur sanad dalam sebuah periwayatan Hadis. Kaum Syi’ah hanya bisa menerima jalur sanad yang melalui Ahlu al-Bait, dan jika terdapat hadis yang bertentangan dengan riwayat Ahlu al-Bait, maka hadis tersebut ditolak.

Mengenai larangan Umar terhadap praktek nikah muth’ah, menarik untuk dicermati bahwa larangan ini juga diakui ada dalam beberapa kitab fiqih kaum Sunni. Analisis yang bisa dikemukakan di sini adalah, apakah laranga itu terkait dengan kewenangan Umar sebagai pemimpin agama atau ini hanya sekedar strategi dakwah Islam (kebijakan politik). Jika dipahami ini sebagai kebijakan politik yang terkait dengan dakwah Islam, maka akan ditemukan relevansinya dengan persoalan umat saat itu. Pada era Umar, umat Islam (para shahabat) banyak yang bertebaran di wilayah-wilayah taklukan dan mereka bercampur baur dengan masyarakat yang baru saja memeluk Islam. Jika para shahabat itu diberi kebebasan untuk melakukan nikah muth’ah, maka yang dikhawatirkan adalah akan muncul generasi-generasi baru Islam hasil pernikahan muth’ah yang tidak jelas warna keislamannya. Dengan alasan inilah, maka Umar melarang nikah muth’ah. Sehingga dapat dipahami, larangan ini bukan larangan mermanen, tetapi hanya sementara waktu karena terkait dengan persoalan keummatan saat itu.

Sepintas, nikah muth’ah adalah implementasi paling kasat mata bagaimana kedudukan perempuan tidak begitu dihargai. Berbeda dengan nikah permanen yang diasumsikan telah menempatkan perempuan sejajar dengan laki-laki. Menurut Ustadz Ahmad Baraghah, nikah muth’ah justru meningkatkan derajat kaum perempuan. Alasannya, dalam muth’ah perempuan dimungkinkan membuat persyaratan tertentu yang harus disetujui oleh pihak laki-laki. Dengan kewenangan ini, masih menurut Baraghah, perempuan dapat meningkatkan bergainning position-nya bila akan melaksanakan nikah muth’ah.[15]

Secara sosiologis, nikah muth’ah menjadi bukan persoalan serius ketika dipraktekkan dalam kondisi masyarakat Muslim yang sudah mempunyai tingkat kesejahteraan yang memadai dan pendidikan yang maju. Anggota masyarakat Muslim ini mempunyi otonomi pribadi atau kewenangan individual yang penuh dalam menentukan nasibnya. Dalam tradisi Persia atau Iran sekarang, nikah muth’ah bukanlah sumber penyakit sosial seperti yang disumsikan oleh kalangan Sunni. Para perempuan Iran khususnya, mempunyai nilai tawar yang tinggi sebelum melakukan nikah muth’ah, sehingga dalam prakteknya mereka jarang yang melakukan pernikahan model ini. Tetapi, kondisinya adalah jauh berbeda jika nikah muth’ah dilegalisasi di dalam komunitas masyarakat Muslim yang tingkat kesejahteraan dan pendikannya masih rendah, seperti di Indonesia misalnya. Nikah muth’ah dalam komunitas masyarakat Muslim yang rata-rata miskin dan bodoh, hanya menjadi komuditas pemuas nafsu laki-laki berkuasa yang pada akhirnya akan mengakibatkan kesengsaraan berlipat bagi perempuan dan anak-anak.

B. Nikah Sirri

Nikah adalah peristiwa penting dalam kehidupan seseorang. Sesuatu yang sebelumya haram bagi dia, berubah menjadi halal dengan sarana pernikahan. Implikasi pernikahan pun besar, luas dan beragam. Pernikahan adalah sarana awal mewujudkan sebuah tatanan masyarakat. Jika unit-unit keluarga baik dan berkualitas, maka bisa dipastikan bangunan masyarakat yang diwujudkan akan kokoh dan baik. Oleh karean itu, Nabi mengajarkan umatnya untuk menikah:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْأَزْهَرِ حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ مَيْمُونٍ عَنِ الْقَاسِمِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِي فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي وَتَزَوَّجُوا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ فَلْيَنْكِحْ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ [16]

Karena sifatnya yang menjangkau kehidupan luas di luar keluarga, pernikahan memiliki makna sangat strategis dalam kehidupan sebuah bangsa. Dalam konteks ini, pemerintah menjadi berkepentingan untuk mengatur institusi pernikahan, agar tatanan masyarakat yang teratur dan tentram bisa diwujudkan. Undang-Undang no. 1 tahun 1974 adalah bentuk kongkret pengaturan pemerintah soal pernikahan.

Dalam pasal 2 ayat 2 Undang-Undang I ini tertulis: “Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundangan-undangan yang berlaku”. Ketentuan ini lebih lanjut diperjelas dalam Bab 11 Peraturan Pemerintah (PP) no. 9 tahun 1975 yang intinya: sebuah pernikahan baru diangap memiliki kekuatan hukum di hadapan undang-undang jika dilaksanakan menurut aturan agama dan telah dicatatkan oleh pegawa pencatat pernikahan yang ditentukan undang-undang. Aturan inilah yang akhirnya menimbulkan istilah yang disebut: nikah sirri.

Nikah sirri menurut hukum Islam – berdasarkan penelusuran dalil secara tekstual – adalah sah apabila memenuhi rukun dan semua syarat sahnya nikah meskipun tidak dicatatkan. Karena syariat Islam dalam Al-Quran maupun Sunnah tidak mengatur secara konkrit tentang adanya pencatatan perkawinan. Sedangkan menurut hukum positif, nikah sirri ini tidak sah karena tidak memenuhi salah satu syarat sah perkawinan yaitu pencatatan perkawinan kepada Pejabat Pencatat Nikah. Tanpa adanya pencatatan, maka pernikahan itu tidak mempunyai akta otentik yang berupa buku nikah.

Ibnu Taimiyah dalam kitabnya, Ahkamu al-Zawaj, menyatakan bahwa nikah sirri adalah apabila laki-laki menikahi perempuan tanpa wali dan saksi-saksi, serta merahasiakan pernikahannya[17]. Sehingga langsung dapat sisimpulkan, bahwa pernikahan ini bathil menurut jumhur ulama.

Wahbah Zuhaili menyatakan bahwa nikah sirri –seperti yang didefinisikan dalam fiqh- yakni nikah yang dirahasiakan dan hanya diketahui oleh pihak yang terkait dengan akad. Pada akad ini dua saksi, wali dan kedua mempelai diminta untuk merahasiakan pernikahan itu, dan tidak seorangpun dari mereka diperbolehkan menceritakan akad tersebut kepada orang lain[18].

Dalam konteks masyarakat Indonesia, sebenarnya nikah sirri mempunyi beberapa devinisi, diantaranya adalah:

1. Pernikahan yang dipandang sah dari segi agama (Islam), namun tidak didaftarkan ke KUA (selaku lembaga perwakilan negara dalam bidang pernikahan).

2. Pernikahan yang dilakukan tanpa kehadiran wali dari pihak perempuan (catatan: laki-laki memerlukan wali pada saat pernikahan).

3. Pernikahan yang sah dilakukan baik oleh agama maupun secara negara (juga tercatat di KUA), namun tidak disebarluaskan (tidak diadakan walimah/resepsi).

Nikah sirri yang dimaksud dalam pembahasan ini bukanlah seperti yang dinyatakan Ibn Taimiyah atau Wahbah Huzaili, akan tetapi merupakan praktek pernikahan yang banyak dilakukan oleh masyarakat Muslim Indonesia yaitu pernikahan yang namun tidak didaftarkan ke KUA (selaku lembaga perwakilan negara dalam bidang pernikahan). Nikah Sirri dalam satu sisi mengandung beberapa kemudharatan, tetapi dalam sisi lain banyak dipraktekkan oleh kalangan Muslim Indonesia dengan segala variannya. Pada titik inilah maka nikah sirri perlu dikaji secara komprehensif, tidak semata-mata dengan pendekatan tekstual-normatif tetapi perlu dipertimbangkan aspek-aspek kultural-sosiologisnya.

B.1. Problem Sosiologis Nikah Sirri

Dalam penelusuran di internet, berdasar data KUA Situbondo, diperkirakan ada 3.000 kasus kawin sirri di daerahnya. Di Jawa Timur lebih dari 30.000 kasus. Kasus serupa merebak pula di sentra industri seperti Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Itulah yang saat itu menjadi perhatian serius Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Lewat Pusat Studi Gender IAIN Sunan Ampel, Surabaya, persoalan ini dibedah dalam sebuah penelitian tentang dampak perkawinan di bawah tangan bagi kesejahteraan istri dan anak di daerah “Tapal Kuda”, Jawa Timur. Kawasan yang meliputi Pasuruan, Probolinggo, Bondowoso, dan Situbondo ini dikenal paling subur untuk kawin sirri.

Dalam analisis berikutnya, penyebab maraknya nikah sirri dikarenakan ketidaktahuan masyarakat terhadap dampak pernikahan sirri. Masyarakat miskin hanya bisa berpikir jangka pendek, yaitu terpenuhi kebutuhan ekonomi secara mudah dan cepat. Sebagian yang lain mempercayai, bahwa istri simpanan kiai, tokoh dan pejabat mempercepat perolehan status sebagai istri terpandang di masyarakat, kebutuhannya tercukupi dan bisa memperbaiki keturunan mereka. Keyakinan itu begitu dalam berpatri dan mengakar di masyarakat. Cara-cara instan memperoleh materi, keturunan, pangkat dan jabatan bisa didapatkan melalui pertukaran perkawinan. Dan anehnya perempuan yang dinikah sirri merasa enak saja dengan status sirri hanya karena dicukupi kebutuhan materi mereka, sehingga menjadi hal yang dilematis dan menjadi faktor penyebab KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) semakin subur di kalangan masyarakat miskin, awam dan terbelakang. Mereka menganggap nikah sirri sebagai takdir yang harus diterima oleh perempuan begitu saja.

Faktor ketidaktahuan ini menyebabkan keterbelakangan masyarakat. Mereka miskin akses invormasi, pendidikan dan ekonomi. Mereka tidak tahu dan tidak mengerti hukum. Mereka tidak sadar hukum dan tidak tahu bagaimana memperoleh perlindungan hukum apabila mengalami kekerasan terhadap anak dan perempuan. Sementara sikap masyarakat masih menganggap, nikah sirri merupakan hak privasi yang tabu diperbincangkan. Masyarakat enggan terlibat terhadap urusan rumah tangga orang. Setelah perempuan menjadi istri simpanan ialah terampasnya hak-hak istri. Istri simpanan rentan dipermainkan oleh laki-laki tidak bertanggung jawab. Contoh, ada kasus mahasiswi pendatang menikah secara sirri, kemudian ditinggal oleh suaminya. Si istri datang ke Pengadilan Agama (PA) dan meminta tolong. Tetapi pihak aparat tidak bisa menolong secara hukum, karena mereka melakukan nikah sirri yang tidak dicatat secara syah oleh hukum. Istri sirri tidak punya kekuatan hukum. Istri sirri tidak memperoleh hak milik berupa harta benda, dan status anak mereka. Nikah sirri tidak diakui oleh hukum. Kasus yang terjadi, ada sebagian istri sirri ditinggalkan begitu saja, ditelantarkan, tidak diberi nafkah dengan cukup, tidak ada kepastian dari suami akan status mereka.

Istri sirri, mudah menerima ketidak-adilan. Misalnya, apabila suami ingin menceraikan istri, maka istri tidak punya kekuatan hukum untuk menggugat. Para perempuan di desa-desa karena keawamannya tidak mengerti hukum agama, hukum negara, sehingga para perempuan tersebut menikah beberapa kali dan bahkan ada yang menikah lagi sebelum masa iddahnya selesai. Dorongan emosi sesaat (impulsive) perempuan mendorong mereka untuk menikah lagi dengan orang lain. Kasus itu tidak sekali tetapi berkali-kali, bahkan sebelum masa iddah sudah menikah sirri dengan laki-laki lain. Ironinya, pihak yang menikahkan adalah orang yang dianggap tokoh atau mereka yang dianggap sesepuh, atau wali hakim.

Anak yang dilahirkan dari pernikahan sirri tersebut rentan dengan kekerasan, kemiskinan yang terus mendera. Anak-anak kurang memperoleh kasih sayang yang utuh dari bapak-ibu. Anak tidak memiliki akta kelahiran, anak sulit diterima secara sosial, anak diacuhkan di lingkungannya dan anak sulit mendaftar ke sekolah negeri karena tidak memiliki akta kelahiran. Akibatnya, anak jadi terlantar dan tidak tumbuh dengan baik.

Ada tujuh kerugian pernikahan sirri bagi anak dan istri yang terjadi di lapangan:

1. Istri tidak bisa menggugat suami, apabila ditinggalkan oleh suami.

2. Penyelesaian kasus gugatan nikah sirri, hanya bisa diselesaikan melalui hukum adat.

3. Pernikahan sirri tidak termasuk perjanjian yang kuat (mitsaqon ghalidha) karena tidak tercatat secara hukum.

4. Apabila memiliki anak, maka anak tersebut tidak memiliki status, seperti akta kelahiran. Karena untuk memperoleh akte kelahiran, disyaratkan adanya akta nikah.

5. Istri tidak memperoleh tunjangan apabila suami meninggal, seperti tunjangan jasa raharja.

6. Apabila suami sebagai pegawai, maka istri tidak memperoleh tunjangan perkawinan dan tunjangan pensiun suami.

B.2. Pandangan Komprehensif Islam

Islam memandang bahwa pernikahan adalah sebuah perjanjian yang agung (mitsaqan ghalidha) yang membawa konsekwensi suci atas pasangan laki-laki dan perempuan. Pernikahan bukan semata untuk melampiaskan nafsu syahwat, tetapi terkandung tujuan mulia untuk menjaga kelestarian generasi manusia. Pernikahan juga merupakan pintu gerbang menuju kehidupan keluarga yang sakinah dan sejahrera. Dalam tinjauan sosiologi, kedudukan keluarga sangat urgen dalam mewarnai kehidupan masyarakat secara umum.

Untuk mencapai tujuan pernikahan itu, diperlukan persyaratan khusus yang harus dipenuhi sebagaimana yang telah disyari’atkan oleh Islam. Pernikahan dianggap sah misalnya, jika dalam pernikahan itu melibatkan wali dan dua orang saksi. Sebagaimana hadis riwayat Ahmad:

لا نكاح الا بولي وشهدي عدل

Kedudukan wali dalam pernikahan sangat urgen, agar perempuan yang hendak menikah mendapat kontrol positif dari pihak keluarga yang secara simbolik-operasional diwakili oleh wali pihak perempuan. Dalam konteks masyarakat Arab saat itu, fungsi wali sangat penting agar perempuan yang hendak menikah mendapat pertimbangan yang matang menyangkut siapa calon suaminya. Wali sebelum menikahkan perempuan yang berada dalam perwaliannya secara otomatis akan melakukan penelusuran atas asal-usul dan latar belakang laki-laki yang akan menjadi calon suami perempuan itu. Dan secara timbal balik, wali punya kewajiban pula untuk meminta persetujuan perempuan yang akan dinikahkan, sebagaimana hadis Nabi berikut:

حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ فَضَالَةَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ يَحْيَى عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ حَدَّثَهُمْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تُنْكَحُ الْأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ وَلَا تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ إِذْنُهَا قَالَ أَنْ تَسْكُتَ [19]

Pernikahan bagi pasangan laki-laki dan perempuan adalah proses menuju kehidupan sesungguhnya dalam masyarakat yang lebih luas. Setelah mereka menjadi pasangan suami-istri, meraka akan menjalin relasi dan berurusan dengan banyak pihak sebagai konsekwensi atas kedudukan mereka sebagai bagian dari anggota masyarakat. Semakin modern masyarakat, akan lebih banyak mensyaratkan sebuah relasi antara keluarga dan masyarakat secara prosedural-administratif. Pencatatan pernikahan adalah manifestasi prosedur-administratif yang dijalankan untuk sebuah tertib masyarakat. Dengan tercatat, maka akan ada data penting menyangkut status seorang warga sehingga berbagai penyelewengan status dapat dieliminasi.

Undang-Undang Perkawinan No. 1 tahun 1974, adalah hukum positif yang mengatur proses pernikahan di Indonesia. Di samping segala persyaratan formil sebagaimana yang telah disyari’atkan Islam, ada ketentuan tambahan yang terdapat dalam undang-undang itu yang mengatur secara administratif sebuah proses pernikahan, yaitu pencatatan pernikahan oleh institusi pencatat nikah (KUA, Kantor Urusan Agama). Diharapkan dengan pernikahan yang tercatat dan terdata, akan lebih memudahkan kontrol terhadap pelaksanaan syari’at dalam pernikahan warga masyarakat. Hak perempuan dan anak akan lebih terjamin dalam sebuah pernikahan yang legal secara hukum (baik hukum Islam maupun hukum nasional).

Pernikahan yang tercatat (sesuai dengan UU no. 1 tahun 1974 dan PP no. 9 tahun 1975) sesuai dengan semangat kemashlahatan yang menjadi landasan syari’at Islam. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh ulama Usûl fiqh, setiap hukum (Syarî’at) itu terkandung kemaslahatan bagi hamba Allah (manusia), baik kemaslahatan itu bersifat duniawi maupun ukhrawi.

Maslahat menurut Abdullah Abd al-Muhsin az-Zaki, adalah suatu ketentuan yang dalam merumuskan hukum dengan menarik manfaat dan menolak mafsadat dari manusia.[20] Sedangkan al-Khawârizmi mendefinisikan mendefinisikan maslahat adalah memelihara maqâsid asy-syarî’ah dengan menolak mafsadat dari umat.[21] Al-Buti memandang memandang maslahat adalah suatu manfaat yang dikehendaki oleh syari’ untuk hamba-Nya dengan memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta.[22] Asy-Syâtibî mendifinisikan maslahat sesuatu yang merujuk atau dikembalikan kepada tegaknya kehidupan manusia.[23]

Dalam hal ini Asy-Syâtibî menandaskan bahwa Syarî’at diberlakukan adalah untuk kemaslahatan manusia di dunia dan di akherat.[24] Dengan demikian orang yang meneliti hukum (Syarî’at) akan menemukan bahwa tujuan dan permasalahan hukum adalah memelihara kehidupan masyarakat dan mewujudkan kemaslahatannya dengan meraih manfaat dan menghilangkan mafsadat.[25]

Sebagaimana telah disampaikan di muka, bahwa secara sosiologis, nikah sirri banyak mengandung persoalan (mafsadat/mudharat). Sehingga dalam perspektif syari’at, nikah sirri, walaupun sah secara fiqhiyah, tetapi perlu dihindari.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Abd al-Muhsin az-Zaki, Usûl al-Fiqh Mazhab al-Imâm Ahmad Dirâsat Usûliyyah Muqâranah, cet. 2, Riyadh : Maktabat ar-Riyad al-Hadisah, 1980

Aboebakar Aceh, Syi’ah: Rasionalisme dalam Islam, Semarang: Ramadhani, 1980

Al-‘Alamah Taqiyuddin Ibn Taimiyah, Ahkam al-Zawaj, Beirut: Dar al-Kutub, tt.

Allamah M.H. Thabathaba’I, Syi’ah Islam: Asal-Usul dan Perkembangannya, Djohan Effendi (terj.), Jakarta: PT. Pustaka Utama Graffiti, 1989

Badran Abu al-‘Ainain Badran, Usûl al-Fiqh al-Islamî, (t.t.p : t.n.p, t.t.), hlm. 236

Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam, Ghufron A. Mas’adi (terj.), Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002

Muhammad bin Ali Asy-Syaukani, Irsyâd al-Fukhûl ilâ Tahqîq al-Haq min ‘Ilm al-Usûl , cet. I, Surabaya : Syirkah Maktabat Ahmad bin Sa’ad Ibn Nabhan, t.t.

Muhammad Sa’id Ramadan al-Buti, Dawâbit al-Mahlahah fî as-Syarî’ah al-Islamîyah, cet.2, Beirut : Muassisah ar-Risâlat , 1977

Murtadha Muthahhari, The Rights Women in Islam, Teheran: WOFIS, 1981

Rahman Zaenuddin dan M. Hamdan Basyar (ed.), Syi’ah dan Politik di Indonesia, Bandung: Mizan, 2000

Sayyid Sabiq, Fiqhu as-Sunnah, Beirut: Dâr Al-Fikr, tt..

Shahla Hairi, law of Desire: Tempiorery Marriage in Shi’I Iran, New York: Syracuse, 1989

Syâtibî, al-Muwâfaqât fî As-Syarî’ah, (Beirut ; Dâr al-Kutub al-Timiyyah, t.t.) II, hlm. 29

Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmî wa Adilatuhu, Damaskus: Dâr al-Fikr, 1989


[1] Cyril Glasse, Ensiklopedi Islam, Ghufron A. Mas’adi (terj.), (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002), hlm. 291

[2] Sayyid Sabiq, Fiqhu as-Sunnah, (Beirut: Dâr Al-Fikr, tt..), Jilid II, hlm. 28

[3] Ibid.

[4] Shahla Hairi, law of Desire: Tempiorery Marriage in Shi’I Iran, (New York: Syracuse, 1989), hlm. 60

[5] Murtadha Muthahhari, The Rights Women in Islam, (Teheran: WOFIS, 1981), hlm. 15

[6] HR. Muslim, hadis no.2502

[7] HR. Ibn Majah, hadis no. 1902

[8] HR. Ahmad, hadis no. 14810

[9] HR. Muslim hadis no. 2506

[10] HR. Muslim, hadis no. 2510; dengan matan yang sejenis diriwayatkan pula oleh Bukhari, hadis no.3894 dan 4723; Tirmidzi, hadis no. 1040; Nasa’I, hadis no. 3312; Ibn Majah, hadis no. 1951; dan Ahmad, hadis no. 558

[11] Lihat Aboebakar Aceh, Syi’ah: Rasionalisme dalam Islam, (Semarang: Ramadhani, 1980), hlm. 221

[12] Lihat Allamah M.H. Thabathaba’I, Syi’ah Islam: Asal-Usul dan Perkembangannya, Djohan Effendi (terj.), (Jakarta: PT. Pustaka Utama Graffiti, 1989), hlm. 264

[13] Ibid., hlm. 264-265

[14] Lihat. Esposito… hlm. 136-137

[15] A. Rahman Zaenuddin dan M. Hamdan Basyar (ed.), Syi’ah dan Politik di Indonesia, (Bandung: Mizan, 2000), hlm. 112

[16] HR. Ibn Majah, hadis no. 1846

[17] Al-‘Alamah Taqiyuddin Ibn Taimiyah, Ahkam al-Zawaj, (Beirut: Dar al-Kutub, tt.), hlm. 202

[18] Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmî wa Adilatuhu, (Damaskus: Dâr al-Fikr, 1989), hlm. 71

[19] HR. Bukhari. Diriwayatkan pula oleh Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad, dan Darami

[20] Abdullah Abd al-Muhsin az-Zaki, Usûl al-Fiqh Mazhab al-Imâm Ahmad Dirâsat Usûliyyah Muqâranah, cet. 2, (Riyad : Maktabat ar-Riyad al-Hadisah, 1980), hlm. 513

[21] Muhammad bin Ali Asy-Syaukani, Irsyâd al-Fukhûl ilâ Tahqîq al-Haq min ‘Ilm al-Usûl , cet. I, (Surabaya : Syirkah Maktabat Ahmad bin Sa’ad Ibn Nabhan, t.t.), hlm 242

[22] Muhammad Sa’id Ramadan al-Buti, Dawâbit al-Mahlahah fî as-Syarî’ah al-Islamîyah, cet.2, (Beirut : Muassisah ar-Risâlat , 1977), hlm. 23

[23] Syâtibî, al-Muwâfaqât fî As-Syarî’ah, (Beirut ; Dâr al-Kutub al-Timiyyah, t.t.) II, hlm. 29

[24] Ibid., hlm. 4

[25] Badran Abu al-‘Ainain Badran, Usûl al-Fiqh al-Islamî, (t.t.p : t.n.p, t.t.), hlm. 236

Oleh: Anjar Nugroho SB | Agustus 28, 2007

Pendidikan yang Membebaskan

PERGURUAN TINGGI DAN PENDIDIKAN YANG MEMBEBASKAN

Oleh : Anjar Nugroho, S.Ag., M.S.I

 

Pendahuluan

Mansour Fakih dalam tulisan pengantarnya pada buku Pandidikan Populer: Membangun Kesadaran Kritis (2001), melihat bahwa dalam prospektif kritis, tugas pendidikan adalah melakukan refleksi kritis, terhadap sistem dan “ideologi yang dominan” yang tengah berlaku di masyarakat, serta menantang sistem tersebut untuk memikirkan sistem alternatif ke arah transformasi sosial menuju suatu masyarakat yang adil. Tugas ini, lanjut Fakih, dimanifetasikan dalam bentuk kemampuan menciptakan ruang agar muncul sikap kritis terhadap sistem dan struktur ketidakadilan sosial, serta melakukan dekonstruksi terhadap diskursus yang dominan dan tidak adil menuju sistem sosial yang lebih adil. Konsekwensi dari pemikiran Fakih itu adalah bahwa, pendidikan tidak mungkin dan tidak bisa netral, obyektif maupun “detachment” dari kondisi masyarakat.

Pendidikan harus berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri, begitu kata Paulo Freire dalam kitab yang menjadi magnum opus-nya, Pedagogy of Opressed (1978). Bagi Freire, pengenalan itu tidak cukup hanya bersifat obyektif atau subyektif, tetapi harus kedua-duanya. Kebutuhan obyektif untuk merubah keadaan yang tidak manusiawi selalu memerlukan kemampuan subyektif (kesadaran subyektif) untuk mengenali terlebih dahulu keadaan yang tidak manusiawi, yang terjadi senyatanya, yang obyektif.

Gambaran teoritis yang telah dipaparkan baik olah Fakih maupun Freire itu seolah bertolak belakang dengan gambaran realitas yang menyeruak dalam fenomena pendidikan di sekitar kita. Pendidikan yang sedang dijalani oleh bangsa ini lebih menggambarkan sebagai sebuah proses peminggiran rasa kemanusiaan karena peserta didik diposisikan sebagai “obyek” yang siap “digarap” oleh perangkat pendidikan untuk dijadikan manusia-manusia “mekanik”. Antara materi yang diajarkan dengan problem realitas terdapat kesenjangan yang luar biasa. Akibatnya peserta didik menjadi terasing dengan realitasnya dan mereka menjelma sebagai sosok yang menguasai teori tetapi gagap dalam melakukan transformasi masyarakat.

Kondisi seperti itu, dipertontonkan secara apik oleh sistem pendidikan kita mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pendidikan ini hanya akan melahirkan intelektual “mekanik” yang mengabdi kepada struktur dan ideologi dominan dari pada intelektual “organik” yang tampil sebagai agen perubahan (agent of change) masyarakat. Tulisan ini akan menyorot problem perguruan tinggi kita dalam kaitanya dengan proyek pendidikan yang membebaskan seperti yang sering dikumandangkan oleh para tokoh pendidikan kritis yang kian hari kian muak dengan realitas pendidikan yang ada.

Problem Perguruan Tinggi

Sistem yang digunakan dalam praktek pendidikan di Perguruan Tinggi sejalan dengan sistem pendidikan nasional yang berlaku pula di semua jenjang pendidikan. Ada nuansa baru dalam sistem pendidikan nasional kita yang bisa memberi peluang kearah pendidikan yang mencerahkan, mencerdaskan dan membebaskan. Hanya saja persoalanya adalah pada kultur pendidikan kita yang sudah terpola sekian lama untuk berorientasi pada pendidikan mekanistis-materialistis. Padahal orientasi pendidikan seperti ini sulit untuk mengarahkan pada pembentukan karakter manusia kritis-konstruktif-inovatif yang peka terhadap problem-problem masyarakat sebagai manifestasi insan tercerahkan dan cerdas. Orientasi mekanistis-matrialistis ini pula yang kebanyakan dipraktekkan oleh banyak perguruan tinggi kita baik negeri maupun swasta yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Dikatakan mekanistis karena sistem pendidikannya terpaku pada bentuk kurikulum dan teaching plan yang kaku, yang steril terhadap unsur-unsur dinamika pengetahuan peserta didik dan problem masyarakat. Dosen dalam sistem ini seolah telah melakukan tugasnya dengan baik ketika ia telah menjalankan kurikulum dan teaching plan dengan baik tanpa peduli ada proses pencerahan dan pencerdasan dalam diri mahasiswa atau tidak. Sistem mekanis ini menghalangi proses interaksi yang diskursif dalam ruang-ruang kelas yang lebih memberi kebebasan kepada mahasiswa untuk mengembangkan ilmunya tanpa harus menunggu “suapan” dari sang dosen. Mahasiswa yang terlalu kritis dalam sistem mekanis akan dicap sebagai “mahasiswa sulit” yang akan merusak kurikulum, silabi, dan segala tetekbengek perangkat perangkat pendidikan lainnya.

Dalam teori filsafat, materialisme diartikan sebagai faham yang menegasikan dimensi ruhiyah (spiritual) dan salah satu doktrinnya adalah menganggap agama sebagai candu (Lorens Bagus, 1996). Ironisnya, pembelajaran yang berlangsung di perguruan tinggi-perguruan tinggi justru menggunakan pendekatan-pendekatan materialistik yang kental. Ini terlihat dalam proses transformasi pengetahuan dan nilai-nilai moral yang lebih cenderung menekankan penguasaan materi-materi pengetahuan tanpa bobot moral-spiritual memadai. Akibatnya, pendidikan tinggi tidak mampu-untuk tidak mengatakan gagal-membentuk karakter manusia cerdas dan bermoral.

Di kelas, mahasiswa hanya disodori setumpuk pengetahuan material, baik dalam buku-buku teks maupun proses belajar mengajar. Yang terjadi adalah proses pengayaan (enrichment) pengetahuan kognitif tanpa upaya internalisasi nilai. Akibatnya, terjadi kesenjangan yang jauh antara apa yang diajarkan dengan apa yang terjadi dalam kehidupan sehar-hari mahasiswa. Pendidikan bagi mereka laksana pisau yang tumpul, tidak mampu mengubah sikap-perilaku mereka.

Pedagogi yang diterapkan dunia pendidikan Indonesia, termasuk pembelajaran di perguruan tinggi, sejauh ini lebih menekankan unsur kognitif ketimbang afektif. Transformasi ilmu bersifat amat mekanis di mana siswa dijejali seperangkat materi ilmu pengetuan atau informasi. Pembelajaran yang demikian akhirnya berubah menjadi proses pembebanan berlebihan yang memasung anak didik. Mahasiswa lalu merasa ditekan dan tersiksa tanpa bisa menikmati-nya. Inilah mungkin sebuah pedagogi yang oleh Kurt Singer (seperti dikutip Sindhunata, Kompas, 19/2/ 2001) disebut sebagai schwarzer paedagogic, pedagogi hitam.

Tak bisa dipungkiri bahwa dunia perguruan tinggi dewasa ini adalah laksana mesin industri yang siap memproduksi anak didik sesuai dengan pesanan user (pengguna). Para user perguruan tinggi sebagian besar berasal dari dunia industri yang kapitalistik, sehingga berakibat langsung terhadap pola-pola kapitalisme dalam dunia perguruan tinggi. Perguruan Tinggi yang semestinya sebagai ujung tombak dalam melakukan kritik ideologi dan kritik sosial-politik-ekoniomi, malah terjebak dalam kubangan kapitalisme global yang menguntungkan para pemilik modal. Kapitalisasi pendidikan juga berakibat pada mutu pendidikan yang senantiasa diukur oleh standar-standar pendidikan yang dikehendaki kalangan industri. Kapitalisasi ini pula yang menjerat perguruan tinggi untuk mengikuti logika pasar sehingga biaya pendidikannya juga terdongkrak tinggi. Dalam situasi seperti ini, mereka yang berduit sajalah yang bisa mengakses dunia perguruan tinggi.

Masih dalam jebakan kapitalisme perndidikan, perguruan tinggi pun banyak yang rela menjual idealismenya sebagai institusi pendidikan terkemuka kepada sistem permintaan pasar yang liberatif, sehingga tak heran jika pasar menghendaki sistem pendidikan instan, maka perguruan tinggi pun akan melayani itu demi menjaga market (pasar). Berbagai macam bentuk perkuliahan, seperti kelas ekstensi, kelas pararel, kelas jauh, kelas kerjasama yang merupakan bentuk dari sistem pendidikan instan, juga jual-beli gelar yang marak dewasa ini dapat dimaklumi dalam kerangka kapitalisasi pendidikan.

Menuju Pendidikan Tinggi Yang Membebaskan

Pendidikan di mata Freire, sebagaimana yang dikutip oleh Henry A. Giroux (1999), merupakan sebuah pilot project dan agen untuk melakukan perubahan sosial guna membentuk masyarakat baru. Sebagai dasar untuk melakukan perubahan, pendidikan merupakan wadah dan “surat perjanjian” dengan masyarakat yang memegang dominasi untuk menentukan kehidupan sosial di masa yang akan datang. Bagi Freire, pendidikan memuat konsep sekolah di dalamnya, yakni tempat di mana manusia menciptakan, sekaligus menjadi hasil, hubungan-hubungan sosial dan pedagogis. Sehingga, masih menurut Freire, pendidikan perupakan tempat, pertama, untuk mendiskusikan masalah-masalah politik dan kekuasaan secara mendasar, karena pendidikan menjadi ajang terjalinnya makna, hasrat, bahasa dan nilai-nilai kemanusiaan. Kedua, untuk mempertegas keyakinan secara lebih mendalam tentang apa sesungguhnya yang disebut manusia dan apa yang menjadi impiannya. Dan ketiga, untuk merumuskan dan memperjuangkan masa depan.

Sebagai sebuah dasar untuk melakukan perubahan, pendidikan merupakan tindakan yang menggabungkan antara rekayasa politik dan upaya untuk menciptakan berbagai alternatif kehidupan yang baru. Pendidikan juga menjadi ajang untuk menuangkan komitmen yang tinggi dari para pendidik guna menciptakan sistem politik yang lebih emansipatif, bukan sekedar memenuhi tuntutan pedagogis semata. Ini semua dilakukan oleh dunia pendidikan untuk mendekatkan pendidikan dengan perubahan struktur masyarakat dan negara yang lebih memberi peluang terciptanya keadilan sosial tanpa penindasan. Dalam sistem pendidikan ini, seluruh elemen pendukung proses belajang mengajar diarahkan untuk menciptakan manusia kritis-emansipatif-partisipatoris.

Perguruan tinggi adalah salah satu yang dipilih untuk menjadi yang terdepan dalam melakukan emansipasi pendidikan. Apalagi tugas-tugas transformasi sosial-politik pendidikan akan lebih pas jika pergruan tinggilah yang menjadi ujung tombak. Hal ini logis, karena dalam lingkungan perguruan tinggi tersedia sumber daya manusia yang siap melakukan “praksisasi” teori, sekaligus ditunjang oleh peserta didik yang sudah cukup dewasa untuk terjun langsung di masyarakat. Akan tetapi, jika melihat problem yang dihadapi perguruan tinggi sebagaimana tertulis di atas, rasanya cukup berat upaya-upaya untuk merevitalisasi perguruan tinggi sehingga menjadi perguruan tinggi yang membebaskan.

Sedikitnya adalah ada lima hal yang perlu diperhatikan untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan yang membebaskan. Pertama, perguruan tinggi harus menyiapkan kurikulum yang lebih banyak menyerap kearifan lokal dalam rangka menjadikan problem masyarakat sekitar sebagai laboratorium ilmiah paling otentik. Mahasiswa sebagai partisipan aktif proses pendidikan akan terbiasa menjadi problem solver masyarakat dan diharapkan bisa terus berperan akfif dalam proses-proses transformasi masyakatar. Mahasiswa akan menjadikan problem yang ada di masyarakat sebagai wahana untuk diobservasi, diteliti, dan dicoba untuk diberi solusi-solusi alternatif. Mahasiswa dalam hal ini akan terlibat, misalnya, dalam resolusi konflik, penanggulangan penyakit masyarakat, pemberdayaan petani dan nelayan, advokasi tindak kekerasan, advokasi nasib buruh, pembelaan terhadap nasib pedagang kaki lima, melakukan kontrol terhadap proses politik di parlemen dan sebagainya.

Kedua, perguruan tinggi harus mendayagunakan potensi ilmiahnya untuk proses-proses sosial dan politik. Banyak dijumpai dalam kegiatan ilmiah perguruan tinggi sesuatu yang “mewah” bagi masyarakat. Penelitian dosen dan mahasiswa lebih banyak mengarah kepada pelembagaan teori ketimbang aplikasi dan uji teori dalam menyelesaikan problem sosial-politik-budaya masyarakat. Hasilnya, teori semakin berkembang, sekaligus persoalan masyarakat kian menjamur dan tak tertanggulangi. Kegiatan ilmiah perguruan tinggi harus berkiblat pada dinamika sosial-politik masyarakat.

Ketiga, Mahasiswa dan dosen diberi kebebasan mimbar akademik untuk lebih mengekspresikan sikap ilmiah yang kritis dan bertanggungjawab. Kebebasan mimbar akademik adalah atmosfer untuk membangun sikap kritis-inovatif-kreatif. Manifetasi dari uapaya ini adalah mengembangkan kelompok-kelompok kritis dosen dan mahasiswa dan memberi ruang yang selebar-lebarnya bagi mereka untuk berekspresi dalam ranah ilmiah-politis dan politis-ilmiah. Untuk hal ini mahasiswa dan dosen harus mempunyai wadah yang independen, yang steril dari campur tangan kepentingan-kepentingan tertentu.

Keempat, dalam proses belajar mengajar lebih mengarah kepada model pembelajaran partisipatoris yang active learning. Dosen sebagai sumber ilmu dalam paradigma pembelajaran konvensional harus digeser dengan pembelajaran partisipatoris yang menjadikan mahasiswa sebagai pusat (students centre). Konsekuensi dari model pembelajaran seperti ini adalah banyak dibutuhkan strategi pembelajaran aktif seperti: active knowledge sharing (saling tukar pengetahuan), assessment search (mencari kesan), active debate (debat aktif), team quiz (kuis kelompok), inquiring minds want to know (melihat kemampuan siswa), keep on learning (belajar terus), peer lessons (mengajar sesama teman), information search (mencari informasi), silent demonstration (demonstrasi bisu), practice-rehearsal pairs (simulasi perpasangan), lightening the learning climate (menghidupkan suasana belajar), dan sebagainya.

Kelima, perguruan tinggi harus memberi kesempatan seluas-luasnya kepada segenap lapisan masyarakat untuk dapat mengaksesnya. Perguruan tinggi jangan hanya menjadi “kumpulan” masyarakat tertentu yang ada bakcing modal, karena ini akan mempersempit ruang perguruan tinggi sebagai ajang pembelajaran rakyat. Memang kendala untuk bisa mewujudkan hal ini tidak mudah, apalagi di tengah iklim kompetitif antar perguruan tingi yang menuntut perguruan tinggi bisa menunjukkan branch image sebagai perguruan yang modern dan “wah”, dan ini membutuhkan biaya mahal (high cost). Perguruan tinggi dalam hal ini harus mampu menggali dana dari sumber lain sehingga bisa menekan biaya pendidikan yang dibayar mahasiswa. Jika seluruh kelas dan lapisan masyarakat mampu mengakses dunia perguruan tinggi, maka akan tampak lebih dinamis dan diskursif suasana pembelajaran di ruang-ruang kuliah.

Penutup

“Jika sekolah adalah penjara, maka bebaskan manusia dari sekolah” kata Ivan Illich. Statemen ini mengandung maksud bahwa sekolah (termasuk di dalamnya) perguruan tinggi, harus mampu menjadi ajang pembebasan manusia dari sistem hegemonik. Sekolah bukanlah instrumen untuk mencetak insan mekanik yang siap “dijual” di pasar kerja semata, tetapi sekolah adalah proses pembebasan yang hakiki yang mengantarkan manusia pada hakekat kemanusiaannya yang otentik.

Perguruan tinggi sebagai bagian dari sekolah rakyat dituntut untuk dapat memberi kesempatan munculnya intelektual-intelektual organik (sebagai lawan dari intelektual mekanik, meminjam istilah Antonio Gramsci), yakni intelektual-intelektual yang akan terlibat dalam problem masyarakat dan menjadi inspirator perubahan soaial. Jika perguruan tinggi hanya menciptakan intelektual mekanik, maka misi pembebasannya menjadi gagal. Dan perguruan tinggi semacam itu adalah penjara, sehingga bebaskan mahasiswa dari perguruan tinggi.

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.