Oleh: Anjar Nugroho SB | Agustus 14, 2007

Islam Liberal di Muhammadiyah

“ISLAM LIBERAL” DI MUHAMMADIYAH ?

 

Oleh : Anjar Nugroho

Ungkapan “Islam Liberal” mungkin terdengar kontradiksi dalam peristilahan (contradiction in terms). Selama berabad-abad, Barat mengidentifikasikan Islam dengan unsur-unsurnya yang eksotik. Kepercayaan Islam disamakan dengan fanatisme, sebagaimana diungkapkan Voltaire dalam tulisannya, “Mahomet, or Fanatism“. Islam juga disamakan dengan kezaliman, seperti diungkapkan Mountesqieu sebagai “Kezaliman Timur”, atau definisi yang diberikan Francis Bacon “Sebuah kerajaan yang sama sekali tidak memiliki nilai-nilai sopan-santun (keadaban), sebuah tirani absolut dan murni; sebagaimana terjadi di Turki.”

Tema-tema di atas berlanjut hingga hari ini, sebagaimana persepsi Barat tentang Islam yang diidentifikasikan sebagai imaginasi-imaginasi terorisme, dan gambaran teokrasi yang menakutkan. Revolusi Iran pada tahun 1979 dan kebangkitan radikalisme Islam dari Afrika Barat hingga Asia Tenggara menambah kesan adanya perang dingin yang terlihat. Apalagi pasca tragedi WTC yang dalang dan pelakunya diduga oleh Barat adalah kelompok radikal Islam (baca : al-Qaeda). Juga dalam dunia akademik, umat Islam dianggap mencurahkan perhatian kepada pemahaman keagamaan yang radikal. Hal itu terlihat pada karya-karya akademik dengan judul yang meresahkan, seperti; Islam Radikal (Radical Islam), Islam Militan (Militant Islam), dan Jihad (Sacred Rage).

Memang sebagian Muslim sepakat dengan para orientalis Barat bahwa Islam belum diberi kesempatan untuk berubah. Itulah yang menyebabkan umat Islam dihadapkan pada sebuah tantangan untuk memberikan tafsir kontekstual terhadap berbagai persoalan. Namun, wacana tafsir kontekstual itu masih menjadi perdebatan yang seru dikalangan umat Islam. Seorang Muslim Pakistan, misalnya, pernah menulis: “Orang yang berpikir tentang reformasi atau modernisasi Islam adalah salah jalan, dan usaha mereka yang berpikir tentang reformasi atau modernisasi Islam itu pasti akan gagal … Mengapa Islam harus dimodernkan? Bukankah kemodernan Islam telah selesai, murni sempurna, universal, serta berlaku setiap waktu?”

Islam Liberal memang tampak sangat kontroversial. Karena membahas mengenai gagasan-gagasan Islam yang paling liberal dalam pemikiran Dunia Islam dewasa ini. Apalagi sering dikonotasikan dengan Barat, sekular dan dipengaruhi cara pandang orientalisme. Dengan demikian mudah mendatangkan kecurigaan, jenis pemikiran ini bisa berakibat buruk terhadap kelangsungan otentisitas ajaran Islam.

Sebenarnya tradisi–yang disebut sebagai Islam Liberal ini sangat menggugah, karena mentradisikan pemikiran Islam yang terbuka, inklusif dan menerima usaha-usaha ijtihad kontekstual. Charles Kurzman, di dalam bukunya Liberal Islam, A Sourcebook, menyebut enam gagasan yang dapat dipakai sebagai tolok ukur sebuah pemikiran Islam dapat disebut “Liberal” yaitu: (1). melawan teokrasi, yaitu ide-ide yang hendak mendirikan negara Islam; (2). mendukung gagasan demokrasi; (3). membela hak-hak perempuan; (4) membela hak-hak non-Muslim; (5) membela kebebasan berpikir; (6) membela gagasan kemajuan. Siapapun saja, menurut Kurzman, yang membela salah satu dari enam gagasan di atas, maka ia adalah seorang Islam Liberal.

Istilah Islam Liberal yang digunakan Charles kurzman jauh dari makna penyimpangan secara radikal terhadap otentisitas ajaran Islam. Ia menggunakan secara “netral” – hanya – sebagai instrumen untuk menunjukkan ada sekelompok intelektual Muslim yang berusaha mengembangkan gagasan ke-Islaman yang bersifat toleran, terbuka dan berkemajuan dalam menghadapi persoalan-persoalan global seperti demokrasi, pluralisme, kesetaraan gender, dan modernisasi.

Sampai di sini, menarik sekali untuk memperhatikan pokok-pokok gagasan Islam Liberal, yang pada akhirnya nanti dikritik secara keras oleh kaum konservatif Islam, khususnya dalam pandangan-pandangan mereka perihal: Pertama, keyakinan akan perlunya sebuah filsafat dialektis; kedua, keyakinan akan adanya aspek historisisme dalam kehidupan sosial keagamaan; ketiga, pentingnya secara kontinu untuk membuka kembali pintu ijtihad yang dulu sempat tertutup atau justru ditutup oleh fatwa ulama; keempat, penggunaan argumen-argumen rasional untuk iman; kelima, perlunya pembaruan pendidikan; dan keenam, menaruh simpati dan hormat terhadap hak-hak perempuan, dan non-Muslim.

Sebenarnya, latar belakang pemikiran liberal Islam mempunyai akar yang jauh sampai di masa keemasan Islam (the golden age of Islam). Teologi rasional Islam yang dikembangkan oleh Mu’tazilah dan para filsuf, seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd dan sebagainya, selalu dianggap telah mampu menjadi perintis perkembangan kebudayaan modern dewasa ini. Sebut saja sosok seperti Ibn Sina dan Ibn-Rusyd, yang dikenal bukan saja sebagai filsuf besar, tetapi juga dokter yang meninggalkan warisan khazanah keilmuan yang luar biasa, yakni al-Qanun fi al-Thibb (The Canon) dan al-Kulliyat, yang masih dipelajari di Eropa sebagai ensiklopedi sampai abad ke-17.

Pemikiran liberal Islam yang memberi bobot besar terhadap penafsiran baru ajaran Islam dewasa ini, sebenarnya memang mempunyai genealogi pemikiran jauh ke belakang, hingga Ibn Taymiyah (1963-1328) yang menghadapi problem adanya dua sistem pemerintahan, yaitu kekhalifahan yang ideal–yang pada masanya sudah tidak ada lagi–dan pemerintahan “sekular” yang diperintah oleh sultan Mamluk, di mana Ibn Taimiyah juga menjadi pegawainya. Dia juga berhadapan dengan adanya dua sistem hukum, yaitu syari’ah (hukum agama), dan hukum yang diterapkan pemerintahan Mamluk (political expediency, natural equity).

Menghadapi masalah tersebut, Ibn Taymiyah melakukan refleksi mendalam terhadap keseluruhan tradisi Islam dan situasi baru yang dihadapinya. Dalam ketegangan-ketegangan pilihan ini, Ibn Taymiyah menyarankan suatu “jalan tengah”, yaitu suatu sikap moderat. Untuk itu, perlu dilakukan ijtihad (berani berpikir sendiri secara intelektual) pada situasi yang berubah. Suatu ijma’ (konsensus) hanya ada dan terjadi pada masa sahabat–oleh karena kesetiaan mereka kepada apa yang dikatakannya dan diperbuatnya, tapi tidak berlaku lagi bagi ahli hukum setelah itu. Dari sudut isi, pemikiran ijtihad Ibn Taymiyah ini sudah merintis suatu metodologi penafsiran teks dan ijtihad atas masalah-masalah sosial-politik, yang kelak menjadi inspirator, terutama kalangan liberalis, juga revivalis dan neo-fundamentalis.

Lalu, apakah wacana Islam Liberal bisa dikembangkan di Muhammadiyah? Dalam pandangan penulis, wacana yang ditawarkan Islam Liberal dapat ditarik signifikansinya dalam mengembangkan tradisi pemikiran yang produktif, kritis, dan konstruktif di kalangan Muhamadiyah. Harus jujur diakui, meski telah memproklamirkan sebagai gerakan modernis-substansialis di Indonesia, tetapi masih tampak kegagapan dan kegamangan Muhammadiyah dalam mengaitkan doktrin agama dengan persoalan publik. Seperti tampak secara jelas (sering) keterlambatannya dalam merespon persoalan-persoalan politik, sosial, dan budaya yang berkembang begitu cepat. Bahkan ada kecenderungan Angkatan Muda Muhammadiyah tengah mengembangkan wacana intelaktual “formalisme Islam” (Muthohharun Jinnan, Kompas 29 Juni 2001), yang tampak seperti gerakan “back to salaf”, dan gerakan jilbabisasi yang marak di kampus-kampus Muhammadiyah.

Kecenderungan konservatisme dalam alam pikiran Muhammadiyah disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, keterjebakan Muhammadiyah terhadap aktivisme yang cenderung memperluas demografi dan keanggotaan (Kuntowijoyo,1998). Aktivisme tersebut mengakibatkan para aktivis Muhammadiyah terlalu bersifat politis-idiologis dan apologis ketimbang berfikir secara reflektif-kontemplatif dan folosofis. Kedua peran Majlis Tarjih sebagai thik-thank Muhammadiyah terlalu bersifat fiqh-oriented dan tekstual normatif. Kecenderungan ini telah menafikan konteks perkembangan jaman dan perubahan sosial yang menghajatkan suatu pola pemikiran keislaman yang asumtif-probabilistik-pluralis. Ketiga, di tingkat aplikasi praktis, muncul truth claim dari pensakralan produk-produk Majlis Tarjih seperti Himpunan Putusan Tarjih (HPT) terhadap masalah-masalah muamalah. Keempat, belum meluasnya tradisi berfikir empirik di kalangan para anggota Majlis Tarjih (Azhar, 2000)

Karena itu, Islam Liberal patut dipertimbangkan sebagai acuan paradigma dalam mengembangkan pemikiran keislaman secara utuh dan mendalam di Muhammadiyah. Wallahu a’lam


 

 


Responses

  1. ok lah low emang tu terjadi di muhammadiyah tapi kenapa anda hanya membahas di lingkup organisasi muhammadiyah saja! kan ormas islam di indonesia ini bamyak dan saya yakin mesti ada hal-hal yang sama seperti yang anda katakan di muhammadiyah.tolong bersikap obyektif.ok!!!!!!!!!!!

  2. Islam sejak Adam sampai kiamat al Hajj (22) ayat 78, Al Baqarah (2) ayat 208, Al Baqarah (2) ayat 30-39 adalah hanya satu persepsi agama yaitu Islam sejak Adam disorga dahulu 10.000 tahun yang lalu sesuai Al Baqarah (2) ayat 35, sampai masuk sorga perdamaian yang akan datang sesuai Al A’raaf (7) ayat 27, Thaha (20) ayat 117, awal millennium ke-3 masehi.
    Sorga dahulu disebabkan datangnya HARI TAKWIL KITAB yang dahulu sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53 dan sorga sekarangpun wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan datangnya HARI TAKWIL KEBENARAN KITAB yang sekarang sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53.
    Umat manusia sejak dahulu 8000 tahun yang lalu, dan umat Islam sejak tahun 600 masehi sampai sekarang tidak mengetahui apa sorga Adam yang dahulu dan sorga yang akan datang.
    Karena tidak mengetahui, maka antara umat beragama berselisih persepsi agama sesuai Al Baqarah (2) ayat 113 atau didalam agama mereka berpecah belah menjadi 73 firqah sesuai Ar Ruum (30) ayat 32, Al Mu’minuun (23) ayat 53,54 (sesat samapai suatu ketika), Yudas 1:18,19,20,21.
    Sorga adalah kesatuan persepsi agama sesuai An Nahl (16) ayat 93, siapa yang tidak mau sesat, siapa yang mau diberi petunjuk dengan HARI TAKWIL KEBENARAN KITAB atau HARI ROH KUDUS sesuai Yohanes 16:12,13,14,15.

    Untuk jelasnya kami telah menerbitkan buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berisi XX+527 halaman, berikut lampiran 4 macam skema acuan berukuran 60×63 cm:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
    “SOEGANA GANDAKOESOEMA”
    dengan penerbit:
    “GOD-A CENTRE”
    dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  3. Buku “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema.
    Tersedia ditoko buku KALAM
    Jl. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120
    Telp. 8573388

  4. Buku Panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema

    I. Telah diserahkan pada hari Senin tanggal 24 September 2007 kepada Prof. DR. ibu Siti Musdah Mulia, MA., Islam, Ahli Peneliti Utama (APU) Balitbang Departemen Agama Republik Indonesia, untuk diteliti sampai ada ketentuan menerima atau menolak dengan hujjah sebagaimana hujjah yang dikandung oleh buku itu sendiri.

    II. Telah dibedah oleh:
    A. DR. Abdurrahman Wahid, Gus Dur, Presiden Republik Indonesia ke-4 tahun 1999-2001.

    B. Prof. DR. Budya Pradiptanagoro, dosen FS Universitas Indonesia.

    C. Prof. DR. Usman Arif, Konghucu, dosen ilmu Fisafat Unversitas Gajah Mada.

    D. Prof. DR. Robert Paul Walean Sr., Pendeta Nasrani, sebagai moderator, seorang peneliti Al Quran, sebagaimana Soegana Gandakoesoema meneliti Al Kitab perjanjian lama dan perjanjian baru, keduanya adalah setingkat dan sejajar dengan Waraqah bin Naufal bin Assab bin Abdul Uzza 94 tahun, Pendeta Nasrani, anak paman Siti Hadijah 40 tahun, isteri Muhammad 25 tahun sebelum menerima wahyu 15 tahun kemudian pada usia 40 tahun melalui Jibril (IQ).
    Pertanyaannya yang sulit untuk dijawab akan tetapi sangat logis dan wajar untuk dipertanyakan adalah Siti Hadijah dan Muhammad sebelum wahyu turun adalah orang baik, patonah, sidik, amin dan lain sebagainya melaksankan pernikahan dengan cara ritual agama apa dan mereka berdua beragama apa ?

    E. Disaksikan oleh 500 peserta seminar dan bedah buku dengan diakhiri oleh sesi dialog tanya-jawab. Apabila waktu tidak dibatasi, maka akan mengulur sangat panjang sekali, disebabkan banyaknya gairah pertanyaan yang diajukan oleh para hadirin.

    Pada hari Kamis tanggal 29 Mei 2008, jam 09.00-14.30, tempat Auditorium Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, jl. Salemba Raya 28A, Jakarta 100002, dalam rangka peringatana satu abad (1908-2008) kebangkitan nasional “dan kebangkitan agama-agama (1301-1401 hijrah) ( 1901-2001 masehi)” diacara Seminar & Bedah Buku hari/tanggal Selasa 27 Mei – Kamis 29 Mei 2008, dengan tema merunut benang merah sejarah bangsa untuk menemukan kembali jati diri roh Bhinneka Tunggal Ika Panca Sila Indonesia.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  5. muhammadiyah bisa di katakan liberal tapi saya sebagai orang muhammadiyah merasa sudah saatnya islam itu masuk jaman modern bukannya memegang pemikiran jaman dulu
    masa melihat hilal pakai mata kosong atw tropong,,..pakai metode hisab lah
    buat apa ilmuan muslim membuat ilmu falak kalau tidak di gunakan
    arab saudi,malaysia,iran,sama uni emirat arab ngetawain indonesia pas tau kalau negara kita idhul fitri tanggal 31
    padahal pas tanggal 30 agustus saya liat kalo arab saudi itu lebarannya hari selasa(indonesia dan arab saudi cuman beda lima jam)

  6. Islam Liberal penyimpangan dalam berpikir. Sok Konteks tual padah tekstual. Sok modrnis padah katrok. Sok berisjihad padahal banyak taklid dengan orientalis. Sok rahmatan lil alamin, padahal cari muka dengan orang kafir. Sok berpikiran bebas diluar kotak, padah penakut anteng dizona nyaman gak berani berhadapan dengan agama lain.

    Ibnu Sina yang dibilang ilmu filsafatnya kuat, telam memberi kontribusi ilmu pengetahuan yang besar. Tapi Islam liberal telah memberi sampah pemikiran dari berbagai paham yang ada.

    Islam liberal, musuh bersama semua umat Islam, muda tua, NU, muhamadiyah, ormas lain, banyak ilmu maupun sedikit ilmu, alumni aliyah maupun negri. Karena Islam Liberal telah berkontribusi memberikan kerusakan moral.

  7. Ada orang yang gak puas dengan ayat Al Qur’an yg terakhir Al-Maiidah ayat 3: “hari ini telah Ku sempurnakan bagimu Agamamu…”, maka karena akalnya telah diracuni oleh musuh2 Islam seperti Yahudi, Nasrani, Atheisme, dan budaya2 Barat, maka dia membuat2 yang baru2 yaitu Islam Liberal. Maka dia sesat dan menyesatkan. Kita lihat pendapat2nya tanpa ilmu, mengambil pendapat2 non-muslim bebrbicara tentang Islam, sehingga pemikirannya seperti kaum Zindiq dan perilakunya seperti munafiq. Bahkan berani memfitnah syaikhul Islam Ibn Taymiah sebagai landasan pemikiran mereka. Padahal Ibn Taymiah pembela Sunnah dan membawa ajaran agama kembali ke Salaf, yaitu Islam yg dibawa oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam. Hati2 pd virus pemikiran liberal ini. Karena dia memilih mengambil dalil dr orang kafir drpada Allah dan RasulNya serta para ulama salaf


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: