Oleh: Anjar Nugroho SB | Oktober 29, 2009

Muhammadiyah dan Gerakan Islam Lain

PERSINGGUNGAN MUHAMMADIYAH DENGAN GERAKAN ISLAM LAIN

DI INDONESIA

 

Oleh: Anjar Nugroho

 

Pendahuluan

            Sebagai organisasi massa, Muhammadiyah telah membuka diri dalam pergaulan antar gerakan secara luas di Indonesia. Persinggungangan Muhammadiyah dengan gerakan Islam lain tidak bisa dihindarkan. KH. Ahmad Dahlan sendiri adalah sosok yang multikultural dengan relasi yang beragam dari kalangan tokoh-tokoh pergerakan lainnya di tanah air saat itu, seperti Budi Utomo maupun Syarekat Islam.

            Inklusivisme gerakan Muhammadiyah berkembang sampai hari ini. Anggota Muhamadiyah mempunyai beragam latar belakang kultur, pendidikan dan ideologi (dan kepentingan) politik. Keberbedaan itu tidak membuat Muhammadiyah kesulitan dalam mengkonsolidasi dan memobilisasi gerakannya, justru hal itu telah memperkaya khasanah baik pada tingkat diskursus maupun praksis gerakan. Abdul Munir Mulkhan mengklaisfikasi anggota Muhammadiyah dalam kategori MUMU (Muhammadiyah Murni) MUMA (Muhammadiyah Marhaen). MUNU (Muhammadiyah NU), Sebelum era reformasi, ada sebutan Muhammadiyah kuning (orang Muhammadiyah di Golkar), Muhammadiyah hijau (orang Muhammadiyah di PPP),  dan Muhammadiyah merah (orang Muhammadiyah di PDI).

            Persoalan baru muncul setelah era reformasi yang melahirkan berbagai macam gerakan Islam dan partai-partai politik “Islam” baru. Gerakan Islam baru yang muncul setelah reformasi seperti Majelis Mujahidin Indonesia, Lasykar Jihad (yang kemudian membubarkan diri), Front Pembela Islam dan lain-lainya. Ada pula yang eksistensinya mencuat di permukaan setelah reformasi yaitu Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Partai “Islam” baru banyak ragamnya, seperti Partai Keadilan (yang kemudian menjadi PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Bulan Bintang (PBB) dan sebagainya. Persoalan itu ada pada ranah politik saat terjadi perebutan massa sekaligus asset (fasilitas) milik Muhammadiyah. Merasa bahwa Muhammadiyah telah mempunyai PAN, maka aktifitas partai politik lain (khususnya PKS) yang memperebutkan massa warga Muhammdiyah menjadi biang persoalan akhir-akhir ini.

            Bagaimana sebetulnya peta gerakan Islam di dunia ini dan di mana posisi Muhammadiyah, di bawah ini terdapat uraian tentang itu.         

 

Munculnya Islamisme

Asal mula pemikiran dan gerakan Islamis dewasa ini bisa ditelusuri sampai ke gerakan Ikhwan al-Muslimin yang didirikan oleh Hasan al-Banna di Mesir tahun 1928 dan jamaat-I Islami yang didirikan Abu al-A’la al-Maududi pada tahun 1941 di Pakistan.. Kaum Islamis umumnya menganut teologi Salafi. Mereka menganjurkan gerakan kembali ke al-Qur’an, Sunah, dan hukum syari’at serta menolak khasanah tradisi (khususnya filsafat).

Kaum Islamis berpendapat bahwa masyarakat hanya bisa diislamkan melalui aktivitas sosial dan politik : perlu keluar dari masjid. Gerakan Islamis lebih memilih terlibat langsung dalam kehidupan politik. Sejak tahun 1960-an beberapa kali mereka mencoba meraih kekuasaan. Gerakan Islamis memiliki argumen politik yang berpijak pada asas bahwa Islam adalah sistem pemikiran global dan menyeluruh (a global and synthesizing system of thought). Menurut mereka, masyarakat yang terdiri dari orang-orang Islam saja tidak cukup, tetapi juga harus islami dalam landasan maupun strukturnya. Kelompok Islamis tidak dipimpin oleh ulama (kecuali di Iran), melainkan oleh para intelektual muda sekuler – yang secara terbuka mengklaim diri mereka sebagai “para pemikir keagamaan (religious thinkers)”- yang merupakan pesaing sekaligus penerus kelas ulama yang telah berkompromi dengan penguasa.kaum Islamis mencela para ulama karena dua hal : pertama, penghambaan mereka pada kekuasaan yang membuat mereka menerima pemerintahan dan hukum sekuler yang tidak sesuai dengan syari’at. Kedua, sikap kompromistis mereka dengan modernitas Barat.

            Kelompok Islamis tidak mau mengambil sikap devensif, berdamai, maupun apologetik seperti banyak kalangan “modernis” Muslim yang mau menunjukkan kemoderenan Islam dengan menggunakan ukuran nilai dan konsep-konsep Barat. Bagi kaum Islamis, persoalannya bukanlah untuk menunjukkan bahwa Islam mewujudkan nilai universal secara sempurna, melainkan sebaliknya, Islam-lah nilai universal itu dan tidak perlu diperbandingkan dengan agama atau sistem politik yang lain.

            Bagaimana cara mewujudkan masyarakat yang Islami? Kaum Islamis moderat dan radikal berbeda pendapat tentang topik ini sepanjang sejaran Islamisme. Kaum moderat mendukung proses Islamisasi dari bawah ke atas (bottom up), melalui media khutbah dan gerakan sosiokultural sembari mendesak para pemimpin (khususnya melalui aliansi politik) agar menggalakkan Islamisasi dari atas (memasukan syari’at Islam dalam perundang-undangan). Mereka menerima opsi revolusi hanya bila negara jelas-jelas bersikap anti Islam dan bila semua cara protes damai telah mengalami jalan buntu. Sementara kalangan radikal berpandangan bahwa tidak boleh ada kompromi dengan masyarakat Muslim yang sekarang (dhalim dan korup). Mereka menganjurkan perpecahan politik serta memperkenalkan konsep revolusi yang dipinjam dari ideologi-ideologi progressif abad ini. Walau ada perbedaan dalam penekanan gerakan antara kaum moderat dan radikal, gerakan-gerakan Islamis menawarkan doktrin yang jelas dan saling terjalin, selain juga moder organisasinya yang baru. Mereka telah mengakar di wilayah-wilayah yang secara sosiologis modern, dengan memutus secara tuntas lingkungan intelektual dan sosial para ulama tradisional.

 

Evolusi dari Islamisme ke neo-fundamentalisme

Selama tahun 1980-an terlihat ada pergeseran Islamisme politik ke neo-fundamentalisme. Kaum militan yang sebelumnya berjuang untuk revolusi kini terlibat dalam proses reislamisasi dari bawah. Evolusi ini ditentukan oleh beberapa faktor : pertama, tunduknya, dalam Islamisme itu sendiri, tindakan yang bersifat murni politik pada reformasi moralitas; kedua, hilangnya model Iran; ketiga, ketidakberhasilan upaya-upaya teroris atau revolusioner; ketiga, dipakainya simbol-simbol Islam oleh negara, sementara negara konservatif seperti Arab Saudi mulai membiayai dan dengan demikian menguasasi jaringan Islamisme lantas berupaya mempengaruhi kegiatan dan ideologi mereka ke arah neo-fundamentalisme yang lebih konservatif.

Orientasi gerakan neo-fundamentalisme antara lain mengganti proyek ideologi revolusioner dalam mengubah masyarakat digantikan dengan rencana pemberlakuan syariat dan pembersihan moral, sementara bidang politik, ekonomi dan sosial hanya dihadapi dengan retorika. Perempuan tidak boleh ikut serta dalam politik. Hak ijtihad individu dilepas. Menghilangkan ruang bagi refleksi politik dan elitisme asketis, sehingga gerakannya terpusat pada tindakan untuk mengisi kehidupan sehari-hari dengan moralitas dan menegakkan syari’at.

Transformasi gerakan Islamis menjadi neo-fundamentalis bukan saja mengurangi orisinalitas mereka sendiri, tetapi juga model ketaqwaan yang mereka tawarkan itu lebih mengedepankan formalisme dan penampilan. Untuk tidak mengatakan kemunafikan (hypocrisy). Neofundamentalisme yang ada hanyalah Islamisme pinggiran/gembel (lumpen islamism)

            Evolusi gerakan Islamis itu melahirkan tiga strategi baru yang menjadi model gerakan Islamis kontemporer. Pertama, keikutsertaannya dalam kehidupan politik resmi; kedua, keterlibatan baru di lingkup sosial, baik di tataran moral, adat-istiadat mapun perekonomian; ketiga, pembentukan kelompok-kelompok kecil, baik gerakan keagamaan yang ultrakolot (ultra orthodox religious movements) dan kelompok teroris.

            Gerakan Islamis berkembang selama lebih dari setengah abad, dan dimulai sekitar tahun 1940. Bila dilihat dari perspektif sosiologis, kaum Islamis adalah kelompok yang modern secara sosiologis dan berasal dari sektor-sektor masyarakat modernis. Islamisme bukanlah reaksi terhadap modernisasi masyarakat muslim, melainkan justru produk dari modernitas. Para aktivisnya jarang sekali dari golongan mullah (ulama konservatif). Mereka produk-produk muda dari sistem pendidikan modern. Kaum muda ini berasal dari keluarga-keluarga urban baru atau kelas menengah yang jatuh miskin. Mereka tidak memperoleh pendidikan-pendidikan politik di sekolah-sekolah agama, melainkan di kampus-kampus umum. Di sana mereka bersentuhan dengan kaum Marxis militan, yang konsep-konsepnya sering mereka pinjam (khususnya gagasan revolusinya) untuk dimasuki istilah-istilah Qur’ani (seperti : dakwah dan khatbah/propaganda).

Salah satu alasan gerakan Islamis ini adalah semakin hilangnya momentum ideologi maupun kelompok sekuler (nasinalis maupun marxis) adalah memenuhi harapan untuk protes. Kemajuan gerakan Islamis di lingkungan intelektual bisa juga dijelaskan oleh adanya krisis ideologi. Hilangnya gengsi ideologi progressif secara umum dan ketidakberhasilan model “sosialis Arab” telah menyisakan ruang bagi munculnya ideologi-deologi protes baru dalam masyarakat yang sudah terdestrukturisasi.

Satu lagi alasan adalah faktor modernisasi yang menimbulkan budaya konsumerisme dan hedonisme di tengah-tengah kondisi sosial-ekonomi yang disparitatif. Fenomena ini menimbulkan kecemburuan di kalangan miskin kota, sehingga timbul protes dan kerusuhan. Dan di sinilah momentum kelompok Islamis untuk memposisikan diri sebagai gerakan yang mewadahi kekecewaan kaum muda atas imbas modernitas. Lalu kaum Islamis mencoba melakukan “resosialisasi” atas struktur sosial yang demikian itu dan semuanya dilakukan dengan semangat puritan. Sehingga munculah model busana dan tampilan muslim (jubah dan jenggot) sebagai bentuk “perlawanan” terhadap degradasi nilai yang begitu cepat dan nyata di kota-kota. Dan sini bisa dilihat bahwa kaum Islamis adalah produk dan aktor urban modern dipandang dari sosiologi asal mula mereka dan upaya mereka membangun ruang urban baru.

 

Gerakan Islamisme di Indonesia

                Reformasi politik tahun 1998 bentul-betul memberi ruang terbuka dan kebebasan bagi semua elemen bangsa untuk menyuarakan kepentingan masing-masing. Momen ini digunakan oleh gerakan Islam (Islamis), termasuk yang radikal, untuk memunculkan diri. Gerakan semacam ini melihat bahwa dalam kehidupan nyata di masyarakat Islam Indonesia telah terjadi jurang yang begitu lebar antara harapan seperti yang dikonsepkan oleh Islam dengan kenyataan yang ada di hadapan mereka.

            Aneka gerakan Islamisme muncul bak jamur di musim hujan. Akan tetapi gerakan-gerakan itu tidak mempunyai pola yang seragam dan cenderung mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Ada yang sekedar memperjuangkan implementasi syari’at Islam tanpa keharusan mendirikan negara Islam di Indonesia, di samping ada yang memperjuangkan berdirinaya Khilafah Islamiyyah. Pola organisasinya juga beragam, mulai dari gerakan moral ideologis seperti Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dan Hizbut Tahrir Indnesia (HTI) sampai yang bergaya militer seperti Lasykar Jihad, Front Pembela Islam (FPI) dan Front Pemuda Islam Surakarta (FPIS).

            MMI adalah satu gerakan Islam yang bias dikategorikan Islamis radikal. Kehadiran MMI sangat penting (kontributif) dalam memperkuat fundametalisme dan radikalisme Islam di Indonesia. MMI dideklarasikan pada bulan Agustus 2000 di Yogyakarta. MMI mempunyai agenda utama yaitu penegakkan syari’at Islam. Agenda ini erat kaitannya dengan adalan kontinum (kelanjutan) dari cita-cita DI/TII yang beberapa dekade lalu ingin mendirikan negara Islam.

            Dalam perjuangannya, MMI lebih memilih jalan politis ketimbang dengan cara-cara kekerasan. Anggora MMI lebih memilih untuk emlakukan advokasi penerapan syari’at Islam di Indonesia dengan membangun wacana publik lewat tulisan-tulisan, baik media massa maupun internet ataupun penerbitan buku. Mereka juga aktif melakukan lobi-lobi politik kepada partai-partai Islam untuk memperjuangkan Piagam Jakarta lewat sidang-sidang resmi parlemen.

            Lasykar Jihad menjadi pusat perhatian kira-kira pada awal tahun 2000 ketika menyuarakan jihad ke Ambon. Mereka berdalih bahwa jihad perlu dilakukan karena kelompok RMS ada di belakang konflik keagamaan di Maluku. Menurut Lasykar Jihad ketika itu, kedatangan mereka adalah untuk mempertahankan NKRI. Namun demikian, kedatangan Lasykar Jihad justru mempertegas konflik agama di sana. Dengan kedatangan Lasykar Jihad yang terang-terangan membawa bendera Islam, maka muncullah kelompok serupa dari kelompok Kristen dan Katholik seprti Lasykar Kristus.

            Selain MMI dan Lasykar Jihad, ada gerakan Islam (Islamisme) di Indonesia yang diperankan oleh Jizbut Tahrir Indonesia (HTI). HTI adalah organisasi yang bersifat internasional. Hizbut Tahrir yang secara etimologi berarti Partai Pembebasan (Liberal Party) didirikan oleh Taqiyyudin al-Nabhani (1909-1979) pada tahun 1953 di al-Quds, Palestina. Dalam beberapa dasawarsa terakhir HT mengalami perkembangan sangat pesat. Menurut catatan, HT berkembang di lebih dari 40 negara termasuk Inggris, Jerman, AS dan negara-negara bekas Uni Soviet.

            HTI sangat menekankan pentingnya peran negara (daulah) atau kekhalifahan sebagai sarana penerapan syari’at Islam. Syari’at dalam pandangan mereka harus ditopang oleh kekuatan negara. Oleh karena itu, organisasi ini mengusung pula ide mendirikan kembali khilafah Islamiyyah.

 

Posisi dan Respon Muhammadiyah

            Muhammadiyah sendiri adalah konvergensi antara fundamentalis-konservatifnya Muhammad bin Abdul Wahhab dengan rasionalis-modernisnya Muhammad Abduh. Dalam bidang aqidah dan ibadah boleh dikatakan Muhammadiyah adalah salafi, tetapi dalam bidang muamalah Muhammadiyah cenderung modernis. Terminologi  yang pas untuk menggambarkan gerakan Muhammadiyah ini adalah purifikasi dan dinamisasi.

            Karena watak dinamismenya itu, Muhammadiyah berkembang sebagai organisasi sosial keagamaan terbesar di dunia. Tetapi, konsekwensi sebagai organisasi besar, Muhammadiyah dihadapkan pada kenyataan keragaman anggota-anggotanya. Secara umum anggota Muhammadiyah telah menyesuaikan diri dengan watak purifikasi pada wilayah aqidah dan ibadah, tetapi tidak demikian dalam pilihan politik, misalnya.

            Dengan karakter demikian itu, Muhammadiyah tidak mempunyai masalah dalam konstelasi gerakan Islam lain di Indonesia, perkecualian dengan NU yang ada “konflik” dalam aspek ibadah karena watak purifikasinya Muhammadiyah. Dengan MMI, HTI bahkan FPI ataupun FPIS, Muhammadiyah nyaris tanpa persinggungan yang membawa konflik. Hal ini dapat dipahami karena bisa jadi masing-masing anggota MMI, HTI maupun FPI dan FPIS mempunyai basis purifikasi yang sama dengan Muhammadiyah dan secara politik tidak ada kepentingan masing-masing yang terganggu.

            Kenyataan ini berbeda saat Muhammadiyah dihadapkan pada PKS. Mengapa ada gesekan? Jawaban sederhanaya adalah karena ada persinggungan dalam kepentingan politik antara keduanya. PKS adalah gerakan politik yang sekaligus gerakan sosial (dakwah) dan Muhammadiyah adalah gerakan dakwah yang mempunyai sayap politik (walau bersifat kultural) bernama PAN.

            Watak sebuah gerakan politik yang penuh taktik (politicking) dan tentunya politis (bersifat kalkulatif) berpotensi menimbulkan konflik antar gerakan politik, apalagi yang mempunyai basis massa yang nyaris sama. Persinggungan cukup keras Muhammadiyah-PKS dengan keluarnya SK PP Muhammadiyah No. 149, yang tidak berlaku untuk Muhammadiyah dengan parpol lain, bisa dipahami dari situ.

 

 


Responses

  1. SAYA SANGAT SUKA DGN MUHAMMADIYAH

  2. nice artcle… It can open my mind about Muhammadiyah,,…

  3. Penting dikaji dan dicari jalan tengahnya, agar utamnya kebohongan2 publik bisa mereka kritisi. Lihat, saat ini, ini pemerintah apa lagi ya? Rakyat hanya dijadikan alat dan dianggap sampah. Padahal kita sesama manusia harus saling menghargai dan menghormati. Tetapi kita perlu memerangi mentalitas yang buruk dan orang-orang tidak kapabel dan kita perlu bersama atau kelompok masing-masing. Lihatlah filosofi semut. Kenapa ini perlu, sebab di dunia ini tak ada kebenaran mutlak. Kecuali hukum fisika. Itu juga tidak mutlak penuh. Dan bagi kami orang Cina/Tionghoa, kami orang hanya lebih suka yang klasik yaitu yang ikut Muhammadiyah atau NU. Kami tidak suka yang jenggot2 seperti orang2 PKS, atau orang2 Muslim ektrim lainnya, seperti aliran Maliki, Hambali dan lainnya yang baru “diimpor” ke Indonesia belum lama, dan cenderung ekstrim, ada yang pakai jengot, norak. Ahmadiyah sebetulnya baik dan orang-orangnya tidak ekstrim. Tapi karena baik dan bisa banyak pengikut, maka difitnah dan dijegal bahkan mereka dibunuh. Padahal, negeri ini bukan negara Islam, tapi sekuler berdasarkan Ketuhanan YME seperti pada Pancasila, dasar negara, ini sangat penting. Artinya, orang boleh beragama apasaja memilih aliran apasaja selama tidak melanggar hukum nasional.

    Dan ini soal penting. Perombakan kabinet? Mutlak penting. Bayangkan, seorang menteri diangkat hanya karena dulu suka demo dan sok aksi di depan Kedubes Amerika memanfaatkan isu laris-manis yaitu Palestina-Israel. Membela sesama manusia di Palestina penting, tapi jangan sampai kita diperalat oleh tokoh-tokoh yang suka mengeksploitasi sentimen sesama manusia atau agama atau etnis untuk kepentingan dia-dia orang.

    Padahal itu hanya untuk mendapat kursi menteri atau persentase perolehan dalam pemilu. Itu permainan mudah dibaca dari PKS. Kini terbukti sudah bahwa Tifatul Sembiring tidak kapabel. Semua orang tahu pasti dan harusnya dia sudah di-reshuffle sejak dulu. SBY sendiri sejak dulu sudah di atas angin, padahal, dia menang hampir mutlak pada pemilu 2009. Tapi SBY takut tanpa alasan, dengan memutuskan membuat “jaring pengaman” tak perlu yaitu koalisi bersama PKS dan Golkar. Sekarang SBY baru tahu kalau Menkominfo itu, Tifatul Sembiring, tidak berguna. Kalau sudah begini, apa tidak pemborosan itu orang. Negara mau dikemanakan kalau sudah begini? Itu uang rakyat diboroskan hanya untuk menggemukkan kabinet. Pada kabinet SBY, terlalu banyak menteri dan komisi.

  4. anda jangan ngomong sembarangan.. tahu apa anda bilang menkominfo tidak berguna.. barangkali anda yang ada gunanya tapi untuk memfitnah.. banyak kok orang2 tionghoa yg suka pks bahkan ada yg jadi anggota pks karena sukarela dan ikhlas sesuai nuraninya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: