Oleh: Anjar Nugroho SB | Oktober 3, 2014

Khutbah Idul Adha 1435 H

Mewaspadai Radikalisme Agama: Kasus ISIS

Puji syukur hanya milik Allah Sang Penguasa alam semesta, yang Maha Pengasih dan Penyayang. Karena atas kasih-Nya kita masih dapat menikmati indahnya hidup dengan iman dan Islam. Kita mensyukuri iman dengan merawatnya dalam balutan istiqamah. Kita mensyukuri Islam dengan menjadikannya sebagai nafas dan pedoman dalam kehidupan kita.

Shalawat dan salam untuk Rasulullah SAW. Manusia pilihan, utusan sekaligus pemimpin umat manusia. Dengan bimbingannya, umat Islam dapat memahami dan mengamalkan Islam secara otentik, karena pada dasarnya, bimbingan Beliau adalah bagian dari wahyu Allah, bukan muncul dari pikiran manusia yang serba terbatas apalagi hawa nafsu yang sebagaiannya adalah batil.

Khutbah adalah sarana efektif untuk saling mengingatkan dalam kebenaran, sehingga dalam kesempatan ini ijinkan kami menyampaikan pesan-pesan Islam dalam rangka mencapai pribadi Muslim yang lebih baik. Pesan Islam yang universal, yang mengajarkan kebajikan abadi (hikmah khalidah) untuk kemashlahatan manusia dan alam semesta.

Kaum Muslimin Rahimakumullah,

Islam, sebagaimana tercermin dalam arti bahasanya adalah agama keselamatan. Kehadiran Islam di muka bumi ini, misi utamanya untuk menyelamatkan umat manusia, sehingga kehidupan manusia menjadi sejahtera, damai dan makmur. Hal ini didukung beberapa informasi ayat al-Qur’an sebagai berikut:

Q.S. al-Anbiya: 107

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Q.S. an-Nahl: 89

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.

Q.S. al-Mujadalah: 22

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan1463 yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.

Kalau kita perhatikan firmah-firman Allah tersebut, semua mengarah kepada bentuk otentik Islam yang sangat cinta damai dan mengutamakan tujuan-tujuan untuk mencapai kemashlahatan umat manusia secara universal. Islam sangat menentang segala bentuk kekerasan. Bahkan dalam dakwah pun, yang harus dikedepankan adalah hikmah (kebijaksanaan) dan mau’idhah hasanah (perkataan yang bersahabat) serta jika terpaksa harus ada perdebatan maka penyelesaiannya melalui jalur-jalur dialog yang bersahabat (wajadilhum billati hiya ahsan), sebagaimana dalam firmanNya:

Q.S. an-Nahl: 125

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah845 dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Tetapi mengapa masih tetap muncul dalam sejarah kehidupan Islam, wajah agama Islam yang keras dan intoleran?

Salah satu sebabnya adalah ada sebagian umat Islam yang lebih memilih memperdalami agama, namun tidak berdasarkan sumber yang otentik, ataupun ulama yang benar-benar memiliki pemahaman agama yang luas dan lurus (hanif). Terkadang sumber bacaannya adalah buku-buku terjemahan yang kurang dapat dipertangungjawabkan, menerima ilmu dari orang yang pemahaman agamanya sangat dangkal. Ahli kimia bicara agama, ahli matematika bicara agama, ahli membuat bom pun bicara agama.

Apa jadinya kesimpulan yang mereka keluarkan. Padahal al-Quran, tafsir, dan fiqh jihad memiliki karakteristik dan syarat-syarat yang sangat teliti dan khusus dan harus tepat sesuai fungsi dan kegunaannya. Hal itu sama saja, dengan apa jadinya jika seorang ahli agama berbicara kedokteran, berbicara pertanian, teknik mesin dan lain-lain.
Maka memahami sesuatu ilmu termasuk agama harus berdasarkan dari sumber dan ahlinya yang otentik, jika tidak penyelewengan-penyelewengan kesimpulan yang dijelmakan melalui aksi akan berakibat fatal bagi manusia itu sendiri.

Faktor lain yang memunculkan radikalisme/terorisme adalah faktor ekonomi. radikalisme/terorisme yang belakangan ini marak muncul merupakan reaksi dari kesenjangan ekonomi yang terjadi di dunia”. Liberalisme ekonomi yang mengakibatkan perputaran modal hanya bergulir dan dirasakan bagi yang kaya saja, mengakibatkan jurang yang sangat tajam kepada yang miskin. Jika pola ekonomi seperti itu terus berlangsung pada tingkat global, maka yang terjadi reaksinya adalah terorisme internasional. Namun jika pola ekonomi seperti ini diterapkan pada tingkat Negara tertentu, maka akan memicu tindakan terorisme nasional.

Karena boleh jadi problem kemiskinan, pengangguran dan keterjepitan ekonomi dapat mengubah pola pikir seseorang dari yang sebelumnya baik, menjadi orang yang sangat kejam dan dapat melakukan apa saja, termasuk melakukan terror.

Sangat tepat jika kita renungkan hadits nabi yang mengatakan, “Kaada al-Faqru an yakuuna Kufran”. Hampir-hampir saja suatu kefakiran dapat meyeret orangnya kepada tindakan kekufuran”. Bukankan tindakan membunuh, melukai, meledakkan diri, meneror suatu tindakan yang dekat dengan kekufuran.?

Faktor berikutnya adalah faktor politik. Saat praktek politik yang dijalankan adalah politik kotor, politik yang hanya berpihak pada pemilik modal, kekuatan-kekuatan asing, bahkan politik pembodohan rakyat, maka kondisi ini lambat laun akan melahirkan tindakan skeptis masyarakat. Akan mudah muncul kelompok-kelompok atas nama yang berbeda baik politik, agama ataupun sosial yang mudah saling menghancurkan satu sama lainnya.

Bukankan kita pernah membaca sejarah lahirnya garakan khawarij pada masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib RA. yang merupakan mascot gerakan terorisme masa lalu yang juga disebabkan oleh munculnya stigma ketidakstabilan dan ketidakadilan politik pada waktu itu. Sehingga munculah kelompok-kelompok yang saling mengklaim paling benar, bahkan saling mengkafirkan satu sama lainnya. Tentu kita tidak ingin sejarah itu terulang kembali saat ini.

Salah satu gerakan radikal dalam Islam yang cukup menghebohkan adalah ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Hari-hari ini fenomena gerakan ISIS telah menyedot perhatian banyak orang. Ini karena ISIS yang awalnya fenomena yang terjadi jauh di wilayah Timur Tengah, ternyata sudah merambah dan mendapat banyak pengikut di Indonesia. Indonesia yang bersama Filipina pernah mendapatkan sebutan sebagai the forefront of al-Qaeda in the Southeast Asia, dengan fenomena ISIS ini, menghadapi gejala yang sama. Kelahiran ISIS sebetulnya tidak bisa dipisahkan dengan konflik rumit yang terjadi di Timur Tengah, khususnya kawasan Irak dan Suriah.

ISIS sebagai sebuah gerakan lebih tepat dikatakan sebagai sebuah paham neo-Khawarij yang menganggap pemahaman di luar dirinya salah. Orang-orang Khawarij inilah yang pada zaman dulu tidak setia pada khalifah Ali bin Abi Thalib dan memerintahkan untuk membunuh Ali dan pemimpin Islam lainnya. Pada banyak hal, neo-Khawarij ini diidentikkan dengan al-Qaeda yang dipimpin oleh Osama bin Laden yang kemudian dilanjutkan oleh Ayman al-Zawahiri.

Sebagai neo- Khawarij, ISIS tampaknya tanpa ragu membunuh mereka-mereka yang tidak setuju dengan kelompoknya. Kita melihat ada juga ulama Suni di Irak yang menjadi korban ISIS. Begitu juga anak-anak dan para perempuan di sana.

Propaganda ISIS yang berhasil mengecoh banyak orang itu harus disikapi dengan tegas. Penafsiran jihad secara serampangan dan sepihak seperti yang dilakukan al-Zawahiri dan ISIS jelas merusak martabat dan jati diri Islam sebagai agama yang damai dan penuh kasih sayang. Itu juga mereduksi makna jihad yang sebetulnya anjuran untuk berbuat secara sungguh-sungguh untuk mengabdi kepada Allah dan menciptakan kebaikan di muka bumi ini.

Pembajakan makna jihad dengan mengajak menyerang, membunuh, membantai, dan menyiksa orang-orang yang di luar golongannya jelas-jelas merugikan Islam. Perbuatan kaum Khawarij dan neo-Khawarij yang membuat perpecahan dan pembunuhan ini sudah terbukti dalam sejarah Islam sejak zaman dahulu.

Meski fenomena ISIS ini oleh sebagian orang dianggap tidak terlalu membahayakan, jika dibiarkan begitu saja, tentu ia akan menjadi gerakan besar. Karena itu, kita semua bersama-sama dengan pemerintah harus bersikap tegas terhadap gerakan ISIS ini. Sikap tegas ini bukan berarti melakukan tindakan penyergapan seperti yang dilakukan Densus 88. Namun, sikap tegas ini berupa kita harus mengantisipasi secara dini terhadap organisasi- organisasi dan orang-orang yang berpotensi bergabung dengan ISIS.

Kita melihat bahwa ketika ISIS menjadi musuh bersama, ada beberapa organisasi yang juga sering melakukan kekerasan baik verbal maupun nonverbal terhadap kelompok lain juga turut mengutuk ISIS. Organisasi-organisasi itu perlu diperhatikan secara serius sebelum bermetamorfosis menjadi organisasi seperti ISIS ketika berjumpa dengan momentumnya seperti di Irak dan Suriah.

Yang juga penting, tentu saja kita semua melalui organisasi-organisasi yang selama ini telah terbukti komitmennya pada Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti Muhammadiyah dan NU untuk melakukan kerja-kerja pencegahan terhadap penyebaran gerakan ISIS.

Ini adalah kerja bersama, kerja dakwah Islam dalam rangka memperjuangkan nilai-nilai Islam yang cinta kedamaian dan anti terhadap segala bentuk radikalisme atau terorisme. Seperti firman Allah:

Q.S. Ali Imran : 104

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Mudah-mudahan Allah senantiasa membimbing kita dalam jalan-Nya yang lurus.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: