Oleh: Anjar Nugroho SB | Oktober 3, 2014

Hizbul Wathan (HW)

REVITALISASI GERAKAN ISLAM DI PERGURUAN TINGGI:

MENYOAL HIZBUL WATHAN

 

Oleh : Anjar Nugroho, S.Ag., M.S.I.

  1. Pendahuluan

Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan sebagai bagian dari gerakan kepanduan mempunyai peran yang sangat strategis untuk terlibat dalam proses pembangunan karakter generasi muda. Pelbagai problematika keummatan dan kebangsaan yang bersumber dari degradasi moral generasi muda adalah lahan kerja dan dakwah gerakan kepanduan HW. Sesuai dengan semangat Pandu HW yang selalu menanamkan sifat-sifat mulia atau ihsan di manapun berada. Semangat tersebut diharapkan tidak berhenti pada tataran semangat dan ide semata, akan tetapi bisa mewujud dalam sebuah gerakan sistematis dan terstruktur sehingga tujuan dan cita-cita kepanduannya dapat menjadi realitas yang historis.

HW di perguruan tinggi sejalan dengan semangat pendidikan tinggi menyeimbangkan antara pendidikan berbasis keilmuan (hard skill) dengan pendidikan berbasis karakter dan sifat-sifat kepribadian (soft skill). HW dalam konteks ini dapat memainkan peran dalam wilayah pendidikan sotfskill melalui pelbagai kegiatan dan aktivitas.

Dalam makalah ini mencoba untuk dielaborasi lebih dalam bagaimana Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan dapat mengambil peran yang signifikan dalam proses pendidikan dan kaderisasi generasi muda untuk membangun kader-kader masa depan baik untuk persyarikatan maupun untuk bangsa yang unggul dan berkarakter. Lebih-lebih jika HW tersebut berada dalam wilayah perguruan tinggi yang mempunyai tanggung jawab menelorkan intelektual-intelektual yang nota benenya adalah para aktor perubahan sosial dan peradaban manusia di masa yang akan datang.

  1. Idealitas Kader Muhammadiyah

Dalam gerakan atau organisasi manapun, termasuk Muhammadiyah terdapat elemen penting yaitu pimpinan, kader dan anggota. Kader atau cadre (bahasa Perancis) berarti inti tetap dari suatu resimen. Kader adalah Sekelompok manusia (ummah, jamaah) yang terbaik karena terlatih ( dan terdidik) yang merupakan inti dan tulang punggung (kerangka) dari kelompok yang lebih besar dan terorganisir secara permanen.

Menurut Prof. Dr.HM. Amin Rais (1995) menyatakan bahwa kader memiliki 2 (dua) pengertian pertama. Kader adalah Sejumlah manusia yang terorganisir secara permanen, yang menjadi soko guru dari kesatuan yang lebih besar Kedua .Kader yaitu kaum remaja atau kaum muda yang akan melanjutkan estafet perjuangan dari oranganisasi yang bersangkutan.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana idealitas kader Muhammadiyah yang dimaksud. Beberapa rumusan normatif dari sumber-sumber otoritatif Muhammadiyah menjelaskan tentang sosok kader Muhammadiyah. Sosok ini tentu adalah makhluq imajiner yang mencoba diposisikan sebagai batas idealitas manusia unggul yang ingin diwujudkan oleh Muhammadiyah melalui institusi dan kegiatan-kegiatan kaderisasi yang berada di bawah persyarikatan Muhammadiyah.

Profil kader Muhammadiyah yang ideal minimal memiliki 4 (empat) kompetensi yaitu (1). Kompetensi keberagamaan (2) Kompetensi akademis dan intelektual, (3).Kompetensi sosial kemanusiaan dan kepeloporan dan (4) Kompetensi keorganisasian dan kepemimpinan:

  1. Kompetensi keberagamaan.

Kader Muhammadiyah membekali diri dengan pemahaman keagamaan yang lebih baik , dengan ciri-ciri sebagai berikut :

1) Kemurnian aqidah (keyakinan berbasis tauhid yang bersumber pada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang shahih dan maqbullah) yang membentuk keshalehan dalam kehidupan.

2) Ketaatan beribadah (senantiasa menjalankan ibadah mahdhah, baik yang wajib maupun yang sunnat tathawwu’ sesuai tuntunan Rasulullah) yang tahsinah (kemanfaatan dan fungsi) dari ibadah itu terpantul dalam kehidupan sehari-hari.

3) Keiklasan (melakukan sesuatu semata-mata karena Allah SWT) dalam hidup dan berjuang menegakkan ajaran Islam melalui Muhammadiyah.

4) Shiddiq (jujur dan dapat dipercaya) dalam hati, kata, dan tindakan.
5) Amanah (komitmen dan tanggung jawab moral yang tinggi) dalam mengemban tugas organisasi.

6) Berjiwa gerakan (semangat untuk aktif dalam Muhammadiyah sebagai panggilan jihad di jalan Allah)

  1. Kompetensi akademis dan intelektual

Kader Muhammadiyah yang ideal adalah kader yang memiliki intelektulitas yang dicirikan dengan nilai – nilai :

1) Fathonah (kecerdasan pikiran sebagai Ulul Albab) dalam berpikir, berwawasan, dan menghasilkan karya pemikiran.

2) Tajdid (pembaruan dan berpikiran maju) dalam mengembangkan kehidupan dan menggerakkan Persyarikatan sesuai jiwa ajaran Islam.

3) Istiqamah (konsisten) dalam lisan, pikiran, dan tindakan.
4) Etos belajar (semangat dan kemauan keras) untuk selalu mengembangkan diri, mencari dan memperkaya ilmu, serta mengamalkan ilmu pengetahuan dalam kehidupan.

5) Moderat (arif dan mengambil posisi di tengah) dalam bersikap,berpikiran dan bertindak.

  1. Kompetensi social kemanusiaan dan kepeloporan.

Kader Muhammadiyah yang ideal peka terhadap permasalahan sosial umat, yang dapat dicirikan dengan nilai-nilai sebagai berikut :

1) Keshalehan (perilaku yang baik) dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat luas.

2) Kepedulian sosial (keterpanggilan dalam meringankan beban hidup orang lain).
3) Suka beramal (gemar melaksanakan amal shaleh untuk kemaslahatan hidup).
4) Keteladanan (menjadi uswah hasanah [teladan yang baik] dalam seluruh hidup dan tindakan).

5) Tabligh (menyampaikan kebaikan kepada orang lain, komunikatif, dan terampil membangun jaringan).

6) Inovatif (menemukan hal-hal baru) dalam mengembangkan kemajuan organisasi.
7) Berpikiran maju dan membawa Muhammadiyah pada kemajuan di berbagai bidang yang menjadi misi dan usaha gerakan.

  1. Kompetensi keorganisasian dan kepemimpinan.

Kader Muhammadiyah yang ideal memiliki semangat berorganisasi dan memiliki jiwa kepemimpinan yang dapat dicirikan dengan nilai-nilai sbb:
1) Pengkhidmatan dan partisipasi aktif dalam peran keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal.

2) Menempati posisi apapun dengan semangat iklas,berdedikasi,berprestasi, dan menghasilkan hal-hal terbaik.

3) Menjadi bagian yang menyatu dengan denyut nadi kehidupan Persyarikatan, umat, dan bangsa sebagai wujud menjalankan misi organisasi.
4) Berkomitmen dan menjunjung tinggi ideologi Muhammadiyah dan mampu bersikap tegas tetapi arif dalam membela serta menegakkan prinsip dan kepentingan Persyarikatan.

5) Mengutamakan misi dan kepentingan Muhammadiyah di atas lainnya dengan niat iklas dan berkhidmat.

  1. Idealitas Kader Bangsa

Sebelum berbicara tentang konsep ideal kader bangsa, perlu melihat dulu persoalan-persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini. Dari melihat persoalan tersebut, maka pada akhirnya ketika berbicara tentang kader bangsa adalah manusia-manusia unggul dan berkarakter yang menjadi agen penyelamat bangsa yang mampu mengatasi masalah-masalah yang dihadapi bangsanya tersebut.

Di bawah ini adalah beberapa masalah pokok bangsa yang diringkas dari berbagai hasil survey, diantaranya adalah:

  1. Korupsi sebagai penyakit bangsa yang belum teratasi
  2. Ketidak Percayaan masyarakat terhadap Lembaga peradilan dan Penegak hukum
  3. Krisis ketidakpercayaan dan demoralisasi pada politikus di DPR
  4. Buruknya sistem birokrasi di pemerintahan mulai dari level paling bawah hingga ke atas
  5. Hancurnya Perekonomian Global yang sedikit berimbas pada perekonomian bangsa
  6. Permasalahan Korupsi Nazarudin dan beberapa elit Partai demokrat
  7. Masalah NARKOBA yang mengancam generasi produktif bangsa ini
  8. Angka Kemiskinan dan pengangguran yang masih besar
  9. Masalah kesejahteraan dan kesehatan yang masih mengancam khususnya HIV AIDS, malnutrisi (kurang gizi) dan kesehatan ibu dan anak
  10. Kekerasan dan pengabaian hak terhadap kaum lemah khususnya anak, perempuan dan kaum miskin
  11. Krisis kepemimpinan dan keteladanan.

Banyak pihak menyebut indonesia sebagai negara berkembang, namun sampai sekarang perkembangannya selalu terseok-seok, entah kapan benar-benar mampu berkembang ke arah yang lebih maju. Indonesia pernah menjadi macan asia, tapi itu dulu, ketika Indonesia menghalalkan segala cara, meraih pembangunan dengan meninggalkan aspek-aspek lingkungan dan kemanusiaan, ketika kesejahteraan hanya tampak sebagai kulit, sedang didalam tak lain dan tak bukan hanyalah kebobrokan.

Indonesia merupakan negara yang kaya, berbagai hasil bumi dan alam yang melimpah, namun kita tidak sejahtera, uang rakyat untuk pembangunan dan kesejahteraan masuk ke saku orang-orang tak bertanggungjawab, mereka tidak malu memakan yang bukan haknya. Korupsi telah mendarah daging dan sulit untuk diberantas.

Kemiskinan yang tinggi, banyaknya rakyat yang hidup dibawah garis kesejahteraan. Pengelolaan BBM yang tidak becus dan tidak transparan semakin memperburuk kondisi negara. Melengkapi deretan-deretan masalah bangsa Indonesia.

Bicara soal sistem pendidikan, mahalnya biaya untuk sekolah dan kuliah, ketidakberesan sistem semakin membuat rakyat dan bangsa ini lengkap dengan kebobrokan dan penderitaan. Lihat saja perbandingan yang cukup mengejutkan antara jumlah penduduk indonesia dengan orang-orang ahli yang dimilikinya. Belum lagi pengangguran yang merajalela, tingginya harga bahan pangan, menyebabkan kelaparan bagi saudara-saudara kita, hal tersebut tentu meningkatkan angka kriminalitas, makin merusak keamanan dan kestabilan negara.

Bicara soal alam Indonesia, Bencana alam yang muncul silih berganti, seolah telah menjadi masalah biasa bagi bangsa ini. Penanganan, pencegahan dan sosialisasi yang kurang, seolah tidak pernah berubah, masih sama saja, Indonesia masih belum mampu berbenah dan hal tersebut masih menjadi masalah utama bangsa Indonesia.

Krisis kepemimpinan, minimnya jumlah pemimpin yang benar-benar mampu merubah dan memakmurkan negara ini, krisis akan kepercayaan terhadap pemimpin dan janji-janji mereka, seolah menjadi trauma tersendiri.

Siapakan kader bangsa itu? Kader bangsa dalah mereka yang menjadi bagian dari problem solver masalah bangsa. Mereka bukan manusia yang masa bodoh dengan bangsanya, hanya berdian diri ketika bangsanya sedang sakit, apalagi malah menjadi bagian dari masalah (the part of the problem).

Sehingga kader bangsa di sini adalah manusia unggul, menguasai ilmu dan teknologi, berkarakter dan berbudaya yang berbasis kepada nilai-nilai agama dan budaya bangsa. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam amar ma’ruf nahi nunkar dengan pelbagai institusi dan lembaga dibawahnya adalah bagian dari mesin kaderisasi, apalagi institusi pendidikan Muhammadiyah yang merambah mulai dari tingkat TK (athfal) sampai perguruan tinggi.

Muhammadiyah yang institusi dan gerakannya kompleks itu secara implementatif dibantu oleh beberapa organisasi kader (otonom) diantaranya adalah Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan. Adalah sangat wajar jika kemudian beban-beban kaderisasi oleh Muhammadiyah didistribusikan kepada organisasi-organisasi otonomnya termasuk HW.

  1. Peran HW

Domain kerja HW dalam konteks pembinaan kader Muhammadiyah dan Bangsa adalah komitmennya dalam membangun akhlaq dan moral serta karakter segenap lapisan generasi, khususnya generasi muda. Komitmen ini diwujudkan dengan aktivitas-aktivitas baik kaderisasi formal maupun mapupun kegiatan lainnya yang menekankan pada aktivitas yang menyenangkan. Dalam hal ini HW berpendapat bahwa proses pendidikan itu tidak selamanya adalah sesuatu yang menjadikan peserta didik tersiksa dan penuh beban. Tapi sebaliknya, peserta didik bisa menikmati proses pendidikan itu dengan menyenangkan (learning by doing/playing).

Gerakan Kepanduan HW memiliki tiga prinsip dasar dalam penyelenggaraannya, yaitu pengamalan aqidah Islamiah; pembentukan dan pembinaan akhlak mulia menurut ajaran Islam; dan pengamalan Kode Kehormatan Pandu. Prinsip dasar pertama dan kedua menunjukkan bahwa HW bergerak dalam pembinaan generasi muda muslim yang berakhlak mulia berdasarkan ajaran Islam. Sedangkan dalam hal pengamalan Kode Kehormatan Pandu, menurut ART HW Pasal 33 ayat (1) dan (2), Kode Kehormatan Pandu merupakan jiwa, semangat, dan keterikatan sebagai Pandu, baik dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat, yang terdiri atas Janji dan Undang-Undang HW. Kode kehormatan juga merupakan landasan pembinaan anggota untuk mencapai maksud dan tujuan HW.

Janji Pandu diucapkan secara sukarela oleh calon anggota ketika dilantik menjadi anggota dan merupakan komitmen awal untuk mengikatkan diri dalam menetapi dan menepati janji tersebut. Sedangkan Undang-Undang Pandu merupakan ketentuan moral untuk dijadikan kebiasaan diri dalam bersikap dan berperilaku sebagai warga masyarakat yang berakhlaq mulia. Bagi Pandu Athfal, bunyi Kode Kehormatan Pandu Athfal adalah sebagai berikut:

Janji Athfal:

Mengingat harga perkataan saya, maka saya berjanji dengan sungguh-sungguh:

Satu, setia mengerjakan kewajiban saya terhadap Allah.

Dua, selalu menurut Undang-Undang Athfal dan setiap hari berbuat kebajikan.

Undang-Undang Athfal:

Satu, Athfal itu selalu setia dan berbakti pada ayah dan bunda

Dua, Athfal itu selalu berani dan teguh hati.

Sedangkan Kode Kehormatan bagi Pandu Pengenal, Penghela, dan Penuntun adalah sebagai berikut:

Janji Pandu HW

Mengingat harga perkataan saya, maka saya berjanji dengan sungguh-sungguh:

Satu, setia mengerjakan kewajiban saya terhadap Allah, Undang-Undang danTanah Air.

Dua, menolong siapa saja semampu saya.

Tiga, setia menepati Undang-Undang Pandu HW.

Undang-Undang Pandu Hizbul Wathan

Undang-Undang Pandu HW:

  1. Satu, Hizbul Wathan selamanya dapat dipercaya.
  2. Dua, Hizbul Wathan setia dan teguh hati.
  3. Tiga, Hizbul Wathan siap menolong dan wajib berjasa.
  4. Empat, Hizbul Wathan cinta perdamaian dan persaudaraan.
  5. Lima, Hizbul Wathan sopan santun dan perwira.
  6. Enam, Hizbul Wathan menyayangi semua makhluk.
  7. Tujuh, Hizbul Wathan siap melaksanakan perintah dengan ikhlas.
  8. Delapan, Hizbul Wathan sabar dan bermuka manis.
  9. Sembilan, Hizbul Wathan hemat dan cermat.
  10. Sepuluh, Hizbul Wathan suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Melalui ketiga prinsip dasar HW di atas, optimalisasi Gerakan Kepanduan HW dapat dilakukan guna mencapai maksud dan tujuannya. Optimalisasi itu memiliki pijakan yang jelas, yaitu nilai-nilai ke-Islaman dan nilai-nilai kepanduan, sehingga Kepanduan HW tidak melepaskan hakikatnya sebagai pandu muslim yang berjuang menegakkan terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Bagaimana konsep dan strategi pembinaan karakter dalam Gerakan Kepanduan HW? Sesuai dengan semangat strategi pembinaan karakter pada masyarakat, dapat dilakukan melalui keteladanan, penanaman kedisiplinan, pembiasaan, menciptakan suasana yang konduksif, dan integrasi dan internalisasi.

Demikian pentingnya keteladanan, sehingga Allah SWT menggunakan pendekatan            keteladanan dalam mendidik ummat-Nya dengan menurunkan nabi dan rasul-Nya        sebagai model yang harus dan layak dicontoh. Dalam konteks pembinaan karakter    pada diri pandu, siapa yang perlu memiliki teladan dalam pembinaan karakter baik?    Tentu saja para pembina memiliki andil besar dalam memberikan teladan yang baik            kepada para pandu. Selain itu, keteladanan mesti dimunculkan dari pihak sekolah,          keluarga dan masyarakat sekitar. Sebab tanpa dukungan semua pihak sulit rasanya     membina karakter baik pada warga negara muda.

Penanaman kedisiplinan pada para pandu dapat dilakukan melalui peningkatan      motivasi, pendidikan dan latihan, kepemimpinan, penegakan aturan (rule          enforcement), takut pada aturan bukan takut pada manusia, dan penerapan reward and            punishment. Upaya penanaman kedisiplinan dapat terus dilatih dan dibelajarkan             dalam setiap kegiatan pandu sehingga pandu terbiasa disiplin. Terkait dengan         pembiasaan, terdapat pernyataan yang menarik ”first, we make a habit, so our habit          make us”.

Suasana kondusif yang mendukung terbinanya karakter baik pada generasi muda merupakan tugas dari semua pihak, mulai dari unsur sekolah (lembaga pendidikan), orang tua, maupun lingkungan masyarakat sekitar. Oleh karena itu perlu dibangun kerjasama antara sekolah (lembaga pendidikan) dengan orang tua dan sekolah (lembaga pendidikan) dengan lingkungan masyarakat. Sehingga melalui kerjasama tersebut tidak akan terjadi lempar tanggung jawab kewenangan untuk melakukan pembinaan karakter, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Semua komponen merasa bertanggung jawab untuk melakukan pembinaan karakter.

Terakhir, melalui strategi integrasi dan internalisasi, guru, orang tua, pembina, atau masyarakat secara luas dapat menggunakan setiap kesempatan dan pada saat mengajarkan suatu subjek dalam topik tertentu untuk memasukkan dengan sengaja isi karakter yang relevan pada saat mengajarkan topik tertentu, misalnya kasih sayang, kepedulian, kejujuran, nasionalisme, kebersamaan, dan sebagainya.

 

  1. HW di Perguruan Tinggi

Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan dan Perguruan Tinggi berada dalam kepentingan yang sama untuk menanamkan karakter dalam proses pendidikan dan kaderisasinya. Keduanya mempunyai komitmen yang sama, walau dalam beberapa aspek mempunyai metode yang berbeda.

Ketika dalam kepentingan yang sama, yang perlu dilakukan oleh keduanya (HW dan PT) adalah menyatukan pandangan dalam kaitan dengan konsep karakter yang dikehendaki dan metode yang akan diterapkan dalam proses pendidikan dan kaderisasi. Keduanya bisa menjadi dua komponen yang komplementer untuk mewujudkan cita-cita bersama membentuk manusia berilmu dan berkarakter.

Proses perkembangan karakter pada seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor yang khas baik faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture) dimana orang yang bersangkutan tumbuh dan berkembang. Pembentukan karakter mahasiswa merupakan proses pendidikan yang memerlukan keterlibatan dari berbagai pihak antara lain, keluarga, sekolah/kampus maupun masyarakat. Wadah dari pengembangan ini adalah keluarga, kampus dan masyarakat, serta lembaga formal maupun nonformal, termasuk di dalamnya HW.

Pendidikan sebagai proses hominisasi dan humanisasi, membantu manusia yang utuh, bermoral, bersosial, berkarakter, berkepribadi, berpengetahuan dan berohani. Pendidikan merupakan proses yang dilakukan oleh setiap individu menuju kearah yang lebih baik sesuai dengan potensi kemanusiaan. Pendidikan berperan penting dalam membentuk karakter.

Untuk membangun bangsa yang berkarakter dimulai dari manusia yang berakhlak mulia atau berbudi pekerti luhur. Setiap individu dianjurkan untuk membangun karakter bangsa sesuai kapasitasnya, sebagai ilmuwan, pemimpin, hartawan maupun orang awam. Ada enam hal dalam membentuk karakter, yaitu kejujuran, keterbukaan, keberanian mengambil resiko, bertanggung jawab, memenuhi komitmen dan kemampuan berbagi.

Membangun karakter dikategorikan sebagai komponen “the hidden curriculum” yang pencapaiannya tergantung pada proses pendidikan pada substansi pendidikannya. Kebiasaan mahasiswa belajar akan mewarnai karakter mereka. Karakter tidak dapat diajarkan, akan tetapi diperoleh dari pengalaman, oleh karena itu harus dilatihkan. Kebiasaan sehari-hari dapat menghasilkan pengalaman belajar. Pembangunan moral dan karakter lebih efektif melalui dialogik dengan mendiskusikan kasus nyata yang diangkat melalui proses pelatihan itu. Proses dalam pendidikan terbuka kondusif untuk pembangunan karakter itu. Dan HW dapat berperan dalam hal ini. HW dengan pelbagai kegiatan baik indoor maupun outdoor bisa memfasilitasi mahasiswa untuk melakukan internalisasi nilai-nilai melalui pengalaman (experiential learning).

Perguruan Tinggi membentuk insan akademis yang dapat melakukan learning by themselves atau belajar secara mandiri dengan melakukan self improvement serta mencari dan membela kebenaran ilmiah. Dengan adanya pendidikan karakter yang diterapkan di Perguruan Tinggi maka diharapkan mahasiswa dapat merancang visi masa depan untuk diri sendiri, lingkungan, dan keluarga dan membentuk masyarakat madani yang kreatif dan inovatif. Pendidikan yang diberikan dari Perguruan Tinggi ini mengarahkan pada perjuangan mahasiswa untuk mendekatkan realita dengan kondisi ideal. Melalui kegiatan HW yang bernuansa pengabdian masyarakat, mendorong mahasiswa lebih menghayati kehidupan masyarakat, sehingga pengalaman seperti ini membantu mereka menjadi insan ilmiah yang membumi.

Nilai-nilai kepribadian dikembangkan di perguruan tinggi sebagai persiapan memasuki dunia kerja. Hal yang menjadi tuntutan dunia kerja antara lain; integritas, inisiatif, motivasi, kerja sama dalam tim, etika kepemimpinan, kemauan belajar, komitmen, mendengarkan, tangguh, fleksibel, komunikasi lisan, jujur, berargumen logis, dan lainnya. Hal tersebut diperlukan pengembangan kepribadian mahasiswa secara intensif dan berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing lulusan di masyarakat. Nilai-nilai yang demikian itu sudah melekat dalam kepribadian HW. Tinggal bagaimana implementasinya dalam kegiatan-kegiatan yang real.

Para mahasiswa yang melakukan studi di dalamnya harus memiliki kecakapan dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan serta mampu memangku jabatan atau pekerjaan dalam masyarakat. Pelaksanaan pembelajaran MPK (Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan dan Bahasa Indonesia) dapat dipandang sebagai wahana untuk membangun karakter mahasiswa, bukan sebatas mengajari nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan yang baik, tetapi menemukan cara melatih dan membiasakan karakter yang kuat, dan terpuji itu dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perguruan tinggi, HW mempunyai peran sangat penting dalam pengembangan karakter mahasiswa.

Dalam kaitan dengan pengembangan karakter dan kepribadian secara terstruktur dan sistemik di perguruan tinggi, dalam pembinaan pembelajaran dan kemahasiswaan akan sangat dibutuhkan tahapan yang jelas dan terukur dengan program yang sistemik dan berkesinambungan, yaitu :

  1. Tahap pertama, antara semester 1 sampai semester 3 adalah pembelajaran untuk pembentukan jati diri. Mengantarkan mahasiswa menemukan jati dirinya sebagai manusia yang memiliki beragam potensi, sekaligus memiliki beragam kelemahan.
  2. Tahap kedua, antara semester 4 sampai 6, tahap pembelajaran dan pembimbingan untuk pembentukan daya kreasi dan inovasi mahasiswa. Proses pembelajaran dikembangkan untuk mempersiapkan, membangun suatu kondisi sehingga kreasi, kreatifitas dan daya inovasi mahasiswa dapat ditingkatkan dan mahasiswa berperan aktif dalam berbagai aktivitas belajar dan kegiatan kemahasiswaan.
  3. Tahap ketiga, antara semester 7 sampai 8 adalah tahapan pembelajaran yang lebih diorientasikan pada pembentukan dan pematangan jiwa kewirausahaan, kepemimpinan dan manajemen mahasiswa. Sehingga peningkatan karakter dan kepribadian mahasiswa lebih berfokus pada latihan kepemimpinan dan keterampilan komunikasi, berargumentasi secara ilmiah. Tahap ini merupakan tahap terakhir dari proses pembinaan pembelajaran bagi mahasiswa di kampus.

Kapasitas seseorang dapat ditentukan oleh akumulasi 2 fungsi yaitu kompetensi bidang ilmu (hard skills) dan karakter (soft skills), sehingga pengembangan karakter harus dimulai dari pelatihan soft skills. Pendidikan karakter adalah bagian dari pendidikan soft skills. Dengan adanya karakter yang kuat adalah kelebihan dan kekuatan seseorang, apabila tidak disertai dengan karakter yang baik, kelebihan dan kekuatan itu akan muncul sebagai kelemahan. Sebaliknya orang yang memiliki potensi sederhana tetapi karakternya luar biasa, maka dapat dipastikan dia memiliki potensi yang besar. Satu unsur penting yang sepertinya selama ini diabaikan dalam praktek pendidikan adalah metode keteladanan yang proposional. Keteladanan dianjurkan dalam rangka mengantar pendidikan yang mampu membentuk karakter mahasiswa.

[I] Makalah disampaikan dalam Seminar dan Lokakarya Pimpinan PTM dan jambore Nasional Penuntun Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan, tanggal 23 Agustus 2014, di Universitas Muhammadiyah Purwokerto


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: