Oleh: Anjar Nugroho SB | November 11, 2009

Jihad dan Terorisme

ANTARA JIHAD DAN TERORISME

 

Oleh: Anjar Nugroho

 

A.     Pendahuluan

Jihad menempati posisi yang cukup penting dalam agama Islam. Jihad juga menjadi kata kunci dalam menegakkan dan menjunjung tinggi ajaran Islam, dari awal penyebarannya pada masa Rasulullah sampai saat ini. Karena urgensinya itulah, maka sekelompok umat Islam bahkan menempatkan jihad sebagai rukun Islam yang keenam setelah syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji.

 

Ayat-ayat jihad pun bertebaran dalam al-Qur’an al-Karim dengan beragam kata turunannya. Dari yang bermakna sekuat-kuatnya (jahd), kesungguhan (juhd), atau perjuangan (jihad) (Rahardjo: 516-7). Kata jihad dalam beberapa kesempatan dalam al-Qur’an senafas dengan qital (perang). Pada aspek inilah, jihad yang pada akhirnya banyak disalah pahami sebagian orientalis sebagai sesuatu yang selalu strike againt (menyerang melawan).

 

Karena beberapa peristiwa yang membawa-bawa jihad sebagai alasan dalam melakukan tindak kekerasan, seperti pada era tahun 1970-an di Indonesia muncul kerusuhan sosial yang dipicu oleh gerakan “Komando Jihad”, peristiwa Bom Bali yang setelah pelakunya ditangkap mengaku melakukan itu dalam rangka jihad fi sabilillah dan berbagai tindak kekerasan baik di Indonesia maupun di wilayah lain yang dimotori oleh gerakan Islam radikal, sehingga istilah jihad hampir-hampir telah menimbulkan persepsi yang mengandung unsur pejoratif.

 

Pada akhirnya jihad oleh banyak kalangan non-Muslim dipahami setali tiga uang dengan terorisme. Jika mendengar kata jihad yang terbayang adalah perang, kerusuhan atau bom bunuh diri. Pada titik inilah, makna ajaran suci jihad telah tereduksi sedemian rupa menjadi stigma (noda hitam) dalam sejarah umat. Jihad yang disebut-sebut sebagai sumber kekuatan (doktrin) perjuangan membela agama dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, seperti kemerdekaan, keadilan dan perdamaian, telah menjadi sumber fitnah bagi umat Islam.

 

Untuk itulah, tema jihad perlu diangkat dalam makalah ini untuk mendudukkan kembali secara benar jihad dalam struktur ajaran Islam dan memilah secara cerdas antara jihad dan berbagai macam tindak kekerasan yang dapat dikategorikan sebagai perilaku terorisme.

 

B.     Pengertian Jihad

Jihad dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar dari kata jaahada, jihaadan, wa mujaahadatan. Abu al-Hasan al-Malikiy, dalam buku Kifaayat al-Thaalib, mengatakan, bahwa dalam pengertian bahasa, jihaad diambil dari kata al-jahd yang bermakna al-ta’ab wa al-masyaqqah (kesukaran dan kesulitan). (al-Malikiy, t.t.:3-4)

 

Para ulama berbeda dalam memberi definisi tentang jihad. Secara umum, ulama Salaf mengartikan bahwa jihad adalah suatu usaha optimal untuk memerangi orang-orang kafir pada satu sisi, dan sisi lainnya adalah usaha optimal untuk mengendalikan hawa nafsu dalam rangka mentaati Allah atau lebih dikenal dengan (mujahadatun nafsi), seperti makna kata jihad dalam sabda Rasulullah

المجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله

“Seorang mujahid adalah orang yang mengendalikan hawa nafsunya untuk mentaati Allah”

 

Hasan al-Banna (1965: 87), pemimpin terkemuka Ikhwan al-Muslimin, dalam bukunya, Risalah Jihad, juga cenderung mengartikan  jihad sebagai perjuangan bersenjata dan kata jihad memang dipakai untuk membangkitkan semangat dan motivasi untuk berjuang dengan mempertaruhkan nyawa.

 

Para ulama-ulama fiqih, seperti Ibn Rusyd dalam Bidayah al-Mujtahid memberi nama bab kitab jihad ketika menulis tentang perang dan damai. Hal ini memberi kesan bahwa jihad identik dengan peperangan antara pihak islam vis-à-vis musuh Islam. Tetapi seperti dikatakan oleh Muhammad Ali, memberi judul jihad dalam pembahasan mengenai hukum perang (qital) dalam kitab-kitab fikih klasik adalah karena para ahli fiqih itu, sebagai yuris, ingin menelaah kedudukan hukum dari perang. Dengan meletakkan hukum tentang perang dalam konteks ajaran jihad, maka para ulama sebenarnya telah mengendalikan dan meluruskan persepsi masyarakat tentang perang (Rahardjo: 514)

.

Pengertian yang lebih luas tentang jihad diberikan oleh seorang mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Abuya A.R. Sutan Mansur. Menurut dia, jihad adalah “bekerja sepenuh hati”. Diakuinya, bahwa jihad bisa berbentuk perang, tapi baginya “perintah perang adalah terbatas”. Ia berpendapat bahwa jihad di waktu damai itu adalah berat karena jihad dimaknai sebagai membangun, menegakkan, dan menyusun (Basyir, 1980: 54).

Sejalan dengan pengertian jihad yang diberikan oleh Abuya A.R. Sutan Mansur, dalam Ensiklopedi Dunia Islam Modern, jihad mempunyai makna dasar berikhtiar keras untuk mencapai tujuan yang terpuji. Kata ini bisa berarti perjuangan melawan kecenderungan jahat atau pengerahan daya untuk atau demi Islam dan ummah (Esposito, 2001: 63). Pengertian ini diperkuat oleh pengertian jihad yang telah dirumuskan oleh madzab Hanafi sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab Bada’i’ as-Shana’i’, “Secara literal, jihad adalah ungkapan tentang pengerahan seluruh kemampuan… sedangkan menurut pengertian syariat, jihad bermakna pengerahan seluruh kemampuan dan tenaga dalam berjuang di jalan Allah, baik dengan jiwa, harta, lisan ataupun yang lain. (Kasani, t.t.: 97)

Dua pengertian jihad terdahulu (oleh Sutan Mansur dan dalam Ensiklopedi Dunia Islam Modern), diperkuat oleh Ziauddin Sardar (1979: 45)  yang mengatakan bahwa jihad adalah upaya yang terarah dan menerus untuk menciptakan perkembangan (development) Islam. Itulah, menurut Sardar, yang disebut jihad fi sabilillah atau berjuang di jalan Allah.

 

Dalam konteks kehidupan sekarang ini, muncul predikat-predikat baru di belakang kata jihad, seperti jihad al-da’wah atau jihad al-tarbiyah, yang mengatakan semangat jihad dapat diwujudkan dalam bentuk dakwah dan pendidikan. Ada pula jihad bi al-lisan dan jihad bi al-qalam (jihad dengan perantara lisan dan pena), serta jihad bi al-mal (jihad dengan harta benda). Keseluruhan itu termasuk dalam jihad fi sabilillah atau perjuangan di jalan Allah, yaitu jalan kebenaran (shirat al-mustaqim).

 

C.     Jihad dalam al-Qur’an

Di dalam Al-Qur’an kata jihad dalam berbagai kata bentukannya disebutkan sebanyak 41 kali. Tetapi kata jihad itu sendiri hanya disebut 4 kali. Dari beberapa ayat tersebut, jihad dapat berarti perjuangan yang berat, mengerahkan segenap kemampuan untuk meraih suatu tujuan dan berperang. Jihad yang berarti berperang lebih banyak disebutkan dengan kata “qital”, hanya sebagian kecil yang disebutkan dengan kata “jihad”. Jihad dalam pengertian pertama –bekerja keras dengan seluruh kemampuan- antara lain disebutkan dalam Qs. Luqman/31 : 15:

 

bÎ)ur š‚#y‰yg»y_ #’n?tã br& š‚͍ô±è@ ’Î1 $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ Ÿxsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$|¹ur ’Îû $u‹÷R‘‰9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur Ÿ@‹Î6y™ ô`tB z>$tRr& ¥’n<Î) 4 ¢OèO ¥’n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé’sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ

 

“Apabila keduanya (ibu bapak) berjihad (bersungguh-sungguh hingga letih me-maksamu) untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada bagimu pengetahuan tentang itu (apalagi jika kamu telah mengetahui bahwa Allah tidak boleh dipersekutukan dengan sesuatu apapun), jangan taati mereka, namun pergauli keduanya di dunia dengan baik.”

 

 

Ayat pertama yang menggunakan kata jihad adalah yang termaktub dalam Qs. Al-Furqan/25: 52:

Ÿxsù ÆìÏÜè? šúï͍Ïÿ»x6ø9$# Nèdô‰Îg»y_ur ¾ÏmÎ/ #YŠ$ygÅ_ #ZŽÎ7Ÿ2 ÇÎËÈ

“Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar”.

 

 

Ayat yang turun di Makkah ini berbicara mengenai fungsi al-Qur’an, yaitu sebagai alat ukur untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil. Dalam ayat ini, al-Qur’an adalah “senjata perjuangan”. Ia dibuka dengan kata-kata (Qs. Al-Furqan/25: 1:

x8u‘$t6s? “Ï%©!$# tA¨“tR tb$s%öàÿø9$# 4’n?tã ¾Ínωö6tã tbqä3u‹Ï9 šúüÏJn=»yèù=Ï9 #·ƒÉ‹tR ÇÊÈ

“Maha Suci Allah yang Telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”.

 

Selanjutnya, ayat-ayat dalam surat ini berbicara mengenai keesaan Allah dan menolak tuduhan orang-orang kafir dan musyrik yang menganggap al-Qur’an sebagai “dongeng orang-orang terdahulu” (asathiru al-awwalin), yang dibacakan pada pagi dan petang. Tentang tuduhan itu, surat ini menjawab (Qs. Al-Furqan/25: 6):

ö@è% ã&s!t“Rr& “Ï%©!$# ãNn=÷ètƒ §ŽÅc£9$# ’Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur 4 ¼çm¯RÎ) tb%Ÿ2 #Y‘qàÿxî $\KŠÏm§‘ ÇÏÈ

Katakanlah: “Al Quran itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

 

Penduduk di Makkah waktu itu juga menggugat peran Nabi dan mempertanyakan (Qs. Al-Furqan/25: 7):

(#qä9$s%ur ÉA$tB #x‹»yd ÉAqߙ§9$# ã@à2ù’tƒ uQ$yè©Ü9$# ÓÅ´ôJtƒur †Îû É-#uqó™F{$#   Iwöqs9 tA̓Ré& Ïmø‹s9Î) ҁn=tB šcqä3uŠsù ¼çmyètB #·ƒÉ‹tR ÇÐÈ

“Dan mereka berkata: “Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama- sama dengan dia”

 

Orang-orang Makkah tidak bisa mengerti mengapa seorang manusia biasa yang berjual beli di pasar seperti yang dilakukan oleh Rasulullah, karena pekerjaan beliau sebagai pedagang, bisa dipilih sebagai Rasul. Maka kemudian ayat-ayat al-Qur’an turun tentang kejadian langit dan bumi dan tanda-tanda kekuasaan Allah dalam berbagai peristiwa alam. Dengan keterangan-keterangan seperti itulah Rasulullah harus berjuang terhadap orang-orang yang menolak (kafir). Dalam situasi seperti ini, Rasulullah berjuang sekuat tenaga untuk bisa menginsafkan masyarakat. Dan senjata yang dipakai adalah al-Qur’an (Qs. Al-Furqan/25: 51-52):

öqs9ur $oYø¤Ï© $oY÷Wyèt7s9 ’Îû Èe@à2 7ptƒös% #\ƒÉ‹¯R ÇÎÊÈ Ÿxsù ÆìÏÜè? šúï͍Ïÿ»x6ø9$# Nèdô‰Îg»y_ur ¾ÏmÎ/ #YŠ$ygÅ_ #ZŽÎ7Ÿ2 ÇÎËÈ

“Dan Andaikata kami menghendaki benar-benarlah kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar”.

 

Dari ayat ini dapat disimpulkan mengenai makna jihad, yaitu suatu perjuangan berat yang harus dilaksanakan Rasulullah untuk memberi penjelasan mengenai keesaan Allah kepada masyarakat yang masih cenderung politeis (menyembah banyak Tuhan) dengan bahan-bahan bacaan dalam al-Qur’an.

 

Kata-kata jihad disebut dua kali dalam satu ayat (jahada dan yujahidu) yang mengandung arti berjuang. Hal itu disebut Allah dalam Qs. Al-‘Ankabut/29:6:

`tBur y‰yg»y_ $yJ¯RÎ*sù ߉Îg»pgä† ÿ¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9 4 ¨bÎ) ©!$# ;ÓÍ_tós9 Ç`tã tûüÏJn=»yèø9$# ÇÏÈ

“Dan barangsiapa yang berjihad, Maka Sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.

 

Dalam ayat tersebut, jihad dimaknai sebagai perjuangan di jalan Allah dalam arti yang seluas-luasnya. Dan jika dihubungkan (munasabatu al-ayat) dengan ayat berikutnya, maka yang menjadi inti dari pesan Allah tentang jihad ini adalah iman dan amal shalih. Perhatikan ayat Qs. Al-‘Ankabut/29:7 berikut:

 

tûïÏ%©!$#ur (#qãZtB#uä (#qè=ÏHxåur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# ¨btÏeÿs3ãZs9 óOßg÷Ytã ôMÎgÏ?$t«Íh‹y™ ôMßg¨YtƒÌ“ôfuZs9ur z`|¡ômr& “Ï%©!$# (#qçR%x. tbqè=yJ÷ètƒ ÇÐÈ

Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”.

 

Beriman membutuhkan kesungguhan (jihad), begitu pula beramal shalih. Iman seseorang akan mendapat ujian dari Allah untuk mengukur kedalaman dan kesungguhan iman. Dan seseoang yang lolos dari ujian itu – yang bisa berupa musibah, celaan dari orang lain, dan sebagainya – maka keimanannya mengalami kenaikan (eskalatif). Hal ini disampaikan Allah dalam  Qs. Al-‘Ankabut/29:2:

|=Å¡ymr& â¨$¨Z9$# br& (#þqä.uŽøIムbr& (#þqä9qà)tƒ $¨YtB#uä öNèdur Ÿw tbqãZtFøÿムÇËÈ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”

 

Begitu pula amal shalih, dalam aplikasinya pada realitas sehari-hari membutuhkan jihad (kesungguhan). Amal shalih adalah jihad untuk mengorbankan harta yang disukai kepada orang lain yang membutuhkan, diantaranya fakir-miskin, anak yatim, kerabat atau ibn sabil (Q.s. al-Baqarah/2: 177). Amal shalih juga berarti jihad untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar (Qs. Ali Imran/3: 104, 110). Atau amal shalih juga bisa dimaknai sebagai jihad untuk menuntut ilmu demi kemajuan dan kemashlahatan umat (Qs. Al-Kahfi/16: 64-70).

 

Dari beberapa paparan ayat-ayat jihad di atas, dapat disimpulkan sementara bahwa jihad adalah kesungguhan untuk berjuang di jalan Allah dengan melakukan penyadaran terhadap suatu kaum yang masih berbalut dengan kemusyrikan. Jihad juga adalah kesungguhan untuk mempertahankan dan meningkatkan kadar keimanan setelah melalui berbagai cobaaan. Dan jihad juga merupakan perjuangan yang sungguh-sungguh merealisasikan amal shalih dalam arti seluas-luasnya dalam ranah kehidupan nyata.

 

Dan bagaimana tentang ayat-ayat jihad yang terkait dengan perang (qital)? Untuk masalah ini, perlu dicermati sekali lagi ayat-ayat tentang qital, seperti dalam Qs. Al-Anfal/8: 39:

öNèdqè=ÏG»s%ur 4Ó®Lym Ÿw šcqä3s? ×puZ÷GÏù tbqà6tƒur ß`ƒÏe$!$# ¼ã&—#à2 ¬! 4 ÂcÎ*sù (#öqygtGR$#  cÎ*sù ©!$# $yJÎ/ šcqè=yJ÷ètƒ ׎ÅÁt/ ÇÌÒÈ  

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan”.

 

Senafas dengan ayat di atas, adalah ayat-ayat yang terdapat dalam Qs. Al-Baqarah/2: 190-193:

(#qè=ÏG»s%ur ’Îû È@‹Î6y™ «!$# tûïÏ%©!$# óOä3tRqè=ÏG»s)ムŸwur (#ÿr߉tG÷ès? 4 žcÎ) ©!$# Ÿw =ÅsムšúïωtG÷èßJø9$# ÇÊÒÉÈ öNèdqè=çFø%$#ur ß]ø‹ym öNèdqßJçGøÿÉ)rO Nèdqã_̍÷zr&ur ô`ÏiB ß]ø‹ym öNä.qã_t÷zr& 4 èpuZ÷FÏÿø9$#ur ‘‰x©r& z`ÏB È@÷Gs)ø9$# 4 Ÿwur öNèdqè=ÏG»s)è? y‰ZÏã ωÉfó¡pRùQ$# ÏQ#tptø:$# 4Ó®Lym öNä.qè=ÏF»s)ムÏmŠÏù ( bÎ*sù öNä.qè=tG»s% öNèdqè=çFø%$$sù 3 y7Ï9ºx‹x. âä!#t“y_ tûï͍Ïÿ»s3ø9$# ÇÊÒÊÈ ÈbÎ*sù (#öqpktJR$# ¨bÎ*sù ©!$# ֑qàÿxî ×LìÏm§‘ ÇÊÒËÈ öNèdqè=ÏG»s%ur 4Ó®Lym Ÿw tbqä3s? ×poY÷FÏù tbqä3tƒur ßûïÏe$!$# ¬! ( ÈbÎ*sù (#öqpktJR$# Ÿxsù tbºurô‰ã㠞wÎ) ’n?tã tûüÏHÍ>»©à9$# ÇÊÒÌÈ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan Bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka Telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), Maka Bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir. Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu Hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.”

 

 

Pertama-tama yang harus dipahami ketika membaca ayat-ayat itu adalah konteks mikro dan makro yang menyertai turunnya ayat. Telah diketahui secara jamak bahwa hampir setengah dari sejarah Islam pada masa Rasulullah (saat turun ayat-ayat al-Qur’an) adalah situasi konfliktual antara kaum Muslimin dan kaum kafir Quraisy. Pada beberapa kasus, situasi konfliktual itu berujung pada peperangan fisik yang melibatkan kekuatan penuh antara kedua belah pihak. Secara historis konflik itu berakhir saat peristiwa yang kemudian diabadikan dengan nama fathu al-Makkah.

 

Suasana perang kala itu harus disertakan secara linier pada ayat-ayat yang terkait dengan jihad dalam pengertian perang (qital). Pada ayat Q.s. al-Baqarah/2:190 berbicara tentang kapan peperangan dimulai, yaitu disaat kaum kafir Quraisy menyerang umat Islam. Posisi umat Islam saat itu sebagai pihak yang bertahan (didhalimi) atas serangan pihak lain yang ingin mengusasi dan tentunya menghalagi umat Islam dalam melakukan ajaran-ajarannya. Teori perang manapun dan kapanpun tentu memaklumi situasi seperti ini yang tergambar dalam Q.s. al-Baqarah/2:191-192.

 

Perang itu sendiri harus diakhiri di saat ancaman fitnah oleh kaum kafir Quraisy dapat dipadamkan oleh kekuatan Islam seperti disampaikan dalam Q.s. al-Baqarah/2:193, karena tujuan peperangan dalam Islam adalah menghentikan kedhaliman dan penganiayaan, bukan ingin menguasai dan memaksa kaum atau pihak lain menerima ajaran Islam. Penguasaan dan pemaksaan agama Islam kepada pihak lain tentunya bertentangan dengan Qs. Al-Baqarah/2: 256:

Iw on#tø.Î) ’Îû ÈûïÏe$!$# ( ‰s% tû¨üt6¨? ߉ô©”9$# z`ÏB ÄcÓxöø9$# 4 `yJsù öàÿõ3tƒ ÏNqäó»©Ü9$$Î/ -ÆÏB÷sãƒur «!$$Î/ ωs)sù y7|¡ôJtGó™$# Íouróãèø9$$Î/ 4’s+øOâqø9$# Ÿw tP$|ÁÏÿR$# $olm; 3 ª!$#ur ìì‹Ïÿxœ îLìÎ=tæ ÇËÎÏÈ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.

 

Memberi kebebasan atau keleluasaan kepada orang lain untuk menyakini dan mengamalkan ajaran agamanya adalah menjadi prinsip dalam ajaran Islam. Dalam hal ini menjadi semata-mata urusan Allah untuk menilai dan meminta pertanggungjawaban kepada masing-masing penganut keyakinan itu, seperti yang tergambar dalam Qs. Al-Kafirun/109: 1-6:

ö@è% $pkš‰r’¯»tƒ šcrãÏÿ»x6ø9$# ÇÊÈ Iw ߉ç6ôãr& $tB tbr߉ç7÷ès? ÇËÈ Iwur óOçFRr& tbr߉Î7»tã !$tB ߉ç7ôãr& ÇÌÈ Iwur O$tRr& ӉÎ/%tæ $¨B ÷L–n‰t6tã ÇÍÈ Iwur óOçFRr& tbr߉Î7»tã !$tB ߉ç6ôãr& ÇÎÈ ö/ä3s9 ö/ä3ãYƒÏŠ u’Í<ur Èûïϊ ÇÏÈ

“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.  Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

 

Kalau diperhatikan sekali lagi penggalan terakhir Qs. Al-Baqarah/2: 193:

ÈbÎ*sù (#öqpktJR$# Ÿxsù tbºurô‰ã㠞wÎ) ’n?tã tûüÏHÍ>»©à9$# ÇÊÒÌÈ

“…jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.”

 

Cuplikan ayat ini menggambarkan betapa sesungguhnya stressing (penekanan) ajaran Islam, bahkan pada ayat qital sekalipun, adalah perdamaian. Perang menjadi jalan terakhir ketika umat Islam pada posisi didhalimi dan diserang. Sedemikan penting penghentian perang dan keinginan kuat al-Qur’an untuk menciptakan perdamaian, sehingga Allah mengingatkan dalam Qs. Al-Anfal/8: 61:

* bÎ)ur (#qßsuZy_ ÄNù=¡¡=Ï9 ôxuZô_$$sù $olm; ö@©.uqs?ur ’n?tã «!$# 4 ¼çm¯RÎ) uqèd ßìŠÏJ¡¡9$# ãLìÎ=yèø9$# ÇÏÊÈ

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, Maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”

 

D.    Jihad dan Terorisme

TerorIsme sebagaimana definidsi dalam e-dictionary Wikipedia, adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil.

 

Masih menurut Wikipedia, banyak pendapat yang mencoba mendefinisikan terorisme, satu diantaranya adalah pengertian yang tercantum dalam pasal 14 ayat 1 The Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) act, 1984, sebagai berikut: “Terrorism means the use of violence for political ends and includes any use of violence for the purpose putting the public or any section of the public in fear.”

Kegiatan Terorisme mempunyai tujuan untuk membuat orang lain merasa ketakutan sehingga dengan demikian dapat menarik perhatian orang, kelompok atau suatu bangsa. Biasanya perbuatan teror digunakan apabila tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk melaksanakan kehendaknya. Terorisme digunakan sebagai senjata psikologis untuk menciptakan suasana panik, tidak menentu serta menciptakan ketidak percayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dan memaksa masyarakat atau kelompok tertentu untuk mentaati kehendak pelaku teror. Terorisme tidak ditujukan langsung kepada lawan, akan tetapi perbuatan teror justru dilakukan dimana saja dan terhadap siapa saja. Dan yang lebih utama, maksud yang ingin disampaikan oleh pelaku teror adalah agar perbuatan teror tersebut mendapat perhatian yang khusus atau dapat dikatakan lebih sebagai psy-war.

Dengan pengertian yang demikian itu, maka secara sepintas dapat disimpulkan bahwa antara terorisme dan jihad adalah jauh panggang dari api, baik dari segi tujuan, motif maupun modus. Tujuan jihad adalah kemaslahatan dan hilangnya kedhaliman serta dengan motif untuk menegakkan nilai-nilai luhur agama dan modus yang tidak boleh melanggar hak orang lain, sedangkan terorisme mempunyai tujuan memperjuangangkan kepentingan sempit pribadi maupun kelompok, dan motif ingin membuat sensasi (menarik perhatian publik dengan aksinya) serta modusnya dengan berbuat kerusakan yang melanggar hak-hak orang lain, termasuk hak hidup.

 

Senada dengan itu, dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 3 Tahun 2004 tentang terorisme dijelaskan secara mendasar karakteristik yang membedakan antara jihad dan terorisme yaitu; Pertama, jihad sifatnya melakukan perbaikan (ishlah) sekalipun dengan cara peperangan, sedangkan terorisme bersifat merusak (ifsad) dan anarkhis/chaos (faudha). Kedua, jihad bertujuan untuk menegakkan agama Allah dan/atau membela hak-hak pihak yang terzholimi, sementara terorisme bertujuan untuk menciptakan rasa takut dan/atau menghancurkan pihak lain.

 

Ketiga, jihad dilakukan dengan mengikuti aturan yang ditentukan oleh syariat dengan sasaran musuh yang sudah jelas, sedangkan terorisme dilakukan tanpa aturan dan sasaran tanpa batas (indiskriminatif) (Sunu, 2009). Di samping itu Allah SWT melarang keras tindakan terorisme ini yang tercermin dalam firman-Nya antara lain, (Qs. Al-Maidah/5: 33):

$yJ¯RÎ) (#ätÂt“y_ tûïÏ%©!$# tbqç/͑$ptä† ©!$# ¼ã&s!qߙu‘ur tböqyèó¡tƒur ’Îû ÇÚö‘F{$# #·Š$|¡sù br& (#þqè=­Gs)ム÷rr& (#þqç6¯=|Áム÷rr& yì©Üs)è? óOÎgƒÏ‰÷ƒr& Nßgè=ã_ö‘r&ur ô`ÏiB A#»n=Åz ÷rr& (#öqxÿYムšÆÏB ÇÚö‘F{$# 4 šÏ9ºsŒ óOßgs9 ӓ÷“Åz ’Îû $u‹÷R‘‰9$# ( óOßgs9ur ’Îû ÍotÅzFy$# ë>#x‹tã íOŠÏàtã ÇÌÌÈ

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar”

 

Disebut pula dalam Q.s al-Maidah/5: 32:

ô`ÏB È@ô_r& y7Ï9ºsŒ $oYö;tFŸ2 4’n?tã ûÓÍ_t/ Ÿ@ƒÏäÂuŽó Î) ¼çm¯Rr& `tB Ÿ@tFs% $G¡øÿtR ΎötóÎ/ C§øÿtR ÷rr& 7Š$|¡sù ’Îû ÇÚö‘F{$# $yJ¯Rrx6sù Ÿ@tFs% }¨$¨Z9$# $Yè‹ÏJy_ ô`tBur $yd$uŠômr& !$uK¯Rr’x6sù $uŠômr& }¨$¨Y9$# $Yè‹ÏJy_ 4 ô‰s)s9ur óOßgø?uä!$y_ $uZè=ߙ①ÏM»uZÉit7ø9$$Î/ ¢OèO ¨bÎ) #ZŽÏWx. Oßg÷YÏiB y‰÷èt/ šÏ9ºsŒ ’Îû ÇÚö‘F{$# šcqèùΎô£ßJs9 ÇÌËÈ

“Oleh Karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain], atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah dia Telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya Telah datang kepada mereka rasul-rasul kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, Kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi”.

 

Dengan demikian, maka tidak ada dalil dan alasan yang kuat bagi mereka yang mengatakan bahwa terorisme adalah jihad, dan begitu pula bagi mereka yang melakukan tindakan terorisme atas nama jihad. Oleh sebab itu terorisme sama sekali tidak dapat dibenarkan.

 

E.     Bom Bunuh Diri: Jihad atau Teror?

Para aktor bom Bali dikala belum dikesekusi mati, diantaranya Imam Samudra,  Jangankan menyesali perbuatannya, malah menganggap aksinya sebagai jihad fi sabilillah dan mengajak umat Islam untuk mengikuti. Pengakuan tersebut tertuang dalam bukunya, “Aku Melawan Teroris!” terbitan Jazera, Solo, 2004 (Romli, 2005). Jika itu jihad, dalam keyakinan mereka, mati adalah pintu gerbang menuju jalan tol yang menghantarkan mereka menuju surga.

 

Apa yang diyakini Imam Samudra cs., diyakini pula oleh para pelaku bom bunuh diri baik yang di Bali  sampai di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton yang terletak di kawasan Mega Kuningan Jakarta. Seakan mereka tidak peduli dengan banyaknya korban dari warga biasa yang tentunya tidak ada sangkut-pautnya sama sekali dengan “musuh yang harus diserang” dalam bayangan para pelaku bom itu.

 

Apakah yang mereka lakukan itu bisa dikatakan jihad, yang bernilai tinggi dihadapan Allah atau bagian dari kegiatan terorisme yang melanggar secara berat hak manusia? Pertanyaan ini tentu sederhana saja untuk dijawab, karena jika menilik ajaran Islam, maka bisa dipastikan bahwa ajaran suci ini tidak akan pernah merestui motif apapun bom bunuh diri.

 

Pada zaman Nabi, dalam situasi perang sekalipun, jatuhnya korban sebisa mungkin bisa diminimalisir, dan jangan sampai orang-orang yang tidak berdosa (dalam konteks ini anak-anak dan perempuan) jatuh menjadi korban. Bandingkan dengan perilaku teror bom bunuh diri yang korbannya tidak pandang bulu. Pesan Allah dalam Qs. Al-Mumtahanan/60: 8, bisa menjadi renungan:

žw â/ä38yg÷Ytƒ ª!$# Ç`tã tûïÏ%©!$# öNs9 öNä.qè=ÏG»s)ム’Îû ÈûïÏd‰9$# óOs9ur /ä.qã_̍øƒä† `ÏiB öNä.̍»tƒÏŠ br& óOèdr•Žy9s? (#þqäÜÅ¡ø)è?ur öNÍköŽs9Î) 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä† tûüÏÜÅ¡ø)ßJø9$# ÇÑÈ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”.

 

Kata dhamir hum pada ayat itu merujuk kepada orang kafir yang hidup damai berdampingan dengan umat Islam. Bahkan kalau diperhatikan pada ayat sebelumnya (Qs. Al-Mumtahanan/60: 7), justru Allah menganjurkan untuk mencurahkan kasih sayang kepada mereka.

* Ó|¤tã ª!$# br& Ÿ@yèøgs† ö/ä3oY÷t/ tû÷üt/ur tûïÏ%©!$# NçF÷ƒyŠ$tã Nåk÷]ÏiB Zo¨Šuq¨B 4 ª!$#ur ֍ƒÏ‰s% 4 ª!$#ur ֑qàÿxî ×LìÏm§‘ ÇÐÈ

“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. dan Allah adalah Maha Kuasa. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

 

Lebih dari itu, Islam juga menetapkan aturan main untuk berjihad dalam arti perang berupa batasan untuk tidak memerangi anak-anak, wanita, dan orang jompo, sebab mereka adalah kaum lemah yang tidak pantas untuk menjadi korban, sehingga mereka harus dilindungi. Aturan yang sungguh mulia ini Allah tetapkan dalam (QS. Al-Baqarah/2: 190):

(#qè=ÏG»s%ur ’Îû È@‹Î6y™ «!$# tûïÏ%©!$# óOä3tRqè=ÏG»s)ムŸwur (#ÿr߉tG÷ès? 4 žcÎ) ©!$# Ÿw =ÅsムšúïωtG÷èßJø9$# ÇÊÒÉÈ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

 

 

Bom bunuh diri, disamping menganiaya bahkan menghilangkan nyawa orang lain yang semetinya dijaga, juga menganiaya dan menghilangkan nyawa diri para pelaku bom bunuh diri itu. Tentang hal ini Rasulullah secara tegas menyatakan pelakunya (orang yang bunuh diri) berdosa besar dan akan menerima akibat buruk di akherat kelak. Sebagaimana hadis riwayat Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah ra:

 من قتل نفسه بحديدة فحديدته في يده يتوجأ بها في بطنه في نار جهنم خالدا مخلدا فيها أبدا ومن شرب سما فقتل تفسه فهو يتحساه في نار جهنم خالدا مخلدا فيها أبدا ومن تردى من جبل فقتل نفسه فهو يتردى في نار جهنم خالدا مخلدا فيها أبدا

 

“Barangsiapa yang bunuh diri dengan besi di tangannya, dia (akan) menikam perutnya di dalam neraka jahannam yang kekal (nantinya), (dan) dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa yang meminum racun lalu bunuh diri dengannya, maka dia (akan) meminumnya perlahan-lahan di dalam neraka jahannam yang kekal, (dan) dikekalkan di dalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya dari atas gunung, dia akan jatuh ke dalam neraka jahannam yang kekal (dan) dikekalkan di dalamnya selama-lamanya.”

 

Senada dengan hadis itu, sabda Rasulullah yang lain diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Tsabit bin Dhahhak ra:

ومن قتل نفسه بشيئ في الدنيا عذب به يوم القيامة

“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu di dunia, maka dia disiksa dengan (alat tersebut) pada hari kiamat.”

 

Memperhatikan keterangan ayat al-Qur’an dan hadis di atas, dapat didimpulkan bahwa bom bunuh diri adalah dilarang dalam agama Islam karena akibat dari perbuatan itu merusak diri sendiri maupun orang lain. Sehingga bom bunuh diri bisa dikategorikan sebagai bagian dari terorisme dari pada jihad fi sabilillah.

 

F.      Penutup

Dari uraian di atas, secara umum dapat disimpulkan bahwa terorisme bukan menjadi bagian dari jihad. Masing mempunyai karakteristik yang berbeda, walaupun kebanyakan orang masih menyalahpahami dengan menyamakan antara keduanya. Lewat penelusuran ayat-ayat al-Qur’an dapat diketahui bahwa tindakan terorisme melanggar ketentuan syari’at Islam. Dan jika merujuk kepada fatwa yang dikeluarkan oleh MUI bahwa jihad hukumnya wajib, sementara terorisme hukumnya adalah haram, baik dilakukan oleh perorangan, kelompok, maupun negara. Serta yang terakhir, bahwa bom bunuh diri secara nyata adalah bagian dari tindakan teror dan tidak bisa dibenarkan dengan motif apapun termasuk jihad fi sabilillah. Jihad mempunyai tujuan mulia dan harus dikerjakan dengan cara-cara mulia dan beradab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Banna, Hassan, “Risalah al-Jihad”, dalam Majmu’ah Rasail al-Imam asy-Syahid Hasan al-Banna, Beirut: Dar al-Andalus, 1965.

 

Al-Kaasaaniy, ‘Ilaa’ al-Diin, Badaai’ al-Shanaai’, juz VII, Beirut: Dar al-Fikr, t.t.

 

Al-Malikiy,  Abu al-Hasan, Kifaayat al-Thaalib, juz 2/3-4, Beirut: Dar al-Fikr, t.t.

 

Basyir, Akhmad Azhar, Falsafah Ibadah dalam Islam, Yogyakarta: Perpustakaan Pusat UII, 1980.

 

Esposito,  John L. (ed), Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern, Bandung: Penerbit Mizan, 2001

 

Romli, M. Guntur, “Jihad Melawan Terorisme”, dalam http://islamlib.com/id/artikel/jihad-melawan-terorisme/, diakses tanggal 2 November  2009

 

Sardar, Ziauddin, Rekayasa Masa Depan Umat Islam, Bandung: Mizan, 1979

 

Sunu, Handika Fuji,Antara Jihad dan Terorisme” dalam http://www.analisadaily.com/index.php?option=com, diakses tanggal 2 November  2009

 

http://id.wikipedia.org/wiki/Terorisme

 

 

 

 


Responses

  1. terus bagaimana terkait dengan mereka yg suka menggembor-gemborkan bahwa terorisme dan bom bunuh diri bagian dari jihad? apa dalil yang mereka kemukakan sehingga bisa membawa daya tarik bagi sekelompok orang?

  2. Ust. ana bersyukur setelah membaca dan memperhatikan sub bab yg berjudul Bom bunuh diri jihad atau teror, menurut ana itu merupakan teror dan model pembunuhan karakter yg mengatas namakan Agama (jihad fi sabilillah)..mungkin untuk menambah kelengkapan blog ini perlu di jelaskan dan di tulis mengenai Fakto-faktor yg menyebabkan adanya bom bunuh diri yg ngtas namakan jihad fi sabilillah, dan idiologi teroris..Syukran jazilan Ust.
    kesalahn Penafsiran ayat dalm al-Qura’an yg keliri sgt berpengruh besar..

  3. Assalamu’alaikum
    Menurut saya , untuk pengertian jihad perlu di tambahkan Q.S An-Nisa 77-78 yang berisi penjelasan tentang ” Tahanlah tanganmu dari berperang”.
    Maksudnya bahwa ‘ memperingatkan umat muslim, sebelum mengangkat senjata dan berperang hendaklah berbenah diri terlebih dahulu’, dan untuk semangat dan motivasi berjuang dengan mempertaruhkan nyawa perlu dijelaskan cara-cara memotivasi dalam diri para Mujahid

    • Setuju, dengan pendapat anda, sudah banyak hal yang perlu diperjuangkan bukan dengan cara kekerasan. a seperti ini adalah olah pola pikir yang harus di kembangkan, itu sebagai refleksi dari jihad selain kekerasan. di era seperti saat ini adalah perang pemikiran, jadi ummat islam harus waspada.

  4. Assalamu’alaikum ustad, artikelnya sudah bagus.
    tapi saya mengusulkan kalo di tambahi dengan ayat-ayat yang di kategorikan sebagai bentuk fisabilillah, misalnya Q.S at-taubah:120 , al-baqarah:218 ,190, 261 ,273, sehingga dengan ayat tersebut untuk memperjelas bukan hanya memerangi orang kafir saja yang dikatakan sebagai bentuk fisabilillah.

  5. Assalamu’alaikum
    menurut saya perlu di tambahkan kata kunci tentang jihad, seperti perang (harb) dan orang yang berperang (muharib) yang terkandung dalam Q.S al-maidah:6

  6. blog tentang jihadnya cukup jelas dan mudah untuk dimengerti, namun alangkah baiknya jika ditambah tentang cara-cara menghindari persepsi tentang jihad yang disalah gunakan selama ini..apalagi di Indonesia yang identik dengan adanya terorisme

  7. nama:rizka lu’lu atuz zahroh
    nim:0906010043
    saya sependapat dengan yang diatas yaitu jihad dan terorisme berbeda jauh karena tujuan jihad adalah kemaslahatan dan hilangnya kedhaliman serta dengan motif untuk menegakkan nilai-nilai luhur agama, sedangkan tujuan terorisme adalah memperjuangkan kepentingan sempit pribadi maupun kelompok, dan motif ingin membuat sensasi (menarik perhatian publik dengan aksinya), tetapi pada zaman sekarang ini sudah disyariatkan oleh orang-orang bahwa terorisme dan jihad sama-sama berperang dijalan alloh

  8. kok huruf Al Qur’an nya ada yang tidak kelihatan tad

  9. nama : Immawan Muhammad Ghufron
    NIM : 1006010014
    saya setuju dengan pendapat bapak bahwa jihad dan terorisme sangatlah beda jauh, jihad bertujuan untuk kemaslahatan dan menghilangkan kedzaliman sehingga nilai – nilai luhur dalam agama dapat ditegakan. sedangkan terorisme bertujuan tujuan untuk membuat orang lain merasa ketakutan sehingga dengan demikian dapat menarik perhatian orang, kelompok atau suatu bangsa. terorisme sendiri dilakukan karena suatu kelompok atau perseorangan apabila tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk melaksanakan kehendaknya.

  10. Assalamualaikum Ustadz, setelah membaca artikel ini, saya mulai mendapat gambaran dan perbandingan, perbedaan yang jelas. Sejalan dengan apa yang di sampaikan di atas, dapat menjadi satu gambaran menurut saya, sudah barang tentu ANTARA JIHAD DAN TERORISME itu sangat berbeda, Jihad adalah menegakkan agama Allah SWT, dan pada intinya adalah menegakkan nilai-nilai ajaran Islam yang lurus. Sedangkan, terorisme adalah suatu tindakan kejahatan yang nyata, menggunakan doktrin yang destruktif(merusak) untuk anggotanya dengan pemahaman yang subyektif, dengan cara meneror, mengorbankan nyawa, membunuh orang dan dalam tindakannya mengatasnamakan Jihad, padahal sudah jelas bahwa jihad adalah melahirkan kebaikan dan membunuh keburukan di muka bumi. Terima kasih Ustadz,

    AJI YOGA PIGUNA (1106010015)

  11. assalamualaikum wr.wb,,
    sungguh luar biasa apa yang dikemukakan dalam artikel ustadz anjar yang cukup detail,,
    dan setelah membaca artikel yang ditulis ustadz saya pribadi merasa ingin berjuang dijalan Allah seperti yang sudah-sudah pada zaman Rasulullah,
    betapa luar biasanya pahala yang didapatkan ketika berjihad,,
    tetapi untuk zaman sekarang ini mungkin dengan belajar dan menuntut ilmu memperdalam ajaran agama Islam merupakan salah satu jihad dari saya,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: