Oleh: Anjar Nugroho SB | Juli 29, 2007

Revolusi Masyarakat Islam

REVOLUSI MASYARAKAT ISLAM :

 

HISTORISITAS GERAKAN RELIGIO-POLITIC MUHAMMAD SAW. ERA MEKKAH DAN MADINAH

Oleh : Anjar Nugroho

ABSTRAK

Tulisan ini mengkaji sejarah gerakan religio-politic Muhammad SAW selama periode kerasulannnya, baik di Mekkah maupun di Madinah. Pendekatan dalam kajian ini adalah historis-sosiologis yang memungkinkan penulis untuk memotret realitas saat itu secara lebih obyektif sehingga diharapkan akan memunculkan gambaran sejarah kenabian secara utuh.

Inti perjuangan Rasulullah adalah melawan kekuatan hegemonik yang despotik yang dipraktekkan olah suku dominan, Quraisy. Berkat motivasi yang tinggi yang bersumber dari kekuatan tauhid dan perhitungan politik yang genius, kekuatan hegemonik dapat ditumbangkan secara revolusioner. Sampai akhirnya lahir struktur sosial-politik yang menjamin nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan tegak dalam kehidupan masyarakat.

 

 

A. PENDAHULUAN

Hadirnya Islam merupakan bukti autentik sebuah revolusi yang selama berabad-abad telah berperan sangat signifikan dalam panggung sejarah umat manusia. Tidak diragukan lagi, Islam telah menjadi penanda perubahan, bukan hanya dalam bidang teologi, tetapi juga di bidang sosial dan ekonomi. Sistem teologi Islam –dari sisi normatifnya – telah membentuk sikap mental muslim yang senantiasa concern terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan dan keadilan, dan inilah modal utama dalam membangun peradaban yang unggul dan utama.

Sejarah nabi adalah bukti empirik-historis bagaimana Islam tegak di tengah-tengah terpuruknya nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan, dan Islam menawarkan nilai-nilai baru yang berorientasi kepada pembebasan dan memihak kepada yang teraniaya (mustadh’afin). Perjuangan menegakkan nilai-nilai fundamental Islam itu dilakukan oleh Nabi beserta para sahabat dengan taktik dan strategi politik yang genius sehingga secara revolutif kondisi masyarakat jahili dapat ditransformasi menjadi masyarakat yang beradap dan religius. Jika pada masa pra-kenabian, kedudukan perempuan terpuruk dalam sistem patriarkhi yang despotic (aniaya), Islam telah merubahnya menjadi berkedudukan yang equality (sejajar) dalam relasi sosial-religius dengan laki-laki, walau dalam hal ini nabi belum seluruhnya merobohkan sistem patrairkhi yang telah menjadi darah daging masyarakat Arab saat itu.

Islam, dengan perjuangan gigih Nabi, juga telah mengganti pranata sosial masyarakat yang tidak berpihak kepada nilai-nilai keadilan dan kejujuran. Sistem sosial dan politik masyarakat Arab yang eksklusif dan anti perubahan (status quo) yang telah terbukti menjadi alat para penguasa Quraisy bertindak sewenang-wenang, baik secara sosial, politik maupuan ekonomi, dirombak oleh sistem Islam yang mengutamakan persamaan, anti penindasan dan perwujudan kemashlahatan.

Makalah sederhana ini mencoba untuk memotret sejarah gerakan politik-keagamaan Nabi Muhammad SAW selama periode kerasulannnya, baik di Mekkah maupun di Madinah sampai akhirnya beliau berhasil membangun peradaban Arab baru yang transenden dan menjamin keamanan dan ketertiban masyarakat. Pendekatan dalam kajian ini adalah historis-sosiologis yang memungkinkan penulis untuk memotret realitas saat itu secara lebih obyektif sehingga diharapkan akan memunculkan gambaran sejarah kenabian secara utuh dan obyektif.

B. MEKKAH : PERLAWANAN TERHADAP SISTEM HEGEMONIK

a. Situasi Umum Kota Mekkah

Kota Mekkah terletak di jalur perdagangan internasional, dan dengan sendirinya menjadi pusat perdagangan yang penting. Mekkah karena makmur letaknya yang berada di jalur penting dari Arabia Selatan sampai Utara dan Mediteranian, Teluk Persia, Laut Merah melalui Jiddah dah Afrika.[1] Mekkah adalah salah satu pusat kota penting dengan aktifitas perdagangan yang ramai. H.A.R. Gibb dalam hal ini menulis “Mekkah sebagai kota dagang yang ramai dan sibuk, yang hampir memonopoli perdagangan antara Lautan India dan Mediterania ini, mengingatkan kita pada Palmyra Yunani. Penduduknya yang tetap mempertahankan kesederhanaan Arab asli dalam perilaku dan lembaga ini telah melahirkan orang-orang dengan pengetahuan yang luas dan kota ini menjadi poros diplomatik dan perdagangan yang berlangsung antara suku-suku Arab dan pejabat-pejabat Romawi”[2].

Montgomery Watt dalam hal ini juga menulis :”Mekkah lebih dari sekedar pusat perdagangan, ia adalah pusat keuangan … bahkan jelas terlihat adanya berbagai aktifitas keuangan yang sangat komplek di Mekkah. Para saudagar terkemuka Mekkah adalah orang-orang yang ahli dalam masalah keuangan, pandai dalam mengelola kredit, cakap dalam menghitung untung rugi, dan berminat untuk menanamkan investasi yang menguntungkan ke luar, mulai dari Aden sampai Gaza atau Damaskus. Jaringan finansial yang mereka bangun tidak hanya melibatkan penduduk Mekkah saja, tetapi juga para saudagar di kawasan sekitarnya”[3].

Penduduk yang mendiami wilayah kota ini pada mulanya adalah bangsa nomad, yang salah satunya direprsentasikan oleh kaum Badui. Kaum Badui, karena menghadapi kesulitan hidup, mencari tempat tinggal di kawasan kota yang maju seperti Arab Tengah, atau akan menuju ke Utara untuk mencari daerah subur. Penduduk yang berasal dari suku nomad ini, ketika berimigrasi ke pusat kota, tetap mempunyai watak dan loyalitas kesukuan mereka sendiri, yang oleh Ibn Khaldun[4] disebut dengan Ashâbiyah. Dan karena faktor loyalitas kesukuan inilah yang menjadi faktor penting dalam membentuk kelompok politik yang solid.

Setiap suku, hampir setiap klan atau kelompok keluarga, adalah berdaulat, dipimpin oleh kepala sukunya, yang dipilih sebagian atas dasar garis keturunan dan sebagian lagi atas kebijaksanaan pribadinya.. Setiap kelompok mempertahankan hak-hak pengembalaannya sendiri di wilayahnya sendiri, atau berusaha mempertahankan posisinya yang lebih baik dengan mengorbankan kelompok lain. Masyarakat yang seperti itu menolak bentuk-bentuk politik yang otoritarian, dan mendasarkan dirinya pada keberanian dan martabat individual dan pada kesetian-kesetianaan kelompok yang bergaris keturunan yang dekat.[5]

Rasa kesukuan yang berbeda-beda ini memainkan peranan di Mekkah dan mendorong munculnya berbagai persekutuan seperti Orde Kekesatrian (Order of Chivalry) yang bernama Hilf al-Fudul,[6] dan upaya untuk mendominasi yang dilakukan oleh satu kelompok atas kelompok lainnya senantiasa menimbulkan ketegangan dalam masyarakat.

b. Hegemoni Quraisy

Dalam sejarah Arab, suku Quraosy dikenal sebagai suku masyhur, terhormat, dan memiliki pengaruh serta kewibawaan yang sangat besar dibandingkan dengan suku-suku yang lain. Suku ini telah mulai membagun kekuasaan sejak dirintis oleh Qushayi bin Kilab dan mencapai puncaknya pada masa Muhammad SAW. Dalam membangun kekuatan suku, mereka mempererat hubungan kekerabatan dengan kabilah-kabilah besar yang terkenal, – salah satunya – melalui jalur perkawinan.[7]

Mekkah saat itu dikuasai oleh suku Quraisy. Suku ini, sebagaimana suku-suku yang lain, terbentuk dari beberapa kelompok (clan). Pada abad VI M, suku Quraisy berhasil membangun hegemoni perdagangan. Kafilah-kafilahnya tersebar luas menguasai titik-titik perdagangan internasional. Saudagar-saudagar penting di Mekkah menjadi kaya raya dan mengontrol hampir semua kehidupan ekonomi. Berkat dominasi di bidang ekonomi ini, secara sosio-politik mereka juga dominan[8], sehingga tidak heran jika pada suatu masa kelak, mereka menganggap kalau merekalah yang paling otoritatif untuk memegang kekuasaan sepeninggal Rasulullah. Mereka mengatakan bahwa berdasarkan kebiasaan, suku Quraisylah yang berhak menjadi khalifah[9], meskipun pendapat ini bertentangan dengan konsep persamaan hak bagi semua Muslim tanpa memandang asal suku.

c. Masyarakat tanpa Negara

Meskipun di Mekkah berlangsung perdagangan yang sangat ramai, namun tidak ada organisasi negara, birokrasi dan tentara. Karena pertanian tidak mungkin di Mekkah, feodalisme atau institusi kerajaan tidak dapat berkembang. Satu-satunya lembaga pemerintahan di Mekkah adalah senat yang disebut al-Mala. Raghib al-Asfihani, sebagaimana dikutip oleh Khalil Abdul Karim[10] mendefinisikan al-Mala dengan sekelompok orang yang berkumpul dalam satu kata (pendapat). Senat ini terdiri dari wakil-wakil suku. Tetapi yang perlu dicatat adalah, masih menurut Raghib, dewan ini hanyalah lembaga musyawarah dan tidak mempunyai hak eksekutif. Di samping itu, setiap suku secara teoritis independen sehingga tidak terikat dengan setiap keputusan yang dihasilkan, Satu-satunya keputusan yang efektif adalah apabila terdapat suara bulat.

Dalam struktur pemerintahan suku tersebut, seperti yang ditulis R.A. Nicholson, “Konstuitusi kesukuan adalah demokrasi yang dipimpin oleh kepala suku mereka, memperoleh kekuasaan karena keturunan atau sifat bangsawan, kekayaan, kebijaksanaan, dan pengalaman mereka. Namun demikian, para pemimpin ini tidak mempunyai hak memerintah atau menjatuhkan hukuman kepada para bawahan mereka. Setiap orang memerintah dirinya sendiri, bebas mencemooh kesombongan orang lain. ‘Jika tuan bisa menjadi panutan kami, maka tuan menjadi pemimpin kami, tetapi jika tuan menjadi korban kesombongan, menjauhlah dari kami dan bawa pergi sifat sombong tuan itu (yaitu, kami tidak lagi berhubungan dengan tuan).”[11]

“Kesetiaan”, dalam kamus Arab Pagan, tidak berarti kepatuhan terhadap pemimpin mereka, tetapi kesetiaan terhadap sesama teman; dan makna ini dekat dengan pengertian hubungan keluarga (kinship). Keluarga dan suku, termasuk orang lain yang tinggal di bawah perjanjian perlindungan suku tersebut, adalah suci dan mereka, baik perseorangan maupun bersama, harus melindungi. Kehormatan menuntut seseorang untuk membela sukunya sendiri sekuat tenaga.[12]

Tidak ada pajak yang dikumpulkan untuk tujuan politik dan administrasi negara. Namun demikian, terdapat pula iuran yang dikumpulkan oleh suku-suku tertentu sebagai dana untuk menghias Ka’bah dan menyambut ibadah haji.[13] Salah satu kontribusi penting Muhammad adalah menyempurnakan alat-alat negara yang tentu saja pada masanya masih mempunyai bentuk yang sederhana.

Sebagaimana yang telah disebutkan, orang-orang Arab, meskipun sebagian saja, berada di bawah pengaruh lembaga kesukuan tertentu. Oligopoli perdagangan memang memungkinkan adanya lembaga seperti al-Mala. Hal ini sangat berbeda dengan lembaga kerajaan meskipun di sana juga terdapat masyarakat dagang.

Orang-orang Arab sangat sadar dengan kedudukan penting mereka sebagai penyedia (suplier) barang-barang yang banyak permintaannya di Bizantium dan berbagai negara di Asia dan Afrika. Muhammad besar dalam lingkungan politik seperti ini, sehingga dia harus hati-hati dalam upayanya mengalahkan musuh-musuhnya. Kepiawian Muhammad dalam politik membawanya ke puncak kemenangan. Ini adalah salah satu alasan mengapa para pedagang Mekkah, yang biasanya tidak menaruh perhatian kepada agama, menjadi musuh besar Muhammad.

d. Sistem Kepercayaan

Berhala-berhala yang disembah di Mekkah dan sekitarnya tidak menjadi bagian penting bagi masyarakat Mekkah, karena berhala-berhala itu didatangkan dari masyarakat pertanian Syiria.[14] Untuk itu maka bisa dikatakan bahwa pedagang-pedagang Mekkah, karena tidak mengenal adanya bentuk penyembahan dari peradaban pertanian, tidak bergitu terikat dengan tuhan-tuhan yang secara formal mereka sembah, dan mereka pun tidak pernah menganggapnya sebagai pengalaman spiritual yang mendalam. Demikian pula dengan masyarakat nomad; mereka pada dasarnya tidak taat dengan penyembahan berhala karena mereka lebih menghargai apa yang disebut dengan humanisme suku. Namun mengapa ketika Muhammad mulai menyebarkan agama barunya ia mendapat banyak tantangan?

Dr. Taha Husain, sarjana Mesir terkemuka dalam karyanya, al-Fitnah al-Kubra, menjelaskan hal tersebut. Menurut dia, sebab perlawanan yang dilakukan orang-orang Arab terhadap perjuangan Muhammad adalah karena misi Muhammad untuk menjadikan masyarakat Arab menjadi lebih adil, egaliter dan anti penindasan. Secara lengkap, penjelasan Taha dalam masalah ini sebagai berikut :

“Saya yakin bahwa jika beliau (Muhammad) hanya mengajarkan ke-Esaan Tuhan tanpa menyerang sistem sosial dan ekonomi, tidak memperdulikan perbedaan antara yang kaya dan yang miskin, yang kuat dan yang tertindas, budak dan majikan, dan tidak melarang riba, serta tidak mengajurkan orang-orang kaya untuk mendermakan kekayaan mereka kepada orang-orang-orang miskin dan yang membutuhkan, mayoritas suku Quraiys akan menerima agamanya, karena sebaian besar dari mereka tidak sungguh-sungguh dalam menyembah berhala dan tidak mempunyai hubungan emosional dengan berhala-berhala tersebut. Mereka tidak yakin dengan berhala-berhala itu dan menyembahnya hanya untuk permainan saja. Sebenarnya mereka memanfaatkan berhala itu untuk mempertahankan pengaruh mereka terhadap orang-orang Arab.”[15]

Gibb, Islamisis, sangat setuju dengan pendapat itu. Dia mengatakan bahwa, perlawanan yang dilancarkan orang Arab Mekkah bukan disebabkan sikap keras kepala mereka akan ajaran yang disampaikan oleh Nabi, namun karena alasan-alasan ekonomi dan politik. Mereka khawatir ajaran yang disampaikan Nabi bisa mengancam kemakmuran ekonomi mereka, dan khususnya ajaran monoteisme murninya bisa menghancurkan aset ekonomi yang mereka kuasai. Di samping itu, mereka juga sadar bahwa pengakuan mereka terhadap ajaran Muhammad akan memunculkan suatu bentuk kekuasaan politik baru dalam masyarakat oligarkhi yang mereka bentuk selama ini.[16]

Di samping sistem kepercayaan mayoritas masyarakat Arab Mekkah yaitu yang menjadikan berhala sebagai sesembahan, terdapat arus keagamaan minoritas tetapi cukup militan (baca : taat) dalam berpegang pada prinsip-prinsip kepercaraannya itu. Inilah yang dikenal dengan kelompok Hanifiyyah (agama Hanif). Para pengikutnya disebut dengan al-Hunafa. Kelompok keagamaan ini berpegang pada tradisi millah Ibrahim yang diwaruskan secara turun temurun. Setiap orang Arab yang melakukan ibadah atau berkhitan, dinamakan Hanif untuk mengingatkan bahwa ia menganut agama Nabi Ibrahim a.s.[17]

Al-Hanafiyyah dipeluk oleh sebagian para tokoh, cerdik-cendekia, orang-orang yang tercerahkan dan para penyair. Termasuk tokoh di situ adalah kakek Muhammad, Abdul Munthalib. Mereka dipandang relatif lebih berbudi pekerti luhur dan terpelajar serta prinsip teologis mereka menolak menyembah berhala dan mengajak kepada ketauhidan.[18]

Keberadaan mereka mempengaruhi sistem kepercayaan masyarakat Arab Mekkah berikutnya. Bahkan, ada yang berpendapat, bahwa fenomena al-Hunafa tersebut merupakan langkah awal bagi munculnya dakwah Islam.[19] Muhammad termasuk orang yang dibesarkan di lingkungan ini, sehingga tidak heran jika saat Muhammad tampil sebagai Rasul, kelompok inilah yang menjadi pendukung utamanya.

e. Revolusi Qur’ani

Sebelum Islam tampil dalam panggung sejarah, hukum suku primitif dipakai dalam lapangan ekonomi, sosial dan moral. Dengan tidak adanya hukum tertulis, kesepakatan suku menjadi pegangan masyarakat. Islam, yang tampil dalam panggung sejarah setelah Mekkah mengalami transformasi ekonomi, menyediakan masyarakat tersebut akan hukum tertulis mengenai berbagai masalah, baik sosial maupun ekonomi. Bahkan Islam juga mempunyai hukum kriminal (jinayat) yang dalam banyak hal, mirip dengan hukum kriminal masyarakat suku. Namun, tidak seperti halnya praktek terdahulu, hukum kriminal Islam bukan hanya semata-mata kebiasaan balas dendam (qishash), namun menjadi hukum yang menuntut adanya pembuktian terhadap setiap tindak kejahatan baik melalui pembuktian tidak langsung (circumstantial evidence) atau saksi mata.[20]

Di dalam al-Qur’an juga ditekankan bahwa dalam transaksi ekonomi harus dilakukan secara tertulis. Al-Qur’an juga menjelaskan aturan mengenai warisan, perceraian, perkawinan dan sebagainya. Fakta bahwa al-Qur’an juga mengajari bangsa Arab kapan dan bagaimana mereka memasuki rumah orang, menunjukkan betapa masih sangat terbelakangnya mereka dalam berbudaya.

Dari beberapa fakta tekstual di atas, nampak jelas bahwa al-Qur’an membawa misi perubahan secara radikal atas struktur sosial, ekonomi, politik dan budaya yang ada dalam masyarakat Arab. Penting untuk digaris bawahi, meskipun Islam menjadi ideologi dan weltanschauung bagi bangsa Arab, ia juga mengajarkan moralitas yang mempunyai arti penting historis. Hubungan lelaki dan perempuan yang bebas yang menjadi warisan kebudayaan Arab juga dibatasi, dan perempuan diajarkan bagaimana seharusnya berpakaian dan berdandan secara wajar.

Secara rinci berbagai persoalan di atas memang direspon al-Qur’an di Madinah, tetapi satu hal yang penting untuk didiskusikan dalam konteks revolusi sosial masyarakat Mekkah adalah masalah perbudakan.[21] Sumber-sumber yang ada mengenai masyarakat Mekkah pra-Islam menunjukkan bahwa budak-budak itu tidak diperlakukan secara baik-baik, terutama karena mereka berasal dari luar Arab. Islam, meskipun tidak menghapuskan perbudakan, berusaha memperbaiki nasib mereka dengan tujuan mententramkan mereka. Muhammad mengajarkan, bahwa pembebasan budak adalah panggilan agama. Menurut al-Qur’an, membebaskan budak bisa menghapus berbagai macam dosa seperti pembunuhan yang tidak sengaja, melanggar sumpah (Q.S. al-Maidah : 89), membatalkan thalaq yang diucapkan karena menyamakan istrinya dengan ibu kandungnya sendiri (Q.S. al-Hasyr : 3). Al-Qur’an juga mengalokasikan sebagian dari zakat untuk memerdekakan budak (Q.S. at-Taubah : 60)

f. Kontribusi Muhammad

Setelah bertahun-tahun berkontemplasi di Goa Hira’, Muhammad sampai pada kesimpulan yang, setelah diterjemahkan dalam kenyataan, mengubah masyarakat Mekkah secara total. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Muhammad adalah Q.S. al-‘Alaq : 1-5). Arti penting ayat ini adalah Tuhan Yang Maha Bijaksana telah mengajarkan arti pentingnya pena di tengah-tengah masyarakat Arab yang sangat minim orang yang bisa membaca dan menulis.[22]

Setelah menerima wahyu, Muhammad tergerak untuk segera melakukan gerakan mengentaskan orang-orang Mekkah dari keterbelakangan serta membawa mereka menuju jalan maju dengan memberi mereka hukum yang baku serta perangkat organisasional yang layak untuk memenuhi kebutuhan baru mereka. Apa yang diinginkan Muhammad Rasulullah bukanlah semata-mata menata praktik-praktik kuno suku, tetapi perubahan yang menyeluruh. Dengan ajaran yang cukup mendalam dan fundamental “tiada tuhan selain Allah”, Muhammad berusaha membangun persatuan kaum muslim, tanpa batas-batas kesukuan.

Agama baru yang dibawa Nabi Muhammad tidak diragukan lagi berkomitmen untuk membangun keadilan sosial, dan mencabut akar-akar konflik di dunia.[23] Nabi secara konsisten berjuang untuk menghilangkan penyakit sosial di Mekkah dan membangun keadilan sosial. Agenda revolusioner Nabi di Mekkah antara lain; pertama, Nabi menekankan kesatuan, yaitu menghilangkan sekat-sekat kesukuan. Ajaran ini sangat penting untuk masyarakat yang ingin maju. Penekanan akan kebangsaan yang sama dalam bahasa, kebudayaan dan agama yang berbeda seperti pada masa kita sekarang ini bisa menjadi contoh pentingnya ajaran di atas bagi masyarakat Mekkah.

Kedua, Muhammad pada periode Mekkah, menekankan persamaan derajat di antara para umatnya tanpa memandang status sosial atau asal-usul suku. Konsep persamaan derajat ini menjadi magnet yang sangat kuat bagi orang-orang yang – karenya satu atau hal lain – dipinggirkan oleh kepentingan orang-orang mapan dalam masyarakat Mekkah. Muhammad juga membela kelompok orang-orang yang, meskipun berasal dari suku yang sama, merasa diabaikan oleh mereka.[24]

C. HIJRAH : MOMENTUM MEMBANGUN PERADABAN BARU

a. Rencana Hijrah ke Madinah

Ketika dakwah Nabi kurang berhasil di Mekkah, bahkan Nabi banyak menerima cemoohan dan penganiayaan, Nabi berfikir untuk pindah ke suatu tempat yang di situ ia bisa melakukan misinya secara sempurna secara lebih efektif dan aman. Ia kemudian memilih Madinah, yang sebelumnya bernama Yasrib. Sebelum pilihannya untuk hijrah dari Mekkah ke Madinah dia terlebih dahulu mengirim utusan ke beberapa sahabat ke Absyinia. Yang menurut Thabari[25], mereka terdiri dari sebelas orang laki-laki dan empat perempuan. Di antaranya adalah Utsman bin Affan dan istrinya Ruqayyah, putri Nabi. Absyinia adalah negara Kristen di bawah pengaruh Romawi. Ada beberapa motif yang mendorong Muhammad mengirim beberapa pengikutnya ke Absyinia, ia menjajaki kemungkinan membangun hubungan dengan bangsa Romawi, untuk berkolaborasi melumpuhkan kekuatan Mekkah. Tetapi pada sisi lain hal itu bisa menjadi bomerang, karena mereka bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk menguasai Mekkah. Sehingga pada akhirnya Muhammad membatalkan negosiasi politik dengan Romawi mengingat resiko yang bisa muncul.

Yang perlu mendapat cacatan dalam sejarah Islam adalah bahwa migrasi atau hijrah ini tidak memmpunyai arti penting bagi perjuangan politik Muhammad. Kaum migran ke Absyinia bahkan tidak mendapat apa yang diperoleh oleh kaum migran ke Madinah pada masa berikutnya, alasannya karena Absyibnia, bagaimanapun juga, adalah negeri non Arab dan Kristen sabagai agama resminya. Muhammad tidak bisa menguasai kawasan tersebut dengan agama barunya, yang pada dasarnya adalah produk masyarakat Arab yang sedang berubah. Muhammad tidak mau menetap di suatu tempat kecuali kalau ia bisa menguasai kawasan itu dengan ajaran kenabiannya terlebih lagi, Muhammad ingin bangsa Arab bersatu dan muncul sebagai sebuah kekuatan. Dengan sendirinya, wajar jika hijrah ke Absyinia tidak bisa nencapai tujuan-tujuan tersebut oleh karena itu, migrasi itu hanya bersifat ekspedisi, penjajakan yang dimaksudkan untuk memberi kesan baik di kerajaan tersebut dan menegaskan bahwa Islam adalah agama saudara kandung Kristen.

Hijrah ke Madinah adalah masalah yang berbeda sama sekali dengan hijrah ke Absyinia. Setelah gagal mengajak orang-orang Mekkah memeluk Islam dan membangun masyarakat baru yang lebih adil dan egaliter, Muhammad mulai berfikir untuk membangun sebuah pusat gerakan (center for movement) di tempat lain di daratan Arab, yang dari tempat itu dia bisa menyebarkan agamanya dan melaksanakan strateginya untuk menundukkan orang-orang Mekkah. Selama musim haji, ketika orang-orang dari berbagai penjuru datang ke Mekkah, ia mulai membangun koalisi dengan mereka. Dalam hal ini, Hamidullah menulis, “Selama musim haji, kita melihat Nabi di Mina, bergerilya dari satu tenda ke tenda yang lain mengajak mereka untuk mempercayainya sebagai utusan Tuhan (Rasulullah) dan membantunya menyebarkan Islam di bawah perlindungan mereka, dan menjanjikan kepada mereka bahwa tidak lama lagi mereka akan menjadi penguasa atas kedua kawasan besar dalam sejarah, yaitu kerajaan Bezantium dan Sasania.”[26]

Menurut Ibn Hisyam,[27] Nabi menemui sekitar lima belas suku, namun tidak membuahkan hasil. Kemudian Muhammad menemui enam orang suku Khazraj dan pertemuan itu memberi jalan terang terjadinya negosiasi politik dari suku tersebut. Ajakan Nabi kepada suku Khazraj untuk membangun koalisi di masa mendatang mendapat sambutan yang positif karena beberapa hal; pertama, suku Khazraj sedang mencari bentuk agama yang berasal dari wilayah setempat, yang bisa merefleksikan aspirasi dan cara hidup mereka: sebuah agama dengan kitab suci yang bisa membawa mereka menuju kebudayaan yang lebih tinggi. Kedua, orang-orang Madinah ini tidak suka terhadap dominasi Yahudi tapi mereka tidak bisa melawannya meskipun secara statistik jumlah kaum Yahudi lebih sedikit.

b. Kondisi Sosial Politik Madinah

Montgomery Watt, dalam bukunya Muhammad Propet and State Man, memberi penjelasan yang cukup representatif tentang kondisi sosial politik Madinah sebelum peristiwa hujrah. Watt menulis bahwa keadaan di Madinah berbeda dengan keadaan di Mekkah Di Mekkah dan daerah sekitarnya tidak ada lahan pertanian, konsekuensinya eksistensi kota itu tergantung pada perdagangan, sebaliknya Madinah adalah sebuah oasis pertanian. Sebagaimana Mekkah, Madinah juga dihuni oleh berbagai klan dan tidak oleh kesukuan yang tunggal, namu berbeda dengan Mekkah, Madinah merupakan perkampungan yang selalu disibukkan oleh konflik horisontal yang sengit dan anarkis antara kelompok suku-suku terpandang, di antaranya Aus dan Khazraj. Konflik yang berkepanjangan itu membuat rakyat kecil selalu merasa tidak aman dan menimbulkan permasalahan eksistensial di Madinah. Selanjutnya, berbeda dengan Mekkah, Madinah senantiasa mengalami perubahan sosial yang meninggalkan buntuk kemasyarakatan absolut model Badui. Kehidupan sosial Madinah secara berangsur-angsur diwarnai oleh unsur kedekatan ruang dari pada unsur kekerabatan. Yang jelas, Madinah memiliki sejumlah warga Yahudi yang sebagian besar pengikutnya lebih simpati terhadap monotheisme.[28]

d. Membangun Kekuatan di Madinah

Setelah perjanjian Aqabah II (awal Juli 622 M), Nabi mendadapat jaminan perlindungan oleh orang-orang Madinah melalui perjanjian itu, Nabi dan para pengikutnya memulai hijrah ke Madinah. Peristiwa hijrah tersebut adalah cerita paling dramatis sepanjang sejarah umat muslim. Komunitas muslim bermula dan tumbuh sejak dari hijrah ini dan tahun perjalanan itu, yang bersesuaian dengan tahun 622 Masehi ditetapkan sebagai tahun pertama muslim (tahun Hijriah). Bagi seorang muslim kata hijrah ini tidak hanya berarti perpindahan tempat tetapi juga dapat diartikan sebagai transisi dari pagan dunia menuju dunia muslim, perpindahan dari masyarakat kekerabatan menuju masyarakat yang dibangun di atas dasar keyakinan agama.

Di Madinah, Nabi bersama para pengikutnya yang hijrah (Muhajirin) mencapai sebuah kesepakatan politik yang resmi dengan para pengikutnya dari tuan tanah Madinah (Anshar). Kesepakatan politik itu melibatkan pula kelompok Yahudi yang secara ekonomi politik menguasai Madinah selama ini. Peristiwa ini sebagai momentum yang sangat krusial dalam membangun komunitas Madinah yang terstruktur dan teroganisir. Kesepakatan ini tertuang dalam perjanjian tertulis yang dikenal dengan istilah Piagam Madinah (Mitsaq Madinah). Isi perjanjian yang sangat fundamental adalah komunitas Madinah sepakat membentuk sebuah kelompok politik (political community) yang dinamakan ummah. Isi perjanjian lainnya antara lain, warga Madinah yang berasal sari berbagai agama dan golongan harus bertindak sebagai satu kesatuan untuk mempertahankan eksistensi Madinah dari gangguan pihak luar khususnya suku Quraisy Mekkah. Tidak satupun kelompok yang diperbolehkan membentuk perjanjian perdamaian yang terpisah. Masing-masing kelompok tidak diperbolehkan membantu pihak Mekkah dalam hal apapun. Perjanjian ini juga menegaskan bahwa setiap perselisihan antar suku harus melibatkan Nabi sebagai pihak penengah.[29]

Bagi Nabi Muhammad perjanjian tersebut merupakan langkah awal untuk membentuk sebuah ikatan komunitas antara seluruh kelompok yang ada, untuk menegakkan otoritas dan eksistensi kekuasaan, dan pada akhirnya untuk membentuk koalisi besar kekuatan-kekuatan politik yang terkontrol dari kekuasaannya. Walaupun dalam konsolidasi kekuatan itu Muhammad mendapat riak-riak pengkhianatan dari kelompok Yahudi. Mereka menentang legitimasi Muhammad sebagai Rasul yang sekarang menjadi pemimpin politik Madinah. Di tengah perlawanan dari kelompok Yahudi ini al-Qur’an mengecam Yahudi lantaran mereka mengkhianati perjanjian dan menerangkan bahwa Ibrahim merupakan Nabi par-excellence, yang mengajarkan agama yang hanif, sebagai pembangun ka’bah dan sebagai bapak bangsa Arab. Al-Qur’an juga menerangkan bahwa Muhammad diutus untuk menyelamatkan kemurnian monotisme Ibrahim. Jadi dalam hal ini, Muhammad melampaui warisan skriptural Yahudi dan Kristen.

Pada akhirnya kelompok penghianat Yahudi tersebut dapat dikalahkan, mereka terusir dari Madinah dan properti yang mereka kuasai selama ini diambil alih kepemilikannya oleh Muhammad. Setelah itu, Muhammad menjadi pemimpin yang paling otoritatif atas pemerintahan Madinah.

Pada tahun-tahun berikutnya Muhammad berusaha keras untuk menciptakan sebuah masyarakat yang didasarkan pada kesamaan agama, ceremony, etnis dan hukum –sebuah komunitas yang melampaui struktur sosial tradisional yang berbasis pada keluarga klan dan suku- dan sebuah komunitas yang menyatukan berbagai kelompok kepentingan (interest group) menjadi sebuah masyarakat Arab baru. Program itu sendiri berlangsung dalam beberapa tahapan.

e. Membentuk Pranata Sosial, Hukum, Dan Politik

Pada tahap ritual dan keagamaan, eksistensi komunitas muslim Madinah diekspresikan melalui sejumlah ritual dan hukum-hukum sosial sebagai mana yang dinyatakan dalam beberapa ayat al-Qur’an. Mereka terdiri dari lima prinsip Islam, Yatu sahadat, salat, puasa dan haji. Kelima prinsip Islam ini merupakan ritual publik yang jika diselenggarakan secara bersama-sama akan menguatkan kesadaran kolektifitas komunitas muslim.

Al-Qur’an juga menetapkan norma-norma sosial dari komunitas baru, bahkan ajaran-ajaran al-Qur’an mengenai hukum keluarga menggambarkan sebuah revolusi sosial dan metafisika yang sangat mendasar.[30] Dalam kondisi kekacauan institusional dan ketidakpedulian individual terhadap kewajiban keluarga, ajaran-ajaran al-Qur’an berusaha untuk memberi solusi atas kondisi itu. Aturan-aturan Qur’ani menentang perzinahan demi kelangsungan kehidupan sebuah kelompok, demi kelangsungan heriditas biologis, dan demi menciptakan ikatan perkawinan antara beberapa keluarga.

Al-Qur’an secara lebih khusus melindungi status perempuan dan anak-anak, yang mana mereka tidak lagi dipandang sebagai sekedar binatang peliaraan melainkan sebagai individu dengan hak-hak atas dirinya sendiri demi kebaikan pada pihak perempuan, perkawinan dipandang sebagai ikatan yang mengandung nilai-nilai sosial dan keagamaan. R.A. Nicholson[31] dalam bukunya A Literary History of the Arabs mengemukakan bahwa secara umum kedudukan mereka (perempuan) cukup tinggi dan pengaruh mereka cukup kuat. Mereka bebas memilih suami mereka, dan jika diperlakukan tidak baik mereka bisa kembali ke keluarganya. Mereka tidak dianggap sebagai budak atau barang bergerak, namun sebagai pendamping yang sejajar. Al-Qur’an, seperti tulis Nicholson, juga menganugerahkan sejumlah hak-hak tertentu pada perempuan yang tidak pernah mereka nikmati pada Arab pra Islam. Mereka diberi hak mewarisi sampai seperempat dari harta pustaka suaminya dan dalam kasus perceraian mereka berhak melakukan gugat cerai.

Gagasan mengenai keluarga merupkan inti dari konsepsi muslim tentang ummah. Ideal-ideal keluarga mengukuhkan kembali konsep individualitas melalui penekanan art pentingnya keagamaan individu sebagai makhluk Tuhan dari pada sekedar obyek dalam sistem masyarakat klan, dan melalui penekanan pertanggungjawaban individual terhadap hubungan moral dalam keluarga. Ajaran-ajaran al-Qur’an, yang sangat kontras dengan pandangan pagan, mengukuhkan makna keutuhan makna dunia, kesatuan masyarakat, dan integritas pribadi sebagai aspek-aspek dari pandangan transendensi realitas yang tunggal.

Di samping hukum-hukum dan moral-etik keluarga, al-Qur’an juga memberi landasan hukum dan moral etik terhadap transaksi bisnis. Moral-etik itu antara lain anjuran untuk bersikap jujur dan adil dalam relasi ekonomi, menyampaikan kesaksian secara jujur, dan tidak memungut keuntungan riba[32]. Moral-etik itu juga diberikan untuk mengatur peperangan, perlakuan terhadap tawanan dan distribusi harta rampasan perang. Terdapat sebuah larangan moral, seperti pengharaman perjudian dan penggunaan minuman keras bisa jadi hal itu disebabkan karena seluruh praktek itu berkaitan erat dengan paganisme.

Jadi, satu dimensi dari kerja Muhammad adalah untuk mengkomunikasikan keyakinan bersama, norma-norma sosial yang bersifat umum, dan ritual umum yang merupakan dasar komunitas yang melampaui batas-batas klan dan suku. Aspek lain dari program kerja gerakan Muhammad di Madinah adalah untuk mendirikan konfederasi politis yang akan memperluas proyek pembaharuan Islam sampai ke Mekkah dan ke seluruh wilayah Arabia lainnya. Hal ini merupakan bagian dari misi keagamaan Muhammad bahkan itu juga merupakan kebutuhan politis.

D. PENUTUP

Singkat cerita, setelah melalui perjuangan yang cukup melelahkan, Mekkah akhirnya berhasil ditaklukkan oleh kekuatan Madinah. Peristiwa itu dikenal dalam sejarah Islam sebagai fathu al-Makkah. Setelah Mekkah takluk, kekuasaan Islam meliputi seluruh Jazirah Arab.

Agama Islam yang dibawa Muhammad telah memenui semua fungsi bagi transformasi kebudayaan primitif menuju kebudayaan maju. Islam menjadi kekuatan kohesif yang menggerakkan solidaritas sosial, menghormati kekuasaan dan hak-hak orang lain, dan menciptakan loyalitas baru. Kemudian yang penting bagi Arabia tak bernegara (stateless Arabia) adalah ia telah membangun aturan hukum , dan kegeniusan (fathanah) Muhammad dalam hal ini tak bisa diingkari. Ia menegakkan masyarakat dengan hukum sipil dan hukum pidana sekaligus. Hukum-hukum ini, tentu saja, didasarkan pada adat-istiadat sosial dan praktik suku, dan Muhammad mensistematisasikannya dan yang lebih penting dari itu semua, praktik hukum dilaksanakan dengan adil dan jujur.


CATATAN AKHIR

[1] Joel Carmichael, The Shapping of The Arab, (London : ttp., 1969), hlm. 21. Bandingkan dengan Asghar Ali Engineer, Asal-Usul dan Perkembangan Islam, (Yogyakarta : Insits & Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 59.

[2] H.A.R. Gibb, Muhammadanism, (London : Oxford University, 1919), hlm. 17

[3] Montgomery Watt, Muhammad at Mecca, (London : Oxford, 1953), hlm. 3

[4] Lihat Ibn Khadun, Muqaddimah, (Jakarta : Pustaka Firdaus, 2000), hlm. 45

[5] Marshall G.S. Hodgson, The Venture of Islam : Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, (Jakarta : Paramadina, 1999), hlm. 210

[6] Ketika saudagar-saudagar kaya membentuk kerjasama intra-suku, golongan masyarakat yang terpinggirkan juga mencoba untuk asosiasi sendiri yang tidak mengenal batas-batas kesukuan. Lembaga itu kemudian bernama Hilf al-Fudul. Lihat Asghar Ali Engineer, Asal-Usul dan Perkembangan Islam … h. 75

[7] Khalil Abdul Karim, Hegemoni Quraisy : Agama, Budaya, Kekuasaan, (Yogyakarta : LkiS, 2002), hlm. v-vi

[8] Tentang bagaimana hegemoni terbentuk lihat : Ibid., hlm. 1-21

[9] Secara Normatif suku Quraisy merasa paling otoritatif menjadi pemimpin karena terdapat hadis nabi “al-aimmah min quraisyin”. Penjelasan lebih lanjut tentang itu liihat Ahmad bin Yahya al-Baladziri, Ansab al-Asyraf, juz I, (Kairo : Dar Ma’arif, 1959), hlm. 583-584

[10] Lihat Khalil Abdul Karim, Hegemoni Quraisy … hlm. 72

[11] R.A. Nicholson, a Literary History of the Arab, (New York : Cambridge, 1907), hlm. 83.

[12] Ibid.

[13] Ibid., h. 66

[14] Ibid.

[15] Taha Husein, Al-Fitnah al-Kubra, jilid I, (Beirut : Dar al-Fikr, tth), hlm. 11

[16] H.A.R. Gibb, Muhammadanism … hlm. 18

[17] Khalil Abdul Karim, Hegemoni Quraisy …, hlm. 168

[18] Abdul Aziz Salim, Dirasat fi Tarikh al’Arab : Tarikh al-‘Arab Qabla al-Islam, (t.k. : Mu’assasah Syabab al-Jami’ah al-Iskandariyah, t.t.), hlm. 436

[19] Salah seorang yang berpendapat demikian adalah Burhanuddin Dalllau dalam bukunya Jazirah Arab Qabla al-Islam. Lihat Khalil Abdul Karim, Hegemoni Quraisy …, hlm. 170

[20] Ibid., h. 86-91

[21] Ibid., h. 115-116

[22] Pada masa awal Islam, hanya tujuh puluh orang suku Quraisy yang bisa membaca dan menulis. Bahkan Nabi sendiri dalam kepercayaan sebagian kaum Muslim adalah ummi, yaitu tidak bisa membaca dan menulis.

[23] Asghar Ali Engineer, Asal-Usul dan Perkembangan Islam … h. 124

[24] Lihat Ziaul Haque, Wahyu dan Revolusi, (Yogyakarta : LkiS, 2000) hlm. 20; bandingkan dengan Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2003), hlm. 7-9

[25] Lihat al-Thabari, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk, (Kairo : Dar al-Fikr, tth), hlm. 89

[26] Muhammad Hamidullah, Muhammad Rasulullah, (Paris : t.p., 1974), hlm. 54.

[27] Pendapat Ibn Hisyam diambil dari Ali Asghar Ali Engineer, Asal-Usul dan Perkembangan Islam … h. 139-140

[28] Ira M Lapidus, Sejarah Sosial Imat Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000), hlm. 37-38.

[29] Ibid., h.39-40.

[30] Ibid., h. 42.

[31] R.A. Niscolson, A Literary History …, hlm. 87-88

[32] Fazlur Rahman menguraikan tentang riba dalam bukunya Islamic Methodology in History, (Karachi : Central Institute of Islamic Research, 1965) sebagai berikut : Al-Qur’an … menjelaskan alasan yang sesungguhnya di balik pelarangan riba dengan mengatakan bahwa riba tidak dapat didefinisikan sebagai suatu transaksi komersial karena ia merupakan suatu proses yang dengannya modal berlipat ganda secara tidak wajar. Hadis historis mengkonfirmasi hal ini dengan memberi informasi kepada kita behwa riba, dalam kenyataannya, merupakan praktek orang-orang Arab pra-Islam. Tetapi kita telah melihat ketegasan moral yang dengannya opini legal telah memasukkan berbagai aktivitas dalam definisi riba dengan merumuskan suatu prinsip umum bahwa “setiap pinjaman yang memberi keutungan kepada kreditur adalah riba”. Dalam nada yang sama dikatakan bahwa riba secara eksklusif berlaku terhadap bahan-bahan makanan, emas, dan perak, serta tidak berlaku terhadap hal-hal lainnya. Ini secara tegas menyiratkan arti bahwa, sebagai contohnya, sejumlah kapas boleh dipinjamkan dengan perjanjian bahwa enam bulan kemudian ia harus dikembalikan dalam jumlah yang lebih banyak selaras dengan kehendak kreditor. Hal semacam ini, tentu saja, bertentangan dengan prinsip umum yang baru saja dikutip. Keseluruhan perkembangan ini menunjukkan bahwa yang hendak diformulasikan secara kaku adalah penafsiran moral yang progresif terhadap larangan al-Qur’an tersebut

DAFTAR PUSTAKA

Al-Baladziri, Ahmad bin Yahya, Ansab al-Asyraf, juz I, Kairo : Dar Ma’arif, 1959

Al-Thabari, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk, Kairo : Dar al-Fikr, tth.

Carmichael, Joel, The Shapping of The Arab, London : ttp., 1969

Engineer, Asghar Ali, Asal-Usul dan Perkembangan Islam, Yogyakarta : Insits & Pustaka Pelajar, 1999.

__________________, Islam dan Teologi Pembebasan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2003

Gibb, H.A.R., Muhammadanism, London : Oxford University, 191

Hamidullah, Muhammad, Muhammad Rasulullah, (Paris : t.p., 1974), hlm. 54.

Haque, Ziaul, Wahyu dan Revolusi, Yogyakarta : LkiS, 2000

Hodgson, Marshall G.S., The Venture of Islam : Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, Jakarta : Paramadina, 1999

Husein, Thaha, Al-Fitnah al-Kubra, jilid I, Beirut : Dar al-Fikr, tth

Karim, Khalil Abdul, Hegemoni Quraisy : Agama, Budaya, Kekuasaan, Yogyakarta : LkiS, 2002

Khadun, Ibn, Muqaddimah, Jakarta : Pustaka Firdaus, 2000

Lapidus, Ira M, Sejarah Sosial Imat Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000

Nicholson, R.A., a Literary History of the Arab, New York : Cambridge, 1907

Rahman, Fazlur, Islamic Methodology in History, Karachi : Central Institute of Islamic Research, 1965

Salim, Abdul Aziz, Dirasat fi Tarikh al’Arab : Tarikh al-‘Arab Qabla al-Islam, t.k. : Mu’assasah Syabab al-Jami’ah al-Iskandariyah, t.t.

Watt, Montgomery, Muhammad at Mecca, London : Oxford, 1953


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: