Oleh: Anjar Nugroho SB | Agustus 20, 2015

DUNIA ISLAM

DAYA TAHAN ISRAEL DALAM MENGATASI BANGSA ARAB

Oleh: Anjar Nugroho

 

Latar Belakang Permasalahan

Konflik Israel-Arab adalah konflik paling fenomenal di Timur Tengah sampai saat ini. Israel yang secara geografis negara kecil melawan beberapa negara Arab, khususnya yang berbatasan langsung dengan Israel, seperti Mesir, Yordania, Libanon, Syuriah dan Irak. Termasuk dalam konflik itu adalah konflik Israel dengan Palestina. Walaupun negara kecil, akan tetapi secara faktual, Israel menunjukkan diri sebagai negara kuat yang sulit untuk dikalahkan sampai hari ini. Bisa jadi ini karena dukungan kuat dari Amerika Serikat dan Inggris terhadap Israel yang merupakan sekutu utamanya.

Konflik tersebut pada dasarnya merupakan konflik yang telah berakar ratusan tahun. Asal mula konflik tersebut dapat ditarik sejak tahun 1881, dengan adanya pertentangan yang terjadi antara gerakan Zionisme dengan nasionalisme Arab pada masa akhir abad ke-19. Zionisme merupakan sebuah gerakan masyarakat Yahudi yang ingin kembali dan memperoleh ‘tanah asli’ mereka.

Melawan negara-negara Arab, Israel menunjukkan diri sebagai negara yang sangat kuat. Berbagai perang terbuka, seperti Perang Enam Hari pada tahun 1967, Perang Ramadhan (Yom Kippur) antara Israel melawan Mesir dimenangkan secara telak oleh Israel. Bahkan dalam Perang Enam Hari telah menenggelamkan kharisma Ghamal Abdul Nasser (Presiden Mesir) sebagai tokoh utama negara-negara Arab. Tak pelak kejadian itu membuat negara-negara Arab dalam posisi mentalitas yang sangat rendah. Begitu pula dalam peran Libanon tahun 1982, Israel memeperoleh kemenangan. Hanya peran PBB yang kemudian meredakan konflik itu dalam sementara waktu.

Kekuatan politik dan militer Israel memang tidak ada yang menandingi di kawasan itu sampai hari ini. Apalagi dengan dukukungan Amerika Serikat, Israel semakin superior. Walau demikian perlu dikaji secara lebih mendalam, bagaimana Israel bisa membangun kekuatan militer yang kuat dan mampu melakukan negosiasi sehingga Amerika Serikat sebagai negara adi daya bersedia menjadi sekutu utamanya. Dan yang lebih menarik untuk dikaji adalah, bagaimana negara-negara Arab yang secara kuantitatif jumlahnya banyak, serta mereka memiliki kekuatan “minyak” yang sebenarnya bisa digunakan untuk melawan Israel. Tetapi memang faktanya negara-negara Arab tidak begitu kompak ketika melawan Israel, khususnya Arab Saudi yang nota benenya adalah sekutu Amerika Serikat juga.

Berbagai Pihak yang Terlibat

Banyak negara yang terlibat dalam konflik Israel-Arab. Israel berada dalam posisi melawan negara-negara yang berbatasan langsung dengannya. Keterlibatan negara-negara Arab lainnya semakin meneguhkan langengnya konflik. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa Amerika Serikat dan sekutunya (khususnya Inggris) memposisikan diri sebagai pendukung utama Israel. Di bawah ini akan diuraikan keterlibatan negara dan pihak dalam konflik Israel-Arab.

  1. Negara/pihak yang terlibat perang secara langsung dengan Israel

Negara yang pernah terlibat perang secara langsung dengan Israel adalah Mesir, Yordania, Suriah, Libanon dan Iraq. Bagaimana keterlibatan negara-negara tersebut dalam perang melawan Israel akan diuraikan kemudian.

  1. Negara yang diposisikan sebagai musuh oleh Israel karena mendukung negara/pihak yang terlibat konflik dengan Israel.

Iran sampai hari ini diposisikan sebagai musuh utama oleh Israel karena mendukung perjuangan palestina dan para pejuang Hisbulloh di Libanon dan Yordania yang selalu merepotkan Israel. Iran oleh Israel sangat diperhitungkan karena

  1. Negara yang mendukung Israel

Amerika dan Inggris adalah dua negara yang sangat getol mendukung Israel sampai hari ini melawan negara-negara/pihak yang berkonflik dengan Israel.

  1. Negara yang secara tidak langsung berkonflik dengan Israel

Arab Saudi, Kuwait, Aljazair, Sudan adalah negara-negara yang tidak secara langsung melawan Israel akan tetapi pernah melakukan gerakan mendukung negara-negara yang berkonflik dengan Israel dengan alasan solidaritas sebagai sesama negara Muslim.

  1. Para pejuang Palestina

Panyak faksi di Palestina yang memperjuangkan eksistensi dan kemerdekaan bangsa Palestina. Yang paling awal dan sangat populer adalah PLO (Palestine Liberation Organization). PLO sendiri terdiri atas banyak faksi, diantaranya yang terbesar adalah FATAH. Pada perkembangan berikutnya faksi-faksi lain di luar PLO/FATAH yang berjuangan melawan Israel antara lain HAMAS, Jihad Islam dan Brigade Intifadah al-Aqsha.

Berbagai Proses Kemunculan, Perkembangan dan hasil Mutakhir

Asal mula konflik orang-orang Yahudi/Israel dengan Arab/Palestina dapat ditelusuri dari munculnya keinginan orang-orang Yahudi untuk mendirikan negara di bumi Palestina setelah selama lebih kurang 1.800 tahun menjadi bangsa yang tersebar di beberapa negara Afrika, Amerika dan Eropa. Gerakan tersebut mereka wujudkan dalam suatu gerakan nasionalisme Yahudi yang muncul pada abad ke-19. Secara resmi gerakan ini lahir pada saat diselenggarakan Kongres Zionis Internasional di Basel, Swiss, tahun 1897.

Pada tanggal 14 Mei 1948, David Ben Guorion (salah satu pemimpin Zionis) mengumumkan kemerdekaan Israel di tanah Palestina yang menandai konflik Israel-Arab. Proklamasi tersebut segera mendapat reaksi negara-negara Arab sekitarnya, yaitu: Mesir, Libanon, Yordania, Suriah, dan Irak. Lalu negara-negara Arab tersebut menyerang Israel. Serangan di tahun 1948 ini menandai Perang Israel-Arab I. Akan tetapi, walaupun Israel dikeroyok oleh beberapa negara Arab, karena negara-negara Arab kurang persiapan pada akhirnya terpaksa menandatangangi perjanjian gencatan senjata dengan Israel.

Perang Israel-Arab II dikenal sebagai perang Suez terjadi pada tahun 1956. Perang ini disebabkan oleh rencana Presiden Mesir, Gamal Abdul Nasser, untuk menasionalisasi Terusan Suez yang pada waktu itu dikelola bersama perusahaan Inggris dan Perancis. Tentu rencana ini ditentang oleh Inggris dan Perancis. Israel kemudian memanfaatkan kesempatan untuk bersama-sama Inggris dan Perancis menyerang Mesir. Konsekwensi dari perang ini adalah semenanjung Sinai dikuasi Israel, walaupun kemudian Israel dipaksa mundur dari semenanjung Sinai karena kecaman Amerika Serikat.

Kelanjutan dari perang Israel-Arab II adalah Perang Israel-Arab III pada tahun 1967. Perang ini diawali dengan provokasi Mesir dengan mengusir PBB dari Sinai dan pembentukan persekutuan militer negara-negara Arab (Unified Arab Command) yang terdiri dari Surian, Yordania dan Irak dengan Mesir sebagai pemimpinnya. Israel menanggapi itu dengan menyerang terlebih dahulu trehadap Mesir, Suriah, Yordania, dan Irak serta menghancurkan hampir semua kekuatan senjata negara-negara ini pada 5 Juni 1967. Perang yang hanya berlangsung 6 hari ini membawa perubahan yang dramatis bagi pihak Arab maupun Israel. Dari pihak Arab, nasib bangsa Arab/Palestina menjadi semakin terpuruk. Dari pihak Israel, akibat perang ini wilayah negaranya bertambah 25%.

Mesir yang kehilangan Semenanjung Sinai dan Suriah yang kehilangan dataran Tinggi Golan dalam perang 1967 menginginkan wilayah itu diperoleh kembali. Oleh karena itu, pada bulan Oktober 1973 atau bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan dan Yom Kippur (hari penebusan dosa bagi agama Yahudi), Mesir dan Yordania melakukan penyerangan mendadak terhadap Israel. Berkat bantuan Amerika dan para sekutunya yang tergabung dalam NATO (North Atlantic Treaty Organization), Israel dapat melumpuhkan Mesir dan Yordania.

Walau kalah, Mesir mendapat apresiasi dari negara-negara Arab, khususnya Arab Saudi. Bentuk apresiasi itu adalah kesepatan negara-negara Arab untuk melakukan embargo minyak teradap negara-negara yang terlibat membantu Israel. Tapi sangat disayangkan, kekompakan negara-negara Arab melawan Israel dinodai dengan kesediaan Mesir di bawah Presiden Anwar Sadat berunding dengan Israel dan Amerika Serikat, dalam Perjanjian Camp David pada September 1978. Hasil utama perjanjina ini adalah Israel mundur dari seluruh Semenanjung Sinai, sebagai imbalannya Mesir mengakui Israel sebagai negara yang berdaulat.

Perang Israel-Arab V terjadi pada 6 Juni 1982, ketika 40.000 pasukan Israel dibantu Amerika Serikat menyerbu Libanon Selatan. Tujuannya adalah menghancurkan kekuatan PLO yang bermarkas di Libanon. Tujuan ini tercapai karena PLO segera meninggalkan Linanon Selatan sebelumnya menutup Markas Besarnya di Tripoli. Setelah Perang 1982, tidak ada lagi deklarasi prang Israel-Arab, kecuali serangkaian tindakan-tindakan kekerasan antara kedua belah pihak.

Pada November 1991, dipelopori oleh Presiden Amerika Goerge Bush bersama dengan Uni Soviet, menyelenggarakan Konferensi Perdamaian di Madrid. Dari pihak Arab yang diajak adalah: Mesir, Libanon, Yordania, dan Pihak Palestina. Perkembangan penyelesaian konflik Israel-Arab mencapai tingkat kulminasi pada 13 September 1993, ketika Ketua PLO, Yasser Arafat dan PM Israel, Yitzak Rabin, disaksikan oleh Prsiden Amerika Serikat, Bill Clinton dan Raja Hussein dari Yordania menandatangi Perjanjian Oslo. Berikutnya juga ditandatangani Perjanjian Camp David pada Juli 2000.

Kaum yahudi ekstrim yang kebanyakan merupakan imigran dari Eropa Timur ini tidak bisa menerima pembagian Jerusalem untuk Palestina dan Israel. Mereka memandang Jerusalem adalah kota suci Yahudi yang harus dikuasai Israel dan menjadi ibu kotanya. Kelompok ini menentang perjanjian Oslo. Yigal Amir, aktivis radikal sayap kanan yahudi ortodoks menembak mati Yitzak Rabin pada 4 November 1995. Shimon Perez, menteri luar negeri Israel pada saat itu ditunjuk menggantikan Rabin.

Dengan kematian Rabin masa depan Palestina yang hampir menemui titik terang kembali suram. Netanyahu yang kemudian terpilih menjadi perdana Menteri Israel dengan dukungan dari partai sayap kanan radikal berusaha menggagalkan dan menggerogoti isi kesepakatan Oslo serta menghalangi berdirinya negara Palestina merdeka. Bill Clinton akhirnya turun tangan dan mempertemukan kedua belah pihak hingga disepakatinya memorandum Wye River yang berisi langkah-langkah yang harus ditempuh oleh kedua belah pihak dalam meneruskan proses perdamaian.

Walau sudah ada perjanjian-perjanjian antara Israel dan Arab/Palestina, akan tetapi dalam realisasinya sampai sekarang, masing-masing pihak masih mengingkarinya, baik Israel maupun negara-negara Arab/Palestina. Akhir desember 2008 Israel melakukan serangan udara ke wilayah Gaza dalam upaya melumpuhkan kekuatan Hamas dan dilanjutkan dengan serangan darat. Perang masih terus berlanjut dan ribuan korban telah jatuh.

Menyikapi konflik terakhir di wilayah gaza, negara-negara Arab berencana mengadakan konferensi darurat di Doha. Pertemuan ditujukan untuk menyatukan suara negara-negara Arab dalam menyikapi konflik yang terjadi. Namun Mesir dan Saudi memboikot pertemuan tersebut karena kehadiran Iran dan Syria (pendukung Hamas). Mesir dan Saudi takut pertemuan itu dimanfaatkan oleh Hamas dan dua pendukungnya (Iran dan Syria) untuk menyampaikan posisi garis keras yang akhirnya menghalangi langkah Mesir untuk melakukan upaya damai.

 

Analisis tentang Daya Tahan Israel Mengatasi bangsa Arab

  1. Pendekatan Koalisi dengan Negara Besar

Mengapa Israel mempunyai daya tahan yang tinggi dalam mengatasi bangsa Arab? Ini adalah pertanyaan yang dapat ditemukan jawabannya dalam beberapa analisis berikut ini. Salah satunya adalah dengan pendekatan bersekutu dengan negara yang lebih kuat/besar. Dalam hal ini Israel berhasil menjadi sekutu utama negara terkuat secara militer di dunia, yaitu Amerika serikat dan juga Inggris. Di bawah ini dipaparkan bagaimana Israel membangun aliansi dengan Inggris.

Penduduk arab dan yahudi membantu Inggris dalam perang melawan kesultanan Turki yang selama ratusan tahun menguasai seluruh wilayah Arab. Dalam hal ini orang arab lebih percaya kepada Inggris daripada kesultanan Turki yang muslim. Ketika wilayah Arab dikuasai oleh bani Abbasiyah, Umayah dan dinasti-dinasti lain yang juga korup dan bengis, mereka tidak merasa kekuasaan daulah-daulah tersebut sebagai penjajah karena mereka sama-sama arab. Begitu pula ketika diansti-dinasti arab menguasai Turki dan spanyol, mereka tidak pernah mengatakan itu sebagai penjajahan. Inilah diantara cara pandang yang zalim.

Bantuan tentara dan dana Israel kepada Inggris dalam perang dunia pertama membuat Lord Balfour mengeluarkan Piagam yang memberikan hak kepada kaum Yahudi untuk mendirikan sebuah negara di wilayah Palestina. Karena pertikaian yang terus berlangsung antara orang-orangArab dan Yahudi, dan tentu saja atas lobby zionis yang memang berencana mendirikan negara israel, PBB memutuskan dibentuknya dua negara Yahudi dan Arab di wilayah tersebut. Wilayah masing-masing negara ditentukan dari penguasaan tanah masing-masing kelompok.

  1. Pendekatan Achilles Heells: titik lemah.

Negara-negara Arab di sekitar wilayah tersebut tidak setuju dengan berdirinya negara Israel maupun palestina. Mesir menginginkan wilayah barat dari British Mandate of Palestine sebagai wilayahnya. Jordan menginginkan wilayah sebelah timur sebagai wilayahnya. Dengan demikian, yang pertama kali menghalangi berdirinya negara Palestina adalah orang arab, bukan orang Israel.

Orang-orang arab menganggap bani Israil tidak berhak tinggal dan mendirikan negara di wilayah tersebut. Mereka menolak berdirinya negara Israel sekaligus juga tidak menginginkan adanya negara Palestina. Koalisi arab justru menginvasi wilayah Palestina dan mengepung Israel. Israel berhasil memukul mundur mereka. Wilayah Israel menjadi semakin luas karena perang tersebut. Israel dan koalisi arab setuju gencatan senjata. Koalisi arab juga mengakui perluasan wilayah Israel tersebut pada tahun 1949. Jadi meluasnya wilayah Israel dari batas yang ditentukan oleh PBB itu diakui oleh koalisi arab. Hal tersebut dikarenakan kesalahan koalisi arab sendiri yang melakukan invasi dan serangan.

Di sini patut diajukan sebuah pertanyaan (pertanyaan yang juga sering ditanyakan oleh orang Israel); kalau orang yahudi dianggap tidak berhak tinggal dan mendirikan negara di wilayah Israel yang sekarang, Bisakah orang arab menunjukkan satu saja tempat lain di dunia ini yang lebih layak dan lebih memiliki hubungan sejarah dengan bani Israil serta lebih tepat untuk mendirikan negara Israel? Ada beberapa tempat selain Israel yang ada sekarang ini yang mempunyai hubungan sejarah dengan bani Israil. Di antara tempat itu adalah Mesir, karena Nabi yusuf dan bani Israil lama tinggal di Mesir. Tempat lainnya adalah Madinah dan Khaibar. Tentu saja orang arab tidak bisa menyebutkan satu tempatpun di dunia yang lebih layak ditinggali dan lebih punya hubungan sejarah dengan bani Israil. Orang arab juga tidak akan mungkin menunjuk Mesir atau Madinah. Pada titik inilah bangsa Arab tidak bisa melakukan apa-apa ketika beradu dengan Israel, karena Israel telah “menyerang” mereka pada sisi yang paling lemah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

  1. Gresh dan D. Vidal, The Midlle East, War Without End, London: Lewrence and Wishart, 1988

Beinin, Joel  dan Lisa Hajjar, “Palestine, Israel, and the Arab-Israeli Conflict: A Primer” dalam Middle East research and Information Project, hal. 3 diakses dari https://www.lsa.umich.edu/UofM/Content/complit/document/Arab%20Identity%20Panel%20Readings.pdf pada 25 April 2015

Brenner, Michael  dan Shelley Frisch, Zionism: A Brief History, (New Jersey: Markus Wiener Publishers, 2003

Pipes, Daniel . “The Real History if Israel’s Founding, and Why It Matters” dalam National Review, edisi Juni 2011 (diakses darihttp://www.nationalreview.com/articles/270064/not-stealing-palestine-purchasing-israel-daniel-pipes pada 25 April 2015

http://dedirohmanu.blogspot.com/2013/10/sejarah-perang-arab-israel-perang-enam.html

Siti Muti’ah Setiawati, Irak di Bawah Kekuasaan Amerika, Dampaknya bagi Stabilitas Politik Timur Tengah dan Reaksi (Rakyat) Indonesia, Yogyakarta: Pusat Pengkajian Masalah Timur Tengah Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, 2004


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: