Oleh: Anjar Nugroho SB | Agustus 20, 2015

POLITIK DUNIA

Krisis Utang Yunani dan Peranan Uni Eropa

Oleh: Anjar Nugroho SB

 

Pendahuluan

             Pada tiga tahun terakhir ini, terjadi gejolak di dalam perekonomian Uni Eropa. Hal ini tidak lain dikarenakan efek domino yang disebabkan oleh krisis keuangan Yunani. Pemerintah Yunani tidak mampu melunasi utang yang menumpuk hingga mencapai defisit keuangan. Ketidakmampuan pemerintah Yunani mengatasi krisis keuangan di dalam negerinya ini kemudian berimbas pada negara-negara lain di kawasan Eropa. Irlandia, Portugal, Spanyol, Italia, Perancis, dan beberapa negara lain turut terkena dampak dari krisis Yunani ini. Efek domino ini dapat terjadi salah satunya diakibatkan oleh keterikatan negara-negara Eropa tersebut di dalam sistem eurozone. Krisis keuangan yang tidak kunjung selesai dan justru berdampak ke negara Eropa lainnya ini juga berimbas pada merosotnya pasar saham di beberapa negara di dunia. Hal ini kemudian menjadi isu global yang hangat diperbincangkan.

Krisis ini tentu kemudian mendapat tanggapan serius oleh Uni Eropa sebagai organisasi kawasan yang juga membawahi Yunani. Uni Eropa bersama negara-negara anggotanya  berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mengatasi gejolak krisis yang tengah dihadapi oleh negara-negara anggotanya. Pengaruh perpolitikan turut pula mewarnai penyelesaian masalah krisis keuangan ini. Kucuruan dana pinjaman menjadi salah satu opsi yang ditawarkan Uni Eropa untuk mengatasi permasalahan ini. Namun, pinjaman atau bailout untuk Yunani ini sendiri masih menuai sejumlah kontroversi dan perdebatan di antara negara-negara Uni Eropa tersebut. Hal ini berkaitan dengan kemampuan Yunani untuk mengembalikan pinjaman ini dan melakukan pengetatan anggaran di dalam negerinya. Krisis keuangan yang melanda Eropa ini kemudian turut pula menghadapi hambatan dan tantangan di dalam penyelesaiannya. Untuk itulah di dalam tulisan ini akan dibahas lebih lanjut mengenai permasalahan krisis Yunani, perbedaan di dalam penyelesaiannya, serta hambatan dan tantangan yang tengah dihadapi dalam penyelesaian tersebut.

Latar Belakang Krisis Yunani

Setelah lima tahun berlalu dari krisis keuangan global yang bermula dari bangkrutnya perusahaan investasi besar Amerika Serikat, Lehman Brother’s yang terjadi pada pertengahan tahun 2008, dunia masih belum sepenuhnya aman dari ancaman krisis. Hal ini menyusul adanya krisis ekonomi Eropa yang disebabkan oleh permasalahan keuangan Yunani. Pemerintah Yunani tidak mampu menyelesaikan persoalan hutang-hutangnya yang jatuh tempo pada 2010 silam. Goncangan ini muncul akibat operasional pemerintahnya yang tidak sehat,besar pasak daripada tiang. Hal ini mengantarkan Yunani masuk dalam periode krisis yang sangat besar. Ancaman sebagai negara gagal semakin kuat. Bahkan beberapa kalangan menilai krisis hutang yang dialami Yunani lebih mengerikan dan lebih besar dampaknya dari krisis moneter yang dialami Indonesia pada 1998 silam.

Berdasarkan data dari CIA World Fact Book, utang pemerintah Yunani berjumlah $405.7 miliar atau sekitar 125% dari GDP-nya. Angka ini jauh lebih tinggi dari rata-rata negara Uni Eropa. Jumlah tersebut tidaklah mengherankan jika melihat kondisi defisit fiskalnya. Diperkirakan pada akhir tahun 2009, pengeluaran Yunani adalah $145.2 miliar dengan total pendapatan hanya sekitar $108.7 miliar atau terjadi defisit fiskal sebesar $36.5 miliar (25.1%). Pada 2010, GDP Yunani sebesar $350 miliar, sementara utangnya sebesar $406 miliar. Jumlah atau besarnya utang ini sebenarnya tidak begitu besar, namun rasio utang perGDP Yunani adalah sebesar 116%, sangat signifikan. Defisit perdagangannyasekitar $43 miliar. Cadangan devisanya hanya $4 miliar. Defisit anggaran13.6% dari GDP .

Per 21 Juli 2011 (Kompas, Jumat, 22 Juli 2011, Internasional, halaman 12) jumlah utang Yunani paling besar setelah Italia di dalam kelompok Eurozone yang tercatat sudah mencapai 350 miliar euro (setara dengan 499 miliar dollar AS), atau sekitar 160 persen dari PDB, dan pada akhir Juli 2011 menjadi kurang lebih 172 persen dari PDB, yang berarti jauh di atas 60 persen dari PDB yang dianggap sebagai batas aman .
Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, maka dalam satu dekade ke depan utang Yunani jumlahnya akan menjadi hampir dua kali lipat saat ini. Dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata hanya sekitar 3% per tahun dan bahkan minus -1.9% di tahun 2009 (data World Economic Outlook IMF April 2010), besarnya utang ini sangat berpotensi menjadi malapetaka ketika tak mampu dibayar .

Menurut analisis dari Surendro (2010) dalam Tambunan (2011), kondisi fiskal Yunani yang buruk tersebut sebenarnya mencuat pada triwulan keempat tahun 2009 ketika pemerintah negara tersebut melaporkan revisi perkiraan defisit fiskal negara itu kepada Eurostat. Defisit keuangan pemerintah Yunani yang semula dilaporkan hanya sekitar 3,7 persen terhadap PDB, menjadi sangat besar di dalam laporan revisi tersebut yang mencapai sekitar 13,6 persen dari PDB (walaupun masih lebih kecil dibandingkan dengan rasio defisit fiskal terhadap PDB Irlandia)

Kondisi Yunani menjadi tambah parah setelah keluar pernyataan resmi dari pemerintahnya mengenai ketidakmampuannya membayar utangnya yang jatuh tempo sebanyak 8,5 miliar euro pada tanggal 19 Mei 2010, terkecuali jika pemerintah Yunani bisa mendapatan bantuan dana dari UE dan IMF (Ichsan, 2010).

Krisis yang terjadi di Yunani ini menimbulkan kekhawatiran di pasar financial global ditambah dengan adanya penurunan peringkat kredit (credit rating) Yunani pada akhir April 2010 menjadi yang terendah diantaranya negara-negara Uni Eropa (Eurozone).
Pemerintah negara-negara Eurozone mulai mengkhawatirkan dampak terbesar dari krisis ini yakni kepanikan pasar dimana investor akan menjual surat utang negara-negara yang memiliki kondisi hampir sama dengan Yunani dimana negara-negara yang terdeteksi akan mengalami hal serupa diantaranya Irlandia, Spanyol, Belgia, dan Portugal.

Perbedaan Pandangan Eurozone

Krisis Yunani yang kemudian menyebar ke negara-negara Eropa lainnya ini banyak dianggap sebagai sebuah kesalahan sistem eurozone yang diterapkan di negara-negara Uni Eropa. Hal ini membuat beberapa pihak berpandangan untuk mengeluarkan Yunani dari negara anggota eurozone. Dengan melihat kenyataan bahwa Yunani telah mengalami defisit hingga empat kali lipat dari batas yang ditentukan eurozone, maka dapat dipandang bahwa Yunani tidak mampu untuk turut tergabung di dalam eurozone ini. Hal ini turut pula membawa kepada perdebatan mengenai keefektifan mata uang bersama untuk diaplikasikan di suatu kawasan.

Terjadi perdebatan pada penentuan nasib Yunani di dalam eurozone ini. 80% masyarakat Yunani lebih memilih agar Yunani bertahan dengan mata uang euro (New York Times, 2012). Mayoritas masyarakat ini memilih tetap menggunakan euro sebagai mata uangnya untuk menghindari semakin terpuruknya perekonomian Yunani jika harus kembali menggunakan mata uang drachma. Ketakutan akan menurunnya investor dan inflasi yang meninggi menjadi faktor-faktor mengapa beberapa pihak tetap menginginkan Yunani berada dalam eurozone. Hal ini dapat saja terjadi jika Yunani mampu untuk mengatasi kebijakan pengetatan anggarannya. Namun jika pengetatan anggaran ini diingkari oleh Yunani, maka Yunani dapat saja keluar dari eurozone untuk selanjutnya kembali menggunakan drachma sebagai mata uangnya. Kebijakan pengetatan anggaran ini perlu untuk dilakukan Yunani setelah Uni Eropa, yang dipimpin oleh Jerman, mengucurkan dana bantuan atau bailout guna mengatasi krisis Yunani.

Pendapat yang berbeda diungkapkan oleh George Soros. Soros (2012) menilai bahwa ketidaksamaan persepsi mengenai mata uang euro menjadi kelemahan dari penggunaan euro itu sendiri. Soros (2012) melihat euro merupakan mata uang yang tidak komplit, yakni memiliki bank sentral namun tidak memiliki departemen keuangannya. Di dalam masa awal pembentukannya, eurozone dinilai sebagai sistem yang mampu mereduksi resiko-resiko keuangan yang dihadapi negara. Eurozone menerapkan sistem sedemikian rupa untuk bank-bank  sentral agar mampu saling terikat satu sama lain. Hal ini kemudian memudahkan bank-bank komersial di dalam mengakumulasikan negara-negara anggota lemah (Soros, 2012).

Namun hal ini tidak sejalan dengan praktek yang terjadi, euro menjadi sistem mata uang yang justru mengikat negara-negara lain di dalam suatu krisis keuangan. Soros (2012) melihat bahwa Jerman lah yang memiliki posisi menentukan mengenai masa depan dari adanya eurozone. Hal ini mengingat bahwa Jerman merupakan negara kreditur terbesar dalam eurozone dan memiliki pengaruh yang kuat terhadap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan. Soros (2012) berpendapat bahwa Jerman mempunyai dua pilihan, tetap bertahan di dalam eurozone atau keluar dari eurozone. Jika Jerman tetap bertahan, maka Jerman perlu untuk melakukan sejumlah perubahan besar. Jerman tidak lagi seharusnya melakukan permintaan pengetatan anggaran bagi negara-negara yang yang tengah dilanda krisis. Sebab hal ini tidak cukup efektif dan justru semakin memperparah krisis di Benua Eropa. Soros (2012) lebih menyarankan agar Jerman keluar dari eurozone. Jika Jerman keluar dari eurozone maka akan terjadi gejolak politik yang akan berlangsung sementara. Namun dalam dampak jangka panjang, hal ini akan lebih menstabilkan kondisi euro sebagai mata uang.

Peran Uni Eropa

Berbagai upaya dilakukan oleh EU untuk membantu menyelamatkan Yunani dan negara-negara anggota EU yang suspect krisis yang telah menghantui Uni Eropa sejak 2,5 tahun terakhir. Pertemuan para petinggi Uni Eropa dilakukan di Brussel,Belgia pada 28-29 Juni 2012. European Council telah berjuang selama 2,5 tahun dengan tujuan agar krisis yang melanda Yunani tidak meluas dan menimbulkan efek buruk di kawasan tersebut.
Jerman dan Perancis berusaha keras mencari solusi menangani krisis Euro. Kanselir Jerman Angela Merkel menyerukan pembentukan kesatuan fiskal Eropa, dan mengatakan tidak ada cara lain untuk menyelesaikan krisis utang Zona Euro. Merkel telah mencoba membujuk Uni Eropa dan mitra Zona Euro untuk menegosiasikan perubahan perjanjian Uni Eropa guna menegakkan disiplin anggaran dan kontrol utang di Zona Euro.

Pemerintah Jerman menegaskan perubahan untuk membangun kekuatan guna mem-veto anggaran nasional di Zona Euro yang melanggar aturan bersama dan menghukum negara pelanggar aturan itu. Dia menolak tuduhan bahwa Jerman sedang mencari mitra untuk mendominasi Eropa dan menilainya sebagai tudingan yang aneh. Ditambahkannya, kesatuan fiskal Eropa dan sanksi otomatis diperlukan untuk mengembalikan kepercayaan di pasar musik.

Pada penyelesaian krisis keuangan Yunani oleh Uni Eropa ini, bukan berarti mengalami jalan mulus. Selain mengalami adanya perbedaan pandangan mengenai status Yunani di dalam eurozone dan masa depan eurozone, terdapat pula hambatan dan tantangan yang dihadapi. Hambatan-hambatan ini dapat terjadi dari peran Jerman sendiri. Jerman dan beberapa negara kreditur menyatakan bahwa akan membantu negara-negara Eropa yang terkena krisis dengan bantuan dana atau bailouts. Namun hal ini bukan merupakan jalan utama untuk dapat menghindarkan Eropa dari krisis yang berkepanjangan. Bantuan dana ini hanya mampu menjadi bantuan temporer untuk mengatasi krisis. Hal ini kemudian turut berpengaruh terhadap kondisi perpolitikan Jerman yang akan melaksanakan Pemilu pada bulan September. Kemudian berlanjut ke hambatan berikutnya yakni peran dari ECB. Pengaruh ECB yang berjanji dalam pengikatan pasar tidak terlalu mulus. Hal ini menjadi hambatan diakibatkan tanpa peran ECB pun telah melemahkan biaya pinjaman yang berdampak ke menurunnya pasar Eropa. Hambatan lainnya juga muncul dari Perancis mengenai keengganan Perancis dalam menyetujui sejumlah sistem penyelesaian yang telah diajukan oleh Jerman. Keengganan Perancis ini dapat berujung pada revisi mengenai penyelesaian krisis yang kemudian dapat memperpanjang penyelesaian krisis di Eropa.

Dari hambatan-hambatan ini, Uni Eropa tengah menghadapi sejumlah tantangan, tidak saja hanya berkaitan dengan penyelesaian krisis namun juga berkaitan dengan kebijakan-kebijakan luar negerinya di masa depan. Di dalam penanganan krisis ini, secara tidak langsung Uni Eropa juga melakukan proses di dalam penentuan kebijakan luar negerinya. Kemampuan Uni Eropa dalam mengatasi penyelesaian krisis di benuanya menjadi faktor penting untuk dapat memperlihatkan kekuatan Uni Eropa di kancah internasional. Jika Uni Eropa mampu mengatur penyelesaian krisis, tantangan-tantangan eksternal akan kembali mengangkat agenda dan mendorong pembaharuan usaha untuk menguatkan kapasitas Uni Eropa dalam area ini (Lehnend dalam Park, 2012).

 

 

Kesimpulan

Dari penjabaran-penjabaran mengenai penyelesaian krisis Yunani di atas, maka dapat disimpulkan bahwa peran Uni Eropa sebagai organisasi kawasan tengah mendapatkan tantangan yang cukup serius. Kekuatan Uni Eropa tengah dipertaruhkan di dalam upaya penanganan krisis ini. Hal ini turut diikuti dengan sejumlah hambatan yang muncul dari internal Uni Eropa sendiri. Kemudian, efektifitas dan masa depan sistem eurozone yang dibentuk oleh negara-negara Uni Eropa juga mendapat perdebatan yang serius. Hal ini berkaitan dengan posisi Yunani dalam eurozone dan peran Jerman sebagai negara kreditur terbesar di dalam eurozone. Penulis beropini bahwa organisasi kawasan seperti Uni Eropa memang mampu meningkatkan peran negara-negara anggotanya di dalam hubungan internasional. Namun hal ini akan berjalan ketika sistem diterapkan dengan baik. Kegagalan Yunani dalam menagani krisis dalam negeri yang berujung pada efek domino menjadi contoh serius bagi organisasi-organisasi kawasan yang lain. Perlu adanya tinjauan lebih lanjut sebelum memutuskan untuk menggunakan suatu mata uang yang digunakan bersama dalam satu kawasan.

REFERENSI

New York Times. 2012. Greece [online] dalam http://topics.nytimes.com/top/news/international/countriesandterritories/greece/index.html [diakses 23 Juni 2015]

BBC. 2012. Timeline: The Unfolding Eurozone Crisis [online] dalam http://www.bbc.co.uk/news/business-13856580 [diakses 23 Juni 2015]

Park, Jeanne. 2012. European Foreign Policy and the Euro Crisis [online] dalam http://www.cfr.org/eu/european-foreign-policy-euro-crisis/p29511#p7 [diakses 23 Juni 2015]

The Economist. 2012. EU Summit and the Euro Crisis [online] dalam http://www.economist.com/blogs/charlemagne/2012/12/eu-summit-and-euro-crisis [diakses 23 Juni 2015]

Soros, George. 2012. The Tragedy of the European Union and How to Resolve It [online] dalam http://www.nybooks.com/articles/archives/2012/sep/27/tragedy-european-union-and-how-resolve-it/ [diakses 23 Juni 2015]

US News. 2012. Should Greece Leave the Eurozone? [online] dalam http://www.usnews.com/debate-club/should-greece-leave-the-eurozone [diakses 23 Juni 2015]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: