Oleh: Anjar Nugroho SB | Juni 24, 2017

Khutbah Idul Fitri 1438 H

MAKNA SPIRITUAL DAN SOSIAL IDUL FITRI

Oleh:

Dr. Anjar Nugroho, S.Ag., M.S.I., M.HI

Allahu akbar 3x … Jama’ah Idul Fitri yang berbahagia.

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah atas limpahan karunia yang besar kepada kita, sehingga dalam kesempatan ini kita bisa merayakan hari kemenangan umat Islam, merayakan dengan penuh kekhusu’an, yaitu Hari Raya Idul Fitri. Tidak hanya kita yang merayakan, tapi umat Islam seluruh dunia juga merayakannya dengan penuh suka cita. Tapi yang lebih kita syukuri dari perayaan ini adalah, kita merayakannya di bumi Indonesia yang damai, karena ada banyak umat Islam di dunia ini yang merayakannya dalam suasana konflik, seperti umat Islam di beberapa Negara di Timur Tengah, atau di negera-negara yang kebetulan umat Islam minoritas seperti di Pilipina, Myanmar, dan India.

Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga dan sahabat beliau dan kepada seluruh kaum muslimin yang senantiasa setia dalam sunnahnya. Menyampaikan salawat kepada nabi harus disertai kesadaran bahwa kita punya tanggungjawab untuk menyebarkan risalah nabi ini sebagai risalah yang rahmatan lil’alamin, risalah yang menjamin kemashlahatan, keadilan dan kesejahteraan untuk seluruh umat manusia, Q.S. al-Anbiya” 21:

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Ayat tersebut diperjelas oleh ayat yang lain, Q.S. al-Qashsas: 86

“Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir.”

Allahu Akbar 3x … Hadirin yang dirahmati Allah,

Selaku khatib, sebagaimana khutbah-khutbah yang lain, ijinkan pula untuk saling mengingatkan, mari dengan sungguh-sungguh kita pelihara dan kembangkan keimanan dan ketaqwaan kita, khususnya setelah kita sebulan penuh melaksanakan ibadah Ramadhan, maka Syawal ini adalah kehidupan baru kita yang lebih beriman, bertaqwa, sekaligus lebih beramal, lebih shalih yakni tidak sekedar shalih individu tetapi juga shalih sosial.

Dalam pelaksanaan shalat Idul Fitri kali ini, khatib akan mengingatkan kembali makna Fithrah yang menjadi kata kunci dalam kata majemuk yang sering kita bincangkan, yaitu Idul Fitri. Kata fithrah berasal dari kata fa-tha-ra, yang arti sebenarnya adalah “membuka” atau “membelah”. Kalau dihubungkan dengan kewajiban puasa di bulan Ramadhan yang sebulan lamanya itu, maka kata ini mengandung makna “berbuka puasa”. Kembali kepada fithrah (idul fitri), adakalanya ditafsirkan sebagai kembali kepada keadaan normal, kehidupan manusia yang memenuhi kehidupan jasmani dan rohani secara seimbang. Tetapi arti lain dari fithrah yaitu “keadaan mula-mula”, “yang asal, atau “yang asli”.

Dalam al-Qur’an, kata ini berkaitan dengan ciptaan Allah baik alam maupun manusia. Misalnya dalam Q.S. al-An’am: 79

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

Kata fitrah dalam ayat tersebut dikaitkan dengan pengertian hanif, yang jika diterjemahkan secara bebas menjadi “cenderung kepada agama yang benar”. Istilah ini dipakai al-Qur’an untuk melukiskan sikap kepercayaan Nabi Ibrahim AS yang menolak menyembah berhala, binatang, bulan, maupun matahari, karena semua itu tidak patut disembah. Yang patut disembah hanyalah Dzat pencipta langit dan bumi. Inilah agama yang benar. Perhatikan Q.S. Ali Imran: 67

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”

Nabi Ibrahim mengajarkan agama yang cenderung kepada kebenaran (hanif) dan kepasrahan total kepada Allah (islam) yang kedua variable itu menjadi kata kunci dalam kehidupan keberagamaan. Jika umat Islam mampu mengejawantahkan kehidupan yang selalu cenderung kepada kebenaran, artinya gemar berbuat baik, dan merasa berat ketika mengerjakan perbuatan jelek dan tercela. Pada sisi lain juga mempunyai sikap kepasrahan total kepada Allah, artinya sungguh-sungguh menjadikan Allah sebagai satu-satunya motivasi dalam beribadah, bukan motif-motif yang lain. Itulah umat Islam yang telah kembali kepada “aslinya atau asal muasalnya” yakni “fithrah “. Alangkah indahnya kehidupan muslim yang seperti ini, kehidupan yang damai, sejahtera, aman dan penuh maghfirah dan ridha Allah SWT.

Allahu Akbar 3x … Hadirin yang dirahmati Allah,

Mewujudkan kehidupan masyarakat muslim yang damai memerlukan pula pemahaman keagamaan yang tawasuth (berada di tengah-tengah, tidak ekstrem). Jika kita perhatikan firman Allah Q.S. al-Baqarah: 143, Allah memposisikan umat Islam sebagai umat yang di tengah (ummatan wasathan).

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu….”

Agar umat Islam bisa menegakkan keadilan, maka posisinya harus berada di tengah (washat). Keadilan menjadi syarat terwujudnya masyarakat yang damai dan aman, yaitu ada jaminan tidak ada segala macam bentuk kedhaliman dan penindasan atau kecurangan antara satu individu/kelompok kepada indivisu/kelompk yang lain. Posisi tengah umat Islam ini menegaskan akan bentuk keberagamaan yang cenderung kepada kebenaran yaitu keberagamaan yang tidak ekstrim atau ghulluw (melampaui batas). Islam mengajarkan puasa dan berbuka, jika ada yang melaksanakan puasa terus menerus itu namanya ghulluw. Islam mengajarkan amar makruf nahi munkar dan mengajarkan pula, misalnya tata cara menyampaikan kebenaran kepada yang lain, sebagaimana terdapat dalam Q.S. an-Nahl: 125

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Jika amar ma’ruf nahi munkar dilakukan dengan penuh kebencian, kekerasan bahkan tindakan terror, maka ini juga masuk dalam kategori ghulluw. Islam mengajarkan berperilaku yang toleran, penuh tepa slira, saling menghormati dan sangat membenci perilaku umat yang sedikit-sedikit marah, saling konflik, saling benci, membenarkan kelompoknya sendiri bahkan sampai harus melakukan kekerasan atas nama kebenaran, padahal masih banyak jalan damai yang bisa ditempuh untuk mewujudkan kebenaran itu.

Allahu Akbar 3x … Jama’ah shalat Ied yang berbahagia,

Mudah-mudahan Idul Fitri kali ini akan membawa kita kepada sikap keberagaman yang asli, fithrah (hanif dan islam/lurus dan penuh kepasrahan) serta teraktualiasi dalam kehidupan sosial masyarakat yang damai dan saling menyayangi. Taqabbalallhu minna waminkum. Mohon maaf lahir dan batin. Mari kita berdoa kepada Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: