Oleh: Anjar Nugroho SB | Juli 29, 2007

Menggugat Konservatisme, Mengusung Progresivisme

AGENDA “TAJDID AL-AFKAR” DI MUHAMMADIYAH

(Menggugat Konservatisme, Mengusung Progresivisme)

Oleh : Anjar Nugroho

Kelahiran Muhammadiyah tidak bisa dipisahkan dengan agenda tajdid (pembaharuan) yang ia lakukan. Sehinggga Muhamadiyah pun diakui sebagai gerakan tajdid baik dalam tingkat pemikiran maupun aksi. Agenda tajdid paling fundamental yang pernah dilakukan Muhammadiyah di level pemikiran antara lain menawarkan bentuk pemikiran keagamaan yang responsif dengan perubahan jaman tanpa harus meninggalkan pedoman utama umat beragama, al-Qur’an dan Sunnah. Dengan kata lain, Muhammadiyah telah menjadikan dua sumber ajaran Islam itu sebagai warisan suci yang selalu hidup (Living Qur’an and Sunnah).

Cerita Kyai Dahlan tentang pengajaran surat al-Ma’un kepada muridnya memberi contoh bagaimana al-Qur’an yang kala itu secara luas hanya dipakai sebagai “jampi-jampi” dan “doa kuburan”, oleh sang Kyai dijadikan sebagai kekuatan normatif untuk reformasi sosial. Kemudian berangkat dari sinilah berbagai macam amal sosial Muhammadiyah tumbuh berkembang. Belum lagi dengan agenda pembaharuan yang terkait dengan purifikasi pada wilayah ibadah mahdlah (ibadah khusus) yang pesan substantifnya adalah demistifikasi hal-hal yang memang bersifat duniawi dan mengembalikan kemurnian tata aturan ritual Islam. Berbagai ritual yang bersumber pada tradisi lokal, yang kental aroma mistiknya, didekonstruksi, sehingga umat tidak terjebak pada perilaku absorditas keyakinan (tahayul dan khurafat) yang membelenggu potensi rasionalitas dalam melihat dan menyelesaikan persoalan-persoalan dunia. Singkat kata, jika ingin sukses, maka harus tekun dan ulet serta penuh dengan pertimbangan (planning) bukan lantas menyebar sesaji di Laut Selatan, misalnya.

Pengalaman pembaharuan yang dilakukan Muhammadiyah ternyata tidak cukup membawa Muhammadiyah saat ini untuk senantiasa dalam barisan paling depan mengusung agenda tajdid, khususnya dalam bidang pemikiran keagamaan. Secara hampir mayoritas, di lingkungan Muhammadiyah masih cukup enjoy dengan warisan pembaharuan masa silamnya yang sungguh boleh dikatakan untuk saat ini layak dikatakan sebagai barang rongsokan. Mengapa tidak? Itu kan produk masa lampau yang terikat dengan semangat jamannya, sehingga ketika jaman telah berubah, tantangannya juga telah berubah, maka sudah selayaknya formulasi pemikiran yang ditawarkan untuk menjawab problem jaman pun harus berubah, tidak bertahan kepada sesuatu yang mapan, status quo.

Konservatisme pemikiran di Muhammdiyah adalah biang dari segala kebekuan pemikiran saat ini. Lebih parah lagi ketika menganggap konservatisme itulah yang otentik, yang paling Qur’ani, yang paling nyunnah. Sehingga ketika muncul pemikiran yang sedikit liberal, maka timbul perlawanan yang seolah-oleh itu adalah virus yang harus segera dimusnahkan, sehingga tidak menimbulkan “demam” berkepanjangan di Muhammadiyah. Konservatisme dipandang sebagai sesuatu yang menyelamatkan ketimbang masalah serius yang mengganggu agenda tajdid Muhammadiyah di usianya yang kian tua ini. Padahal sangat mustahil kyai Dahlan mendobrak tradisi lama yang kontra produktif dengan semangat pembebasan Islam dengan menawarkan ajaran baru yang sejalan dengan semangat jaman, melakukan itu dengan pemikiran konservatif. Pemikiran Kyai Dahlan bukan berangkat dari konservatisme, tetapi lebih didorong oleh semangat pembaharuan yang berbasis pada progresifisme yang transformatif. Ciri dari progresivisme pemikiran Kyai Dahlan adalah timbulnya resistensi akibat dari pemikiran yang melawan maintreen (arus utama) alias pemikiran Kyai Dahlan kala itu memiliki bobot kontroversi yang kuat. Kontroversi ini yang menandai pemikiran progresif di manapun.

Maka sangat menyedihkan jika Muhammadiyah saat ini alergi dengan hal-hal yang bersifat progresif. Progresivitas memang kontroversial, tetapi bukankan pembaharuan itu pasti memunculnya pro-kontra sebagai asal mula kontroversi muncul? Lantas mau di bawa ke mana Muhammadiyah menjelang satu abad kelahirannya jika masih terus-terusan emoh terhadap new paradigm (cara berfikir baru) dan masih bersikukuh terhadap sesuatu yang lama yang sudang usang? Di mana peran pembaharuan Muhammadiyah untuk masa kini dan masa mendatang? Atau cukup di sini saja sejarah panjang Muhammadiyah?

Tentu berputus asa adalah tidak patut dipelihara karena jelas dibenci oleh Tuhan. Bentuk ketidakputusasaan dalam hal ini perlu duwujudkan dengan senantiasa mendorong Muhammadiyah agar tidak semakin jauh terseret arus konservatisme dan meninggalkan semangat pembaharuan yang mestinya include dalam gerak nafasnya. Dorongan-dorongan yang bersifat sporadis yang dilakukan oleh kelompok kreatif (creative group) perlu dilakukan lebih sistemik dan solutif, tidak malah menciptakan problem baru, konservatisme baru.

Kuntowijoyo pernah berujar : “Kala kelompok elit Islam (ulama atau cendekiawan) dirasa kurang peduli dengan nasib rakyat, bukan berarti mereka orang-orang yang sengaja mengabaikan perintah agama, bisa jadi problemnya ada pada sistem pengetahuan mereka”. Pernyataan pak Kunto ini bisa dijadikan sebagai pijakan awal dalam mengurai benang kusut kemapanan pemikiran Islam di Muhammadiyah. Banyak orang pasti akan bilang bahwa buat apa terlalu banyak berteori, kalau yang penting adalah amal. Tetapi orang semacam itu perlu juga diingatkan dengan firman Allah Q.S. al-Isra’:36 : “Dan janganlah kamu ikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui ilmunya…”. Amal nyata ternyata harus berbasis pada ilmu yang menjadi panduan baik normatif maupun praksis atas amaliah itu. Dengan kata lain sistem pengetahuan itu sangat penting untuk memberi bobot nilai sekaligus petunjuk (guidance) bagaimana amal dapat dilakukan, kapan, dan di mana.

Tajdid al-Afkar di Muhammdiyah dimulai dengan merubah sistem pengetahuan (system of knowledge) yang selama ini cenderung atomistic approach (pendekatan terpilah-pilah) lebih ke arah holistic approach (pendekatan menyeluruh) dalam mencandra pensoalan. Adagium “ar-ruju’ ila al-Qur’an wa as-Sunnah” harus lebih dimaknai sebagai “back to the principles of the Qur’anic ethical values” yang lebih substatif-kontekstual ketimbang kembali kepada aspek-aspek formal melulu. Majlis Tarjih Muhammadiyah harus merevitalisasi teori kunci (manhaj) dalam ijtihadnya sehingga memungkinkan produk pemikirannya lebih memihak kepada problem real umat. Majlis Tarjih jangan melulu melihat persoalan dari kaca mata fiqh (fiqh oriented) tetapi harus lebih melihat itu sebagai masalah komplek yang harus didekati dengan inter atau multi-disiplin.

Sehingga al-Tajdid al-Afkar tentu tidak bisa dilepaskan dari proyek revitalisasi – khususnya – Majlis Tarjih dan pengembangan Pemikiran Islam, baik dari aspek metodologi dan pendekatan sampai aspek kelembagaan dan menejemen isunya. Aspek metodologi yang perlu direvitalisasi dimulai dengan membongkar (recontruction) metodologi lama, khususnya yang masih berbasis ushul fiqh klasik, dan perlu dicoba untuk digagas metodologi dan pendekatan baru yang mempertimbangkan perkembangan pemikiran yang terjadi di era kontemporer ini, baik di Timur maupun di Barat. Membongkar metodologi lama tidak berarti meninggalkan sama sekali metodologi itu. Prinsip al-muhafadhatu ‘ala qadim al-shalih, wa al-akhdzu li al-jadid al-ashlah (menjaga warisan lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik), perlu diterapkan dalam hal ini. Sebagai bentuk kongkret, misalnya, meramu sedemikian rupa antara qiyas-nya al-Syafi’i dengan teori batas (nadhariyah hududiyah) Muhammad Syahrur, antara mashlahat-nya at-Thufi dengan al-yasar al-Islami-nya Hasan hanafi, dan sebagainya.

Aspek kelembagaan juga penting direvitalisasi. Sebagaimana kebiasaan lembaga manapun, sebuah lembaga perlu disuplai dengan sumber daya manusia yang capable dan memiliki responsibility untuk melaksanakan -dengan profesional- misi lembaga itu. Seorang anggota Majlis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam harus seorang faqih atau paling tidak scholar di bidang pemikiran Islam tentu sebuah keniscayaan, sebagainama sebuah rumah sakit yang mayoritas pimpinannya seorang dokter. Tetapi satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah komposisi keanggotaan yang merupakan representasi dari ragam masalah yang dihadapi, khususnya ketika menggunakan pendekatan inter atau multi-disipliner, yakni dengan melibatkan pula ahli-ahli di bidang lain di luar Islamic studies. Dan agar tidak bias gender, sebagaimana banyak dituduhkan oleh aktivis feminis, atas produk pemikiran Majlis Tarjih maka wajib hukumnya untuk melibatkan perempuan, dalam rangka melihat sisi-sisi persoalan dari kepentingan perempuan, agar prinsip keadilan gender terpenuhi dan tidak male bias (bias kelelakian).

Terakhir yang tidak kalah penting dalam proyek revitalisasi adalah menejemen isu. Banyak hal apa yang digagas dalam majlis adalah sesuatu yang sudah out of date, sudah tidak memiliki bobot actulity alias kadaluwarsa, sehingga tidak marketable. Perlu dipikirkan bagaimana menjembatani itu dengan terus-menerus melakukan kajian dan penelitian yang serius dan mendalam sehingga temuan-temuan pemikiran yang benar-benar baru dan dibutuhkan umat dapat terus terproduksi, bak air yang senantiasa mengalir dari mata air, tanpa henti dan menyegarkan. Dan tak lupa pula proses sosialisasi pemikiran (campaign of thinking) yang harus diatur secara cedas. Mulai dari kemasan bahasa yang tidak “melangit” sampai penggunaan media yang dapat diakses secara mudah oleh umat yang paling pelosok dan paling bawah.

Berbagai agenda itu diharapkan dapat menjadi sesuatu yang bisa mengawali langkah-langkah kongkret tajdid selanjutnya. Sungguh sayang jika Muhammadiyah yang sudah kadung dicap pembaharu ini lantas menjadi pro-status quo yang tidak bisa berbicara apa-apa di tengah-tengah problem keummatan sekaligus kebangsaan yang kian komplek. Sudah saatnya Muhammadiyah untuk goodbey terhadap konservatisme dan mengucapkan selamat datang (kembali) kepada progresivisme yang dulu pernah dimiliki Muhammadiyah.


Responses

  1. Penting itu. Agar kebohongan2 publik bisa mereka kritisi. Lihat, saat ini, ini pemerintah apa lagi ya? Rakyat hanya dijadikan alat dan dianggap sampah. Padahal kita sesama manusia harus saling menghargai dan menghormati. Tetapi kita perlu memerangi mentalitas yang buruk dan orang-orang tidak kapabel dan kita perlu bersama atau kelompok masing-masing. Lihatlah filosofi semut. Kenapa ini perlu, sebab di dunia ini tak ada kebenaran mutlak. Kecuali hukum fisika. Itu juga tidak mutlak penuh. Dan bagi kami orang Cina/Tionghoa, kami orang hanya lebih suka yang klasik yaitu yang ikut Muhammadiyah atau NU. Kami tidak suka yang jenggot2 seperti orang2 PKS, atau orang2 Muslim ektrim lainnya, seperti aliran Maliki, Hambali dan lainnya yang baru “diimpor” ke Indonesia belum lama, dan cenderung ekstrim, ada yang pakai jengot, norak. Ahmadiyah sebetulnya baik dan orang-orangnya tidak ekstrim. Tapi karena baik dan bisa banyak pengikut, maka difitnah dan dijegal bahkan mereka dibunuh. Padahal, negeri ini bukan negara Islam, tapi sekuler berdasarkan Ketuhanan YME seperti pada Pancasila, dasar negara, ini sangat penting. Artinya, orang boleh beragama apasaja memilih aliran apasaja selama tidak melanggar hukum nasional.

    Dan ini soal penting. Perombakan kabinet? Mutlak penting. Bayangkan, seorang menteri diangkat hanya karena dulu suka demo dan sok aksi di depan Kedubes Amerika memanfaatkan isu laris-manis yaitu Palestina-Israel. Membela sesama manusia di Palestina penting, tapi jangan sampai kita diperalat oleh tokoh-tokoh yang suka mengeksploitasi sentimen sesama manusia atau agama atau etnis untuk kepentingan dia-dia orang.

    Padahal itu hanya untuk mendapat kursi menteri atau persentase perolehan dalam pemilu. Itu permainan mudah dibaca dari PKS. Kini terbukti sudah bahwa Tifatul Sembiring tidak kapabel. Semua orang tahu pasti dan harusnya dia sudah di-reshuffle sejak dulu. SBY sendiri sejak dulu sudah di atas angin, padahal, dia menang hampir mutlak pada pemilu 2009. Tapi SBY takut tanpa alasan, dengan memutuskan membuat “jaring pengaman” tak perlu yaitu koalisi bersama PKS dan Golkar. Sekarang SBY baru tahu kalau Menkominfo itu, Tifatul Sembiring, tidak berguna. Kalau sudah begini, apa tidak pemborosan itu orang. Negara mau dikemanakan kalau sudah begini? Itu uang rakyat diboroskan hanya untuk menggemukkan kabinet. Pada kabinet SBY, terlalu banyak menteri dan komisi.

  2. GOBLOK!!!!!!!,,….yang kuno itu NU bukan muhammadiyah
    muhammadiyah rela di cap penghianat karena berbeda pendapat dengan pemerintah tapi kami orang muhammdiyah slalu berfikir untuk maju bukan befikir ke belakang,,…kami pakai teori sains dan agama agar tidak ketinggalan jaman
    bukan seperti NU yg masih pakai kitab kuning,rukyat.
    kami memakai teori astronomi falak,sosiologi,sains.
    ingat kesalahan NU makai metode rukyat(melihat langsung hilal) salah kan jadinya
    sekarang muhammadiyah di cap islam liberal dan pluralisme
    silahkan cap kami seperti itu,,…tapi goblok namanya kalau masih pakai yg lama,,…ada saat muhammadiyah nanti menjadi dasar pemikiran modern islam.
    di prancis sudah ada cabang muhammadiyah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: