Oleh: Anjar Nugroho SB | Oktober 5, 2007

Khutbah Idul Fitri 1429 H

KHUTBAH IDUL FITRI 1429 H

“Dari Fitrah Menuju Muslim yang Lurus (Hanif) dan Tercerahkan (Rausanfikr)”

 

إِنَّ اْلحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شرَيِْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ )يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ(

 

Hadirin, sidang Idul Fitri yang dirahmati Allah.

Atas Rahmat Allah yang agung yang telah dilimpahkan kepada kita, pada hari ini, 1 Syawal 1428 H yang bertepatan dengan hari Jum’at tanggal 12 Oktober 2007 M, kami sampai pada puncak dari seluruh rangkaian ibadah Ramadhan 1428 H, yaitu Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya kemenangan Umat Islam di seluruh pelosok dunia. Atas Hidayah Allah yang tercurah deras dalam hati sanubari kita, perayaan Idul Fitri ini dapat kita lakukan dengan khusu’ dan dengan hati yang bertaubat. Dan Atas Karunia Allah yang melimpah ruah, kita bisa menikmati indahnya beridul fitri bersama sanak keluarga, saudara, handau taulan, tetangga, teman dan seluruh kaum muslimin dengan penuh kebersamaan dan suka cita. Untuk itu semua, puja dan puji syukur wajib senantiasa kita haturkan ke hadirat Allah SWT, Rabb sekalian alam.

Idul Fitri artinya hari raya fitrah. Hari raya kesucian manusia. Disebut juga sebagai hari kembalinya kesucian kepada kita. Inilah hari raya yang resmi diajarkan agama kita melalui sunnah Rasulullah SAW, selain Idul Adha. Adapun semua hari raya atau hari besar Islam yang lain, lebih merupakan hasil budaya daripada ajaran agama, seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an, Muharram dan lain-lain. Atas sunnah Rasulullah inilah kita bisa meneladani bagaimana mensyukuri dan memaknai Idul fitri. Untuk itu, salawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi dan Rasul kita Muhammad SAW, keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan seluruh kaum muslimin yang selalu setia dengan sunnah-sunnahnya. Sebagaimana Allah dan Malaikat bershalawat pula kepada Nabi Muhammad, seperti dalam al-Qur’an surat Al ahzab, ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

 

Sidang jama’ah Idul Fitri yang berbahagia

Dalam al-Qur’an, kata fitrah berasal dari kata fathara, yang arti sebenarnya adalah “membuka” dan “membelah”. Kalau dihubungkan dengan puasa Ramadhan yang sebulan penuh lamanya itu, maka kata ini mengandung makna “berbuka puasa”. Fitrah juga mengandung pengertian “yang mula-mula diciptakan Allah”, yang tidak lain adalah “keadaan mula-mula”, “yang asal”, atau “yang asli”. Jika melihat firman Allah dalam surat al-An’am ayat 79, sebuah surat yang sangat dikenal karena sering dilafadzkan dalam pembukaan shalat, sebelum membaca al-Fatihah, yang bunyinya adalah sebagai berikut:


“Sesungguhnya Aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan Aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

Kata fitrah dalam konteks ayat ini (fathara) dikaitkan dengan pengertian hanif, yang jika diterjemahkan secara bebas menjadi “cenderung kepada agama yang benar”. Istilah ini dipakai al-Qur’an untuk melukiskan sikap kepercayaan Nabi Ibrahim a.s. yang menolak menyembah berhala, binatang, bulan ataupun matahari, karena semua itu tidak patut untuk disembah. Yang patut disembah hanyalah Dzat pencipta langit dan bumi.

Dari pengertian tersebut, timbul suatu teori, bahwa agama umat manusia yang paling asli adalah menyembah kepada Allah. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan kaum muslimin, berdasarkan keterangan al-Qur’an, bahwa manusia, segera setelah diciptakan, membuat perjanjian dengan Allah, sebagaimana digambarkan dalam al-Qur’an, surat al-A’raf ayat 172:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”.”

 

 

Tidak selamanya manusia tetap dalam ikatan perjanjian dengan Allah sebagaimana tergambar dalam surat al-A’raf itu. Dalam banyak kasus, manusia merusak perjanjian itu atau bahkan memutuskannya. Kondisi seperti inilah di saat manusia sudah sedemikian jauh dari ajaran-ajaran agama, karena lebih memberati dorongan hawa nafsu dan godaan setan. Manusia lupa akan jati dirinya, lupa dengan fitrahnya. Secara nyata dapat kita lihat tipe manusia seperti ini di segala lini kehidupan. Pemimpin yang sewenang-wenang dan menindas, pejabat yang korup, pengusaha yang serakah, pegawai yang tidak disiplin, pedagang yang curang, tetangga yang selalu menggunjing dan seterusnya, adalah gambaran nyata dalam kehidupan kita, bagaimana manusia lupa dengan fitrahnya. Sudah menjadi sunnatullah, di saat manusia memutus hubungan dengan Allah, maka ia akan pula memutus hubungan dengan sesama manusia dan akan berbuat yang merusak tatanan alam semesta, dan pada akhirnya ia termasuk golongan manusia yang merugi. Seperti tampak dalam firman-Nya surat al-Baqarah ayat 27:

 

“yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. mereka Itulah orang-orang yang rugi.”

 

Ma’asyiral muslimin yahdikumullah

Ibadah Ramadhan yang kita jalankan sebulan penuh, adalah sarana untuk menemukan kembali jalan menuju fitrah. Pada siangnya kita berpuasa, di mana pahalanya tidak tergantung seberapa jauh kita lapar dan dahaga, melainkan tergantung pada apakah kita menjalankan dengan iman dan ihtisab kepada Allah serta penuh intropeksi atau tidak. Pada malamnya kita dirikan shalat malam (shalatullail/tarawih), agar hati kita senantiasa terikat dan tunduk kepada Allah pemilik jiwa raga ini. Hari-hari Ramadhan pula kita ramaikan dengan tadarrus al-Qur’an agar kita bisa mengaca diri, apakah tingkah-laku kita sudah sesuai dengan tuntunan al-Qur’an atau belum. Dan pada akhir Ramadhan, kita tutup dan sempurnakan seluruh rangkaian ibadah Ramadhan dengan zakat fitrah, sebagai ungkapan simbolik kecintaan kita kepada kaum miskin dan papa.

Seperti yang sudah disampaikan di muka, bahwa pengertian fitrah terkait dengan pengertian hanif. Manusia yang sudah kembali menemukan fitrahnya (idul fitri), ia akan terkondisikan untuk menjadi hanif. Kata hanif berasal dari kata kerja hanafa, yahnifu dan masdarnya hanifan, artinya adalah “condong”, atau “cenderung” dan kata bendanya “kecenderungan”. Dalam al-Qur’an, kata hanif yang dimaksud adalah “cenderung kepada yang benar”, seperti dijelaskan oleh mufassir modern, Maulana Muhammad Ali dalam The Holy Qur’an, yang merujuk kepada kamus al-Qur’an al-Mufradat fi al-gharib karya al-Raghib al-Isfahani. Secara lengkap pengertian hanif disampaikan oleh Nashir Ahmad sebagai berikut:

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Orang yang meninggalkan atau menjahui kesalahan dan mengarahkan dirinya kepada petunjuk.

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Orang yang secara terus menerus mengikuti kepercayaan yang benar tanpa keinginan untuk berpaling dari padanya

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Orang yang cenderung menata perilakunya secara sempurna menurut Islam dan terus menerus mempertahankannya secara teguh

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Seseorang yang mengikuti agama Ibrahim, dan

<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Yang percaya kepada seluruh nabi-nabi.

 

Baik Muhammad Ali maupun Nashir Ahmad, keterangan tentang hanif tersebut, merujuk kepada al-Qur’an, surat al-Baqarah ayat 135:

Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah : “Tidak, melainkan (Kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”.

Dari ayat itu pula diketahui bahwa lawan dari hanif adalah syirik (politheis), yakni sebuah paham yang mempersekutukan Allah dengan lainnya. Islam tidak mengajarkan politheisme (syirik) tetapi sebaliknya yang ditekankan dalam ajaran Islam adalah monotheisme (tauhid) yaitu menolak segala pengakuan dan keyakinan mausia atas tuhan-tuhan palsu. Jika pada zaman Jâhiliyyah, tuhan-tuhan palsu itu dimanifestasikan dalam wujud berhala-berhala, maka pada zaman modern ini, tuhan-tuhan palsu terwujud dalam banyak aspek dan bidang yang lebih luas dan komplek dari sekadar berhala-berhala sesembahan. Tuhan-tuhan itu lebih berbentuk kedhaliman dan penindasan, atau kesenangan dunia yang ketika meraihnya harus merampas hak-hak orang lain.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Setelah orang selalu tertambat hatinya kepada kebenaran (hanif) dan menolak dengan keras syirik, ia akan meneladani Rasulullah dalam perjuangannya membebaskan umat Islam dari penindasan, kebodohan dan kemiskinan. Pada zamannya, Mekkah adalah suatu kota dagang dengan sedikit pedagang kaya tetapi banyak orang miskin yang penghidupannya tergantung pada orang kaya kota itu. Orang-orang masih bodoh dan bertakhayul, menyembah banyak sekali ilah. Para perempuan ditindas, bahkan mereka dapat dikubur hidup-hidup. Ada banyak budak, para janda dan anak yatim yang diabaikan tanpa ada yang peduli terhadap nasib mereka. Dengan bimbingan Nabi, orang-orang Arab, di samping membebaskan diri mereka sendiri, juga berusaha membebaskan orang-orang dari kerajaan Romawi dan Persia yang menindas.

Rasulullah saw., yang secara harfiyah berarti manusia yang terpuji, adalah nabi terakhir dan merupakan pejuang sejati. Dia membebaskan budak-budak, anak-anak yatim dan perempuan, kaum yang miskin dan lemah. Perkatannya yang mengandung wahyu menjadi ukuran untuk membedakan yang benar dari yang salah, yang sejati dari yang palsu, dan kebaikan dari kejahatan. Misinya sama dengan nabi-nabi terdahulu; menegakkan kebenaran, kesetaraan dan persaudaraan manusia.

Muslim yang peduli dengan nasib kaum miskin, bodoh dan terbelakang dengan menyantuninya sepenuh hati, adalah penjelmaan manusia fitri yang hanif. Merekalah yang disebut rausanfikr, yaitu muslim tercerahkan yang peduli dengan nasib umat. Kepedulian ini menjadi sangat penting, mengingat kondisi masyarakat kita yang masih terdapat jurang pemisah yang cukup lebar antara si kaya dan si miskin. Seperti sindiran Allah dalam al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat 75:

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri Ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.

Rausanfikr (muslim tercerahkan) harus tercipta dalam diri kita masing-masing. Kita tidak boleh masa bodoh atau tidak peduli (cuek) dengan persoalan di sekitar kita. Kepedulian pada persoalan ummat akan mendorong kita menuju sebuah keshalehan sosial yang sangat ditekankan oleh Islam. Islam tidak saja mengajarkan keshalehan individu (taat pada perintah ibadah mahdhah), tetapi juga keshalehan sosial atau bahasa agamanya adalah ihsan (orangnya: muhsin/muhsinun), yaitu kegemaran pada amal shaleh. Allah berfirman dalam surat an-Nisa’ ayat 125:

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.

 

Ada cerita menarik dalam sejarah dakwahnya Kyai Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Waktu itu beliau mengajarkan sebuah surat pendek dalam al-Qur’an yaitu surat al-Ma’un (surat ke-107) kepada murid-muridnya. Para murid sempat protes terhadap cara mengajaran beliau terus mengulang-ulang surat tersebut, walaupun para murid sudah lama menghapal di luar kepala. Sehingga pada suatu saat ada murid yang berani bertanya kepada Kyai Dahlan mengenai hal itu. Lalu, konon, kyai Dahlan balik bertanya, “Apakah engkau sudah mengamalkan surat itu ?”.

Sungguh sebuah model pengajaran Islam yang lebih mengedepankan amaliah shalihah daripada sekadar hafalan. Model hafalan seperti inilah yang banyak terlihat dalam pengajaran-pengajaran Islam dewasa ini, sehingga sulit untuk melahirkan santri atau murid yang tercerahkan dan mempunyai kepedulian (rausanfikr).

Hadirin yang berbahagi…

Ini barangkali renungan kita di sela-sela kita merayakan idul fitri sehingga hari raya kita tetap menjadi lebih bermakna. Maka marilah kita berdo’a kepada Allah SWT, semoga Allah memasukkan kita ke dalam hamba-hambaNya yang pandai bersyukur, mentaati perintahnya dan menjauhkan kita dari adzab dan siksanya yang sangat pedih.

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْراَهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ وَبَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعلَىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْد ٌمَجِيْدٌ وَارْضَ اَللَّهُمَّ عَنِ الصَحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إَلَى يَوْمِ الدِيْنِ

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلِّ الشِرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَك َأَعْدَاءَ الدِيْنِ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ َاْلأَحْيَاءَ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ بِرَحْمِتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَاحِمِيْنَ

اَلَّلهُمَّ أَعِنَّا عَلىَ ذِكْرِكَ وَ شُكْرِكَ وَ حُسْنِ عِبَادَتِكَ

اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَ قِيَامَنَا وَ قِرَاءَتَنَا وَ زَكَاتَنَا وَ عِبَادَتَنَا كُلَّهاَ . اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ يَا كَرِيْمُ

وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ.

رَبَّنَا آتِنَا فيِ الدُنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قَنَا عَذاَبَ النَارِ

رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ اْلعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ .

 

 

 

 

 

 

 


Responses

  1. Syukron atas khutbahnya. mudah2an dapat bermanfaat untuk umat manusia

  2. syukran telah membuat naskah khutbah ini, terus terang ana merasaterbantu sekali. tolong ditambah khutbah kedua biar lebih komplit. Jazakallaah

  3. Assalamu alaikum wr wb
    Mohon keikhlasan, bahan di atas untuk tambahan materi khutbah idul fitri yang sedang saya susu.

    Terima kasih

  4. syukron akhi atas materi khutbahnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: