Oleh: Anjar Nugroho SB | Agustus 2, 2007

Tantangan Umat Islam Kontemporer

TANTANGAN UMAT ISLAM KONTEMPORER DAN SOLUSINYA*)

Oleh : Anjar Nugroho, S.Ag., M.S.I**)

 

A. Muqaddimah

Islam yang dibawa diturunkan Allah kepada Rasulullah SAW mempunyai peran strategis untuk menaburkan rahmat di seluruh alam ini (Q.S. al-Anbiya’/21:107). Peran strategis Islam itu dibarengi dengan titah-Nya kepada kelompok orang beriman untuk menjadi pihak yang memimpin dan memakmurkan dunia (Q.S. al-Baqarah/2:30) sekaligus sebagai umat terbaik (Q.S. Ali Imran/3: 110). Umat terbaik saja tidak cukup untuk membuat Islam berperan sentral dalam kehidupan dunia ini, maka Allah juga memerintahkan kepada umat terbaik itu untuk senantiasa berjuang tiada henti menancapkan pilar-pilar kebenaran Islam yang berlaku universal (Q.S. al-Baqarah/2: 218; Ali Imran/3:142; al-Maidah/5:35; al-Anfal/8: 72; at-Taubah/9: 41, 86; al-Hajj/22: 78).

Akan tetapi, jika dilihat dari perspektif historis umat Islam, sungguh sangat memprihatinkan. Jumlah pemeluk yang cukup besar, tidak dibarengai dengan peran yang signifikan dalam menentukan arah peradaban dunia. Bandingkan dengan jumlah Yahudi yang konon hanya sekitar 50 juta-an di seluruh muka bumi ini, tetapi kemajuan ekonomi, politik, dan ilmu pengetahuan tidak ada bandingannya dengan negeri Muslim di manapun.

Tulisan ini sekadar sebagai pengantar diskusi tentang tantangan umat Islam kontemporer yang diharapkan dapat menggugah kesadaran sejarah umat Islam untuk menyadari kekeliruannya selama ini dan bangkit untuk kembali memainkan peran-peran strategis dalam mengatur dan memimpin kehidupan.

 

B. Tantangan Islam Global

a. Neo-Imperialisme

Pada era 1950-an, bangsa Muslim di muka bumi telah mengakhiri penjajahan (imperialisme) fisik dari bangsa Barat. Pertanyaan yang diajukan oleh Guru Besar Cairo University, Prof. Hasan Hanafi, dalam kitabnya Muqaddimah fi al-‘Ilmi al-Istighrab, cukup membuat umat Islam terhenyak: “Mengapa gerakan pembebasan tanah air berhasil melepaskan diri dari penjajahan militer tetapi gagal mempertahankan kemerdekaaan ekonomi, politik, kebudayaan dan peradaban?”.

Inilah penjajahan di alam modern yang dialami oleh bangsa Muslim pasca penajahan fisik yang di kenal dengan neo-imperaialisme. Penjajahan model ini jauh lebih dahsyat dampak negatifnya bagi bangsa-bangsa Muslim ketimbang penjajahan pada era kolonialisme fisik abad 18-19 M. Kedaulatan ekonomi dan politik menjadi ketergantungan ekonomi dan politik terhadap Barat yang berbasis pada kapitalisme dan liberalisme. Tidak hanya itu, dampak lebih luas dari neo-imperalisme adalah terkikisnya nilai-nilai luhur kebudayaan lokal, identitas bangsa yang semuanya berbasis ajaran agama. Dengan kata lain, ajaran Islam dalam kehidupan Mulim telah digeser oleh nilai-nilai universal Barat semisal demokrasi, Hak Asasi Manusia, liberalisasi, civil sosiety dan sebagainya.

Neo-Imperialisme mengusung agenda yang sebagian besar umat Islam menerimanya secara wajar, tanpa sedikitpun mencurigai bahwa di dalamnya tersimpan agenda dan ideologi tersembunyi yang akan membunuh ideologi Islam. Agenda noe-imperialisme itu antara lain adalah kapitalisasi, liberalisasi, dan globalisasi.

b. Clash of Civilization (Benturan Peradaban)

Tokoh yang pertama mencetuskan teori clash of civilization adalah Samuel P. Huntington. Dalam tulisan kontroversialnya The Clash of Civilization yang dimuat jurnal Foreign Affair (Summer, 1993), guru besar studi-studi strategis pada Harvard University AS itu memprediksikan makin parahnya ketegangan antara peradaban Barat dan peradaban Islam. Tesis Huntington sebenarnya bagian dari rekomendasi bagi pemerintahan Amerika Serikat untuk membuat peta tata dunia baru di planet bumi. Huntington dalam hal ini ingin mengingatkan pemerintah AS untuk waspada terhadap ancaman baru pasca perang dingin dan runtuhnya negara Uni Soviet.

Clash of civilization adalah tindak lanjut Perang Salib yang terjadi di abad 11-12 M. Barat (terutama AS) memposisikan Islam sebagai musuh utama yang harus dilumpuhkan dengan berbagai cara. Kepentingan global Barat dalam Clash of civilization sesungguhnya adalah dominasi ekonomi dan politik atas seluruh negara non-Barat. Untuk melancarkan kepentinganya itu, Barat memakai banyak cara, dari yang paling halus sampai yang paling berdarah-darah. Cara halus Barat mengukuhkan hegemoninya diantaranya melalui rezim pengetahuan. Rezim pengetahuan yang diciptakan Barat tidak memberi ruang yang bebas kepada pengetahuan lain untuk berkembang. Generasi terdidik di negara berkembang diarahkan sedemikian rupa menjadi agen dan penjaga sistem pengetahuan Barat. Dan bukan hanya cara berfikir saja yang diarahkan, tetapi gaya hidupnya pun dikendalikan.

Hegemoni pengetahuan Barat terlihat jelas ketika kaum terdidik di negara berkembang dengan setia dan tidak sadar menyebarkan dan membela nilai-nilai dan institusi Barat seperti demokrasi, civil society, hak asasi manusia. Semua yang datang dari Barat diterima sebagai nilai-nilai universal yang merupakan produk peradaban terbaik yang harus diikuti.

c. Isu Terorisme

Aktualiasi paling kontemporer dari clash of civilization adalah isu terorisme yang sedang gencar-gencarnya dipropagandakan Barat untuk menyudutkan dan mendiskreditkan Islam. Dipicu oleh serangan 11 September atas World Trade Cantre (WTC), AS dan sekutunya seakan mempunyai mandat penuh untuk menyerang kelompok-kelompok Islam yang dinilai radikal dengan dalih memberantas terorisme. Agresi AS di Afganistan dan Irak adalah bagian dari perang melawan terorisme yang dilakukan AS dan Barat.

Perang melawan terorisme hanyalah sekadar dalih dari ambisi AS dan Barat untuk menguasai negara-negara Muslim yang selama ini potensial untuk melakukan perlawanan terhadap Barat. Dan yang lebih menyedihkan, agenda perang melawan terorisme itu diterima oleh mayoritas negara-negara Muslim sebagai agenda bersama. Bahkan pemerintah RI langsung meresponnya dengan mengeluarkan UU anti-terorisme yang menimbulkan kontroversi itu serta tidakan-tindakan lain yang menyudutkan umat Islam seperti rencana membuat sidik jari santri dan lain-lain.

Dampak isu terorisme yang dialami oleh umat Islam yang tinggal di Barat sungguh besar. Gerakan mereka selalu dicurigai dan yang lebih menyakitkan adalah stigma sebagai kelompok teroris yang berpengaruh terhadap relasi sosial mereka.

 

C. Kondisi Umat Islam

a. Terpecah belah dan diskonsolidasi

Adanya hadis yang menyebut bahwa umat Islam akan terbagi menjadi tujuh puluh tiga golongan dan yang selamat hanya satu, seolah menjadi alasan normatif bagi umat umat Islam untuk tidak bersatu. Realitas umat yang majemuk, terdiri dari beragai aliran pemikiran dan golongan serta berbagai kelompok gerakan tidak disikapi secara bijak oleh umat Islam sebagai sebuah keniscayaan sejarah, tetapi malah dijadikan alasan untuk mengutuk, menyesatkan, menafikan dan menyerang kelompok lain.

Suasana tidak harmonis antar umat Islam tidak saja terjadi di level bawah, tetapi pada level antar negara Islam. Arab Saudi, misalnya, tampak tidak begitu simpati apalagi tergerak secara kongret untuk melakukan pembelaan terhadap Hizbulloh yang diserang Israel, gara-gara Hizbulloh berpaham Syi’ah.

Belum lagi “pertarungan” antara kelompok konservatif salafi dengan gerakan-gerakan Islam modernis internasional, seperti Ikhwan al-Muslimin dan Hizb at-Tahrir, antara kelompok Islam pro pemerintah dengan kelompok Islam radikal di Mesir, Aljazair, Sudan, Somalia, Pakistan dan sebagainya. Aneka konfilk itu sangat jelas melemahkan kekuatan Islam dan menguntungkan kelompok Barat yang selama ini sedang giat-giatnya membuat Islam lemah melalui politik adu domba.

Di level nasional Indonesia, dapat disaksikan betapa umat Islam tidak mempunyai satu ritme gerakan untuk melaksanakan agenda umat melawan musuh bersama Islam. Atau jangan-jangan musuh bersama (common enemy) itu tidak pernah terpikirkan oleh umat Islam sehingga justru yang menjadi musuh adalah kelompok Islam lain. Sinergitas antar gerakan Islam tidak tampak dan yang muncul adalah egoisme kelompok, seolah hanya dengan kelompoknya sendiri seluruh persoalan umat Islam dapat dipecahkan.

b. Terpenjara oleh kesadaran magic (tahayul)

Salah satu akibat yang dimunculkan oleh kesadaran macam ini adalah mejadikan umat Islam anti terhadap ilmu pengetahuan. Padahal, kemajuan yang dicapai Barat dan yang lantas digunakannya untuk menyerang Islam adalah melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Dunia Islam terlena dengan kesadaran magic, dan menganggap seolah-olah semua persoalan umat dapat diselesaikan dengan perilaku yang bersumber dari kasadaran macam itu.

Ketika Allah mengingatkan bahwa setan adalah musuh yang nyata, maka banyangan umat tentang sosok setan adalah makhluk halus yang suka membuat orang kesurupan atau hantu di malam hari semata. Umat tidak sadar bahwa manusia pun bisa menjadi setan yang tingkah polahnya bisa jauh lebih dahyat efeknya bagi kehidupan. Amerika dan Barat, yang sewenang-wenang terhadap Islam apa bukan setan namanya? Majikan yang suka memeras buruhnya, apa tidak bisa digolongkan menjadi kelompok setan? Penguasa yang dzalim dan korup apa bukan kelompok setan? Jika mereka adalah sosok setan, lantas apa bisa melawannya hanya dengan kekuatan-kekuatan magic? Kalau umat Islam mau meniru Iran, dengan bekal ilmu pengetahuan dan teknologinya, mengantarkan Iran menjadi satu-satunya kekuatan Islam yang paling ditakuti Barat. Bahkan konon, Iran termasuk salah satu dari tiga negara di muka bumi ini yang bebas dari intervensi Amerika.

c. Stategi gerakan yang lemah

Di samping gerakan Islam lemah dalam konsolidasi, mereka juga lemah dalam menyusun strategi gerakan sehingga tidak efektif dalam mengusung agenda Islam. Gerakan Islam lebih tertarik dengan membuat program yang bisa memperbesar anggota ketimbang program yang langsung menyentuh persoalan umat. Sehingga program pemberdayaan masyarakat, advokasi terhadap mereka yang tertindas atau membangun kekuatan ekonomi serta politik umat Islam menjadi terlupakan.

Pola-pola gerakan yang dilakukan umat Islam masih bertahan dalam pola konvensional yang tradisionalis dan anti kemajuan. Sarana-sarana modern belum dimanfaatkan secara maksimal oleh gerakan Islam, kecuali hanya beberapa saja. Kondisi ini yang membuat umat Islam sering gamang dalam menghadapi musuh-musuh Islam yang pola gerakannya demikian canggih.

Gerakan Islam juga lebih cenderung hanya bisa membuat gerombolan dan kerumunan ketimbang gerakan efektif yang langsung bisa menembak sasaran dengan tepat. Akibatnya, beberapa agenda gerakan Islam itu hanya efektif di tingkat isu tetapi tidak terasa di tingkat aplikasi kongkretnya. Gerakan anti pornografi dan pornoaksi di Indonesia misalnya, bisa dijadikan cermin tentang hal ini.

 

D. Pengaruhnya di Level Nasional dan Lokal

a. Mayoritas jumlah tetapi miskin peran

Kalau boleh bertanya jujur, siapa yang mengendalikan negeri ini? Umat Islamkah, atau umat Islam hanya menjadi sekadar komoditi untuk diperjual belikan. Dalam bidang politik, siapa yang berkuasa? Mereka memang beragama Islam, tetapi apakah mereka dengan serius melaksanakan agenda gerakan Islam? Dalam bidang ekonomi sudah jelas yang berkuasa adalah kelompok kapitalis. Mereka memang kemudian ramai-ramai melakukan Islamisasi ekonomi dengan membuka fasilitas ekonomi syari’ah, tetapi upaya ini bisa ditebak hanya menguntungkan kelompok mereka dan umat Islam hanya menjadi komoditi.

Dalam bidang pendidikan, sekolah mana, atau perguruan tinggi mana yang lebih unggul? Padalah ini adalah bidang strategis untuk mempersiapkan generasi masa depan Islam yang siap bersaing dengan mereka.

b. Gamang dalam menghadapi deislamisasi

Proses deislamisasi khususnya di kalangan generasi umat Islam terasa kian gencar. Tidak hanya Kristenisasi, tetapi demoralisasi juga sedang dilancarkan dengan dahsyat ke dalam tubuh umat Islam. Dan sayangnya, kondisi semacam ini dihadapi oleh umat Islam dengan tidak serius dan tidak efektif. Kristenisasi yang demikian canggih dan multi approach (dengan berbagai cara dan pendekatan) lebih banyak dihadapi umat Islam dengan mengeluh dan mengutuk.

Gelombang liberalisasi moral ditengah-tengah generasi muda Islam juga sering dihadapi secara fregmented (terpilah-pilah) dan tidak komprehensif (menyeluruh). Akibatnya, generasi muda Islam kian hari kian menjauh dari ajaran Islam. Ini adalah problem budaya yang harus dihadapi dengan counter hegemonic culture (melawan budaya dominan), dan tidak semata-mata persoalan split personality (ketidak shalihan individu).

c. Berkubang dalam konflik

Akibat dari politik pecah belah yang dilakukan Barat, terasa sampai di tingkat lokal dan akar rumput (grassroot). Umat Islam menjadi saling curiga antara satu kelompok dengan kelompok lain bahkan sampai terjadi konflik yang berdarah-darah.

Saking curiganya dengan kelompok lain, hal-hal yang semestinya bukan ajang konflik menjadi media efektif untuk menyulut konflik. Perbedaan furuiyah, manhaj gerakan, manhaj dahwah dan tarbiyah menjadi lahan subur untuk saling menafikan bahkan mengkafirkan.

Apalagi jika sudah memasuki wilayah politik, sungguh sangat sulit untuk tidak terjadi konflik. Kerusuhan yang terjadi di Madura beberapa tahun silam diakibatkan oleh berbedaan aspirasi politik walaupun mereka sama-sama Islam dan sama-sama NU. Nu dan Muhammadiyah juga pernah hampir terjadi kerusuhan besar hanya saat berbeda dalam sikap politik.

 

E. Solusi Strategis

a. Rekonsolidasi

Konsolidasi perlu dilakukan kembali umat Islam agar kondisinya tidak semakin parah. Konsolidasi ini meliputi konsolidasi pemahaman dan konsolidasi gerakan. Konsolidasi pemahaman artinya diupayakan adanya pemahaman yang sama diantara umat Islam atas persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi umat. Dan konsolidasi gerakan maksudnya adalah adanya sinergitas anta gerakan Islam walaupun masing-masing bergerak dengan cara dan strateginya sendiri.

Konsolidasi pemahaman dilakukan melalui cara-cara silatururahmi dialogis yang intensif antar gerakan Islam yang membahas tentang topik persoalan umat bukan membahas perbedaan khilafiyah antar mereka. Dari konsolidasi ini muncul rumusan tentang common enemy (musuh bersama) umat Islam yang harus dihadapi dengan terencana, sistemik dan sinergis antar gerakan Islam. Dari konsolidasi ini pula akan terkikis saling curiga dan yang muncul adalah saling percaya dan saling mendukung.

Konsolidasi gerakan perlu dilakukan untuk menghadapi secara bersama common enemy umat Islam. Bersama itu tidak musti harus dalam satu tenda gerakan, tetapi bisa dilakukan dengan berbagai gerakan dari masing-masing gerakan Islam yang saling bersinergi dan menyempurnakan. Muhammadiyah dan NU telah merintis gerakan anti korupsi secara bersama-sama, ini tentu langkah maju dilihat dari sejarah Nu dan Muhammadiyah yang selalu curiga dalam gerakan dan selalu konflik dalam persoalan furuiyah.

b. Membangun keadilan sosial dan ekonomi umat

Upaya ini penting untuk mengangkat derajat kesejahteraan umat sehingga umat lebih terberdaya dalam konteks kehidupan kekinian yang persoalannya kian komplek. Kristenisasi sukses karena umat Islam sebagian masih miskin dan bodoh. Kemiskinan dan kebodohan akibat mereka tidak mempunyai akses yang cukup terhadap peningkatan tarap ekonomi dan pendidikan. Umat Islam mudah dipecah belah juga akibat kebodohan dan kemiskinan yang menimpa meraka. Akibat miskin dan bodoh ini pula, umat Islam hanya menjadi komuditas politik dan ekonomi.

Membangun keadilan sosial dan ekonomi umat dimulai dengan melaksanakan rukun Islam Islam keempat yaitu zakat. Tetapi zakat disini harus benar-benar difungsionalisasi untuk pemberdayaan masyarakat, tidak hanya sekedar ritual mensucikan harta. Ekonomi Islam juga perlu digerakkan agar umat bebas dari dampak kapitalisme yang sarat riba dan penuh nuansa perjudian. Dampak kapitalisme ini pula yang menyebabkan jurang cukup dalam antara kelompok kaya dan kelompok miskin.

c. Membangun mobilitas sosial

Kekuatan umat Islam harus mampu dimobilisasi untuk mengisi ruang-ruang kehidupan masyarakat. Umat Islam dalam hal ini harus menyiapkan generasi yang melek pengetahuan dan teknologi, sehingga segenap bidang kehidupan bangsa dan masyarakat ini diisi oleh generasi Islam yang siap menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Umat Islam dalam memperjuangankan Islam jangan hanya terkonsentrasi di mimbar-mimbar masjid, tetapi harus menyebar di bidang ekonomi, politik, hukum, sain dan teknologi, pemerintahan da sebagainya. Tetapi harus ada komitmen diantara meraka, bahwa keberadaan mereka di segep lini kehidupan itu adalah dalam rangka menggerakan agenda Islam sebagai agama rahmat.

Membangun mobiolitas sosial harus dimulai dari bagaimana membangun sistem pendidikan umat. Sistem pendidikan sekuler yang anti spiritualitas harus dibenahi dengan sistem pendidikan terpadu antara ilmu agama dan ilmu umum. Keberadaan masjid dalam hal ini dapat dimanfaatkan untuk mengisi kekosongan spiritual generasi muda Islam saat mereka terlibat intens dengan ilmu-ilmu sekuler.

 

F. Khatimah: Harapan akhir

Dari segenap upaya-upaya memperbaiki kondisi umat Islam, terbersit harapan luhur untuk membawa umat ini ke arah yang lebih baik. Mudah-mudahan ini pula harapan para peserta Pelatihan Da’I se eks-Karesidenan Banyumas kali ini. Harapan itu adalah bagaimana umat ini manjadi:

a. Umat yang satu, tidak tercerai berai, walaupun berada dalam berbagai kelompok gerakan

b. Umat yang maju, tidak terkungkung oleh alam pikiran tahayul, tetapi semangat untuk mendalami ilmu pengetahuan sebagai bekal melawan hegemoni pengetahuan Barat yang sekuler dan liberal

c. Umat yang dermawan, umat yang gemar untuk membantu sesama saudaranya yang membutuhkan, sehingga masing-masing umat mendapat kesempatan untuk mengakses pendidikan sebagai bekal memberantas kebodohan umat dan dapat hidup layak.

d. Umat yang sederajat, tidak ada lagi umat yang merasa lebih unggul dari yang lain, yang masing-masing dapat bersinergi dalam memperjuangkan Islam.

 


*) Makalah disampaikan dalam Training da’I dan Aktivis Masjid se eks- Karesidenan Banyumas pada tanggal 9 September 2006 yang diselenggarakan oleh Panitia Amaliyah Ramadhan 1427 H Masjid Fatimatuzzahrah.

**) Pemakalah adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Purwokerto, alumni pondok pesantren Muhammadiyah Kudus dan Magister Studi Politik Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Responses

  1. assalamu’alaikum wr, wb
    saya asyakir dari bumiayu, brebes. mohon izinya pak saya mengdownlod beberapa artikel tentang politik islam. sebagai bahan wawasan keislaman dan sebagai referensi skripsi saya.
    terimaksih.
    Wassalamu’alaikum wr,wb

  2. sekarang muncul banyak aliran sesat, bagaimana tanggapan anda? bagaimana membuktikan ajran itu sesat atau tidak? terimakasi

  3. saya bingung,seputardefinisi islam kontemporer itu sendiri…..

  4. Saya mohon izin untuk membuka beberapa artikel tentang pemikiran islam kontemporer,,mudah-mudahn berguna bagi saya dan kita semua…terima kasih banyak ,,,,,terus berfikir utk kehidupan..

  5. saya pren kangafif@ymail.com aku wegah nulis tak kopi tak nggo buletin ramasalah to pren

  6. [...] Oleh : Anjar Nugroho, S.Ag., M.S.I**) [...]

  7. Kemunduran Umat Islam di dunia secara luas itu sudah sunnatullah, ketetapan yang sudah dinubuwatkan oleh Nabi SAW yang tercantum dalam banyak hadis yang shahih, sebagai tanda-tanda akhir zaman. Semenjak musnahnya khilafah Islam, beralihnya dunia ke peradaban modern (kemajuan iptek dunia barat), jumudnya umat Islam, menguatnya sistem kapitalis dalam perekonomian dunia, penggunaan uang kertas, riba di bank, tergesernya ideolagi umat Islam dari Quran dan sunnah ke ideologi sekuler dan liberal yang menyebabkan hilangnya rahmatan lil’alamin penganut agama Islam, dan lain-lain, merupakan faktor utama penyebab kemunduran umat Islam. Hanya ilmu eskatologi Islam yang mampu menjelaskan hal ini.

    Termasuk di dalamnya dengan adanya sikap spiritual arrogance atau keangkuhan dalam beragama sebagai imbas dari terpecah belahnya umat Islam menjadi 73 golongan, yang bapak sebutkan. Memang seharusnya terpecahnya Umat Islam menjadi golongan-golongan itu tidak membuat Umat Islam enggan untuk bersatu, tetapi seharusnya semua golongan masing-masing mawas diri, jangan sampai masuk dalam kriteria salah satu dari 72, masing-masing golongan seharusnya mawas diri, sudahkah masuk dalam kriteria golongan yang selamat?, golongan yang memegang teguh dan menggigitnya dengan gigi gerahamnya, Quran, Sunnah Nabi SAW dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Sudah bukan masanya lagi saling menyalahkan, bukan masanya lagi saling membid’ahkan, saling mengkafirkan, dan lain-lain. Sekarang masanya kita untuk mengajak umat Islam di sekitar kita untuk senantiasa berpikir kritis, mencari sistem kebenaran dengan proses berpikir kritis seperti yang diarahkan Allah SWT di dalam Al Quran. Jangan sampai umat Islam menjadi binatang ternak seperti yang dijelaskan Quran karena keengganan untuk berpikir secara kritis. Karena dengan proses berpikir secara kritis, Umat Islam akan terbebas dari taklid, jumud, bid’ah dan khurafat, tanpa harus menyalahkan, membid’ahkan dan mengkafirkan.

    Saya pribadi setuju dengan pendapat bapak tentang perlunya persatuan umat Islam untuk kedepannya. perkembangan Pendidikan bukan hanya tanggung jawab muhammadiyah, pengembangan pesantren bukan hanya tanggung jawab NU, pemurnian ajaran Islam bukan hanya tanggung jawab salafiyun, penegakan sistem Islam bukan hanya tanggung jawab HTI, nahi munkar bukan hanya tanggung jawab FPI dan lain sebagainya. Semoga tulisan-tulisan bapak dapat dibaca khalayak yang lebih luas, dan menjadi pencerahan pemikiran bagi semua orang.

    Nurul Huda, 1206010039


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: