Oleh: Anjar Nugroho SB | September 5, 2007

Selamat datang Ramadhan

MENJEMPUT CINTA RAMADLAN DENGAN IKHLAS

Alkisah, seorang ‘abid yang saleh dan telah beribadah dalam waktu yang sangat lama didatangi oleh suatu kaum. Salah satu dari mereka berkata kepadanya, ”Hai ‘abid, saya mendengar di daerah ini ada suatu kaum yang ibadahnya menyembah pohon, tidak menyembah Allah.” Mendengar kabar yang diucapkan orang itu, sang ‘abid menjadi marah, lalu pergi dengan membawa sebuah kampak untuk menghancurkan pohon itu.

Seorang iblis yang merubah dirinya menjadi seorang syekh, menyambut kedatangan ‘abid di dekat pohon itu. Iblis bertanya kepadanya, ”Ke manakah Anda hendak pergi wahai saudaraku, mudah-mudahan Allah merahmatimu.” ‘Abid menjawab,” Aku hendak memotong pohon ini.” Iblis itu balik bertanya, ”Apa yang menyebabkan engkau ingin memotong pohon ini, sehingga kamu telah meninggalkan ibadahmu serta menyibukkan kegiatan yang tidak bermanfaat bagimu.” ‘Abid menjawab, ”Sesungguhnya apa yang akan aku lakukan ini adalah sebagian dari ibadahku.” Iblis berkata, ”Aku tidak akan membiarkan kamu untuk memotong pohon ini.” Iblis bergerak dengan garang menyerang sang ‘abid, tetapi tidak berhasil menaklukannya. Bahkan Iblislah yang berhasil dikalahkan oleh ‘abid dan ia berhasil ditawan dalam pengawasan ‘abid. Iblis itu berkata, ”Lepaskan aku, dan aku akan berbicara kepadamu.” Sang ‘abid melepaskannya. Ia berkata, ”Sesungguhnya Allah swt telah menggugurkan perintah untuk memotong pohon ini dan Dia tidak mewajibkannya lagi kepadamu. Allah tidak menyuruh kamu untuk melakukan hal ini. Jika Allah berkehendak, mungkin Allah sudah memerintahkan pekerjaan ini kepada para Nabi-Nya dan mengutusnya untuk menghancurkan pohon ini.” Abid itu menjawab, ”Akulah yang harus memotong pohon ini.”

Sang ‘abid mendekati iblis dan melawannya kembali. Ia berhasil mengalahkan kembali Iblis itu dan segera mengurungnya. Iblis itu berkata kepada sang ‘abid, ”Apakah kamu mempunyai keputusan tentang masalah kita ini agar semuanya menjadi lebih baik dan berguna bagiku dan bagimu?” Abid itu terdiam. Lalu berkata, ”Apakah kau bisa memutuskan dan menyebutkan hal itu?” ”Ya,” Iblis menjawab, “tetapi lepaskan dulu aku dari pengawasanmu.” Setelah dilepaskan iblis itu berkata, ”Wahai ‘abid, kamu adalah orang miskin yang tidak mempunyai apa-apa. Engkau telah menjadi beban bagi orang lain yang menanggungmu. Engkau yang dalam kesendirian terus berusaha ingin menjadi yang terbaik dari tetanggamu, dan kenyang dalam keheninganmu tanpa memerlukan manusia yang lain. Bukankah yang aku katakan ini benar?” Abid terdiam. Ia menjawab pelan, ”Benar.” Iblis balik berkata, ”Urungkanlah niatmu untuk memotong pohon ini dan aku akan berikan kepadamu dua dinar yang akan aku simpan di dekat kepalamu setiap pagi. Dengan uang itu kamu akan membelanjakannya untukmu, keluargamu, dan sisanya untuk sedekahmu kepada saudara-saudaramu. Dan hal ini lebih baik bagimu dan kaum muslim yang lain daripada memotong pohon yang tidak mendatangkan manfaat bagimu dan saudara-saudaramu.”

‘Abid terdiam. Ia mulai berpikir dan merenungkan ucapan iblis itu. Lalu ia berkata, ”Engkau benar, wahai syekh, aku bukan seorang nabi dan mengharuskan aku untuk memotong pohon ini dan Allah tidak menyuruhku untuk memotongnya, serta menetapkan aku sebagai orang yang durhaka karena tidak memotong pohon ini. Apa yang engkau sebutkan ternyata lebih baik dan banyak manfaatnya.” Iblis pun berjanji akan memberikan uang dua dinar setiap hari karena nasihatnya diikuti.

Setelah kejadian itu ‘abid kembali ke tempatnya. Ketika waktu pagi datang, ia menemukan di dekat kepalanya uang senilai dua dinar dan ia menyimpannya untuk dibelanjakan. Kejadian serupa terjadi terus menerus, sampai pada suatu pagi, ia tidak menemukan lagi uang senilai dua dinar itu. Ia marah. Lalu pergi membawa kampak dengan maksud menghancurkan pohon itu kembali.

Iblis yang berwujud syekh menyambut kedatangannya seraya berkata, ”Apa yang hendak kau lakukan dengan pohon ini?” “Aku akan memotongnya.” jawab ‘abid. Iblis berkata, ”Demi Allah, kamu tidak akan mampu memotongnya dan tidak ada jalan bagimu untuk melakukannya.” ‘Abid itu menyerang Iblis dengan gencar, tetapi ia tidak berhasil mengalahkan Iblis itu seperti ketika dulu ia mengalahkannya. Bahkan ia berhasil dikalahkan oleh Iblis. Iblis mengekang sang ‘abid dan mengancam kepadanya dengan tekanan yang keras agar ia tidak melakukan apa yang ia inginkan. ‘Abid berkata kepada Iblis, ”Kabarkan kepadaku apakah yang menyebabkan engkau bisa mengalahkan aku, padahal dahulu aku bisa mengalahkanmu.” Iblis menjawab, ”Sesungguhnya ketika engkau mengalahkan aku, engkau berangkat dari marah karena Allah dan akhiratmu. Kali ini engkau tidak bisa mengalahkan aku, karena marahmu berangkat bukan dari marah karena Allah, tetapi marah karena diri dan duniamu. Allah menundukanku karenanya, dan aku menundukanmu karena rasa ikhlas karena Allah telah hilang darimu.”

Cerita di atas sesuai dengan firman Allah dalam surat Shad ayat 83, Kecuali hamba-hamba-Mu diantara mereka yang ikhlas. Setiap manusia tidak akan terlepas dari belenggu setan, setan akan berusaha menggagalkan segala ibadah kita dengan berbagai cara. Ketika seorang hamba yang berpuasa dengan sungguh-sungguh berusaha meninggalkan perilaku yang dapat mengurangi pahala puasa, ia akan dihadapkan pada suatu masalah yang secara kasat mata tidak tampak dan sangat membahayakan posisi orang yang sedang berpuasa. Masalah itu adalah masalah keikhlasan. Setan dengan berbagai cara akan menghembuskan godaannya dengan meragukan dan menggoncangkan hati lewat jalan ikhlas. Karena jalan inilah yang sangat mudah untuk disentuh dan diperangi. Dan akibatnya fatal bagi orang yang berpuasa, yaitu tidak diterima puasanya tadi. Orang yang berpuasa akan diguncang dan diganggu keikhlasan hatinya oleh setan. Imam Ali berkata, “Allah mewajibkan puasa sebagai ujian terhadap keikhlasan hamba.”(Nahjul Balaghah, hikmah ke-253). Jika orang yang berpuasa menjaga dirinya dengan berusaha meninggalkan sejauh mungkin dari hal yang dapat membatalkan puasa, baik lahir maupun batin, sesungguhnya ia sudah berusaha mengokohkan nilai keikhlasan dalam hatinya. Dengan kata lain, jika dalam ibadah yang lain ia sudah terlatih nilai keikhlasannya (walaupun kecil), agar ibadah yang lain itu menjadi kokoh nilai keikhlasannya, puasalah yang akan melengkapi kekokohannya itu. Dalam hal ini puasa menjadi pelengkap pengokoh keikhlasan ibadah yang lain, Sayyidah Fatimah mengatakan, “Allah mewajibkan puasa untuk mengokohkan keikhlasan.” (Al-Bihar, juz 92, hal. 368).

Orang yang dalam ibadah puasanya tidak berusaha berangkat dari kecintaan kepada Allah (ikhlas), tidak akan pernah bisa mengalahkan iblis. Dan insya Allah iblis akan terus mengganggu puasanya, baik lewat pandangan, pendengaran, ucapan, hati, dan sebagainya. Hal itu berarti kita menambah peluang sendiri untuk mempersilahkan setan untuk menghancurkan ibadah puasa kita. Bukankah ikhlas merupakan syarat ruhani diterimanya sebuah ibadah? Allah berfirman dalam sebuah hadis qudsi, ”Kelak pada hari kiamat akan didatangkan beberapa buku yang telah disegel lalu dihadapkan kepada Allah swt. Pada saat itu Allah berfirman, ’Buanglah catatan ini semuanya.’ Malaikat berkata, ’Demi kekuasaan-Mu, kami tidak melihat amal ini di dalamnya melainkan yang baik-baik saja.’ Selanjutnya Allah berfirman, ’Sesungguhnya amal-amal yang dilakukannya bukan untuk-Ku, dan Aku sesungguhnya tidak akan menerima amal kecuali yang dilaksanakan untuk mencari keridhaan-Ku.” (HR Bazzar dan Thabrani).

Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin-nya menyebutkan perihal makna ikhlas. Rasulullah bersabda, ”Ikhlas adalah bahwa kamu berkata, ’Allah itu Tuhanku.’ Kemudian kamu beristiqamahlah (kepada-Nya) sebagaimana kamu diperintahkan.” Sahl ra berkata, “Ikhlas adalah: Tenang dan gerakan-gerakannya karena Allah swt secara khusus.” Ibrahim bin Adham berkata, ”Ikhlas adalah kebenaran niat beserta Allah swt.” Ruwaim berkata, ”Ikhlas dalam amal adalah bahwa pelakunya tidak menghendaki imbalan atas perbuatan itu pada dua negeri.” Abu Utsman berkata, ”Ikhlas adalah kelupaan melihat makhluk dengan memandang kepada Tuhan Yang Maha Pencipta saja.”

Satu saat Al-Hawariyyun berjumpa dengan Nabi Isa as. Ia bertanya, “Apakah amal yang ikhlas itu?” Nabi Isa menjawab, “Yang beramal kepada Allah swt yang tidak menyukai bahwa seseorang memujinya atas perbuatan tersebut.” Al-Junaid berkata, ”Ikhlas adalah memberihkan amal dari kotoran.” Al-Muhasibi berkata, ”Ikhlas adalah mengeluarkan makhluk daripada hubungan dengan Tuhan.”

Jika kita melihat beberapa pengertian tantang ikhlas tersebut, kita dapat simpulkan ada beberapa syarat ‘sahnya’ ikhlas; pertama, amal yang dikerjakan berangkat dari kecintaan kepada Allah; kedua, terus-menerus (ajek) dalam melaksanakan perintah-Nya; ketiga, beramal bukan didasarkan kepada manusia (mengharapkan pujian); keempat, berusaha membersihkan amal dari kotoran (penyakit hati). Dan bagi orang yang berpuasa, jika ia ingin memperoleh kemenangan dalam melawan setan agar tidak mengoyak puasanya, jalan yang harus ia tempuh adalah berusaha melatih diri untuk berjuang guna mendapatkan predikat termasuk orang yang tersentuh syarat ‘sahnya’ ikhlas.

Berangkat dari kecintaan kepada Allah artinya memahami perwujudan perintah-Nya sebagai bentuk kecintaan dan menjalankan ibadahnya hanya khusus dikhidmatkan kepada Allah semata. Ajek (istiqamah) dalam berpuasa mengandung pengertian hendaknya orang yang berpuasa tetap menjaga dan melaksanakan perintah Allah yang lainnya dan berusaha memposisikan puasanya ke tingkat yang lebih baik. Bagian yang tak kalah pentingnya adalah membebaskan amal kita dari penyakit-penyakit hati (dendam, menggunjing, dusta).

Dengan kata lain, ikhlas dalam berpuasa mengandung arti melaksanakan puasa dengan ketulusan niat yang berangkat dari kecintaan akan melaksanakan perintah-Nya serta membersihkan amal puasa dari segala bentuk kotoran ruhani dengan menyandarkan amal puasa yang hanya dipersembahkan kepada Allah saja.

Hakikat puasa yang benar dan sangat dikehendaki oleh Allah adalah puasa yang dimotivasi oleh maksud mendekatkan diri kepada Allah untuk memperoleh cinta-Nya. Bukan didorong oleh adanya dorongan lain seperti melaksanakan puasa yang didasari ingin memperoleh manfaat berupa kesehatan tubuh dan jiwa, atau menyandarkan puasanya hanya untuk memperoleh hikmah berupa kemuliaan dari puasa. Hal itu semua hanyalah akibat, dan semuanya tidak akan terjadi bila tidak didorong dengan usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh kecintaan.

Meraih keikhlasan bukan merupakan suatu hal yang mudah. Keikhlasan, yang menjadi ukuran diterima tidaknya puasa seseorang, hanya dapat diraih jika bentuk puasa yang kita lakukan dimotivasi semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah guna meraih cinta-Nya. Dan untuk memperoleh cinta Allah, usaha yang harus kita lakukan adalah memperbanyak berbuat baik kepada sesama manusia, khususnya kaum fakir dan miskin. Allah berfirman: Sesungguhnya rahmat (cinta) Allah sangat dekat kepada orang-orang yang melakukan kebaikan. (QS. Al-Araf 56). Dengan seringnya kita berbuat baik kepada sesama manusia, khususnya kaum dhuafa, berarti secara tidak langsung kita membuka dan sekaligus akan memperoleh sebuah rahasia Allah yang disebut ikhlas, Rasul bersabda, ”Allah berfirman: Ikhlas adalah suatu rahasia dari rahasia-Ku yang Kutitipkan hanya kepada hati yang Aku cintai dari hamba-hamba-Ku.” (HR Abdul Qasim Al-Qusyairi dari Imam Ali bin Abi Thalib).

Bagi orang yang berpuasa, jika ingin puasanya disebut dalam kategori puasa kepunyaan Allah dan mendapat balasan langsung dari Allah seperti yang disebut dalam hadis qudsi, ”Sesungguhnya puasa itu milik-Ku dan Akulah yang akan membalasnya,” ia harus mencoba menjadi hamba yang dicintai oleh Allah. Hamba yang dicintai Allah akan mendapatkan rahasia Allah (ikhlas), dan orang yang ikhlas jelas ia akan mendapat posisi yang mulia di hadapan Allah, ia akan mendapat cinta sejati dari Ramadhan. Orang yang mendapat cinta sejati Ramadhan, ia akan memperoleh keutamaan dari berbagai rahasia Ramadhan seperti memperoleh berkah malam Lailatul Qadar, malam yang tak sembarang orang mendapatkan anugerahnya.

Mari kita jemput cinta Ramadhan dengan menempatkan posisi kita sebagai predikat orang yang termasuk kategori menjalankan ‘sah’ ikhlas dalam berpuasa, dan berusaha mencegah diri dari hal yang membatalkan ‘sahnya’ ikhlas dalam puasa dengan menjadikan diri kita sebagai makhluk yang dintai oleh-Nya. Makhluk yang selalu menebar kebaikan kepada sesama manusia, khususnya kaum mustadhafin, yang menjadi syarat berhaknya seseorang untuk memperoleh cinta sejati Ramadhan.

(Dari Kang Djalal)

 ramadhan-mubarak4.gif


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: